Skip to main content

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)


Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com
Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan  sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pandangan tentang tradisi Nabi Muhammad saw. yang berujung pada adanya pembakuan dan menjadikan hadis sebagai suatu yang mempersempit cakupan sunnah. Kenyataan yang berkembang di kalangan masyarakat mengisyaratkan adanya berbagai bentuk dan interaksi umat Islam dengan ajaran Islam yang kedua setelah al—Qur’an tersebut. Penyebabnya tidak lain adalah adanya perubahan ilmu pengetahuan yang diaksesnya.   Maka hal ini merupakan objek kajian living hadis. Karena di dalamnya termanivestasikan interaksi antara hadis sebagai ajaran Islam dan masyarakat dalam berbagai bentuknya.[1] 
   Adanya berbagai tradisi yang berlaku dimasyarakat yang dianggap mempunyai nilai-nilai agama sehingga hal tersebut dijadikan suatu kebiasaan dan dilaksanaakan terus menerus. Hal itupun banyak menuai kontra dengan sebagian orang yang menganggap tradisi yang tidak ada dalil secara jelas perintahnya itu adalah perbuatan diluar dari ajaran agama Islam.
 Berdasarkan hal itu, peneliti ingin melakukan kajian yang berorientasi pada kajian living hadis , dimana bertujuan untuk menghidupkan hadis di kalangan masyarakat.
 Agama memang merupakan suatu unsur yang penting  yang menentukan identitas suatu masyarakat. Oleh karena itu, diterimanya Islam sebagai agama orang Bugis di Sulawesi Selatan merupakan suatu peristiwa yang sangat penting. Awal abada ke-17 Masehi, setelah menganut Islam, orang Bugis bersama dengan orang orang Aceh,  Minangkabau di Sumatra; orang melayu di Sumatra, Kalimantan, dan Malaysia; orang moro’ di Mindanao; orang Banjar di Kalimantan; orang Sunda di Jawa Barat; dan orang Madura di Pulau Madura dan Jawa Timur dicap sebagai orang Nusantara yang paling kuat identitas keislamannya.orang Bugis menjadikan agama Islam sebagai  bagian integral dan esenial dari adat istiadat dan budaya mereka. Meskipun demikian, pada saat yang sama, berbagai kepercayaan peninggalan pra-Islam tetap mereka pertahankan sampai akhir abad ke-20 M.[2] 
Diterimanya Islam dikalangan elite Sulawesi Selatan sejak awal proses islamisasi tampaknya berbarengan dengan dua kecendrungan yang saling berlawanan, yakni antara keinginan sebagian kalangan untuk tetap mempertahankan             sinkretisme[3],    dan      sebagaian      kalangan          yang    ingin menerapkan ajaran Islam yang benar (ortodoks).[4]
 Dalam hal ini yang akan menjadi objek penelitian adalah tadisi pembacaan Barzanji atau biasa dikenal di daerah Bugis sebagai kegiatan Mabbarasanji, umat muslim Bugis melaksanakan upacara syukuran yang dimulai dengan pembacaa Kitab al-Barzanji yang disertai dengan do’a-do’a syukuran dengan menghidangkan masakan daging khas Bugis, hal ini sangat mirip dengan tradisi muslim melayu yakni kenduri. Oleh karena itu, dari jenis rangkaian yan dilakukan dalam upcara tersebut sebenarnya dapat diamati dua unsure yaitu Islam dan pra-Islam yang berpadu di dalamnya.[5] rkaitan dengan tradisi Mabbarasanji, sampai saat ini belum diketahui secara pasti siapa yang membawa masuk ke wilayah Indonesia. Walaupun demikian, tradisi Barzanji tetap populer dikalangan masyarakat Indonesia. Selain itu mereka yang melaksanakan pembacaan Barzanji pada saat acara kelahiran anak (aqiqah), pernikahan dan lain sebagainya. Begitupula yang terjadi di masyarakat bugis di Sulawesi Selatan. Pembacaan kitab Barzanji (Mabbarazanji) selalu dilakukan pada acara-acara tertentu  seperti acara pernikahan, Aqiqah, keberangkatan haji, pindah rumah baru, kematian dll,. 
Dalam kesehariannya, masyarakat bugis mengenal konsep ade’/
Pangadereng’ atau ‘adat Istiadat’ berupa serangkaian norma yang berkaitan satu sama lain. Selain itu juga terdapat di dalamnya bicara (norma hokum), rapang (norma keteladan dam kehidupan bermasyarakat), wari’ (norma yang mengatur strasifikasi bermasyarakat).[6] 
Meskipun penetrasi ajaran agama Islam berlangsung lama namun kepercayaan tradisional (sinkretisme) masih bertahan pada sebagian besar masyarakat Bugis tradisional. Namun adapulah tradisi pra-Islam yang sudah di Islamisasikan, contohnya tradisi Mabbarzanji. Walaupun agama Islam tergolong terbelakang penerimaannya di Sulawesi Selatan, tapi bukan berarti agama Islam di terima oleh penduduk setempat dengan cara pemaksaan. Agama Islam masuk ke wilayah Sulawesi Selatan dengan cara yang santun, terbukti dengan usaha para ulama terdahulu dengan tidak mematikan tradisi lama mereka, melainkan berusaha mengislamkannya.[7] Salah satunya Setelah Islam datang, selain kitab Barzanji, naskah I La Galigo[8] juga masih dibaca oleh masyarakat Bugis. Dalam buku karya Christian Pelras “Manusia Bugis” menjelaskan bahwa kegiatan Barzanji Mulai pada akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX pembacaan Barzanji telah menggantikan pembacaan naskah-naskah I La Galigo dalam upacara syukuran. Kedua tradisi ini pun mengalami pencampuran.[9]  
Pembacaan Barzanji pada acara-acara tertentu seperti pada acara abbottingeng (pernikahan), appeno lolo (aqiqah), menre’ hajji (naik hajji), menre bola (pindah rumah). Ada yang berbeda dengan desa-desa lain yang ada di daerah Kab. Soppeng,   tradisi Mabbarasanji di desa Salaonro hanya dilakukan pada acara-acara keluarga saja seperti yang telah disebutkan di atas, yang berbeda adalah pembacaan barazanji tidak dilakukan pada acara Maulid pada bulan Rabiul Awal dan Isra’ Mi’raj pada bulan Rajab yang dilakukan setiap tahun di Masjid.
Tradisi mabbarasanji seakan-akan menjadi tradisi yang wajib untuk dilakukan pada momen atau acara-acara tertentu sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Mengapa tradisi tersebut harus ada? “Pembacaan barzanji adalah sesuatu yang harus ada karena merupakan sesuatu yang dianggap sakral dan penting, pembacaan barzanji adalah  sebagai salah satu rangkaian untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memuliakan Nabi utusannya , tujuannya agar selalu diberikan keselematan dan terhindar dari bala’
(bencana).” kata H. Abd. Kadir. [10]
Dalam tradisi pembacaan Barzanji biasanya di laksanakan pada waktu yang berneda-beda setiap acaranya seperti pada acara abbotingeng (pernikahan) pembacaan barzanji dilaksanan sehari sebelum akad pernikahan, acara appeno lolo (aqiqah) dilaksanakan pada saat prosesi pemotongan rambut bayi, pada acara attampungeng’ (kematian) dilaksanakan pada hari ketujuh,  acara menre haji’ (naik haji) dilaksanakan 4-7 hari sebelum keberangkatan.[11]

