Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)
![]() |
| Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com |
Agama yang
merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan
juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek
religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon
untuk melakukan ajaran itu dan sebisa
mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani
kehidupan sehari-hari.
Dalam agama
Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang
mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba
dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir
yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan,
maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut
Hadis. Namun, adanya pergeseran pandangan tentang tradisi Nabi Muhammad saw.
yang berujung pada adanya pembakuan dan menjadikan hadis sebagai suatu yang mempersempit
cakupan sunnah. Kenyataan yang berkembang di kalangan masyarakat mengisyaratkan
adanya berbagai bentuk dan interaksi umat Islam dengan ajaran Islam yang kedua
setelah al—Qur’an tersebut. Penyebabnya tidak lain adalah adanya perubahan ilmu
pengetahuan yang diaksesnya. Maka hal
ini merupakan objek kajian living hadis. Karena di dalamnya termanivestasikan
interaksi antara hadis sebagai ajaran Islam dan masyarakat dalam berbagai
bentuknya.[1]
Adanya berbagai tradisi yang berlaku
dimasyarakat yang dianggap mempunyai nilai-nilai agama sehingga hal tersebut
dijadikan suatu kebiasaan dan dilaksanaakan terus menerus. Hal itupun banyak
menuai kontra dengan sebagian orang yang menganggap tradisi yang tidak ada
dalil secara jelas perintahnya itu adalah perbuatan diluar dari ajaran agama
Islam.
Berdasarkan hal itu, peneliti ingin melakukan
kajian yang berorientasi pada kajian living hadis , dimana bertujuan untuk
menghidupkan hadis di kalangan masyarakat.
Agama memang merupakan suatu unsur yang
penting yang menentukan identitas suatu
masyarakat. Oleh karena itu, diterimanya Islam sebagai agama orang Bugis di
Sulawesi Selatan merupakan suatu peristiwa yang sangat penting. Awal abada
ke-17 Masehi, setelah menganut Islam, orang Bugis bersama dengan orang orang
Aceh, Minangkabau di Sumatra; orang
melayu di Sumatra, Kalimantan, dan Malaysia; orang moro’ di Mindanao; orang
Banjar di Kalimantan; orang Sunda di Jawa Barat; dan orang Madura di Pulau
Madura dan Jawa Timur dicap sebagai orang Nusantara yang paling kuat identitas
keislamannya.orang Bugis menjadikan agama Islam sebagai bagian integral dan esenial dari adat
istiadat dan budaya mereka. Meskipun demikian, pada saat yang sama, berbagai
kepercayaan peninggalan pra-Islam tetap mereka pertahankan sampai akhir abad
ke-20 M.[2]
Diterimanya Islam dikalangan elite Sulawesi Selatan sejak
awal proses islamisasi tampaknya berbarengan dengan dua kecendrungan yang
saling berlawanan, yakni antara keinginan sebagian kalangan untuk tetap
mempertahankan sinkretisme[3],
dan sebagaian
kalangan yang ingin
menerapkan ajaran Islam yang benar (ortodoks).[4]
Dalam hal ini yang akan menjadi objek
penelitian adalah tadisi pembacaan Barzanji atau biasa dikenal di daerah Bugis
sebagai kegiatan Mabbarasanji, umat
muslim Bugis melaksanakan upacara syukuran yang dimulai dengan pembacaa Kitab
al-Barzanji yang disertai dengan do’a-do’a syukuran dengan menghidangkan
masakan daging khas Bugis, hal ini sangat mirip dengan tradisi muslim melayu
yakni kenduri. Oleh karena itu, dari
jenis rangkaian yan dilakukan dalam upcara tersebut sebenarnya dapat diamati
dua unsure yaitu Islam dan pra-Islam yang berpadu di dalamnya.[5]
rkaitan dengan tradisi Mabbarasanji,
sampai saat ini belum diketahui secara pasti siapa yang membawa masuk ke
wilayah Indonesia. Walaupun demikian, tradisi Barzanji tetap populer dikalangan
masyarakat Indonesia. Selain itu mereka yang melaksanakan pembacaan Barzanji
pada saat acara kelahiran anak (aqiqah),
pernikahan dan lain sebagainya. Begitupula yang terjadi di masyarakat bugis di
Sulawesi Selatan. Pembacaan kitab Barzanji (Mabbarazanji)
selalu dilakukan pada acara-acara tertentu
seperti acara pernikahan, Aqiqah, keberangkatan haji, pindah rumah baru,
kematian dll,.
