Skip to main content

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629


Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC).
Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia,Bagaimana proses penyerangan pada tahun 1628 dan tahun  1629 ke Batavia, Bagaimana dampak penyerangan ke Batavia
Penelitian ini menggunakan pendekatan Historis. Pokok permasalahannya mengguanakan teori konflik sosial. Edwar Azar mengungkapkan mengenai konflik, ia berpendapat bahwa konflik adalah sebuah seperangkat sistem sosial dan sebuah gejala ketegangan sosial yang muncul karena adanya perebutan kekuasaan antara kedua belah pihak yang bersitegang demi mempertahankan kekuasaan, sehingga memunculkan keseimbangan antara kedua belah pihak.
Metode yang digunakan oleh peneliti yaitu metod penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap. Pertama Heuristik, penelitian ini menggunakan studi pustaka untuk mengumpulkan sumber. Kedua Verifikasi, yaitu melakukan kritik ekstern untuk menguji otentisitas sumber dan kritik intern untuk menguji kredibilitas sumber. Ketiga Interpretasi, yaitu usaha untuk menafsirkan data yang telah diperoehmenggunakan alat analisis berupa pendekatan dan teori. Keempat Historiografi, yaitu penulisan hasil penelitian.

Kata Kunci: Penyerangan, Sultan Agung, Batavia  


A. Latar Belakang Masalah
Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan namaPanembahan Seda Ing Krapyak  yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak. Di dalam buku Babad Tanah Jawi panembahan Hanyakrawati meninggal di Krapyak karena sakit parah, tanpa kejelasan tentang penyakitnya. Dalam serat Nitik Sultan Agung, Panembahan Hanyakrawati disebutkan wafat secara misterius pada malam jum’at legi 1 Oktober 1613 (Babad Sangkala, 1535 jawa). Penyebab kematiannya tidak diketahui secara pasti, hanya dikisahkan bahwa Panembahan Hanyakrawati meninggal karena kecelakaan berburu di hutan Krapyak. 
Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Mataram melakukan beberapa penyerangan disekitar Jawa Timur. Pada tahun 1614 menyerang Surabaya bagian Selatan; ujung timur pulau Jawa, Malang, dan Pasuruan. Ia juga dapat menaklukan Wirasaba pada tahun 1615. Penaklukan Wirabasa sangat penting bagi Mataram,hal ini terjadi karena Wirabasa merupakan pintu utama masuk ke Surabaya. Kemudian pada tahun 1616 pasukan militer sultan agung menaklukan Lasemdan terus ketimur sampai Pasuruan. Bahkan pada tahun 1620 pasukan mataram melalui jalur laut mengancam Surabaya dan menaklukan Madura kemudian disatukan dalam suatu pemerintahan pangeran Madura dengan ibukota Sampang.
Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Jauh sebelum penyerangan ke Batavia 1628, sebelumnya pada tahun 1621 Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC. Kedua belah pihak saling mengirimkan duta besar untuk membahas kerjasama dalam bidang ekonomi, namun Sultan Agung menolak ia mengagap bahwa VOC ingin menguasai wilayah Jawa . Bagi Mataram Batavia merupakan lawan yang lebih berat daripada Banten, karena pada tahun 1597 Batavia pernah diserang  oleh kakeknya dengan 15.000 prajurit dari armada laut. 
Sebelum melakukan penyerangan ke Batavia Sultan Agung menyiapkan prajurit untuk melancarkan penyerangan ke Batavia, prajurit Mataram dibedakan menjadi dua, yakni prajurit tetap yang disebut tamtama dan prajurit pancen yang disebut prajurit arahan. Prajurit arahan harus bersenjata lengkap, termasuk pakaian serta bekal dalam peperangan. Senjata-senjata yang digunakan untuk perang yaitu senjata api, adapun senjata tradisional yang digunakan dalam perang antara lain: keris,tombak,panah,bedil,pedang,golok dan berbagai macam senjata tajam lainnya.
Tibalah tahun 1628, dimana tahun itu ditetapkan oleh Sultan Agung sebagai tahun serangan ke Batavia. Serangan pertama ini dipimpin Gubernur daerah pantai utara Jawa, yaitu  Adipati Bahureksa, yang berangkat dari Jepara. Armada ini diperkuat dengan kapal-kapal perang yang berangkat dari Tegal. Ekspedisi gelombang pertama ini terdiri dari 3000 perahu perang, memuat 100 batalyon infantri(100.000 orang) bersenjata lengkap dan terlatih militer dengan baik. perjalanan ini berulangkali singgah di pantai-pantai untuk mengambil perbekalan makanan dan air minum untuk persiapan penyerangan ke Batavia.
