Skip to main content

Pleret Pasca Pembantaian Ulama Masa Amangkurat I (1648-1677 M)

Pleret Pasca Pembantaian Ulama Masa Amangkurat I (1648-1677), blogspot.com

ABSTRAK

Amangkurat I adalah raja ke-empat dari kerajaan Mataram Islam. Pada masa pemerintahannya pusat dari kerajaan Mataram Islam berada di Pleret. Istana barunya dibangun dengan batu bata sehingga memiliki perbedaan yang mencolok dengan istana sebeluumnya yang berada di Karta yang dominan bahannya dari kayu. Pemindahan istana atau keraton dari Karta ke Pleret salah satu tujuannya yaitu untuk memperlihatkan kekuatan Amangkurat I. dalam pemerintahannya terjadi banyak pemberontakan, pembunuhan serta pembantaian terhadap siapapapun yang ia rasa menghalanginya. Peristiwa yang sangat menakutkan terjadi pada tahun 1648 dimana para ulama dikumpulkan dan dibunuh di Alun-Alun Pleret. Pemerintahan yang kejam terjadi pada  masa Amangkurat I.
Dampak dari peristiwa ini pun tampak nyata dimana Amangkurat I semakin sewenang-wenang dalam mengambil kebijakan. Rakyat yang waktu itu berada didalam kekuasaannya tidak dapat berbuat apa-apa. Sehingga Mataram Islam yang dulunya berjaya pada masa kekuasaan Sultan Agung, kemudian mengalami perpecahan dan kemunduran pada masa Amangkurat I. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui  keadaan Pleret masa Amangkurat I, mengetahui latar belakang terjadinya pembantaian Ulama oleh Amangkurat I dan dampak dari peristiwa tersebut. 
Manfaat dari  penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi khasanah ilmu, khususnya bagi Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam dalam memberikan informasi mengenai sejarah Mataram Islam yang berada di Pleret serta menjadi tambahan referensi bagi pembaca yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai Mataram Islam yang berpusat di Pleret pada masa Amangkurat I  terutama tentang  peristiwa pembantaian yang menimpa para ulama pada tahun 1648 M.



Kata Kunci : Pleret, Penguasa, Ulama, dan Pembantaian


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Amangkurat I adalah penguasa Mataram Islam ke-empat setelah wafatnya Sultan Agung pada tahun 1646 M. Amangkurat I mendapatkan warisan wilayah mataram yang sangat luas oleh ayahnya yaitu Sultan Agung. Dalam hal ini, Amangkurat I menerapkan sentralisasi pemerintahan. 
Istana atau Keraton Mataram yang sebelumnya berada di Karta dipindahnya ke Pleret pada tahun 1647 M. Salah satu alasan pemindahan kerajaan ini adalah karena pada masa akhir pemerintahan Sultan Agung sudah mulai terlihat perpecahan di dalam dan luar kerajaan. Sewaktu Mataram menyerang Batavia, pengiriman pasukan di pusatkan di Pleret dan disana pula dijadikan basis pertahanan. Namun perlawanan tersebut mengalami kekalahan . Setelah amangkurat I naik tahta menjadi raja, maka ia memindahkan pusat kerajaannya di Pleret. Istana yang baru ini lebih banyak dibangun oleh batu bata merah daripada kayu seperti istana lama. Pemindahan istana ini merupakan kekuatan yang ingin di perlihatkan oleh Amangkurat I di seluruh pelosok kerajaannya.
Perpindahan istana baru di Pleret juga diwarnai oleh berbagai pemberontakan. Salah satu pemberontakan yang terjadi yaitu pemberontakan oleh Pangeran Alit. Pangeran Alit merasa dirinya layak menjadi raja karena hasutan dari Tumenggung Pasisingan dan Tumenggung Agrayuda.  Selain itu, Pangeran Alit juga menentang penumpasan tokoh-tokoh senior yang dilakukan oleh Amangkurat I. Pemberontakan ini juga mendapat dukungan dari para ulama. Namun Pangeran Alit berhasil dikalahkan sehingga para ulama pun mendapat imbasnya. Pada tahun 1648, Amangkurat I mengumpulkan para ulama dan keluarganya sampai terkumpul kurang 5000 sampai  6000 orang. Mereka dikumpulkan di Alun-Alun Pleret untuk dibunuh. Adapun yang ditugaskan oleh Amangkurat I untuk membunuh para ulama dan keluarganya yaitu Pangeran Aria, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Kiai Ngabei Wirapatra.  
Peran ulama menjadi tergeser semenjak Amangkurat I berkuasa di Mataram. Pada masa Amangkurat I, Ulama tidak lagi menjadi penasihat kerajaan, sebagaimana pada masa Sultan Agung. Hal ini dilatarbelakangi oleh tabiat buruk Amangkurat I yang sering melanggar ajaran-ajaran agama. Akibatnya hubungan antara pengusa dan ulama semakin renggang. Para ulama banyak menyampaikan kritikan-kritikan kepada Amangkurat I namun Amangkurat I menganggapnya sebagi sebuah bentuk penentangan terhadap dirinya. Puncak konflik anatara Amangkurat I dan para ulama terjadi pada peristiwa pembantaian para ulama dan keluarganya pada tahun 1648 M.   Setelah peristiwa tersebut, Pleret berada di dalam genggaman Amangkurat I. Kebijkan-kebijakan yang diambil oleh Amangkurat I tidak lagi didasari oleh nasihat ulama. Hal ini mengakibatkan semakin sewenang-wenangnya Amangkurat I dalam mengeluarkan kebijakannya. 
Studi tentang Pleret pasca pembantaian ulama masa Amangkurat I masih kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan Mataram Islam pada masa pemerintahan Sultan Agung. Selain itu, diperlukan adanya penjelasan lebih dalam terkait peristiwa pembantaian para ulama. Seperti yang kita ketahui bahwasanya para ulama pada masa Sultan Agung berkuasa memiliki peranan penting bagi jalannya pemerintahan Mataram Islam dan memiliki hubungan baik dengan Sultan, namun yang menjadi menarik disini mengapa setelah Amangkurat I memerintah peran dan kedudukan ulama semakin diperkecil bahkan sampai terjadi peristiwa pembantain tersebut.  Oleh sebab itu, Peneliti tertarik untuk membahas lebih lanjut terkait Pleret pasca pembantaian para ulama masa Amangkurat I. Banyak hal yang masih perlu diperjelas dalam peristiwa pembantaian ulama tahun 1648 ini, seperti halnya, latar belakang terjadinya peristiwa tersebut, alasan Amangkurat I memusuhi para ulama  dan  bagaimana keberlangsungan pemerintahan Amangkurat I yang jauh dari adanya peran ulama.