Dalam
kesehariannya, masyarakat bugis mengenal konsep ade’/
Pangadereng’ atau ‘adat Istiadat’ berupa serangkaian norma yang
berkaitan satu sama lain. Selain itu juga terdapat di dalamnya bicara (norma hokum), rapang (norma keteladan dam kehidupan
bermasyarakat), wari’ (norma yang
mengatur strasifikasi bermasyarakat).[6]
Meskipun
penetrasi ajaran agama Islam berlangsung lama namun kepercayaan tradisional
(sinkretisme) masih bertahan pada sebagian besar masyarakat Bugis tradisional.
Namun adapulah tradisi pra-Islam yang sudah di Islamisasikan, contohnya tradisi
Mabbarzanji. Walaupun agama Islam
tergolong terbelakang penerimaannya di Sulawesi Selatan, tapi bukan berarti
agama Islam di terima oleh penduduk setempat dengan cara pemaksaan. Agama Islam
masuk ke wilayah Sulawesi Selatan dengan cara yang santun, terbukti dengan
usaha para ulama terdahulu dengan tidak mematikan tradisi lama mereka,
melainkan berusaha mengislamkannya.[7]
Salah satunya Setelah Islam datang, selain kitab Barzanji, naskah I La Galigo[8]
juga masih dibaca oleh masyarakat Bugis. Dalam buku karya Christian Pelras
“Manusia Bugis” menjelaskan bahwa kegiatan Barzanji Mulai pada akhir abad
ke-XVIII atau awal abad ke-XIX pembacaan Barzanji telah menggantikan pembacaan
naskah-naskah I La Galigo dalam
upacara syukuran. Kedua tradisi ini pun mengalami pencampuran.[9]
Pembacaan
Barzanji pada acara-acara tertentu seperti pada acara abbottingeng (pernikahan), appeno
lolo (aqiqah), menre’ hajji (naik hajji), menre bola (pindah rumah). Ada yang berbeda dengan desa-desa lain
yang ada di daerah Kab. Soppeng, tradisi
Mabbarasanji di desa Salaonro hanya
dilakukan pada acara-acara keluarga saja seperti yang telah disebutkan di atas,
yang berbeda adalah pembacaan barazanji tidak dilakukan pada acara Maulid pada
bulan Rabiul Awal dan Isra’ Mi’raj
pada bulan Rajab yang dilakukan
setiap tahun di Masjid.
Tradisi mabbarasanji seakan-akan
menjadi tradisi yang wajib untuk dilakukan pada momen atau acara-acara tertentu
sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Mengapa tradisi tersebut harus ada?
“Pembacaan barzanji adalah sesuatu yang harus ada karena merupakan sesuatu yang
dianggap sakral dan penting, pembacaan barzanji adalah sebagai salah satu rangkaian untuk
mendekatkan diri kepada Allah dengan memuliakan Nabi utusannya , tujuannya agar
selalu diberikan keselematan dan terhindar dari bala’
(bencana).” kata H. Abd. Kadir. [10]
Dalam
tradisi pembacaan Barzanji biasanya di laksanakan pada waktu yang berneda-beda
setiap acaranya seperti pada acara abbotingeng
(pernikahan) pembacaan barzanji dilaksanan sehari sebelum akad pernikahan,
acara appeno lolo (aqiqah)
dilaksanakan pada saat prosesi pemotongan rambut bayi, pada acara attampungeng’ (kematian) dilaksanakan
pada hari ketujuh, acara menre haji’ (naik haji) dilaksanakan 4-7
hari sebelum keberangkatan.[11]
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, yang telah dipaparkan, maka rumusan yang akan dikaji
dalam penelitian ini:
1. Bagaimana
bentuk proses pelaksanaan Mabbarazanji
masyarakat bugis soppeng?
2. Mengapa
masyarakat bugis Soppeng mentradisikan pembacaan kitab alBarazanji (Mabbarzanji)?
3. Nilai-nilai
Hadis apa yang terkandung dalam tradisi tersebut?
C. Tujuan
Penelitian
1. Menjelaskan
prosesi pelaksanaan tradisi pembacaan barazanji
di masyarakat bugis soppeng.
2. Menjelaskan
motif masyarakat bugis soppeng mentradisikan pembacaan barzanji.
3. Mendeskripsikan
nilai-nilai hadis yang terkandung dalam dalam tradisi mabbarzanji di masyarakat
bugis Soppeng.
