Skip to main content

Peran Sultan Nuku Muhammad Amiruddin Di Kesultanan Tidore Tahun 1780-1805 M

Peran Sultan Nuku Muhammad Amiruddin Di Kesultanan Tidore Tahun 1780-1805 M, rackcdn.com
Abstrak 
Peran Sultan Nuku Muhammad Amiruddin di Kesultanan Tidore Tahun 1780-1805 M

Nuku Muhammad Amiruddin adalah Sultan yang ke-27 yang berjuang dari tahun 1780-1805, selama kurang lebih 25 tahun lamanya. Perkembangan Tidore dimulai pada masa perjuangan Sultan Nuku pada masa dinobatkannya Sultan Nuku tahun 1779. Nuku memperjuangkan tanah kelahirannya dari kolonial Belanda.  Nuku merupakan salah satu pejuang yang mati-matian melawan penjajah. Semenjak perjuangannya Sultan Nuku banyak membawa perubahan di Kerajaan Tidore, seperti mengambil alih kekuasaan dari Halmahera Tengah dan Halmahera Timur, Pulau Seram dan sekitarnya hingga Papua dan Gugusan Pulau Raja Ampat. 
Masalah yang ditelit mencakup bagaimana kondisi Kesultanan Tidore menjelang pemerintahan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin. Baggaimana latar belakang kehidupan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin. Apa saja usah-usaha yang dilakukan Nuku Muhammad Amiruddin dalam rangka pengembangan pendekatan biografi bertujuan untuk melihat Sultan Nuku Muhammad Amiruddin secara individual, sehingga mudah mengungkapkan sejarah yang berkitan dengan diri sultan. 
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan biografi dan pendekatan politik. Pendekatan biografi digunakan dengan tujuan untuk meneliti tokoh secara individual, sehingga dapat mengungkap llatar belakang kehidupannya. Adapun pendekatan yang lain adalah dengan menggunakan pendekatan politik. Pendekatan politik digunakan untuk mengungkap peran Sultan Nuku Muhammad Amiruddin dalam mempertahankan keturunan kesultanan Tidore. Teori yang digunakan adalah teori peranan sosial yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Menurut teori ini, peranan sosial adalah salah satu konsep sosiologi yang paling sentral yang didefinisikan dalam pengertian pola-pola atau norma-norma perilaku yang diharapkan dari orang yanng menduduki posisi tertentu dalam struktur sosial. Peneliti ini bertumpu pada metode penelitian sejarah, yaitu Heuristik, Interpretasi, Verifikasi dan Historiografi. 
A. Latar Belakang Masalah
Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di gugus kepulauan Maluku Utara, tepatnya di sebelah barat pantau Pulau Halmahera. Nama tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu To Ado Re, yang artinya “Aku Telah Sampai”.  Atau wilayah Tanah besar (Pulau Papua) beserta pulau-pulaunya oleh Kesultanan Tidore disebut dengan nama Papo Ua yang berarti tidak bergabung tau tidak bersatu atau tidak bergandeng.   sebelum Islam merambah ke bumi Nusantara, Pulau Tidore lebih dikenal sebagai “Kie Duko” yang berarti Pulau yang bergunung api. Gunung merapi tersebut terdapat di puncak marijang yang merupakan puncak tertinggi di Provinsi Maluku dan Maluku Utara. gunung merapi marijang saat ini tidak lagi termasuk gunung merapi yang aktif pada era ini, pemimpin tertinggi pada satu komunitas masyarakat dinamai “Momole”. Momole berasal dari bahasa setempat, yang artinya pria perkasa “Satria” ada beberapa orang momole yang memimpin komunitas-komunitas tertentu, diantaranya; Momole Ratu Hale, Momole Jagarora, Momole Rato, dan lain-lain.  
