Skip to main content

R.A. Kartini

R.A. Kartini, blogspot.com


A. Latar Belakang 
Berbicara tentang Kartini memang tidak akan ada habisnyan, selalu ada sisi yang menarik dari sosok Kartini yang bergitu dikagumi oleh seluruh Rakyat Indonesia. Kartini dikenal sebagai pahlawan emansipasi perempuan, yaitu kebebasan untuk bebas dari kungkungan adat Jawa yang begitu Saklek. Sitem adat Feodal yang hanya menguntungkan lelaki sekaligus menyayat hati Kartini dan membuatnya berontak terhadap hal itu.  Kita ketahui bahwa Kartini lahir dari seorang ibu bernaman Ngasirah yang beragama Islam, secara otomatis Kartini juga dilahirkan sebagai seorang Muslimah.  Kartini dibesarkan dilingkungan yang religious, dibesarkan dengan nilai-nilai religious yang kental dan memiliki darah Pesantren.  Hal ini dilihat dari fakta bahwa Ngasirah adalah Putri dari Nyai Hajjah Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono yang merupakan seorang Guru Agama di Telukawur, Jepara. 
Pemikiran-pemikiran Kartini terekam dalam beberapa surat yang dituliskan kepada berbagai shabatnya di Belanda, dan pada waktu itu belum diketahui oleh banyak orang selain sahabat-sahabatnya yang menerima surat-surat yang bersangkutan serta lingkungan kecil keluarga dan teman mereka masing-masing. 
Raden Ajeng Kartini dikenal dengan kalimatnya yang menginspirasi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Namun ada kisah yang sering luput dari pembicaraan mengenai awal mula munculnya kalimat yang melegenda itu. Kisah ini bermula dari kegelisahan Kartini akan Al-Qur’an yang tak dipahaminya karena menggunakan Bahasa Arab. Selain itu karena larangan Belanda, para Kyai juga tidak ada yang menerjemahkan Al-qur’an. 
Membicarakan Kartini tentunya masih ada fakta lain yang belum banyak diketahui bahwa Kartini juga Seorang Santri. Beliau disebut sebagai santri dari kyai Shaleh Darat. Informasi mengenai hubungan kyai Shalet Darat dan Kartini digunakan untuk menilai ulang beberapa surat Kartini yang didalamnya menyiratkan bahwa Kartini mendalami Agama Islam menjelang Akhir hayatnya. 

Kegelisahan Kartini ini dia tuliskan dalam surat-surat nya kepada sahabatnya Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, Kartini menulis:
“ Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama islam karena nenek moyangku Islam. bagaiman aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya”. 
Intinya dari surat ini adalah mengenai Kartini sendiri tidak mengerti arti ayat Al-Qur’an sebagai kitab suci agamanya karena tidak ada terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Kartini pernah mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan saat mempelajariIslam karena guru ngajinya pernah memarahin Kartini karna bertanya tentang arti dri ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika Kartini mengukiti sebuah pengajian dirumah pamanya yaitu Pangeran Ario Hadiningrat seorang Bupati Demak kala itu,, kartini sangat antusias mendengarakan apa yang disampaikan Kyai Shaleh Darat mengenai tafsir surat Al-Fatihah. Permintaan Kartini kepada Kyai Shaleh darat adalah untuk menerjemahkan Al-Qur’an agar kartini bisa memahami isi yang terkandung didalamnya. Kyai shaleh darat menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon agar tak dicurigai oleh penjajah. 
Kitab tafsiran itu pun menjadi salah satu tafsir di Nusantara dalam Bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama terdiri dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim. Kitab ini diberikan kepada Kartini sebagai hadiah atas pernikahanya dengan RM. Joyodiningrat, Bupati Rembang. Kartini amat menyukai kado itu dan mengatakan: “Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya, saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersirat , sebab Romo Kyai telah menerangkanya dalam Bahasa Jawa yng saya Pahami”.
Melalui kitab ini kartini juga menemukan ayat yang amat menyentuh hati nuraninya. Yaitu surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya. Dalam surat-surat nya kepada sahabatnya di Belanda, JH. Abendanon, kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “dari gelap kepada cahaya”. Namun oleh sasatrawan Arjmin Pane diterjemahkan dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang kini begitu melegenda.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai RA. Kartini yang belajar agama dengan Kyai Shaleh Darat. Batasan masalah pada tahun 1899 adalah tahun dimana RA. Kartini sudah tumbuh dewasa dan mulai merasakan kegelisahanya tentang Islam sebagai agamanya yang tidak dia fahami maknanya karna tidak ada terjemahnya dan tahun 1904 adalah tahun beliau wafat, karna kartini belajar dan mendalami agama sampai akhir hayatnya. Berdasarkan Latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 
1. Bagaimana pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Shaleh Darat?
2. Bagaimana pemikiran RA. Kartini terhadap islam setelah mengaji dengan Kyai Shaleh Darat?
3. Bagaimana RA. Kartini dalam menuangkan ajaran Kyai Shaleh Darat terhadap karyanya ?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk bagaimana pengaruh Kyai shaleh Darat terhadap pemikiran kartini tentang Agama Islam sampai muncul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Selain itu juga menjelaskan kegelisahan-kegelisahan dalam hati kartini terhadap Ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak difahami Kartini. Sehingga bisa diketahui dari mana ide Kartini ini untuk mencetuskan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang melekat pada dirinya. 