D. Telaah
Pustaka
Telaah pustaka ini memberikan tujuan
untuk menjadikan suatu kebutuhan ilmiah yang berguna sebagai sumber penjelasan
dan batasan tentang informasi yang digunakan melalui kajian pustaka dan juga
untuk menghindari kesamaan judul dan karangan sebelumnya terhadap permasalahan
yang akan dibahas. Penelitian terbagi dalam beberapa macam model penelitian
tentang tradisi pembacaan barzanji yaitu living hadis dan penelitian
antropologi murni, pendidikan, dll. sebagaimana berikut:
Dalam penulusuran peneliti, terdapat
karya living hadis yang juga membahas mengenai pembacaan barzanji yaitu “Barzanji Bugis dalam Peringatan Maulid;
Studi Living Hadis di Masyarakat Bugis Soppeng, Sul-Sel” ditulis oleh Ahmad
Muttaqin[12]
peneliti mencoba menelaah tulisan tersebut dan tradisi yang dibahas sama dengan
apa yang ingin penulis teliti. Dalam tulisan di atas Ahmad Muttaqin menjelaskan
proses akulturasi budaya yang terjadi di masyarakat Bugis, pembacaan barzanji
merupakan suatu yang sakral dalam masyarakat Bugis, tradisi Brazanji sebagai
wujud kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad saw. pada penelitian tersebut,
penulis tidak terlalu menjelaskan bentuk dan proses bagaimana tradisi tersebut
juga dilakukan pada momen atau
acara-acara adat keluarga yang dilakukan masyarakat, dan sesuai judulnya
terlihat membatasi tradisi tersebut hanya pada acara Maulid Nabi.
Disini peneliti mencoba menyajikan hal
yang baru dari penelitian sebelumnya, diamana penyajian terhadap tradisi
Mabbarazanji (pembacaan barzanji) tidak hanya dilakukan pada acaraacara/ hari
raya Islam saja, bahkan hal yang sangat berbeda dari penelitian sebelumnya
bahwa di masyarakat bugis khususnya di desa Salaonro Kel. Ujung tidak melakukan
tradisi barzanji pada acara
Maulid dan Isra’ Mi’raj yang
dilakukan setiap tahunnya, pembacaan Barzanji hanya dilakukan pada acara
acar-acara adat keluarga saja seperti pada acara Appeno lolo (aqiqah), Abottingeng
(Pernikahan), attampungeng
(kematian), Menre bola (pindah
rumah), menre haji
(naik haji).
Diantara penelitian tentang taradisi
Mabbarazanji yang bersifat antropologi murni adalah “Tradisi Barzanji
Masyarakat Bugis di Desa Tungke Kec. Bengo Kab. Bone Sul-Sel: Studi Kasus
Upacara Menre Haji (Naik Haji)” oleh
Eka Kartini[13]
membahas tentang prosesi upacara yang di lakukan menjelang keberangkatan ke
tanah suci (ibadah haji). Menurut peneiliti penelitian ini bersifat deskriptif
sehingga menjelaskan inti dari tujuan masyarakat melaksanakan tradisi barzanji
untuk mengucap syukur kepada Tunan,
dengan melaksanakan tradisi tesebut orang yang akan melaksanakan ibadah
haji diberikan keselamatan hingga kepulangannya. Dalam penelitian ini
pembahasan yang bersifat deskriptf, penelitian focus pada satu upacara sebagai
studi kasus, selain itu penelitian tersebut bukanlah penelitian kajian living
hadis sehingga apa yang peneliti akan teliti belum terdapat dalam penelitian
tersebut.
“Nilai-Nilai
Pendidikan Islam dalam Tradisi Mabbarasanji
pada Ma syarakat Bugis di Kelurahan
Watampone Kecamatan Tanete
Riattang Kabupaten Bone” sebuah
karya tesis yang ditulis oleh Wahyu Sastra Negara pada program Pascasarjana UIN
Alauddin Makassar dalam bidang Pendidikan Agama Islam. Dalam tesis tersebut
Wahyu Sastra Negara menggunakan teori fenomenologik dimana peneliti mencoba
menggali makna-makna yan terkandung dalam suatu fakta yang terjadi, makna yang
difokuskan dalam tesis tersebut adalah kandungan nilai-nilai pendidikan Islam
yang ada dalam tradisi Mabbarasanji serta nilai-nilai pendidikan Islam dalam
kitab Barzanji itu sendiri. Dan terlihat bahwa penelitian yang dilakukan
seimbang antara kajian antropologi dan kajian keislaman.[14]
“Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak
dalam Sastra Bugis; Kajian terhadap Pappaseng”[15]
oleh Muhammadong. Penilitian ini membahas mengenai nilai-nilai akhlak yang
sesuai dengan ajaran agama Islam khususnya pada masyarakat bugis. Penelitian
yang bersifat kualitatif dan bercorak library murni.