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang telah dipaparkan, maka rumusan yang akan dikaji dalam penelitian ini:
1.      Bagaimana bentuk proses pelaksanaan Mabbarazanji masyarakat bugis soppeng?
2.      Mengapa masyarakat bugis Soppeng mentradisikan pembacaan kitab alBarazanji (Mabbarzanji)?
3.      Nilai-nilai Hadis apa yang terkandung dalam tradisi tersebut?
C.     Tujuan Penelitian
1.      Menjelaskan prosesi pelaksanaan tradisi pembacaan barazanji  di masyarakat bugis soppeng.
2.      Menjelaskan motif masyarakat bugis soppeng mentradisikan pembacaan barzanji.
3.      Mendeskripsikan nilai-nilai hadis yang terkandung dalam dalam tradisi mabbarzanji di masyarakat bugis Soppeng.
D.    Telaah Pustaka
Telaah pustaka ini memberikan tujuan untuk menjadikan suatu kebutuhan ilmiah yang berguna sebagai sumber penjelasan dan batasan tentang informasi yang digunakan melalui kajian pustaka dan juga untuk menghindari kesamaan judul dan karangan sebelumnya terhadap permasalahan yang akan dibahas. Penelitian terbagi dalam beberapa macam model penelitian tentang tradisi pembacaan barzanji yaitu living hadis dan penelitian antropologi murni, pendidikan, dll. sebagaimana berikut:
Dalam penulusuran peneliti, terdapat karya living hadis yang juga membahas mengenai pembacaan barzanji yaitu “Barzanji Bugis dalam Peringatan Maulid; Studi Living Hadis di Masyarakat Bugis Soppeng, Sul-Sel” ditulis oleh Ahmad Muttaqin[12] peneliti mencoba menelaah tulisan tersebut dan tradisi yang dibahas sama dengan apa yang ingin penulis teliti. Dalam tulisan di atas Ahmad Muttaqin menjelaskan proses akulturasi budaya yang terjadi di masyarakat Bugis, pembacaan barzanji merupakan suatu yang sakral dalam masyarakat Bugis, tradisi Brazanji sebagai wujud kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad saw. pada penelitian tersebut, penulis tidak terlalu menjelaskan bentuk dan proses bagaimana tradisi tersebut juga dilakukan  pada momen atau acara-acara adat keluarga yang dilakukan masyarakat, dan sesuai judulnya terlihat membatasi tradisi tersebut hanya pada acara Maulid Nabi. 
Disini peneliti mencoba menyajikan hal yang baru dari penelitian sebelumnya, diamana penyajian terhadap tradisi Mabbarazanji (pembacaan barzanji) tidak hanya dilakukan pada acaraacara/ hari raya Islam saja, bahkan hal yang sangat berbeda dari penelitian sebelumnya bahwa di masyarakat bugis khususnya di desa Salaonro Kel. Ujung tidak melakukan tradisi barzanji pada acara
Maulid dan Isra’ Mi’raj yang dilakukan setiap tahunnya, pembacaan Barzanji hanya dilakukan pada acara acar-acara adat keluarga saja seperti pada acara Appeno lolo (aqiqah), Abottingeng (Pernikahan), attampungeng (kematian), Menre bola (pindah rumah), menre haji
(naik haji).
Diantara penelitian tentang taradisi Mabbarazanji yang bersifat antropologi murni adalah “Tradisi Barzanji Masyarakat Bugis di Desa Tungke Kec. Bengo Kab. Bone Sul-Sel: Studi Kasus Upacara Menre Haji (Naik Haji)” oleh Eka Kartini[13] membahas tentang prosesi upacara yang di lakukan menjelang keberangkatan ke tanah suci (ibadah haji). Menurut peneiliti penelitian ini bersifat deskriptif sehingga menjelaskan inti dari tujuan masyarakat melaksanakan tradisi barzanji untuk mengucap syukur kepada Tunan,  dengan melaksanakan tradisi tesebut orang yang akan melaksanakan ibadah haji diberikan keselamatan hingga kepulangannya. Dalam penelitian ini pembahasan yang bersifat deskriptf, penelitian focus pada satu upacara sebagai studi kasus, selain itu penelitian tersebut bukanlah penelitian kajian living hadis sehingga apa yang peneliti akan teliti belum terdapat dalam penelitian tersebut.
“Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Mabbarasanji pada Ma  syarakat Bugis di Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete
Riattang Kabupaten Bone” sebuah karya tesis yang ditulis oleh Wahyu Sastra Negara pada program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dalam bidang Pendidikan Agama Islam. Dalam tesis tersebut Wahyu Sastra Negara menggunakan teori fenomenologik dimana peneliti mencoba menggali makna-makna yan terkandung dalam suatu fakta yang terjadi, makna yang difokuskan dalam tesis tersebut adalah kandungan nilai-nilai pendidikan Islam yang ada dalam tradisi Mabbarasanji serta nilai-nilai pendidikan Islam dalam kitab Barzanji itu sendiri. Dan terlihat bahwa penelitian yang dilakukan seimbang antara kajian antropologi dan kajian keislaman.[14]
“Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Sastra Bugis; Kajian terhadap Pappaseng[15] oleh Muhammadong. Penilitian ini membahas mengenai nilai-nilai akhlak yang sesuai dengan ajaran agama Islam khususnya pada masyarakat bugis. Penelitian yang bersifat kualitatif dan bercorak library murni.
“Integrasi Pangadereng (Adat) dengan Sistem Syariat Islam sebagai Pandangan Hidup Orang Bugis dalam Lontarak Latoa[16] oleh Dr. H. Andi Rasdiyanah penilitian tersebut fokus pada hubungan hukum adat dengan hukum Islam dalam pola integrasi system pangedereng’