Pada tanggal 22 Agustus 1628 kapal yang di pimpin oleh Adipati Bahureksa tiba di perairan jayakarta. Disana diaturlah berlabuhnya kapal-kapal perang, mula-mula pasukan tempur mendarat di bagian timur kota, selanjutnya diikuti berlabuhnya kapal-kapal yang membawa perbekalan militer lengkap, yang disamarkan seperti kapal-kapal pedagang. Sejumlah 48 batalyon berlabuh dan 22 batalyon tetap berada diatas kapal perang yang berguna untuk menghadapi pasukan Voc dari jalur perairan. 
Pada tanggal 26 agustus 1628 pasukan Mataram menyerang Batavia kemudian menuju benteng Voc dengan berbagai maacam senjata. Dalam serangan ini pasukan Mataram berhasil menerobos kedalam benteng Voc, sehingga membuat pasukan Voc kalangkabut untuk mengusirnya. Pada tanggal 12 september 1628 M benteng Voc bobol oleh pasukan Mataram sehingga banyak prajurit yang berhasil menyusup kedalam benteng Hollandia dan melakukan pertempuran dengan pasukan Voc, dalam penyerangan ini Adipati Bahureksa dan kedua putranya gugur di medan perang.
Sejak Bahureksa gugur,serangan Mataram menjadi kendur, seluruh pasukan berduka cita atas terbunuhnya Adipati Bahureksa, jenazah Adipati Bahureksa dikirim ke jepara menggunakan kapal, sementara sebagian pasukan berada di batavia menunggu kembali kedatangan pasukan kedua yang beranggota 30 batalyon (30.000 prajurit), dibawah pimpinan Jendral Agulgul, Pangeran Madureja dan Adipati Tapasana. Pasukan kedua segera membagi tugas. Satu sayap berjemah di tumur kota batavia, dan sayap ke dua berkemah di bagian barat daya kota. Kemudian dilakukanlah taktik baru, yakni mengepung kota atau benteng Batavia, seperti ketika pasukan Mataram menaklukan Surabaya.
Pada tanggal 28 november 1628 Pangeran Madureja serta Adipati Tapasena dengan pasukannya berhasil menerobos benteng Hollandia. Dalam pertempuran ini pasukan Mataram kalah dan sejak kekalahan itu pasukan Mataram tak pernah bisa menerobos masuk kedalam benteng Hollandia. Meskipun demikian penyelundupan dua jendral Mataram ke benteng Hollandia tidak sia-sia, sebab telah berhasil membunuh 744 orang serdadu Voc. Divisi kaladuta I ini telah berjuang dengan hebat selama 3 bulan dan menggempur Batavia. Namun kemenangan belum ada ditangan. Namun sultan agung belum menyerah. kemudian dikirimlah divisi Kaladuta ke II dalam tahun 1629 yang dikirim ke Batavia, dibawah pimpinan pangeran Pugar dan Pangeran Purbaya.
Serangan Kedua dimulai pada tanggal 22 Agustus 1629 dan sasarannya diarahkan ke benteng-benteng parel,Holland, Robijn, Safier, Dan Diamant. Benteng-benteng itu dikepung oleh berlapis-lapis prajurit Mataram dan semua perbekalan dan persenjataan diatur dengan tertib. Sebaliknya Kompeni juga sudah memprsiapkan kemungkinan yang akan terjadi apabila Mataram melakukan serangan, Kompeni telah mengetahui persiapan Mataram dan tempat-tempat penyimpanan sertapenimbunan padi dibakar habis oleh Kompeni.
Pada tanggal 20 September 1629 terjadi pertempuran antara Mataram dan Voc, Meriam-meriam Mataram berhasil merusak benteng Hollan, tetapi prajurit mataram tidak mendobrak dan menaiki benteng meskipun pasukan Kompeni sudah kehabisan peluru. Dalam pertempuran ini B Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen tewas terkena wabah kolera.
Pada awal bulan Oktober 1629 Perbekalan Mataram menipis sehingga kelaparan mengancam prajurit Mataram. Pada tahun 1629 tepatnya bulan Oktober dan bulan-bulan selanjutnya musim hujan, dan penyerangan terpaksa dihentikan. Selain itu perbekalan Mataram semakin menipis dan banyak prajuit mataram terkena penyakit menular sehingga Mataram mengambil keputusan untuk menarik pasukan dari Batavia meskipun belum ada tanda-tanda kemenangan pada pihak Mataram.
Meskipun dalam serangan ini Mataram tidak berhasil dan tidak dapat menghancurkan Kompeni di Batavia, namun Sultan Agung menunjukan semangat dan gerakan anti orang asing, khususnya orang Belanda yang berkedudukan di Batavia yang diperkirakan kedudukannya semakin kuat. Kompeni belanda memperluas kekuasaan dan mendirikan pemerintahan yang menandingi kekuasaan Mataram. Tindaka penyerangan Sultan Agung adalah timdakan preventif guna mencegah meluasnya kekuasaan asing, khususnya pulau Jawa dan umumnya seluruh kepulauan Indonesia.