“Integrasi Pangadereng (Adat) dengan Sistem Syariat Islam sebagai Pandangan
Hidup Orang Bugis dalam Lontarak Latoa”[16]
oleh Dr. H. Andi Rasdiyanah penilitian tersebut fokus pada hubungan hukum adat
dengan hukum Islam dalam pola integrasi system pangedereng’
“Tradisi
Barzanji Sya’ban Masyarakat Bugis Wajo Tanjung
Jabung Timur” Adalah sebuah jurnal yang ditulis oleh M. Junaid.
Tulisan tesebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan menjelasakan
bagaiamana prosesi pelaksanaan pembacaan kitab al-
Barzanji yang dilakukan pada bulan sya’ban. Dalam penelitin
tersebut penulis mencoba menggali nilai-nilai atau makna yang terkandung dalam
proses pelaksanaan ritual Barzaji. Namun
hanya menggali makna secara umum tanpa mengaitkan dengan ayat al-Qur’an dan
Hadis terntentu. Dengan itu menjadi cela untuk penelitian selanjutnya dengan
lebih menjelaskan hubungan ritual tersebut dengan hadis tertentu.[17]
“Kitab
Barzanji dalam Perspektif Masyarakat Muslim di
Manado, Sulawesi Utara”, sebuah jurnal yang ditulis oleh Gayda
Bachmid dari Universitas Sam Ratulangi Manado.[18]
Penelitian tersebut menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dalam karyanya
ini menjelaskan tentang aspek-aspek intraluingistik berkaitan dengan
unsur-unsur ekstraliguistik bertemu dalam tema-tema sosial seperti nilai-nilai
kehormatan, kebersamaan, persaudaraan, dan perngharagaan. Tema cultural yang
mengandung nilai ketenangan, kebahagiaan. Serta metafisik (filosofi) mengandung
nilai kepercayaan, keimanan, dan keyakinan. Penelitian tersebut merupakan
penelitian antropologi murni berbeda dengan penilitian yang akan dilakukan,
yang juga menggunakan teori sosial antropologi namun dipadukan dengan aspek
teks keislaman.
“Barzanji Tradisi Masyarakat Bugis
di Desa Appanang
Kecamatan Lilirilau
Kabupaten Soppeng”, sebuah karya skripsi yang ditulis oleh Kamaruddin di
Departemen Antropologi SosialFakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas
Hasanuddin.[19]
Sebuah penelitian yang menggunakan metode kualitatis deskriptif yng mengkaji
tentang tradisi barzanji sebagai kegiatan dan proses pada kehidupan masyarakat
bugis. Dalam skripsi tersebut memaparkan bagaiaman proses pelaksanaan barzanji
dan nilai-nilai yang tekandung di dalamnya. Tulisan tersebut merupakan kajian
antropologi murni yang dikaji dengan menggunakan teori-teori sosial budaya.
“Manusia Bugis”[20]
adalah sebuah karya berbentuk buku dengan judul asli The Bugis yang diteliti oleh peneliti asal Prancis bernama
Christian
Pelras. Dalam buku tersebut menjelelaskan
secara
komperehensif bagaimana peradaban awal suku bugis Indonesia
hingga zaman Modern ketika Islam sudah masuk dikalangan masyarakat bugis di
Sulawesi Selatan. Buku menjadi rujukan penting dalam penelitian ini karena
didalamnya menjelaskan adat ritual kepercayaan pra-Islam yang kemudian sedikit
demi sedikit berakulturasi dengan ajaran Islam yang masuk.
“Jati
Diri Manusia Bugis”[21]
oleh Mashandi Said. Sebuah karya buku yang membahas tentang rinsip kehidupan
manusia bugis, pandangan dunia Bugis dengan etika lainnya seperti seperti
pandangan dunia Bugis dan Islam serta pandangan dunia bugis dengan teori
moral lainnya. Menutut peniliti karya
ini dapat membantu dalam mejelaskan bagaimana jaiti diri, konsep, dan prinsip
adat dan keagamaan dalam masyarakat bugis.