Tradisi Barzanji Sya’ban Masyarakat Bugis Wajo Tanjung

Jabung Timur” Adalah sebuah jurnal yang ditulis oleh M. Junaid. Tulisan tesebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan menjelasakan bagaiamana prosesi pelaksanaan pembacaan kitab al-
Barzanji yang dilakukan pada bulan sya’ban. Dalam penelitin tersebut penulis mencoba menggali nilai-nilai atau makna yang terkandung dalam proses pelaksanaan ritual Barzaji.  Namun hanya menggali makna secara umum tanpa mengaitkan dengan ayat al-Qur’an dan Hadis terntentu. Dengan itu menjadi cela untuk penelitian selanjutnya dengan lebih menjelaskan hubungan ritual tersebut dengan hadis tertentu.[17]

Kitab Barzanji dalam Perspektif Masyarakat Muslim di

Manado, Sulawesi Utara”, sebuah jurnal yang ditulis oleh Gayda
Bachmid dari Universitas Sam Ratulangi Manado.[18] Penelitian tersebut menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dalam karyanya ini menjelaskan tentang aspek-aspek intraluingistik berkaitan dengan unsur-unsur ekstraliguistik bertemu dalam tema-tema sosial seperti nilai-nilai kehormatan, kebersamaan, persaudaraan, dan perngharagaan. Tema cultural yang mengandung nilai ketenangan, kebahagiaan. Serta metafisik (filosofi) mengandung nilai kepercayaan, keimanan, dan keyakinan. Penelitian tersebut merupakan penelitian antropologi murni berbeda dengan penilitian yang akan dilakukan, yang juga menggunakan teori sosial antropologi namun dipadukan dengan aspek teks keislaman.

