Skip to main content

Konsep Sunnah Dan Hadis Menurut Kassim Ahmad

Konsep Sunnah Dan Hadis Menurut Kassim Ahmad, 3media.freemalaysiatoday.com



      A.    Latar Belakang
Hadis atau sunah dalam dunia Islam dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan tinggi, yakni menjadi sumber kedua setelah al-Qur’an wahyu mulia. Sebagai sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an hadis maupun sunah dipegangi dan ajarannya diamalkan oleh umat Islam. Ia menjadi standar utama umat Islam dalam usaha meneladani dan mempraktikkan petunjuk Rasulullah Saw.[1]
Hadis dan sunah sendiri menurut ulama muhadissin merupakan satu hal yang sama hanya berbeda pelafalannya saja. Hadis dan sunah dalam pandangan ulama muhaddisin adalah hal-hal yang berasal dari Nabi Muhammad saw. baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan, maupun sifat beliau, dan sifat-sifat ini baik berupa sifat-sifat pisik, moral, maupun perilaku, dan hal itu baik sebelum beliau menjadi Nabi maupun sesudahnya.[2] Dan kebanyakan umat Islam setuju dengan pendapat yang menyamakan antara sunah dengan hadis, namun juga tidak dapat menutupi bahwa tidak sedikit pula yang membedakan antara keduanya.
Tampaknya pendapat ulama mengenai kedudukan ataupun pengerian dari sunah dan hadis ini mendapat penolakan dari kelompok inkarusunah maupun revisionis[3] sarjana barat. Inkarusunah atau yang dikenal dengan anti hadis adalah orang-orang yang menolak kedudukan hadis sebagai sumber ilmu atau perundangan Islam dan menolak kesahihan sebuah hadis atau lebih hadis sahih dalam Islam.[4] Dengan ini dapat diketahui bahwasannya kelompok inkarusunah ini menolak segala bentuk sunah dan hadis di dalam Islam, mereka hanya menjadikan al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dan sumber ajaran.
Adapun pendapat yang digunakan oleh kelompok inkarusunah dalam usaha mereka menolak hadis atau sunah sebagai sumber dan sebagainya itu adalah bahwasannya “Al-Qur’an adalah dasar satu-satunya keberagaman Islam” karena al-Qur’an itu komplit, sempurna, dan menjelaskan dirinya sendiri; ia tidak membutuhkan penjelasan dari luar termasuk hadis.[5]
Paham inkarusunah sebenarnya telah muncul setetlah wafatnya Rasulullah Saw. yaitu dengan lahirnya aliran-aliran poitik dan teologi dalam Islam seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij dan sebagainya pada abad kedua Hijriah.[6] Setelah berselang lama kemudian muncul kembali tokoh-tokoh yang memiliki paham inkarusunah.
Pada abad-abad belakangan muncul nama Kassim Ahmad, ia dikenal melalui karyanya yang berjudul “Hadis Suatu Penilaian Semula” yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Dalam bahasa Indonesia buku ini berjudul “Hadis Ditelanjangi Sebuah Re-evaluasi Mendasar Atas Hadis”. dalam karyanya ini Kassim Ahmad mengungkapkan pemikirannya terhadap hadis ataupun sunah, ia tidak hanya menolak hadis ataupun sunah sebagai sumber hukum ia juga tidak mengakui adanya penulisan hadis. dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi.
Dari penolakan Kassim Ahmad terhadap hadis atau sunah memunculkan pandangan baru bahwasannya, bagi Kassim Ahmad orang-orang yang menggunakan hadis dicap sebagai orang-orang yang “Syirik”.[7] Konsekuensi dari pernyataan ini adalah bahwasannya siapa saja yang mengamalkan hadis dianggap sebagai orang yang tersesat dan melakukan dosa besar sehingga ia tidak akan mendapat ampunan dari Allah Swt. Hal ini juga berimplikasi pada berbagai hal, baik itu dalam kehidupan peribadi beliau ataupun masyarakat sekitar yang mengaji darinya.
Syirik adalah menyekutukan Allah Swt. Dan menyamakan Allah dengan makhluknya, dosa syirik merupakan kedzaliman yang paling besar dan bagi pelakunya akan mendapat neraka sebagai balasan. Kembali kepada statemen Kassim Ahmad mengenai orang yang memakai hadis sebagai orang yang syirik, maka dapat ditarik sebuah pengertian bahwa mengamalkan hadis sama dengan mengambil suatu hukum selain dari Allah Swt. Dan menyamakan Nabi dengan Tuhan. Hal ini akan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi orang-orang yang menggunakan hal ini sebagai landasan berpikirnya.
Oleh karena itu dari statement diatas maka penulis sangat tertarik untuk menelusuri dan mengungkap mengenai bagaimana konsep mengenai hadis dan sunah yang dibangun oleh Kassim Ahmad sehingga menghasilkan pemikiran yang dirasa sangat liar ini. hal ini juga untuk mengungkapkan dasar-dasar pemikirannya terhadap hadis. karena jika kita menggunakan argumen dari Kassim Ahmad ini maka sebagian besar umat Islam semuanya telah melakukan dosa. Dan konsep yang dimaksud oleh penulis ini adalah mengenai pandangan Kassim Ahmad terhadap hadis dan sunah, apakah kedua term itu merupakan sama atau berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Adapun penulis memilih Kassim Ahmad sebagai obyek kajian, karena beberapa alasan yang sederhana. Pertama, Kassim Ahmad berasal dari daerah yang tidak jauh dari Indonesia, Malaysia tepatnya. Kedua, karena ia berasal dari Malaysia yang notabene satu rumpun bahasa dengan Indonesia akan memudahkan dalam upaya pengkajian sumber asli.
      B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan pada latar belakang masalah diatas, maka dapat dibuat rumusan sebagai berikut:
1.      Bagaimana Pemikiran Kassim Ahmad Mengenai Konsep Sunah dan Hadis?
2.      Apa Implikasi dari Konsep Sunah dan Hadis Kassim Ahmad?