Dari berbagai
pemaparan diatas maka, peneliti mengambil celah penelitian living hadis tentang
tradisi Mabbarazanji (pembacaan
Barzanji) di Masyarakat Bugis Soppeng Khususnya di Kel. Ujung. Untuk memberikan
suatu khazanah keilmuan yang baru dalam kajian living hadis
E. Kerangka
Teoritik.
1. Teori
fenomenologi
Fenomenologi
merupakan salah satu disiplin dalam tradisi filsafat. Edmund (1859-1938)
merupakan tokoh dan penggagas teori ini. Berasal dari bahaa Yunani (phenomena)
yang bermakna suatu yang tampak, sesuatu yang terlihat, fenomenologi adalah
ilmu pengetahuan mengenai apa yang tampak.[22][23]
Lebih lanjut kuswanto menyebutkan bahwa fenomenologi berusaha mencari pemahaman
bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep penting dalam kerangka
intersubyektivitas (pemahaman mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kitta
dengan orang lain).[24]
Dalam hal ini peneliti medeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu
terhadap berbagai pengalaman hidup mereka mengenai sebuah konsep atau sebuah
fenomena. Menurut Cresswell, tujuan utama fenomenolog adalah untuk mereduksi
pengalaman-pengalaman individu pada sebuah fenomena menjadi sebuah deskripsi
tentang esensi atau intisari universal.[25]
2. Teori
Sejarah Sosial
Sejarah sosial merujuk pada “to work in
variety of human activities difficult to classify except in such terms as
‘manners, costums, everdaylife”. Demikian juga dengan masalah-masalah yang
berhubungan dengan perubahan sosial, perubahan tata nilai, agama dan tradisi
kebudayaan yang juga ikut berpengaruh terhadap timbulnya masalah sosial. Salah
satu penggerak sejarah sosial, Eric Hobsbawn bahwa kekuatan dan harapan sejarah
sejarah sosial itu terletak pada keinginan mengecek dan mengungkap saling
berpengaruhi antara ekonomi, politik, budaya. Sejarah sosial juga memiliki
kecenderungan untuk mengkontekstualisasikan apa yang terjadi pada sejarah
ekonomi, intelektual, atau politik yang ditujukan untuk mengisolasi.[26]
Dalam hal ini peneliti akan mencoba
menelusuri otoritas serta transmisi sebuah keilmuan dengan cara pandang sejarah
sosial, Richard Bulliet melalui karyanya Islam,
The View From The Edge yang telah menggunakan perspektif sejarah sosial
bagaiamana hadis sampai dan dipelajari oleh masyarakat Jurjan, Iran pada abad
ke 2-3 Hijriyah, saat Islam mengalami proses invasi ke daerah non-Arab.
Masyarakat Jurjan adalah sepenuhnya non-Arab, mereka tidak pernah mengalami
sendiri emosi yang mengiringi masyarakat Mekkah dan Madinah dalam pertemuan
keseharian dengan Nabi. Pun, masyarakat jurjan telah memiliki keyakinan dan
budaya saat Islam datang pada ruang lingkup sosial mereka. Kalaupun mereka
akhirnya beriman kepada Allah, kepada Muhammad, itu karena mereka setelah masuk
Islam. Bahkan dapat disebutkan bahwa pemahaman mereka pun tentang Islam
berbeda-beda. Dalam penelitian tesebut penting untuk menelisik, kenapa harus
Jurjan, daerah pinggiran Iran yang merupakan perbatasan antara Asia Tengah dan
Asia Selatan? Apa yang penting dari meneliti peralihan keimanan bahkan
identitas budaya masyarakat Jurjan?. Dari problem tersebut inilah kemudian Bulliet
mengulas tentang sejarah sosial masyarakat Jurjan, serta yang paling penting
adalah persoalan otoritas hadis sebagaimana yang diperankan oleh tokoh-tokoh
ulama tingkat local. Metode riset seperti ini dilakukan oleh Richard Bulliet
dengan memulai investigasi dari Individu atau kelompok individu dari suatu
komunitas kecil.[27]
Oleh karena dalam kehidupan masyarakat
muslim Indonesia yang sarat akan budaya itu sebenarnya unik sekaligus bersifat
global ini penting untuk dinarasikan melalui sejarah sosial. Sehingga penlitian
living hadis ini akan menelusuri karakter utama dari proses transmisi hadis