Barzanji Tradisi Masyarakat Bugis di Desa Appanang

Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng”, sebuah karya skripsi yang ditulis oleh Kamaruddin di Departemen Antropologi SosialFakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin.[19] Sebuah penelitian yang menggunakan metode kualitatis deskriptif yng mengkaji tentang tradisi barzanji sebagai kegiatan dan proses pada kehidupan masyarakat bugis. Dalam skripsi tersebut memaparkan bagaiaman proses pelaksanaan barzanji dan nilai-nilai yang tekandung di dalamnya. Tulisan tersebut merupakan kajian antropologi murni yang dikaji dengan menggunakan teori-teori sosial budaya.
Manusia Bugis”[20] adalah sebuah karya berbentuk buku dengan judul asli The Bugis yang diteliti oleh peneliti asal Prancis bernama
                                      Christian     Pelras.     Dalam     buku    tersebut     menjelelaskan     secara
komperehensif bagaimana peradaban awal suku bugis Indonesia hingga zaman Modern ketika Islam sudah masuk dikalangan masyarakat bugis di Sulawesi Selatan. Buku menjadi rujukan penting dalam penelitian ini karena didalamnya menjelaskan adat ritual kepercayaan pra-Islam yang kemudian sedikit demi sedikit berakulturasi dengan ajaran Islam yang masuk.
“Jati Diri Manusia Bugis”[21] oleh Mashandi Said. Sebuah karya buku yang membahas tentang rinsip kehidupan manusia bugis, pandangan dunia Bugis dengan etika lainnya seperti seperti pandangan dunia Bugis dan Islam serta pandangan dunia bugis dengan teori moral  lainnya. Menutut peniliti karya ini dapat membantu dalam mejelaskan bagaimana jaiti diri, konsep, dan prinsip adat dan keagamaan dalam masyarakat bugis.
Dari berbagai pemaparan diatas maka, peneliti mengambil celah penelitian living hadis tentang tradisi Mabbarazanji (pembacaan Barzanji) di Masyarakat Bugis Soppeng Khususnya di Kel. Ujung. Untuk memberikan suatu khazanah keilmuan yang baru dalam kajian living hadis
E. Kerangka Teoritik.
1.      Teori fenomenologi
Fenomenologi merupakan salah satu disiplin dalam tradisi filsafat. Edmund (1859-1938) merupakan tokoh dan penggagas teori ini. Berasal dari bahaa Yunani (phenomena) yang bermakna suatu yang tampak, sesuatu yang terlihat, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan mengenai apa yang tampak.[22][23] Lebih lanjut kuswanto menyebutkan bahwa fenomenologi berusaha mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep penting dalam kerangka intersubyektivitas (pemahaman mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kitta dengan orang lain).[24] Dalam hal ini peneliti medeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka mengenai sebuah konsep atau sebuah fenomena. Menurut Cresswell, tujuan utama fenomenolog adalah untuk mereduksi pengalaman-pengalaman individu pada sebuah fenomena menjadi sebuah deskripsi tentang esensi atau intisari universal.[25]
2.      Teori Sejarah Sosial
Sejarah sosial merujuk pada “to work in variety of human activities difficult to classify except in such terms as ‘manners, costums, everdaylife”. Demikian juga dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan perubahan sosial, perubahan tata nilai, agama dan tradisi kebudayaan yang juga ikut berpengaruh terhadap timbulnya masalah sosial. Salah satu penggerak sejarah sosial, Eric Hobsbawn bahwa kekuatan dan harapan sejarah sejarah sosial itu terletak pada keinginan mengecek dan mengungkap saling berpengaruhi antara ekonomi, politik, budaya. Sejarah sosial juga memiliki kecenderungan untuk mengkontekstualisasikan apa yang terjadi pada sejarah ekonomi, intelektual, atau politik yang ditujukan untuk mengisolasi.[26]