      C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan pada latar belakang maka, tujuan dari penelitian ini adalah:
1.      Mendeskripsikan mengenai konsep sunah dan hadis menurut pandangan Kassim Ahmad.
2.      Mengetahui atau memahami pengertian sunah dan hadis yang diusung oleh Kassim Ahmad.
3.      Menjelaskan bagaimana pengaruh atau implikasi dari konsep sunah dan hadis Kassim Ahmad.
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah untuk menambah kazanah keilmuan dan kontribusi pemikiran. Dan diharapkan dari penelitian ini dapat membuka wawasan baru dan menemukan sesuatu yang baru dari suatu tokoh. Setiap tokoh pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam mengkaji suatu ilmu, semua itu tergantung dari cara pandang yang mereka gunakan.
      D.    Tinjauan Pustaka
Terdapat cukup banyak kajian yang membahas pemikiran Kassim Ahmad, baik itu berupa buku ataupun Jurnal dan artikel. Diantaranya adalah buku “Hadis di Telanjangi Sebuah Re-Evaluasi Mendasar atas Hadis” karangan Kassim Ahmad yang merupakan terjemahan dari buku asli yang berbahasa Malaysia dengan judul “Hadis Satu Penilaian Semula” buku ini juga diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Buku ini merupakan buku yang berisi pemikiran beliau, dalam buku inilah beliau menuangkan segala pendapat dan alasan atas pemikirannya.
Buku yang kedua adalah “Hadis Jawapan Kepada Pengkritik” karya Kassim Ahmad berbahasa Malaysia. Buku ini membahas jawaban Kassim atas tuduhan, komentar serta kritikan yang dilontarkan oleh pembaca atas buku “Hadis Satu Penilain Semula”. Kassim Ahmad menyusun buku berdasarkan bab, yang pada setiap bab berisi satu pertanyaan serta uraian jawaban.
Buku yang ketiga adalah “Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar, dan Pemalsunya” karangan Syuhudi Ismail. Buku ini berisi persoalan-persoalan sunnah baik bagi yang memegang teguh sunnah ataupun yang menolak. Dalam buku ini tidak dijelaskan secara rinci mengenai pemikiran Kassim Ahmad, melainkan hanya mencantumkan nama Kassim Ahmad pada golongan pengingkar Hadis.
Buku yang keempat adalah “Pemikiran Modern dalam Sunnah” karya Abdul Majid Khon. Buku ini mengupas mengenai pemikiran Modern hadis dan inkar sunah, dalam buku ini pula sedikit disinggung mengenai mengenai Kassim Ahmad dan pemikirannya yang terangkum dalam pengingkar sunah modern. Ini merupakan kajian yang lebih luas daripada artikelnya yang hanya membahas para inkar  sunah di Indonesia.
Buku yang kelima adalah “Hadis dan Orientalis” karya Idri. Buku ini berisi mengenai pemaknaan hadis menurut ulama dan juga para orientalis. tidak hanya itu, dalam buku ini juga dijelaskan mengenai perkembangan pemikiran hadis. Dalam buku ini bahasan yang digunakan mengambil dari buku asli, sehingga tidak ada analisis didalamnya.
Sumber berbentuk skripsi, berjudul “Inkar Hadis Di Indonesia Dan Malaysia” dalam skripsi ini yang dibahas adalah sejarah asal-usul dari inkar hadis baik itu di Indonesia maupun Malaysia, studi ini menggunakan metode komparatif, yang membandingkan antara pemikiran Kassim Ahmad dengan Nazwar Syamsu bukan kajian tema pokok.
Tulisan lain adalah karya Mohd Zorzi dkk. Dengan judul “Metode Kassim Ahmad Dalam Kajian Hadis: Satu Penilaian Dalam Timbangan Metode Ilmiah Ulama Hadis” yang merupakan bagian dari jurnal Hadis. tulisan ini membahas mengenai bagaimana metode ataupun apa metode yang digunakan oleh Kassim Ahmad dalam upaya mengkaji hadis atau sunah. Serta membandingkan penggunaan metode antara ulama hadis dengan Kassim Ahmad.
Kemudian rulisan Suriani Rusdi dkk. Dengan judul “Sejarah Penulisan Hhadis: Pembetulan Fakta Dari Hujah Anti Hadis” yaitu sebuah tulisan berbahasa Melayu yang dipresentasikan pada 1st INHAD international Muzakarah & Mu’tamar On Hadith 2016, yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Tulisan ini membahas mengenai seputar penulisan hadis, yaitu upaya untuk mencari kebenaran dan membenarkan mengenai pendapat Kassim Ahmad yang menolak adanya pembukuan hadis.
Selanjutnya tulisan Zikri Darussamin yang bertajuk “Kassim Ahmad pelopor Inkar Sunah di Malaysia” tulisan ini membahas seputar sepak terjang pemikiran beliau serta latar belakang kehidupan Kassim Ahmad sendiri.
Dalam bentuk skripsi tulisan Badriah Binti Haji Mat dengan judul “Hadis Menurut Pemikiran Kassim Ahmad dan G. H. A Juynboll”. Tulisan ini merupakan perbandingan antara pemikiran hadis Juynboll dengan Kassim Ahmad, implikasi dan akar-akar pemikiran yang diusung oleh kedua tokoh ini.
Jadi berdasarkan riset dan keterangan sumber yang penulis lakukan diatas menunjukkan bahwa kajian yang dilakukan oleh penulis merupakan sesuatu yang masih baru yang tidak ada pada kajian-kajian sebelumnya.