yang selalu ada, yakni otoritas hadis yang tidak melulu bersifat
literatif-tertulis (literacy, written), tetapi secara jelas adalah otoritas
yang berkarakter oralitas (orality, sounds).[28]
Dari sini kita dapat berkesimpulan,
bahwa perspektif sejarah sosial yang menekankan kepada apa yang disebut Bulliet
sebagai “the view from the edge”. Yakni narasikan sejarah yang merusaha untuk
melengkapi cara pandang Islam dominan (sebagaimana dilihat dari pusat, dari
aspek politik, yang serba formal dan bersifat legalistik), menuju cara pandang
pinggiran mulai kapan atau dimanapun masyarakat secara dinamis berusaha
menentukan dirinya untuk “menyebrangi” batasan-batasan sosiokultural dirinya
sendiri, secara dinamis mendialogkan aspek universal islam dab factor lokalitas
mereka, lalu mendedikasikan dirinya sebagai bagian dari Islam, dan menjadiskan
Islam sebagai identitass integral kehidupan mereka.[29]
F. Metodologi
Penelitian
1. Jenis
dan Sifat Penelitian
Penilitian
ini merupaka penlitian lapangan (field research), yaitu penelusuran langsung ke
lapangan tau objek penelitian untuk menggali data-data terkaait dengan tradisi Mabbarzanji. penyajian data secara
kualitatif yaitu penyajian dengan
perspektif emic, yaitu data yang
dipaparkan sesuai dengan cara pandang subyek penelitian.[30]
Sedang sifat penelitian adalah deskriptif yaitu memaparan secara sistematis
fakta-fakta dan karasteristik obyek kajian.
2. Sumber
Data
Sumber data
penelitian ada dua yaitu data primer dan sekunder. Dat primer lebih ditekankan
pada data lapangan. Data tersebut diambil dari para informan melalui wawancara.
Data sekunder adalah sebagai tambahan referensi buku-buku terkait dengan teori
dan pendekatan yang peneliti gunakan.
3. Metode
Pengumpulan Data
Dalam penelitia kualitatif ada
beberapa metode pengumpulan data, atara lain wawancara, observasi, dokumentasi.[31]
a.
Interview/wawancara
dalam penelitia lapangan yang
terpenting adalah wawancara mendalam atau wawanacara yang dilakukan dengan
mengambil informasi hingga ke akar dalam menggapai fenomena yang muncul di
masyarakat. Wawancara adalah mengumpulkan data dengan beratnya langsung pada
informan untu mendapatkan informasi.
b. Observasi
Dalam penelitian
ini menggunakan pengamatan secara langsung (observasi). Penelitian observasi
adalah suatu metode dengan mengumpulakan data
pengamat dan pencatatan secara sistematis terhadap tema yang diteliti
c. Dokumentasi
Metode
dokumentasi dengan mencari data mengenai variable berupa catatan, buku panduan,
serta buku-buka yang berkaitan. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi
karena pada dasarnya metode dokumentasi adalah metode yang sifatnya stabil,
dapat dipergunakan sebagai bukti untuk pengujian.
G. Sistematika
Pembahasan
Untuk
mendapatkan analisis yang komprehensif, pembahasab dalam skripsi ini terbagi
dalam 5 bab yang masing-masing memuat beberapa sub bahasan, yaitu:
BAB I :
Merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan dan kegunaan, telaah pustaka, kerangka teori, metodolgi penelitian, dan
sistematika pembahasan.
BAB II :
Dalam bab ini memaparkan atau memberiakn gamabaran lokasi penelitian yang
memuat tentang letak geografis, keadaan demografis, keadaan ekonomi, keadaan
sosial, dan keadaan keagamaan masyarakat.
BAB III: Dalam bab ini merupakan
pembahasan mengenai objek penelitian terhadap tradisi Mabbarazanji yang ada di masyarakat bugis Soppeng khususnya Kel.
Ujung dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang sudah di paparkan diatas,
serta memaparkan bentuk proses atau rangkain dalam tradisi Mabbarazanji.
BAB IV :
Dalam bab ini memaparkan tentang nilai-nilai hadis Nabi. yang terkandung dalam
tradisi Mabbarazanji (pembacaan barzanji) sesuai dengan pemaknaan dari apa
yang telah diteliti dari rangakain tradisi tersebut.