Kesultanan Tidore adalah kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara. pada masa kejayaannya sekitar enam belas sampai abad depan belas kejayaan ini menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan. Pulau Buru, Pulau Seram, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat. Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda dengan bantuan pemerintah Inggris. Atas keberanian, dan keuletan Sultan Nuku membawa pada kemakmuran rakyatnya.  
Sultan Nuku Muhammad Amiruddin atau sering dikenal Sultan Nuku adalah  putra kedua Sultan Jamaluddin dari Kesultnan Tidore (1757-1779 M). Nuku adalah Sultan yang ke-27. Sultan Nuku dinobatkan pada tanggal 13 April 1779 dengan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan.   dan Sultan Nuku merupakan sosok  yang menonjol dalam sejarah Kesultanan Tidore. Revolusi Tidore yang ia korbankan demi cita-citanya mengembalikan martabat kejayaan Tidore dari cengkraman kebijakan politik pecah belah oleh VOC. 
Peran Sultan Nuku bermula dari sebagai anggota delegasi Kesultanan Tidore dalam perundingan dengan Gubernur Kompeni Belanda bernama Hermanus Munik di Ternate. Dalam tahun 1779 Gubernur Thomaszen darii Ternate menangkap Sultan Jamaludin, Kaicil Garomahongi dan Sultan Bacan dan mengirim mereka ke Batavia untuk diadili. Sultan Jamalidin diganti oleh Kaicil Gayjira, yag menurut tradisi tidak berhak menjadi Raja. Bulan April 1780 Kaicil Gayjira wafat, digantikan Patra Alam ia adalah putra Gayjira menjadi sultan Tidore atas pengaruh dan desakan Gubenrnur Cornabe yang menggantikan Gubernur Thomasze, sehingga Nuku dan Kamaluddin memprotesnya pada Gubernur Ternate terkait pengangkatan Patra Alam. Tanggal 2 juli 1780 Patra Alam memerintah pasukan pengawalnya menyerang rumah Nuku dan Kamaluddin (adik kandung Nuku), barang, harta benda dirambas dan dibakar habis. Kamaluddin tertangkap sedangkan Nuku berhasil meloloskan diri. 4 September 1780, Nuku dan pasukan induk yang dipimpinannya menuju Seram Timur dan seluruh Seram Timur sisa wilayah Kesultanan Tidore dipulihkan dan dibawah kekuasaan Nuku tanpa perlawanan yang berarti dari Kompeni Belanda. Sejak saat itu Nuku digelari oleh Belanda sebagai Prins Rebel (pangeran pemberontak). 
Pada tahun 1781, Sultan Nuku mengadakan gerakan perlawanan terhadap Belanda. Hal ini dilakukan karena tidak senang dengan intervensi VOC dalam pengangkatan calon penerus Kerajaan dan Kesultanan  Tidore. Pada tahun 1783, terjadi kecurigaan pihak Belanda terhadap Sultan Patra Alam bahwa beliau melakukan persekongkolan dengan pihak Nuku yang menyebabkan Van Djik, seorang trans slater dan letnan Agaats bersama prajuritnya tewas dalam suatu pertemuran ditanjung mayasalafa kepulauan Raja Ampat oleh pasukan Nuku. Akhirnya pada bulan Maret 1784 Patra Alam dicopot tahta kesultanan Tidore. Setelah Patra Alam dicopot jabatannya pada tahun 1784 yang seharusnya diganti oleh Sutan Nuku akan tetapi kolonial Belanda berupaya mengangkat adiknya yang bernama Kamaludin yang sebenarnya belum waktunya diangkat menjadi sultan karena masih ada annak yang lebih tua dari sultan almarhum Jamaluddin. Kamaluddin dibawa oleh kapal Kompeni ke Ternate kemudia Kamaluddin dilantikm sebagai sultan Tidore. 