Dalam hal ini peneliti akan mencoba menelusuri otoritas serta transmisi sebuah keilmuan dengan cara pandang sejarah sosial, Richard Bulliet melalui karyanya Islam, The View From The Edge yang telah menggunakan perspektif sejarah sosial bagaiamana hadis sampai dan dipelajari oleh masyarakat Jurjan, Iran pada abad ke 2-3 Hijriyah, saat Islam mengalami proses invasi ke daerah non-Arab. Masyarakat Jurjan adalah sepenuhnya non-Arab, mereka tidak pernah mengalami sendiri emosi yang mengiringi masyarakat Mekkah dan Madinah dalam pertemuan keseharian dengan Nabi. Pun, masyarakat jurjan telah memiliki keyakinan dan budaya saat Islam datang pada ruang lingkup sosial mereka. Kalaupun mereka akhirnya beriman kepada Allah, kepada Muhammad, itu karena mereka setelah masuk Islam. Bahkan dapat disebutkan bahwa pemahaman mereka pun tentang Islam berbeda-beda. Dalam penelitian tesebut penting untuk menelisik, kenapa harus Jurjan, daerah pinggiran Iran yang merupakan perbatasan antara Asia Tengah dan Asia Selatan? Apa yang penting dari meneliti peralihan keimanan bahkan identitas budaya masyarakat Jurjan?. Dari problem tersebut inilah kemudian Bulliet mengulas tentang sejarah sosial masyarakat Jurjan, serta yang paling penting adalah persoalan otoritas hadis sebagaimana yang diperankan oleh tokoh-tokoh ulama tingkat local. Metode riset seperti ini dilakukan oleh Richard Bulliet dengan memulai investigasi dari Individu atau kelompok individu dari suatu komunitas kecil.[27]
Oleh karena dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia yang sarat akan budaya itu sebenarnya unik sekaligus bersifat global ini penting untuk dinarasikan melalui sejarah sosial. Sehingga penlitian living hadis ini akan menelusuri karakter utama dari proses transmisi hadis yang selalu ada, yakni otoritas hadis yang tidak melulu bersifat literatif-tertulis (literacy, written), tetapi secara jelas adalah otoritas yang berkarakter oralitas (orality, sounds).[28]
Dari sini kita dapat berkesimpulan, bahwa perspektif sejarah sosial yang menekankan kepada apa yang disebut Bulliet sebagai “the view from the edge”. Yakni narasikan sejarah yang merusaha untuk melengkapi cara pandang Islam dominan (sebagaimana dilihat dari pusat, dari aspek politik, yang serba formal dan bersifat legalistik), menuju cara pandang pinggiran mulai kapan atau dimanapun masyarakat secara dinamis berusaha menentukan dirinya untuk “menyebrangi” batasan-batasan sosiokultural dirinya sendiri, secara dinamis mendialogkan aspek universal islam dab factor lokalitas mereka, lalu mendedikasikan dirinya sebagai bagian dari Islam, dan menjadiskan Islam sebagai identitass integral kehidupan mereka.[29]
F.      Metodologi Penelitian
1.      Jenis dan Sifat Penelitian
Penilitian ini merupaka penlitian lapangan (field research), yaitu penelusuran langsung ke lapangan tau objek penelitian untuk menggali data-data terkaait dengan tradisi Mabbarzanji. penyajian data secara kualitatif  yaitu penyajian dengan perspektif emic, yaitu data yang dipaparkan sesuai dengan cara pandang subyek penelitian.[30] Sedang sifat penelitian adalah deskriptif yaitu memaparan secara sistematis fakta-fakta dan karasteristik obyek kajian.
2.      Sumber Data
Sumber data penelitian ada dua yaitu data primer dan sekunder. Dat primer lebih ditekankan pada data lapangan. Data tersebut diambil dari para informan melalui wawancara. Data sekunder adalah sebagai tambahan referensi buku-buku terkait dengan teori dan pendekatan yang peneliti gunakan.
3.      Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitia kualitatif ada beberapa metode pengumpulan data, atara lain wawancara, observasi, dokumentasi.[31] a. Interview/wawancara
dalam penelitia lapangan yang terpenting adalah wawancara mendalam atau wawanacara yang dilakukan dengan mengambil informasi hingga ke akar dalam menggapai fenomena yang muncul di masyarakat. Wawancara adalah mengumpulkan data dengan beratnya langsung pada informan untu mendapatkan informasi.
b.      Observasi
Dalam penelitian ini menggunakan pengamatan secara langsung (observasi). Penelitian observasi adalah suatu metode dengan mengumpulakan data  pengamat dan pencatatan secara sistematis terhadap tema yang diteliti
c.       Dokumentasi
Metode dokumentasi dengan mencari data mengenai variable berupa catatan, buku panduan, serta buku-buka yang berkaitan. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi karena pada dasarnya metode dokumentasi adalah metode yang sifatnya stabil, dapat dipergunakan sebagai bukti untuk pengujian.
 