B. Batasan dan Rumusan Masalah
Penelitian terhadap penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia difokuskan kepada penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia. Tahun 1628 merupakan awal penyerangan pasukan sultan Agung ke Batavia, sedangkan Tahun 1629 merupakan serangan kedua yang dilakukan oleh pasukan Sultan Agung. penyerangan dua kali ini selalu gagal karena pertahahan Voc yang kuat, menipisnya perbekalan dan mengakibatkan Sultan Agung menarik pasukannya kembali ke tanah Jawa.
Agar pembahasan menjadi terarah, maka permasalahandirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia ?
2. Bagaimana proses penyerangan pada tahun 1628 dan tahun  1629 ke Batavia?
3. Bagaimana dampak penyerangan ke Batavia?

C. Tujuan dan kegunaan penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh dari permasalahan yang dipaparkan dalam rumusan masalah di atas. Tujuan dari penelitian ini adalah 
1. Untuk mendeskripsikan bagaimana latar belakang pasukan Sultan Agung dalam menyerang Batavia.
2. Untuk manjabarkan bagaimana enyerangan tahun 1628 dan 1629 ke Batavia.
3. Untuk mendeskripsikan dampak dari penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia.
Selain itu, hasil dari penelitian ini juga diharapkan memiliki kegunaan atau manfaat di antaranya:
1. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi penelitian di bidang yang sama.
2. Memberikan wawasan dan pemahaman mengenai perjuangan Sultan Agung dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya.
3. Memberikn kontribusi wacana bagi ilmu pengetahuan,khususnya ilmu sejarah

D. Tinjauan Pustaka
Pembahasan mengenai Raja Sultan agung telah banyak dilakukan. Namun, penelitian terhadap penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia belum ada yang mengkaji. Meskipun demikian, banyak karya tulis atau tulisan yang mengkajinya sehingga dapat dijadikan referensi untuk menyempurnakan tulisan ini.
Pertama, buku yang berjudul ‘’Puncak kekuasaan mataraam (politik ekspansi sultan agung)’’ karangan H.J. De. Graff. Diterbitkan oleh Grafitipers, tahun 1990.Buku ini membahas tentang sejarah kerajaan Mataram, secara khusus menyoroti masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) dan sedikit mengenai pendahulunya. daungkapkan bahwa dengan politik ekspansi Sultan Agung, Mataram berhasil melebarkan radius kekuasaannya, upaya menghalau Voc meskipun gagal telah menimbulkan rasa hormat para penguasa pribumi di luar Jawa. Berbeda dengan kajian peneliti yang ingin memaparkan tentang penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia.
Kedua, buku yang berjudul‘’Sultan Agung Hanyokrokusumo: Catatan dari Imogiri ‘’ karya Pranata Sppdi terbitkan oleh P.T. Yudha Gama Corporation tahun 1977. Buku ini membahas tentang catatan sejarah daerah, kepemimpinan Sultan Agung di kerajaan Mataram, kepribadian Sultan Agung, Pembaharuan-pembaharuan Sultan Agung dan menjelaskan sedikit tentang penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan buku tersebut dalam pembahasannya tentang Penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia. Perbedaannya, Penelitian ini membahas tentang bagaimana Sultan Agung memerintahkan dan menyusun strategi dalam penyerangan ke Batavia. Aspek pembahasan ini yang membedakan penelitian penulis dengan buku yang dikarang oleh Pranata Spp.
Ketiga, Artikel ilmiah mahasiswa yang ditulis oleh Adriana Nafelin, dengan judul Politik Ekspansi Raja Sultan Agung (1613-1645)di terbitkan oleh Universitas Negeri Jember Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan tahun 2015. Artikel ini membahas tentang perluasan wilayah yang dilakukan oleh Sultan Agung selama kepemimpinanya. Penelitian ini memiliki persamaan dengan artikel ini, persamaannya yaitu sama-sama membahas perluasan. Namun perbedaanya yaitu penelitinan ini memfokuskan pada penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia dalam artikel tersebut mengenai penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia dijabarkan sekilas saja. 