 Pada tahun 1787, pasukan Belanda menyerang Seram Timur untuk melumpuhkan pasukan Sultan Nuku, sehingga basis pertahanan Sultan Nuku berhasil direbut dan Nuku meloloskan diri ke basis pertahanan pasukannya di Pulau Gorong. Awal 1796 Kompeni memerintah Gubernur Ternate, Banda dan Ambon untuk memutuskan semua perundingan dengan Nuku, karena Nuku dianggap sebagai musuh yang tidak dapat diperdamaikan. Pada tanggal 17 Februari 1796  pasukan Nuku bersahil merebut dan menguasi Pulau Banda.  Dan setahun kemudian, mereka mampu merebut Tidore dan membuat rakyat Tidore menunjuk bahwa Nuku Muhammad Amiruddin menjadi Sultan di Tidore.  12 April 1797 Tidore diserang oleh pasukan Nuku yang dipimpin oleh Nuku dari sebuah kapal Inggris sebagai pasukan inti angkatan perangnya. Tidore direbut oleh Nuku dan telah berlangsung dengan cara revormasi “Tanpa pertumpahan darah”. Pada saat itulah Sulan Nuku dinobatkan menjadi Sultan atas seluruh kerajaan Tidore dengan mendapatkan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan, ” sultan Tidore, Papua Seram dan daerah teluknya. 15 Juli 1799 anagkatan perang kompeni bertolak dari Ternate. Untuk  menggempur Sultan Nuku dengan 100 buah kapal besar dan kecil dibawah Komandon Panglima Baron Van Lutzow. Pasukan Kompeni Belanda turun dan hendak menyerang Istana Kota Baru mendadak mereka dihujani jubi-jubi dan peluru senapan. Sultan Nuku menentang pasal-pasal perundingan perdamaian Ternate yang di selenggarakan anatara Raja Muda Hasan mewakili Tidore dengan pihak pemerintahan Hindia Belanda tanggal 14 September 1800. Pada tanggal 23 November 1801 kontrak antara Kompeni belanda dengan Ternate diganti antara Kompeni Inggris dengan Kerajaan Ternate. Nuku mempertahankan sikap politik sebagai sultan Tidore, yang memiliki kedaulatan penuh atas wilayahnya. Tahun 1804 di Ternate di buat 2 delegasi dewan untuk mencatat dan mendengar masukan-masukan atau pendapat dari Sultan Nuku, kontrak dikirim ke Tidore dan mendapat persetujuan dari nuku. Ada 26 pasal yang diajukan, dan diantara 26 pasal tersebut terdapat 7 pasal yang sama sekali tidak dapat disetujui oleh Sultan Nuku, karena tanpa memeberi persen kemerdekaan yang kedaulatannya telah dicapai sesudah memperjuangkannya dengan gigih hampir 25 tahun. Tanggal 30 April 1805 surat Sultan Nuku kepada wakil Gubernur Wieling di Ternate telah memutuskan sama sekali tiap harapan kompeni, bahwa kelak Tidore akan menutup sesuatu kontrak persahabatan dan perdamaian dengan Belanda, terutama selama Sultan Nuku bersemayam diatas tahta Kerajaan Tidore. 
Perang dengan saling mengirim surat peringatan selama tahun 1804 berakhir dengan perang senjata tajam selama tahun 1805. Hingga pada usianya yang ke-67 tahun semangat Sultan Nuku masih belum hilang dan berkobar-kobar 25 tahun ia berjuang untuk melaksanakan cita-citanya yaitu memerdekakakn Maluku bebas dari Kompeni Belanda dan Bebas dari sesuatu kekuasaan asing. Atas perjuangannya Sultan Nuku Muhammad Amiruddin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas perjuangannya yang begitu besar.  
Disini   peneliti lebih memfokuskan perannya Sultan Nuku Muhammad Amirudin masa perjuangannya terhadap kolonial Belanda dan  pemerintahannya. Atas perjuangannya pemerintaha Republik Indonesia menganugerahkan Sultan Nuku sebagai  Pahlawan Nasional Indonesia .  Dari situlah peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut dalam mengenai Kondisi Tidore pada masa Sultan Nuku dan kebijakan yang dilakukan dalam mempertahankan tanah airnya dan membangkitkan Kesultanan Tidore.