D. Tinjauan Pustaka
Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari adanya kesamaan dalam pembahasanya dan untuk menentukan topik permasalahan yang akan diteliti. Penulis melakukan beberapa kajian pustaka yang relevan, diantaranya adalah:
Pertama, Skripsi yang disusun oleh Irfa Nur Nadhifah, mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo, tahun 2017 yang berjudul R.A. Kartini dam Pendidikan Pesantren (Studi atas Kontribusi dan Peran R.A. Kartini dalam Pendidikan Perempuan). Penelitian ini memabahas mengenai pemikiran keagamaan Kartini serta perjuangan Kartini serta perjuangan kartini untuk memperoleh pendidikan baik agama maupun umum. Penelitian Irfa ini terfokus pada adat Feodal yang mengekang perempuan dimasa Kartini, yang kemudian menjadi titik awal perjuangan Kartini agar perempuan mendapat hak yang sama dengan laki-laki. 
Kedua, Skripsi yang disusun oleh Tri Ayu Puji Astuti, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Raden Intan  Lampung, tahun 2017 yang berjudul Relevansi Pemikiran Pendidikan R.A. Kartini dengan Konsep Feminisme Dalam Pendidikan Islam. Penelitian ini membahas tentang Konsep Feminisme dalam Pendidikan Islam, begitupun juga dengan pemikiran Kartini mengenai pendidikan Perempuan dan relevansi pemeikiran Kartini dengan konsep Feminisme dalam Pendidikan Islam. 
Ketiga, buku karya Haryati Soebadio dan Saparinah Sadli dengan judul Kartini Pribadi Mandiri diterbitkan di Jakarta pada tahun 1990. Buku ini menjelaskan sosok pribadi Kartini yang lahir dan berkembang, perempuan yang telah hidup di zaman tertentu, berasal dari keluarga tertentu, dan mempunyai kemempuan berfikir serta perasaaan tertentu. selain itu juga menerangkan kesan yang mendalam terhadap Kartini sebagai pribadi mandiri dan akan tekadnya yang membara untuk mengubah suatu kondisi sosial budaya, khususnya nasib kaum perempuan. 
Setelah mengamati penelitian-penelitian yang ada diatas, peneliti berusaha meneliti tentang peran Kyai Shaleh darat sebagai guru Agama dalam pembentukan keagamaan dan memperdalam Islam Kartini . Perbedaan yang ada dari penelitian yang sudah ada tersebut adalah perbedaan dalam fokus pembahasan lebih mendalam tentang pemikiran kartini yang tidak lepas Kyai Shaleh Darat yang akhirnya tercetusnya kata “Habis Gelap Terbitlah Terang”, karena Kyai Shaleh Darat banyak memberikan pengaruh terhadap pemikiran dan keagamaan Kartini. 

E. Kerangka Teori
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan endekatan biografi dan pendekatan sosiologi. Pendekatan biografi dengan tujuan untuk melihat tokoh secara individual, pendekatan ini bertujuan untuk memberikan pengertian mengenai subjek, dan berusaha menjelaskan dengan dengan teliti kenyataan-kenyataan hidup, sifat dan watak subjek dan nilainya terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.  
Adapun pendekatan sosiologi, kerena dalam hal ini Kyai Shaleh Darat melakukan interaksi sosial dengan R.A Kartini yang kemudian mempengaruhinya dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dan bertujuan untuk melihat sumbangsih Kyai shaleh darat sebagai guru agama R.A. Kartini yang menginspirasinya. 
Penelitian ini menempatkan peranan tokoh sebagai pelaku utama yang mempunyai peranan penting dalam pembaharuan. Teori yang relevan dengan penelitian ini adalah teori peranan sosial yang di kemukakan oelh Erving Goffman. Menurut teori ini peranan sosial adalah salah satu konsep sosiologi yang didefinisikan dalam pengertian pola atau norma perilaku yang diharapkan dari orang yang menduduki posisi tertentu.