      E.     Kerangka Teori
Salah satu model dalam penelitian hadis kontemporer adalah metode biografi. Kata ‘biografi’ berasal dari bahasa yunani bios dan graphien. Biografi merupakan tulisan tentang kehidupan seseorang. Biografi menganalisa dan menerangkan kejadian-kejadian dalam hidup seseorang. Lewat biografi, akan ditemukan hubungan, arti dari tindakan tertentu sang tokoh.[8]
Adapun langkah metode dalam kajian ini adalah:
1.      Menentukah tokoh yang dikaji, pastikan tokoh yang dikaji memiliki hubungan dengan ilmu hadis. dan memiliki kelayakan pemikiran.
2.      Menentukan objek formal yang hendak dikaji.
3.      Mengumpulkan data-data yang terkait dengan tokoh yang dikaji.
4.      Melakukan identifikasi tentang bangunan pemikiran tokoh.
5.      Melakukan analisi kritik terhadap pemikiran sang tokoh yang hendak diteliti.
6.      Melakukan penyimpulan sebagai jawaban atas problem riset yang dikemukakan.[9]
Sedangkan pendekatan yang hendak penulis tempuh adalah pendekatan historis, yaitu dengan menurut akar-akar historis secara kritis mengapa tokoh menyampaikan gagasan seperti itu, bagaimana latarbelakang kehidupan dan keilmuannya. Apa yang mempengaruhi pemikiran tokoh baik berupa latar tempat maupun pendidikan.
Kemudian tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui latar belakang pemikiran tokoh. Mengidentifikasi permasalah yang telah dipaparkan serta menyimpulkan dan menjawab persoalan yang tersaji pada rumusan masalah berdasar analisa yang telah dilakukan.

      F.     Metode Penelitian
Metode dapat diartikan sebagai way of doing  anything, yaitu suatu cara yang ditempuh untuk mengerjakan sesuatu, agar sampai kepada suatu tujuan.[10] Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini dirinci sebagai berikut:
1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif, yaitu sebuah penelitian yang mendasarkan sumbernya dari data-data tertulis berupa buku, bukan berdasar sampel dan angka. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan penelitian sumber pustaka (library research) yaitu penelitian yang bersumber dari data-data kepustakaan baik berupa buku, jurnal, artikel maupun bacaan lain yang berkaitan dengan tema kajian.
2.      Sumber Data
Sebagaimana penjelasan diatas, bahwasannya penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan yang data-datanya diambil dari buku, majalah, jurnal, artikel dan sumber tertulis lainnya. Data sendiri terbagi menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah buku “Hadis Ditelanjangi” terjemah dari buku “Hadis Satu Penilaian Semula”.
Sedangkan data-data sekunder dapat berupa majalah, jurnal, artikel atau tulisan-tulisan yang bersumber pada internet yang membahas mengenai Kassim Ahmad, pemikiran Kassim Ahmad serta yang membahas mengenai inkarusunah.
3.      Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian disusun untuk dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif-analisis. Adapun langkah-langkah dari metode tersebut antara lain:
a.       Deskripsi, yaitu menjelaskan mengenai pemikiran hadis dan sunah Kassim Ahmad yang terdapat dalam buku Hadis Ditelanjangi serta sumber yang lain.
b.      Analisis, yaitu melakukan analisa dengan pemaparan argumentatif.[11] Kemudian menentukan konsep mengenai hadis dan sunah dalam pandangan Kassim Ahmad serta implikasi dari pemikirannya.
4.      Pendekatan
Pendekatan yang penulis gunakan pada penelitian ini adalah pendekatan historis, untuk mengungkap dasar pemikiran Kassim Ahmad. Serta untuk mengeksplorasi kehidupan dan background keilmuan Kassim Ahmad.