B. Batasan dan Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai Peran Sultan Nuku Muhammad Amiruddin di Kesultanan Tidore, dimana sultan Nuku inilah merupakan Salah satu sosok  yang menonjol dalam sejarah Kesultanan Tidore. Batasan masalah pada 1780 adalah awal perlawan Sultan Nuku terhadap Belanda, yakni dengan masa pemerintahannya Sultan Nuku menjadi Kesultanan Tidore hingga tahun 1805 adalah tahun wafatnya beliau. 
Untuk menjabarkan objek penelitian dibuat rumasan malah sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang kehidupan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin ?
2. Bagaimana kondisi Kesultanan Tidore menjelang Pemerintahan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin ?
3. Apa saja kebijakan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin Di Tidore masa pemerintahannya? 

C. Tujuan dan Kegunaan 
Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mendeskripsikan kondisi Kesultanan Tidore menjelang pemerintahan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin. 
2. Untuk mendeskripsikan latar belakang kehiduoan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin. 
3. Untuk mendeskripsikan peranan yang dilakukan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin masa pemerinthannya. 
Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Sebagai pelengkap Historiografi Tidore terutama yang berkaitan dengan Kesultanan Bima. 
2. Sebagai bahan referensi bacaan tentang suatu periode di Kesultanan Tidore, dalam hal ini adalah periode Sultan Nuku Muhammad Amiruddin, sehingga sejarah lokal bisa terus terjaga. 
3. Sebagai bahan bacaan mengenai sejarah lokal yang masih belum banyak diketahui dan jarang disentuh sebgai objek kajian.  

D. Tinjauan Pustaka
Pertama buku yang ditulis oleh Des Alwi berjudul Sejarah Maluku Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon, Jakarta, PT Dian Rakyat, 2005. Buku ini menjelaskan tentang kepualauan Banda. Sejarah asal usu; Ternate, Tidore, dan Ambon. Buku ini memberikan informasi tentang proses transisi dari beberapa bentuk kerajaan ke bentuk Kesultanan,  dalam buku ini juga menjelaskan sedikit mengenai perjuangan Sulan Nuku. 
Skripsi yang di teliti oleh Asrul M. Toduho berjudul Tidore pada Masa Kolonial Belanda Abad ke-XVIII. Skripsi ini membahas tentang Kolonial Belanda terhadap Agama Islam di Tidore, yang membuat pemerintah Kolonial Belanda melawan puluhan kali dalam menghadapi pemberontakan di Nusantara. Dari awal masuk perkembangan Islam Di Tidore hingga kehidupan ekonomi masyarakat Tidore pada masa Kolonial Belanda. Yang membedakan Dari peneliti sebelumya dengan peneliti sekarang adalah bahwa Kesultanan Tidore yang awalnya banyak bertentangan dengan kekuatan adat yang dianut, hingga pada dimana Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Inilah yang akan membedakan antara penelii sebelumnya dengan peneliti yang sekaraang.   
Skripsi yang diteliti oleh Noviana berjuduul Kesultanan Tidore dan Islamisai di Papua (Aabad XV-XVIII), penelitian ini mengungkapkan Kesultanan Tidore serta perannya dalam islamisai di wilayah  Papua serta menambah pustaka Islam di Indonesia bagian Timur dan memberikan pengetahuan tentang Islam di wilayah Papua. Skripsi ini memberikan informasi beberapa latar belakang Sultan-sultan yang ada di Tidore, salah satunya Sultan Nuku Muhammad Amiruddin,  kondisi soasial pada masa perebukan tahta Kesultanan Tidore yang terdapat pada halaman 26-30. Namun latar belakang di penelitian sebelumya hanya menjelaskan sedikit terkait Sultan Nuku lolos melarikan diri dari Kolonial Belanda, sedangkan adiknya terngkap oleh kolonial Belanda. Dari penelitian inilah, peneliti sekranng ingin memperluas lagi terkait perjuangan Sultan Nuku terhadap Kolonial Belanda.  