B. Rumusan Masalah
Pada penelitian ini akan diuraikan tentang peristiwa pembantaian para ulama dan dampaknya bagi pemerintahan Amangkurat I di Pleret. Seperti yang telah diketahui bahwasanya Amangkurat I adalah salah satu raja Mataram Islam yang terkenal  akibat kekejaman yang dilakukannya terhadap lawan politiknya. Pada masa Amangkurat I pusat pemerintahan dipindahkan ke Pleret. Dalam proses pembangunan Keraton Pleret terjadi sebuah Peristiwa yang membuat rakyat bahkan orang-orang istana merasa ketakutan dan khawatir karena melihatnya. Peristiwa tersebut adalah pembantaian para ulama yang terjadi pada tahun 1648 M. 
Kekejaman Amangkurat I berpengaruh juga terhadap setiap kebijakan yang diambilnya. Setelah para pejabat senior diganti dengan para pejabat muda dan para ulama telah dibunuhnya maka kediktatorannya dalam memerintah Pleret semakin terlihat.
  Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana keadaan Pleret pada masa pemerintahan Amangkurat I?
2. Bagaimana hubungan antara Amangkurat I dan para ulama?
3. Apa penyebab peristiwa pembantaian para ulama pada masa Amangkurat I?
4. Bagaimana dampak peristiwa pembantaian para ulama bagi pemerintahan Amangkurat I?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang keadaan Pleret pada masa Amangkurat I berkuasa, menjelaskan dan menguraikan  tentang hubungan Amangkurat I dengan para ulama serta latar belakang terjadinya pembantaian para ulama pada tahun 1648 M dan yang terakhir untuk mengetahui dampak dari peristiwa tersebut bagi pemerintahan Amangkurat I.
Dengan adanya Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi khasanah ilmu, khususnya bagi Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam dalam memberikan informasi mengenai sejarah Mataram Islam yang berada di Pleret serta menjadi tambahan referensi bagi pembaca yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai Mataram Islam yang berpusat di Pleret pada masa Amangkurat I  terutama tentang  peristiwa pembantaian yang menimpa para ulama pada tahun 1648 M.