E. Pendekatan Dan Kerangka Teori
Langkah yang sangat penting dalam menulis sejarah ialah menyediakan suatu kerangka pemikiran yang mencakup berbagai kosep dan teori yang akan dipakai dalam menganalisis suatu peristiwa sejarah. Penelitian ini disusun menggunakan pendekatan Historis yang bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa yang terjadi di masa lampau. Pendekatan sejarah yang di dalamnya terdapat eksplansi kritis dan kedalaman pengetahuan tentang mengapa dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Melalui pendekatan Historis ini, diharapkan bisa mengungkapkan fakta-fakta yang terjadi mengenai perlawanan pasukan Sultan Agung ke Batavia pada tahun 1628-1629.
Adapun kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konflik sosial. Edwar Azar mengungkapkan mengenai konflik, ia berpendapat bahwa konflik adalah sebuah seperangkat sistem sosial dan sebuah gejala ketegangan sosial yang muncul karena adanya perebutan kekuasaan antara kedua belah pihak yang bersitegang demi mempertahankan kekuasaan, sehingga memunculkan keseimbangan antara kedua belah pihak.  Dalam hal ini perluasan wilayah yang terjadi antara pasukan Sultan Agung dan pasukan Voc diakibatkan oleh perjanjian yang kurang disetujui oleh Raja Mataram yang mengakibatkan terjadinya penyerangan ke Batavia.
Pendapat lain tentang teori konflik diungkapkan oleh Rudolf, ia menyebutkan bahwa suatu konflik yang terjadi karena adanya dua pihak yang bersitegang. Pihak yang pertama merupakan pihak yang kuat dan berkuasa, sedangkan pihak yang kedua merupakan pihak yang lemah atau pihak yang dikuasai. kondisi ini akan mendorong munculnya tokoh panutan yang mengokohkan terbentuknya kelompok konflik.

F. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam suatu penulisan untuk mencapai hasil yang maksimal dan objektif. Merode penelitian adalah seperangkat cara atau langkah yang ditempuh oleh peneliti untuk menyelesaikan permasalahan.  Penelitian ini menggunakan metode historis, yakni suatu langkah atau cara merekonstruksikan masa lampau secara sistematis dan objektif dengan mengumpulkan,mengkritik, menafsirkan dan mensintesiskan data dalam rangka menegakan fakta serta kesimpulan yang kuat.  Dalam penelitian sejarah, prosedur yang dilakukan melalui empat tahap yaitu:

1. Heuristik
Heuristik yaitu suatu tahap dalam pengumpulan data, baik itu tertulis maupun lisan yang diperlukan untuk  kelengkapan penelitian.  Kegiatan Heuristik ini peneliti lakukan dengan memperioritaskan data sejarah tertulis yang terkait dengan penyerangan pasukan Sultan Agung Ke Batavia tahun 1628-1629. Dlam mencari berbagai sumber tersebut peneliti mencari di berbagai perpustakaan diantaranya, perpustakaan pusat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,perpustakaan Kollage Ignatius Yogyakarta, perpustakan fakultas Adab,  dan data lain diperoleh dari Internet.

2. Verifikasi
Setelah sumber-sumber terkumpul, langkah selanjutnya adalah Vverifikasi atau kritik sumber. Verifikasi yaitu suatu tahap untuk mendapatkan keabsahan sumber data yang valid melalui kritik ekstern dan intern.
 Kritik ekstern adalah menguji dan meneliti keotrntikan sumber yang diperoleh, salah satu contoh yang dilakukan dalam kritik ekstern adalah dengan mengkritik sumber dari sisi luarnya. Apabila sumber tersebut adalah arsip atau dokumen, maka yang dilakukan adalah dengan melihat kertasnya, titanya, gaya tulisannya, hurufnya serta semua penampilan luarnya. Sedangkan kritik intern untuk mengetahui kredibilitas sumber. Contoh yang dilakukan dalam kritik intern adalah dengan memahami isi dokumen dan membandingkan isi dokumen tersebut dengan keterangan lain. Selain untuk menguji kredibilitas sumber dapat dilakukan dengan menganalisis dokumen tersebut apakah logis atau tidak. 