E. Landasan Teori
Peneliti tentang peran Sultan Nuku Muhammad Amiruddin di Kesultanan Tidore ini dikaji menggunakan pendekatan biografi dengan tujuan melihat tokoh Sultan Nuku Muhammad Amiruddin secara individual, sehingga mempermudah mengungkapkan sejarah yang berkaitan dengan diri sultan. Pendekatan biografi ini bertujuan memberikan pengertian tentang subyek, berusaha menjelaskan dengan teliti kenyataan-kenyataan hidup, sifat, dan watak subjek, dan nilainya terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.   Dengan harapan merekam kejadian dan situasi yang mengitari Nuku. 
Selain pendekatan biografi, perlu juga digunakan pendekatan politik. Pendekatan politik melihat segala aktifitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan bermaksud untuk mempengaruhi dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu macam bentuk susunan masyarakat.  
Peneliti ini menempatkan peran tokoh sebagai pelaku utama yang mempunyai peranan penting dalam pembaharuan, baik formal maupun nonformal. Teori yang relevan dengan peneliti ini adalah peranan sosial yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Menurut teori ini, peranan sosial adalah salah satu konsep sosiologi yang paling sentral yang didefinisikan dalam pengertian pola-pola atau norma-norma perilaku yang diharapkan dari orang yang menduduki posisi tertentu alam struktur sosial.  

F. Metode Penelitian 
Peneliti tentang Peran Sultan Nuku Muhammad Amiruddin di Kesultanan Tidore tahun 1780-1805 M ini termasuk pnelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) yakni mengacu pada sumber-sumber tertulis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Menurut Louis Gottschalk, yang dimaksud metode sejarah adalah: proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman, dokumen-dokumen, dan peninggalan masa lampau yang otentik dan dipercaya, serta membuat interpretasi dan sintesis atas fakta-fakta tersebut menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya.   Dalam penelitian sejarah, ada empat langkah yang harus dilalui yaitu:
1. Heuristik
Heuristik adalah tahap awal dalam penelitian sejarah. Dalam tahap ini seorang peneliti mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah. Ditahapa ini peneliti melakukan penelitian kepustakaan melalui dokumen tertulis baik berupa sumber sekunder yang digunakan peneliti berupa buku-buku, skripsi, ensiklopdia dan karya ilmiah lain yang berkaitan dengan pembahasan. Sumber pokok yang digunakan dalam penelitian ini yaitu. Dunia Maluku Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal. 
2. Verifikasi
Verifikasi atau lazim disebut kritik untuk memperoleh keabsahan sumber.   Kritik dibagi menjadi dua, kritik ekstern dan intern. Kritik ektern dilihat dari segi penampilan luar sumber, seperti penulis dan sosio-historinya, gaya tulisan, kalimat, kata-kata, huruf, dan sebagainya. Kritik intern dilakukan dengan membandingkan antara dokumen yang satu dengan doumen lain dari segi isinya. 
3. Interpretasi 
Interpretasi disebut dengan penafsiran sejarah.  Interpretasi merupakan suatu usaha sejarawan dalam menafsirkan data sejarah yang ditemukan, dengan tujuan melakukan sintesis atas sejumlah data yang diperoleh dan bersama-sama dengan teori membentuk suatu fakta baru.  Analisis atau penafsiran yang peneliti lakukan dengan menggunakan teori peranan sosial oleh Erving Goffman dan pendekatan Biografi-politik. 
4. Historiografi 
Tahap terakhir ini adalah historiografi atau penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Penulisan sejarah hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian sejak dari perencanaan hingga penarikan kesimpulan. Selain itu, alur pemaparan data harus disajikan secara kronologis.  Penulisan sejarah oleh penelitian disajikan secara deskriptif-analitis, sistematika dan kronologis. 