D. Tinjauan Pustaka
Rujukan dan tinjauan pustaka yang digunakan dalam pembahasan Pleret pasca Pembantaian Ulama pada Masa Amangkurat I diantaranya yaitu :
Pertama, buku karya H.J. De Graaf yang berjudul Disintegrasi Mataram dibawah Mangkurat I terbitan Pustaka Grafitipers tahun 1987. Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai tindakan-tindakan awal pemerintahan Amangkurat I, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Amangkurat I, kondisi politik diberbagai daerah dan hubungan Mataram dengan daerah lain seperti Sumatera, Banten, Bali dan Kalimantan.
Kedua, buku karya Soedjipto Abimanyu. Yang berjudul Babad Tanah Jawi yang diterbitkan oleh Laksana 2017 di Yogyakarta. Dalam buku ini dijelaskan terkait mataram masa Amangkurat I, peristiwa pembantaian ulama dan sebab terjadi peristiwa tersebut. Serta bukunya yang berjudul Kitab Terlengkap Sejarah Mataram diterbitkan oleh Saufa di Yigyakarta tahun 2015. Dalam buku ini dijelaskan juga terkait Mataram pada masa Amangkurat I, Sifat-sifat Amangkurat, peristiwa pembantaian ulama dan memaparkan sekilas tentang dampak peristiwa tersebut.
Yang terakhir yaitu skripsi karya Rochmat Gatot Santoso yang berjudul “Kebijakan Politik dan Sosial-Ekonomi di Kerajaan Mataram Islam pada Masa Pemerintahan Amangkurat I (1646-1677) yang dikeluarkan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2016. Skripsi ini secara garis besar membahas tentang latar belakang dari Amangkurat I, kebijakan-kebijakan pada masa pemerintahan Amangkurat I, dan dampak dari pemerintahan Amangkurat I.
Secara keseluruhan persamaan antara tinjauan pustaka dengan topik kajian peneliti yaitu sama-sama membahas tentang Mataram Islam pada masa Amangkurat I berkuasa. Sedangkan perbedaannya terdapat pada fokus objek kajian dan waktu pembatasan waktu, yang mana dalam penelitian ini difokuskan kepada peristiwa pembantaian ulama dan dampaknya bagi pemerintahan Amangkurat I dan lingkup waktu yang diambil adalah pasca peristiwa pembantaian para ulama atau pada tahun 1648-1677 M.

E. Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis dan politik. Pendekatan sosiologis digunakan untuk mengungkap segi-segi sosial dari peristiwa yang akan dikaji. Dalam  pendekatan sosiologis pembahasannya mencakup golongan sosial yang berperan, jenis hubungan sosial, konflik berdasarkan kepentingan , pelapisan sosial, peranan serta status sosial dan lain sebagainya. Penggunaan pendekatan sosiologis dalam penelitian ini sebagaimana yang dijelaskan Weber adalah bertujuan memahami arti subyektif dari kelakuan sosial. Sebab dalam penelitian ini, peneliti mencari maksud dan tujuan dari Amangkurat I melakukan pembantaian terhadap para ulama untuk mengetahui motif-motif dari tindakannya dan faktor-faktor peristiwa tersebut terjadi.
Pendekatan selanjutnya dalam penelitian ini menggunakan pendekatan politik. pendekatan ini digunakan untuk mengetahui masalah kepemimpinan yang dipandang sebagai faktor penentu dan senantiasa menjadi tolok ukur.  Selain itu, pendekatan ini digunakan juga untuk mengetahui perkembangan hukum dan kebijakan-kebijakan sosial. Sehingga melalui pendekatan ini peneliti dapat menjelaskan tentang masalah-masalah kepemimpinan Amangkurat I dan perkembangan hukum serta kebijakan-kebijakannya selama berkuasa di Pleret.
Penelitian ini menggunakan teori konflik. Teori konflik menurut Dahrendorf yaitu setiap kelompok seseorang berada dalam posisi dominan berupaya mempertahankan status quo yang berarti orang tersebut mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti keadaan sebelumnya. Model koflik yang diambil peneliti dari teori yang dikemukakan oleh Dahrendorf adalah setiap elemen dalam masyarakat menyumbang pada disintegrasi dan perubahan. 
Peneliti dalam mengananlisis tentang Pleret Pasca Pembantaian Para Ulama pada Masa Amngkurang I, tentunya membutuhkan suatu kerangka konsep sesuai dengan substansi persoalan. Maka dari itu, akan dijelaskan mengenai konsep-konsep yang Peneliti pakai untuk menjawab rumusan masalah yang telah disebutkan sebelumnya.
1. Pengertian Pleret
Pleret adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia, terletak sekitar 13 Km dari ibu kota kabupaten Bantul. Mempunyai luas 3.664,123 ha. Kecamatan Pleret berada di dataran rendah. Ibukota Kecamatannya berada pada ketinggian 60 meter diatas permukaan laut. Jarak Ibukota Kecamatan ke Pusat Pemerintahan (Ibukota) Kabupaten Bantul adalah 13 Km. Kecamatan Pleret beriklim seperti layaknya daerah dataran rendah di daerah tropis dengan dengan cuaca panas sebagai ciri khasnya. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Pleret adalah 32ºC dengan suhu terendah 24ºC. Bentangan wilayah di Kecamatan Pleret 55% berupa daerah yang datar sampai berombak, 10% berombak sampai bernukit dan 35% berbukit sampai bergunung. 
Kecamatan Pleret dihuni oleh 10.473 KK. Jumlah keseluruhan penduduk Kecamatan Pleret adalah 34.020 0rang dengan jumlah penduduk laki-laki 16.810 orang dan penduduk perempuan 17.210 orang. Tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan Pleret adalah 8.163 . jiwa/Km2. Sebagian besar penduduk Kecamatan Pleret adalah petani. Dari data monografi Kecamatan tercatat 18.331 orang atau 53,88% penduduk Kecamatan Pleret bekerja di sektor pertanian.  
Pleret merupakan ibu kota Mataram Islam pada masa Amangkurat I. Daerah Pleret menjadi daerah yang indah dengan istana mataram yang megah dan segoroyoso atau laut buatan yang ada pada saat itu. Namun karena penguasa yang kejam yang memerintah yaitu Sultan Amangkurat I menjadikan Pleret tempat yang juga mengerikan. Hal ini disebabkan banyaknya pembunuhan yang dilakukan oleh Amangkurat I terlebih pembunuhan para ulama yang pernah dilakukannya.
Pleret yang dapat dijumpai pada masa sekarang adalah sebuah desa yang kebanyakan masyarakatnya adalah pendatang sehingga jarang yang mengetahui tentang asal-usul daerah tersebut. Setelah pemberontakan Trunojoyo, Pleret diluluh lantakkan sehingga bangunan-bangunan megah seperti Istana dan Masjid hanyalah tinggal puing-puing saja. Namun di desa ini masih terdapat situs Masjid Agung Mataram di Pleret dan juga Museum Pleret sebagai tempat penelitian lebih lanjut terkait Pleret masa lampau.
2. Pengertian Ulama
Kata “ulama” adalah bentuk jamak dari kata alim, artinya orang yang berilmu. Ulama adalah seseorang yang memiliki kepribadian, dan akhlak yang dapat menjaga hubungan dekatnya dengan Allah dan memiliki benteng kekuatan untuk menghalau dan meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya. Dalam pengertian asli, ulama adalah para ilmuwan, baik di bidang agama, humaniora, sosial, maupun kealaman. Dalam pengertian selanjutnya, pengertian ini menyempit dan hanya digunakan oleh ahli agama. 
Manusia tanpa ulama akan menjadi makhluk yang bodoh, mudah terperdaya oleh setan, manusia, dan jin serta tidak akan selamat dari gelombang dan bencana kesesatan, serta kesewenang-wenangan hawa nafsu dari berbagai penjuru.
Dengan demikian, keberadaan ulama merupakan salah satu kenikmatan Allah swt atas penghuni bumi ini. Mereka adalah lampu penenag hati, tokoh pembawa petunjuk, hujjah Allah di muka bumi, pemusnah kesesatan pemikiran dan penyingkap tabir keraguan dari hati dan jiwa, penyebab kesengsaraan setan, penyangga iman, dan pebimbing umat. Keberadaan mereka di muka bumi bagaikan bintang-bintang di langit yang dapat dijadikan petunjuk bagi manusia dalam meniti kegelapan hidup di daratan dan lautan. 
3. Pengertian Penguasa
Menurut KBBI penguasa adalah orang yang menguasai ; orang yang berkuasa (untuk menyelenggarakan sesuatu, memerintah, dsb.). Menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim penguasa atau imam adalah perisai yang menjadi pelindung bagi orang yang berperang dan orang yang meminta perlindungan.
Keberadaan penguasa bagi manusia adalah hal yang mutlak, ibarat air bagi kehidupan. Tanpa penguasa manusia tidak akan  memperoleh kemaslahatan hidup. Tidak ada keadilan yang dapat berdiri tagak dengan sendirinya dan tidak ada hak yang dapat memenangkan dirinya sendiri. Manusia tanpa penguasa akan menjadi anarkis, dan tidak ada kemaslahatan dalam masyarakat anarkis, karena syariat islam dengan segala ajaran dan peraturannya tidak dapat diberlakukan ditengah-tengah mereka, manusia tidak dapat menikmati hidupnya dengan leluasa, dan permusuhan tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu,, para penguasa berada pada posisi yang tinggi dan kedudukan yang terhormat.  