3. Interpretasi
Interpretasi yaitu merangkai fakta-fakta sejarah dalam urutan yang logis, interpretasi atau penafsiran sejarah juga sering disebut sebagai analisis sejarah. Analisis sejarah bertujuan untuk melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dengan menggunakan teori-teori analisis disusunlah fakta kedalam suatu interpretasi yang menyeluruh. 
Adapun Interpretasi yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaiu dengan menganalisis data-data sejarah menggunakan teori konfkik. Teori konflik yng akan dipakai yatu teori konflik sosial yang dikemukakan oleh Edwar Azar. Contoh pengunaan teori ini yaitu dengan mengatagorisasikan data-data sejarah yang berkaitan dengan Penyerangan pasukan sultan agung ke batavia dan perlawanan Voc di dalam benteng hollandia yang berada di batavia kemudian disesuaikan dengan teori konfik sosial yang dikemukakan oleh Edwar Azar.

4. Historiografi
Langkah terakhir yang akan dilakukan dalam penelitian sejarah adalah Historiografi. Historiografi merupakan cara penulisan,pemaparan, dal laporan hasil penelitian sejarah setelah melalui tahap Heuristik, Verifikasi, dan Interpretasi.. Aspek utama dalam Historiografi kronologis dan keruntutan. Teknik penulisan yang akan diperhatikan meliputi penggunaan bahan, ukuran kertas, ketentuan cover/sampul,pengetikan, penomoran,bahasa,penulisan catatan kaki,penomoran, penggunaan istilah, bahasa, penulisan daftar pustaka serta kaidah-kaidah yang lainnya.

G Sistematika Pembahasan
Hasil penelitian ini akan disusun secara sistematis menjadi lima. Bab I merupakan pendahuluan yang memuat paradigma yang akan digunakan dalam penelitian ini. Adapun isinya meliputi, latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah,tujuan dan kegunaa peneliian,tinjauan pustaka, landasan teori,metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II membahas mengenai biografi Sultan Agung. Dalam bab ini akan dijelaskan tentang pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Agung, dan menjabarkan Kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung
Bab III membahas mengenai berdirinya Batavia sebagai pusat kekuasaan belanda yang didalamnya akan membahas mengenai Hubungan mataram dengan voc,pembangunan benteng di Batavia dan Perebutan Jayakarta.
Bab IV membahas tentang penyerangan sultan agung ke Batavia. yang didalamnya akan dijelaskan latar belakang penyerangan ke Batavia, bentuk penyerangan pasukan Sultan Agung dan menjelaskan dampak sesudah penyerangan ke Batavia.
Bab V meruakan penutup yang memuat kesimpulan dan saran. Kesimpulan merupakan jawaban dari rumusan masalah dalam penelitian, saran merupakan himbauan-himbauan dari peneliti terkait penelitian-penelitian lanjutan yang terkait dengan permasalahan yang ada didalam penelitian ini.

Daftar Pustaka
Abdurahman Dudung. 1995. Metode penelitian sejarah. Jakarta: Logos, 
Hugh Miall, dkk.2000.Resolusi Damai Konflik Kontemporer, Terj. Budi Sastrio. Jakarta: Raja  Grafindo Persada 
H.J. De Graaf.1990.Puncak Kekuasaan Mataram; Politik Ekspansi Sultan Agung.Jakarta; Pustaka Utama  
Kuntowijoyo.2013.Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Benteng Budaya
Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. 1994. Jakarta: Tiara Wacana
Pranata Spp.1977. Sultan Agung Hanyokrokusumo: Catatan dari Imogiri  Jakarta: P.T. Yudha Gama 
Ricklef M.C.1998.Sejarah Indonesia Modern.Yogjakarta; Gajah Mada University Press
Sartono Kartodirdjo.1992.Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Granmedia Pustaka Utama  .
Soedjipto Abimanyu. 2014. Babad Tanah Jawi. Yogyakarta; Laksana

DAFTAR ISI SEMENTARA 
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Batasan dan Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
D. Tinjauan Pustaka
E. Kerangka Teoritik
F. Metode Penelitian
G. Sistematika Pembahasan
BAB II: Biografi Sultan Agung
A. Pembaharuan-pembaharuan Sultan Agung
B. Kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung
BAB III: Berdirinya Batavia sebagai pusat kekuasaan Belanda
A. Hubungan mataram dengan voc
B. Pembangunan benteng di Batavia 
BAB IV: Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia.
A. Latar belakang penyerangan Sultan Agung ke Batavia. 
B. penyerangan tahun 1628
C. Penyerangan pada tahun 1629
D. Dampak setelah terjadinya penyerangan ke Batavia.
BAB V: PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran 

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...