G. Sitematika Pembahasan 
Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tulisan yang disusun dan dikelompokkan ke dalam beberapa bab. Pembahasan mulai dari bab pertama hingga bab keempat dibuat secara runtut dan saling terkait satu sama lain. Bab I merupakan pendahuluan yang mencangkup latar belakang masalah, ahasa dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Bab ini dimaksudkan untuk memberikan arti penting penelitian, penulisan, dan menjadi landasan bagi pembahasan di bab-bab berikutnya. 
Bab II menguraikan tentang biografi Sultan Nuku Muhammad Amiruddin. Pada bab ini dijelaskan secara terperinci sejarah yang berkaitan dengan diri sultan. Penjelasan meliputi, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, dan gaya kepemimpinan suktan Nuku.  
 Bab III menjelaskan kondisi Kesultanan Tidore menjelang pemerintahan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin (1780-1805 M). Penjelasan bab ini meliputi letak Geografis dan Demografis Masyarakat Tidore. Awal berdirinya Kreajaan Tidore. Transformasi sistem kerajaan ke kesultanan. Penjelasan bab ini dimaksudkan untuk memberikan deskripsi mendasar dan sebagai pembuka bagi pembahasan bab-bab selanjutnya yang berkaitan dengan pemerintahan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin di Kesultanan Tidore. 
Baba IV mendeskripsikan kontribusi Sultan Nuku Muhammad Amiruddin selama masa pemerintahannya di beberapa bidang seperti Politik, Ekonomi dan Sosial. Bab ini dimaksud untuk mengetahui keterlibatan dan usaha Sultan Nuku Muhammad Amiruddin dalam berbagai bidang, terutama perannya dalam mempertahankan tanah airnya yang ingin di kuasai oleh Belanda dan mempertahankan Kesultanan Tidore. 
Bab V berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan tersebut merupakan jawaban atas permasalahan sehingga dapat ditarik kesimpulan yang kronologis dan bermakna. Dilanjutkan saran peneliti bagi peneliti selanjutnya, sehingga dapat meperkaya kajian sejarah lokal. 


DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku 
Abdullah, Taufik. 1978.  Manusia dalam Kemelut Sejarah . Jakarta: LP3ES.
Abdurrahman, Dudung. 2011. Metodologi Penelitian Sejarah Islam. Yogyakarta: Ombak.

Alfian, T. Ibrahim. 1992. “Tentang Metodologi Sejarah” dalam T. Ibrahim Alfian, dkk., ed., Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Alfiyanti Dian. Mengenal Pahlawan Nasional: jilid 2. Erlangga: 2014

Andaya. Leonardy. Dunia Maluku Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal. Yogyakarta: Ombak. 2015. 
Amal M. Adnan. Kepulauan-rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2010.  
Gottschalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah, Terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press.

Kuntowijoyo. 2013.  Pengantar Ilmu Sejarah . Yogyakarta: Tiara Wacana.
Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, terj. Mestika Zed dan Zulfami (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001). 
Sartono Kartodirdjo, pendekatan Ilmu Politik dalam Metodelogi Sejarah (Jakarta: PT Gramedia, 1992). 
 Winarni, Surakman. 1990. Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode Dan Teknik. Bandung: Tarsito. 

Sumber Jurnal dan Internet 

http://eprints.ung.ac.id/2481/7/2013-1-87201-231409037-bab3-27072013111811.pdf 

http://mujtahid269.blogspot.com/2013/07/kerajaan-tidore.html 

http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-kesultanan-tidore/ 

http://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/13081/1/D_902006002_BAB%20I.pdf 

https://docplayer.info/42525962-Bab-iii-kesultanan-tidore-pada-masa-pemerintahan-sultan-nuku-jauh-sebelum-islam-membumi-di-nusantara-tidore-dikenal-dengan-sebutan-kie-duko.html 

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...