G.    Sistematika Pembahasan
Untuk mendapatkan analisis yang komprehensif, pembahasab dalam skripsi ini terbagi dalam 5 bab yang masing-masing memuat beberapa sub bahasan, yaitu:
BAB I : Merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan, telaah pustaka, kerangka teori, metodolgi penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Dalam bab ini memaparkan atau memberiakn gamabaran lokasi penelitian yang memuat tentang letak geografis, keadaan demografis, keadaan ekonomi, keadaan sosial, dan keadaan keagamaan masyarakat.
BAB III: Dalam bab ini merupakan pembahasan mengenai objek penelitian terhadap tradisi Mabbarazanji yang ada di masyarakat bugis Soppeng khususnya Kel. Ujung dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang sudah di paparkan diatas, serta memaparkan bentuk proses atau rangkain dalam tradisi Mabbarazanji.
BAB IV : Dalam bab ini memaparkan tentang nilai-nilai hadis Nabi. yang terkandung dalam tradisi  Mabbarazanji (pembacaan barzanji) sesuai dengan pemaknaan dari apa yang telah diteliti dari rangakain tradisi tersebut.
BAB V : Merupakan bab penutup yang terdiri dari keimpulan dari si pembahasan, diikuti dengan saran dan lampiran lampiran.