F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah. Terdapat empat tahapan didalam metode sejarah yaitu tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Dalam tahapan heuristik (pengumpulan sumber) penulis menggunakan kajian pustaka yaitu dengan mengumpulkan buku-buku serta skripsi yang relefan dengan fokus makalah yang dikaji oleh Penulis. 
Setelah sumber sejarah itu terkumpul, tahap yang berikutnya adalah verifikasi atau disebut juga dengan kritik sumber. Dalam tahap ini sumber diuji keabsahan tentang keaslian sumber yang dilakukan melalui kritik ekstern dan keabsahan tentang kesahihan sumber yang ditelusuri melalui kritik intern.
Tahapan yang selanjutnya adalah interpretasi atau penafsiran. Dalam tahap interpretasi terdapat dua metode utama yaitu analisis dan sintesis. Analisis sejarah itu sendiri bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu kedalam interpretasi yang menyeluruh.
 Tahapan yang terakhir yaitu historiografi atau penulisan sejarah. Historiografi sejarah merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan.

G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian Pleret pasca Pembantaian Para Ulama pada Masa Amangkurat I akan disusun dalam enam bab dengan rincian sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
BAB I dalam penelitian ini membahas mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan dari penelitian, tinjaun pustaka, landasan teori, metode yang digunakan dalam penelitian serta sistematika pembahasan.
BAB II KEADAAN PLERET PADA MASA AMANGKURAT I
BAB II dalam penelitian ini akan membahas tentang latar belakang dipilihnya Pleret sebagai pusat kerajaan Mataram Islam masa Amangkurat I, proses pembangunan istana atau keraton Pleret, serta menjelaskan keadaan Pleret sebagai pusat pemerintahan Amangkurat I.
BAB III HUBUNGAN AMANGKURAT I DENGAN PARA ULAMA
BAB III dalam penelitian ini akan membahas tentang hubungan ulama dengan penguasa sebelum Amngkurat I, hubungan Amangkurat I dengan para ulama, perbandingan hubungan antara para ulama dengan Sultan Agung dan para ulama dengan Amangkurat I, serta sebab hubungan yang tidak harmonis anatara Amangkurat I dan para ulama.
BAB IV LATAR BELAKANG TERJADINYA PEMBANTAIAN ULAMA 1648 M
  BAB IV dalam penelitian ini akan membahas tentang latar belakang terjadinya pembantaian para ulama, siasat pembantaian para ulama, serta proses pembantaian para ulama di Alun-Alun Pleret
BAB V DAMPAK PEMBANTAIAN ULAMA BAGI PEMERINTAHAN AMANGKURAT I
BAB V dalam penelitian ini akan membahas dampak dari peristiwa pembantaian ulama terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan Amangkurat I baik itu dari segi politik, sosial, ekonomi dan keagamaan.
BAB VI KESIMPULAN
BAB VI berisi tentang kesimpulan dari permasalah yang telah dibahs pada bab-bab sebelumnya. Pada bab ini berisikan jawaban dari rumusal masalah yang terdapat pada bab pertama.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Dudung. 2011. Metodologi Penelitian Sejarah Islam. Yogyakarta : Ombak.

Abimanyu, Soecipto. 2013. Babad Tanah jawi. Yogyakarta : Laksana.

 --------- . 2015. Kitab Lengkap Sejarah Mataram Islam. Yogyakarta : Saufa

Al-Badri, Abdul Azis. 2005. Al-Islam bain Al-Ulama wa Al-Hukkam, terj. Mujio. Bandung : Cv Pustaka Setia.

 Graaf, H. J. De. 1987. Disintegrasi Mataram di bawah Mangkurat I. Jakarta : Pustaka 
Grafitipers.

Kecamatan Pleret. www.bantulkab.co.id, diakses tanggal 01 April 2019.

Muhtarom. 2005.  Reproduksi Ulama di Era Globalisasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Santoso, Rochmat Gatot. “ Kebijakan Politik dan Sosial-Ekonomi di Kerajaan Mataram Islam pada Masa Pemerintahan Amangkurat I (1646-1677)”, Skripsi pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Neger Yogyakarta.

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...