BAB V :
Merupakan bab penutup yang terdiri dari keimpulan dari si pembahasan, diikuti
dengan saran dan lampiran lampiran.
H. Daftar
Pustaka Sementara
Suryadilaga
Alfatih. 2009. plikasi Penelitian Hadis dari Teks ke Konteks (Yogyakarta:
TERAS)
Pelras, Christian. 2006 Manusia Bugis. Penerjemah: Abdul Rahman,
Hasriadi, Nurhady Sirimorok (Jakarta: Nalar, Forum Jakarta-Paris, EFEO).
Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi. 2018. Living Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. (Yogyakarta:
Q-Media)
Eka Kartini.
Tradisi Barzanji Masyarakat Bugis di Desa
Tungke Kec. Bengo Kab. Bone Sul-Sel: Studi Kasus Upacara Menre Haji (Naik Haji).
Skripsi Jurusan Sejarah dan Kebudayaan
Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.2013.
Muhammadong. Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak
dalam Sastra Bugis; Kajian terhadap Pappaseng. Skripsi Jurusan Agama
dibidang
Ilmu Tarbiyah Fakultas Tarbiyah
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2002.
Andi
Rasdiayanah. Integrasi Pangadereng (Adat)
dengan Sistem Syariat Islam sebagai Pandangan Hidup Orang Bugis dalam Lontarak
Latoa. Jurnal al-Jamiah, No.59.1996
Saifuddin
Zuhri Qudsy. Living Hadis: Geneologi, Teori, dan Aplikasi. Jurnal Living Hadis,
Vol. 1, No. 1. Mei 2016.
Wildan Rijal Amin. Living Hadis
dalam Fenomena Tradisi Kupatan di Desa Durenan Kecamatan Durenan Kab.
Trenggalek. Tesis Studi al-Qur’an dan Hadis
Fakultas Uhuluddin UIN Sunan Kalijaga. 2017.
SamsuddunSahiron. Dkk. 2007. Metodologi penelitian al-Qur’an dan Hadis
(Yogyakarta: Teras)
Muttaqin Ahmad. “Barzanji Bugis” dalam Peringatan
Maulid; Studi Living Hadis di Masyarakat
Bugis Soppeng, Sul-Sel. Jurnal Living Hadis, Vol. 1, No. 1, Mei 2016,
M. Junaid. Tradisi Barzanji Sya’ban Masyarakat Bugis Wajo Tanjung Jabung Timur.
Kontekstualitas Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan. Vol. 20 No.1, J 2005
Gayda Bachmid. Kitab Barzanji dalam Perspektif Masyarakat Muslim di Manado, Sulawesi
Utara. Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 12, No. 2, 2014.
Kamaruddin.
Skripsi: Barzanji Tradisi Masyarakat
Bugis di Desa Appanang Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng. Departemen
Antropologi Sosial,
Fakultas Ilmu Sosial ddan Politik Universitas Hasanuddin Makassar. 2017.
Wawancara via Telpon dengan H. Abd Kadir,
BA (Imam Masjid
Hidayatullah Salaonro) pada tanggal
18/4/2018
[1] M. Alfatih Suryadilaga. Aplikasi Penelitian Hadis dari Teks ke
Konteks (Yogyakarta: TERAS, 2009), hal.3.
[2] Christian Pelras. Manusia Bugis. Penerjemah: Abdul Rahman,
Hasriadi, Nurhady Sirimorok (Jakarta: Nalar, Forum Jakarta-Paris, EFEO.2006).
hlm 4.
[3]
Sinkretisme, adalah suatu proses
perpaduan dari beberapa paham atau aliran agama atau kepercayaan. Proses
percampuradukkan berbagai paham sehingga hasil yang didapat dalam bentuk
abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan.
[5] Cristian Pelras, Manusia Bugis, hlm. 223-224.
[6] Cristian Pelras, Manusia Bugis, hlm. 212.
[7] Eka Kartini. Skripsi: Tradisi Barzanji masyarakat bugis di Desa
Tungke, Kec Bengo Kab. Bone, Sul-Sel (Studi Kasus Upacara Menre Aji (Naik
Haji)). Fakultas Adab dan dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2013, hlm.29.
[8] I Laga Ligo disebut juga Sure’
Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi
Selatan yang ditulis dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Puisi ini terdiri
dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan asal-usul manusia, juga
berfungsi sebagai almanak.
[9] Cristian Pelras, Manusia Bugis, hlm. 224.