H. Daftar Pustaka Sementara
Suryadilaga Alfatih. 2009. plikasi Penelitian Hadis dari Teks ke Konteks (Yogyakarta: TERAS)
Pelras, Christian. 2006 Manusia Bugis. Penerjemah: Abdul Rahman, Hasriadi, Nurhady Sirimorok (Jakarta: Nalar, Forum Jakarta-Paris, EFEO).
Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi. 2018. Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. (Yogyakarta: Q-Media)

Eka Kartini. Tradisi Barzanji Masyarakat Bugis di Desa Tungke Kec. Bengo Kab. Bone Sul-Sel: Studi Kasus Upacara Menre Haji (Naik Haji). Skripsi  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.2013.
Muhammadong. Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Sastra Bugis; Kajian terhadap Pappaseng. Skripsi Jurusan Agama dibidang
Ilmu Tarbiyah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2002.
Andi Rasdiayanah. Integrasi Pangadereng (Adat) dengan Sistem Syariat Islam sebagai Pandangan Hidup Orang Bugis dalam Lontarak Latoa. Jurnal al-Jamiah, No.59.1996
Saifuddin Zuhri Qudsy. Living Hadis: Geneologi, Teori, dan Aplikasi. Jurnal Living Hadis, Vol. 1, No. 1. Mei 2016.
Wildan Rijal Amin. Living Hadis dalam Fenomena Tradisi Kupatan di Desa Durenan Kecamatan Durenan Kab. Trenggalek. Tesis Studi al-Qur’an dan Hadis  Fakultas Uhuluddin UIN Sunan Kalijaga. 2017.

SamsuddunSahiron. Dkk. 2007. Metodologi penelitian al-Qur’an dan Hadis (Yogyakarta: Teras)
Muttaqin Ahmad. “Barzanji Bugis” dalam Peringatan Maulid;  Studi Living Hadis di Masyarakat Bugis Soppeng, Sul-Sel. Jurnal Living Hadis, Vol. 1, No. 1, Mei 2016, 
M. Junaid. Tradisi Barzanji Sya’ban Masyarakat Bugis Wajo Tanjung Jabung Timur. Kontekstualitas Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan. Vol. 20 No.1, J 2005

Gayda Bachmid. Kitab Barzanji dalam Perspektif Masyarakat Muslim di Manado, Sulawesi Utara. Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 12, No. 2, 2014.

Kamaruddin. Skripsi: Barzanji Tradisi Masyarakat Bugis di Desa Appanang Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng. Departemen Antropologi Sosial,
Fakultas Ilmu Sosial ddan Politik Universitas Hasanuddin Makassar. 2017.

Wawancara via Telpon dengan H. Abd Kadir, BA (Imam Masjid
Hidayatullah Salaonro) pada tanggal 18/4/2018




[1] M. Alfatih Suryadilaga. Aplikasi Penelitian Hadis dari Teks ke Konteks (Yogyakarta: TERAS, 2009), hal.3.
[2] Christian Pelras. Manusia Bugis. Penerjemah: Abdul Rahman, Hasriadi, Nurhady Sirimorok (Jakarta: Nalar, Forum Jakarta-Paris, EFEO.2006). hlm 4.

[3] Sinkretisme, adalah suatu proses perpaduan dari beberapa paham atau aliran agama atau kepercayaan. Proses percampuradukkan berbagai paham sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan.

[4] Cristian Pelras, Manusia Bugis, hlm. 210.
[5] Cristian Pelras, Manusia Bugis, hlm. 223-224.

[6] Cristian Pelras, Manusia Bugis, hlm. 212.