     G.    Sistematika Penelitian
Bab pertama merupakan pendahuluan yang didalamnya mencakup: 1) latar belakang masalah sehingga suatu obyek dipilih menjadi suatu kajian, 2) rumusan masalah, berisi problem atau pertanyaan yang ingin dijawab, 3) tujuan dan kegunaan dari penelitian sehingga menghasikan suatu yang berguna bagi sumbangsih akademik, 4) tinjauan pustaka, 5) kerangka teori, 6) metode penelitian dan, 7) sistematika pembahasan. Hal ini bertujuan untuk membentuk suatu susunan yang baik serta dapat dinilai sebagai penelitian yang komprehensif.
Bab kedua berisi tentang kajian singkat mengenai tema secara umum, pada bab ini akan dipaparkan berbagai tinjauan mengenai kajian sunah dan hadis dilihat dari segi pengertian atau definisi, sejarah pembukuan, kedudukan, serta fungsi hadis dan sunah berdasar pendapat ulama dan pendapat dari Kassim Ahmad sendiri.
Bab ketiga berbicara tentang biografi Kassim Ahmad sebagai obyek dari penelitian ini. pada pembahasan ini bertujuan untuk mengeksplorasi kehidupan Kassim Ahmad dan menggali lebih dalam pribadi Kassim Ahmad serta faktor-faktor yang melatar belakangi pemikiran beliau.
Bab keempat adalah analisis pemikiran Kassim Ahmad terhadap hadis dan sunah serta menentukan konsep sunah dan hadis berdasarkan argumen-argumen yang dipaparkan oleh Kassim Ahmad.
Bab kelima merupakan penutup dan kesimpulan, setelah dipaparkan dalam beberapa bab sebelumnya, maka akan ditarik sebuah kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang ada.


Baca Juga: Pemikiran Hadis Nuruddin Marbu al- Banjari al- Makki (Kontribusi Ulama Banjar dalam Kajian Hadis di Nusantara)


[1] Saifuddin Zuhri Qudsy, “Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi”, Living Hadis, I, April 2016, hlm. 178
[2] Miftahul Asrar dan Imam Musbikin, Membedah Hadits Nabi Saw. (Madiun: Jaya Star Nine, 2015), hlm. 1
[3] Yaitu kelompok yang menyimpang dari suatu ajaran dalam hal ini Islam karena ingin mengadakan pembaruan, mereka menolak argumen kaum tradisionalis (yang membela sejarah dan tradisi Islam) dan ingin melakukan revisi terhadap sejarah karena dianggap lemah. “Teori Common Link G. H. A Juynboll”, hlm. 31
[4] Suriani sudi (dkk.), “Sejarah Penulisan Hadis: Pembetulan Fakta Dari Hujah Anti Hadis”, dalam E-Proceeding of the 1st INHAD International Muzakarah & Mu’tamar on Hadith, April 2016, hlm. 1
[5] Kassim Ahmad, Hadis Ditelanjangi Sebuah Re-evaluasi Mendasar Atas Hadis terj. Asyrof Syarifuddin. (Yogyakarta: Trotoar, 2006), hlm. xxxix
[6] Badriah Binti Haji Mat, “Hadis Menurut Pemikiran Kassim Ahmad dan G. H. A juynboll”, Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001, hlm. 3
[7] Kassim Ahmad, Hadis Ditelanjangi Sebuah Re-evaluasi Mendasar Atas Hadis terj. Asyrof Syarifuddin. (Yogyakarta: Trotoar, 2006), hlm. xli
[8] Saifuddin Zuhri Qudsy dan Ali Imron, Model-Model Penelitian Hadis Kontemporer. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 42
[9] Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir. (Yogyakarta: IDEA, 2015), hlm. 42-43
[10] Abdul Mustaqim, Metode Penelitian AlQur’an dan Tafsir. (Yogyakarta: IDEA Press, 2015), hlm. 51
[11] Anton Baker dan Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 19

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...