[10]
Wawancara via Telpon dengan H. Abd Kadir, BA (Imam Masjid Hidayatullah
Salaonro) pada tanggal 18/4/2018
[11] Wawancara via Telpon
dengan H. Abd Kadir, BA (Imam Masjid Hidayatullah Salaonro) pada tanggal
18/4/2018
[12]
Ahmad Muttaqin. “Barzanji Bugis” dalam
Peringatan Maulid; Studi Living Hadis di
Masyarakat Bugis Soppeng, Sul-Sel. Jurnal Living Hadis, Vol. 1, No. 1, Mei
2016, 129-150.
[13] Eka Kartini. Tradisi Barzanji Masyarakat Bugis di Desa
Tungke Kec. Bengo Kab. Bone Sul-Sel: Studi Kasus Upacara Menre Haji (Naik Haji).
Skripsi Jurusan Sejarah dan Kebudayaan
Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.2013.
[14] Wahyu Sastra Negara.
Tesis: Nilai-Nilai Pendidikan Isalam
dalam Tradisi Mabbarasanji pada Masyarakat Bugis di Kelurahan Watampone
Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone. Konsentrasi Pendidikan Agama
Islam Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar 2017.
[15] Muhammadong. Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak
dalam Sastra Bugis; Kajian terhadap Pappaseng. Skripsi Jurusan Agama dibidang
Ilmu Tarbiyah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2002.
[16] Andi Rasdiayanah. Integrasi Pangadereng (Adat) dengan Sistem
Syariat Islam sebagai
Pandangan Hidup Orang Bugis dalam Lontarak
Latoa. Jurnal al-Jamiah, No.59.1996
[17] M. Junaid. Tradisi Barzanji Sya’ban Masyarakat Bugis
Wajo Tanjung Jabung Timur. Kontekstualitas Jurnal Penelitian Sosial
Keagamaan. Vol. 20 No.1, Juni 2005
[18] Gayda Bachmid. Kitab Barzanji dalam Perspektif Masyarakat
Muslim di Manado, Sulawesi Utara. Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 12, No. 2,
2014.
[19] Kamaruddin. Skripsi: Barzanji Tradisi Masyarakat Bugis di Desa
Appanang Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng. Departemen Antropologi
Sosial, Fakultas Ilmu Sosial ddan Politik Universitas Hasanuddin Makassar.
2017.
[20] Christian Pelras. Manusia Bugis. Penerjemah: Abdul Rahman,
Hasriadi, Nurhady Sirimorok (Jakarta: Nalar, Forum Jakarta-Paris, EFEO.2006).
[21] Mashandi Said. Jati Diri Manusia Bugis. (Jakarta: Pro
de leader, 2016)
[22] Saifuddin Zuhri Qudsy. Living Hadis: Geneologi, Teori, dan Aplikasi.
Jurnal Living Hadis, Vol.
[23] , No. 1. Mei 2016. Hlm.
189.
[24] Wildan Rijal Amin. Living Hadis dalam Fenomena Tradisi
Kupatan di Desa Durenan Kecamatan Durenan Kab. Trenggalek. Tesis Studi
al-Qur’an dan Hadis Fakultas Uhuluddin
UIN Sunan Kalijaga. 2017. Hlm. 17.
[25] Saifuddin Zuhri Qudsy. Living Hadis: Geneologi, Teori, dan Aplikasi.
Hlm.189.
[26]
Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi. Living
Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. (Yogyakarta: Q-Media, 2018).
Hal.22-24.
[27] Saifuddin Zuhri, Subkhani
Kusuma Dewi. Living Hadis: Praktik,
Resepsi, Teks, dan Transmisi. Hal.91-92.
[28] Saifuddin Zuhri, Subkhani
Kusuma Dewi. Living Hadis: Praktik,
Resepsi, Teks, dan Transmisi. Hal. 100.
[29]
Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi. Living
Hadis: Praktik, Resepsi, Teks, dan Transmisi. Hal. 104.
[30] Sahiron Samsuddin. Dkk. Metodologi penelitian al-Qur’an dan Hadis
(Yogyakarta: Teras, 2007)
[31] Wildan Rijal Amin. Living Hadis dalam Fenomena Tradisi
Kupatan di Desa Durenan Kecamatan Durenan Kab. Trenggalek. Tesis Studi
al-Qur’an dan Hadis Fakultas Uhuluddin
UIN Sunan Kalijaga. 2017. Hlm. 22.

Comments
Post a Comment