[7] Eka Kartini. Skripsi: Tradisi Barzanji masyarakat bugis di Desa Tungke, Kec Bengo Kab. Bone, Sul-Sel (Studi Kasus Upacara Menre Aji (Naik Haji)). Fakultas Adab dan dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2013, hlm.29.

[8] I Laga Ligo disebut juga Sure’ Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan yang ditulis dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak.

[9] Cristian Pelras, Manusia Bugis, hlm. 224.

[10] Wawancara via Telpon dengan H. Abd Kadir, BA (Imam Masjid Hidayatullah Salaonro) pada tanggal 18/4/2018

[11] Wawancara via Telpon dengan H. Abd Kadir, BA (Imam Masjid Hidayatullah Salaonro) pada tanggal 18/4/2018
[12] Ahmad Muttaqin. “Barzanji Bugis” dalam Peringatan Maulid;  Studi Living Hadis di Masyarakat Bugis Soppeng, Sul-Sel. Jurnal Living Hadis, Vol. 1, No. 1, Mei 2016, 129-150.
[13] Eka Kartini. Tradisi Barzanji Masyarakat Bugis di Desa Tungke Kec. Bengo Kab. Bone Sul-Sel: Studi Kasus Upacara Menre Haji (Naik Haji). Skripsi  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.2013.

[14] Wahyu Sastra Negara. Tesis: Nilai-Nilai Pendidikan Isalam dalam Tradisi Mabbarasanji pada Masyarakat Bugis di Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone. Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar 2017.

[15] Muhammadong. Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Sastra Bugis; Kajian terhadap Pappaseng. Skripsi Jurusan Agama dibidang Ilmu Tarbiyah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2002.

[16] Andi Rasdiayanah. Integrasi Pangadereng (Adat) dengan Sistem Syariat Islam sebagai
Pandangan Hidup Orang Bugis dalam Lontarak Latoa. Jurnal al-Jamiah, No.59.1996

[17] M. Junaid. Tradisi Barzanji Sya’ban Masyarakat Bugis Wajo Tanjung Jabung Timur. Kontekstualitas Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan. Vol. 20 No.1, Juni 2005

[18] Gayda Bachmid. Kitab Barzanji dalam Perspektif Masyarakat Muslim di Manado, Sulawesi Utara. Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 12, No. 2, 2014.

[19] Kamaruddin. Skripsi: Barzanji Tradisi Masyarakat Bugis di Desa Appanang Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng. Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial ddan Politik Universitas Hasanuddin Makassar. 2017.

[20] Christian Pelras. Manusia Bugis. Penerjemah: Abdul Rahman, Hasriadi, Nurhady Sirimorok (Jakarta: Nalar, Forum Jakarta-Paris, EFEO.2006).
   
[21] Mashandi Said. Jati Diri Manusia Bugis. (Jakarta: Pro de leader, 2016)
  
[22] Saifuddin Zuhri Qudsy. Living Hadis: Geneologi, Teori, dan Aplikasi. Jurnal Living Hadis, Vol.
[23] , No. 1. Mei 2016. Hlm. 189.

[24] Wildan Rijal Amin. Living Hadis dalam Fenomena Tradisi Kupatan di Desa Durenan Kecamatan Durenan Kab. Trenggalek. Tesis Studi al-Qur’an dan Hadis  Fakultas Uhuluddin UIN Sunan Kalijaga. 2017. Hlm. 17.

[25] Saifuddin Zuhri Qudsy. Living Hadis: Geneologi, Teori, dan Aplikasi. Hlm.189.

[26] Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi. Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. (Yogyakarta: Q-Media, 2018). Hal.22-24.
[27] Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi. Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. Hal.91-92.
 
[28] Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi. Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. Hal. 100.
[29] Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi. Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. Hal. 104.
[30] Sahiron Samsuddin. Dkk. Metodologi penelitian al-Qur’an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007)
[31] Wildan Rijal Amin. Living Hadis dalam Fenomena Tradisi Kupatan di Desa Durenan Kecamatan Durenan Kab. Trenggalek. Tesis Studi al-Qur’an dan Hadis  Fakultas Uhuluddin UIN Sunan Kalijaga. 2017. Hlm. 22.

Comments

Popular posts from this blog

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...