F. Metode Penelitian
Penelitian tentang sejarah merupak sebuah kajian yang mendasarkan pada kerangka ilmu. Artinya adalah sejarah tidak dapat terlepas dari metode ilmiah. Sejarah merupakan upaya merekonstruksi masa lalu yang terkait dengan mekanisme dan prosedur ilmiah. 
Penelitian menggunakan metode sejarah yaitu merekontruksi masa lampau melalui proses menguji dan menganalisis secara kritis kejadian masa lalu berdasarkan data yang ada. Beberapa tahapan untuk melakukan penelitian ini yaitu  Heuristik, Verifikasi, Interpetasi, dan Historiografi.  
1. Heuristik
Heuristik adalah tahap awal dalam penelitian sejarah. Dalam tahap ini, seorang peneliti mencari dan mengumpulkan sumber-sumber Sejarah.  Penggunaan sumber dalam studi sejarah sebagai pemahaman masa lampau bersifat mutlak.  Heuristik  merupakan kegiatan pengumpulan data sebagai sumber sejarah. Kelengkapan penelitian dalam pengumpulan data tersebut bisa dilakukan dengan tertulis (Study Pustaka) yang berupa sumber sekunder, yaitu buku-buku pendukung berupa Artikel, buku-buku yang berkaitan dengan R.A. Kartini dan pemikiran tentang agama Islam. 
2. Verifikasi
Pada tahap ini dilakukan upaya untuk mengetahui benar atau tidaknya data, yaitu kritik ekstern dan intern. Dalam hal kebenaran sumber diuji dengan melihat terhadap keaslianya (otentisitas) yang dilakukan melaui kritik ekstern, dah kesahihan sumber (kredibilitas) ditelusuri melalui kritik Intrern. Kritik ini dilakukan setelah menemukan beberapa data dalam bentuk tertulis. 
Sumber tertulis yang ditemukan masih dalam keadaan bagus. Tulisanya jelas dan kertas nya masih putih karena arsip ditemukan masih baru dan banyak terdapat cetakan-cetakan baru. Kritik intern pada sumber tertulis dilakukan dengan menelaah isi kandungan dan membandingkanya dengan rujukan lainya yang memiliki keterkaitan dengan penelitian. Dengan demikian, penulis dapat menarik kesimpulan atsa sumber yang telah diperoleh. 
3. Interpretasi
Pada tahapan ini, peneliti berusaha menafsirkan data melalui analisis (menguraikan) dan sintesis ( menyatukan) informasi yang sesuai dengan pembahasan. Penafsiran sejarah atau menganalisis fakta sejarah bertujuan untuk melakukan sintesis terhadap sumber-sumber sejarah yang telah ditemukan oleh peneliti. Interpretasi dilakukan setelah menguji data dan berbagai sumber yang sudah dikumpulkan dan dilakukan berdasarkan teori dan pendekatan dengan menghubungkan berbagai data yang ada. 
4. Historiografi
Historiografi ini merupakan langkah terakhir dalam penelitian sejarah. Histirografi merupakan cara penulisan, pemparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Penulisan sejarah sebaiknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian sejak awal perencanaan hingga kesimpulan. Penulisan sejarah juga harus disajikan secara kronologis. 


G. Sistematika Pembahasan 
Pembahasn ini dibagi dalam 3 bab. Pembagian tersebut dimaksudkan untuk menguraikan isi secara detail dan sistematis sehingga menghasilkan pemahaman yang menyeluruh. Antara bab satu dengan yang lainya saling berkaitan sehingga mudah untuk dipahami. 
Bab Pertama, berisi pengantar yang mencakup latar belakang, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan. 
Bab kedua, berisi Kartini yang mulai menjadi perempuan dewasa yang matang dimana membuat kartini mulai berfikir dan berontak untuk mengubah nasibnya . dan berisi tulisan-tulisan curhatan kartini kepada sahabat-sahabatnya di luar negri khususnya di Belanda. 
Bab ketiga, berisi dimana ketika itu awal bertemu Kartini dengan Kyai Shaleh Darat yang sedang berdakwah di rumah Pamanya bupati Rembang, yang membuat Kartini tertarik untuk mempelajari Agama Islam kepada Kyai Shaleh Darat dan bisa memahami makna dari ayat-ayat Al-Qur’an. 
Bab keempat, berisi pengaruh  ketika Krtini mengaji bersama kyai Shaleh Darat terhadap buku R.A. Kartini dalam terbitnya buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Bab kelima, berisi kesimpulan yang merupakan jawaban atas rumusan masalah dan saran.

DAFTAR PUSTAKA
BUKU 
Dudung Abdurrahman, Metodologi Penelitian Sejarah Islam (Yogyakarta: Ombak, 2011).
Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia (Jakarta: Gramedia 1982).
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 199) 
Winarni Surakman, Pengantar Penenlitian Ilmiah: Dasar, Metode, dan Teknik (Bandung, Tarsito, 1990).
Sulastrin Sutrisno, EMANSIPASI Surat-Surat kepada Bangsanya 1899-1904, (Yogyakarta: Jalasutra, 2014). 

Armijn Pane, Habis gelap terbitlah terang, (Jakarta: Balai Pustaka, 2009).
Siti Soemandari Soeroto, Kartini Sebuah Biografi, (Jakarta: PT Gunung Agung, 1984). 
Imron Rosyadi, R.A. KARTINI Biografi Singkat 1879-1904, (Yogyakarta: Garasi, 2012).

SKRIPSI
Nur Nadhifah, “R.A . Kartini dan Pendidikan Pesantren (Studi atas Kontribusi dan Peran R.A. Kartini dalam pendidikan Perempuan)”. Skripsi, (Semarang: Fakultas Ilmu Trbiyah dan keguruan, 2017).

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...