![]() |
| Sejarah Kesenian Didong: Studi Tentang Nilai Nilai Islam Dalam Kesenian 1964-2018, blogspot.com |
ABSTRAK
(Sejarah Kesenian Didong: Studi Tentang Nilai Nilai Islam Dalam Kesenian 1964-2018)
kesenian didong adalah salah sutu keseian suku Gayo yang memadukan unsur tari, vokal dan sastra yang bertujuan memaknai hidup sesuai dengan realita pada kehidupan para Nabi sesuai dengan Islam. Dalam kesenian didong memiliki nilai religius, keindahan, kebersamaan dan lain sebagainya. Adapun masalah yang ingin diteliti adalah sejarah kesenian didong, perkembangan kesenian didong di Aceh Tengah dan mengungkapkan nilai nilai keislamann dalam kesenian didong.
Konsep yang dipakai adalah konsep akulturasi yang di pakai untuk melihat percampuran budaya Islam dengan budaya suku Gayo terutama pada kesenian didong. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sejarah dan budaya. Pendekatan sejarah di gunakan untuk memperiodesasikan dinamika dan perjalanan kesenian didong, adapun pendekatan budaya di gunakan peneliti untuk mendeskripsikan unsur kebudayaan dari suku Gayo terutama pada kesenian didong yang memiliki banyak nilai budaya dan seni didalamnya. Teori yang dipakai adalah teori fungsionalisme, teori ini digunakan untuk melihat bagaimana perubahan fungsi kesenian didong yang dulunya dipakai sebagai media dakwah dan sekarang menjadi media hiburan.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah pertama, heuristik dengan cara mengumpulkan sumber. Kedua, verifikasi yaitu mengkritisi sumber yang telah di dapat dengan cara kritik ekstern dan intern. Ketiga, interpretasi yaitu menganalisis sumber. Keempat, historiografi adalah pemaparan hasil penelitian.
Sejarah Kesenian Didong: Studi Tentang Nilai Nilai Islam Dalam Kesenian 1964-2018
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki suku terbayak di dunia, serta memiliki bermacam ragam Kebudayaan, namun kita pada umumnya baru sekedar mengetahui budaya itu, sebagian dari bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku dan kebudayaan kebanyakan belum mengetahui arti dari keberagaman, untuk itu kita harus berusaha memperkenalkan budaya daerah atau kebudayaan suku yang ada di indonesia
Suku Gayo merupakan salah satu suku di Indonesia yang hidup dan berkembang di dataran tinggi Gayo merupakan daerah Aceh bagian Tengah, suku Gayo merupakan suku yang hampi sama dengan suku batak yang berada di Sumatera Utara, suku Gayo dinyatakan sebagai orang samudra yang tidak mau memeluk agama islam yang melarikan diri dari hulu sungai peusangan karena itu dikatakana “kayo” yang berarti ketakutan kemudian kata ini menjadi Gayo. Namun suku Gayo merupakan salah satu suku yang sangat eksis dan berkembang dan beralkulturasi dengan budaya Islam dan Aceh, yang sangat menjunjung tinggi agama dan budaya.
Agama dan budaya pada suku Gayo merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Egeme orom edet gere pas tepisahen i Gayo. Begitu pula budaya yang dijunjung tinggi oleh suku Gayo, agama dan budaya tidak bisa dipisahkan dari mereka seperti dua sisi mata uang logam. suku Gayo sangat menjunjung tinggi agama, budaya, tradisi dan adat istiadat dan kesenian didong yang sudah ada sejak kekuasaan kerajaan Linge dibawah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh sultan Iskandar Muda antara Tahun 1607- 1636.
Suku Gayo memiliki banyak unsur kebudayaan yang salah satunya bernama kesenian, kesenian tersebut berupa kesenian tari saman, tari munalo, tari guel dan kesenian didong, kesenian didong merupakan kesenian yang berbeda dari kesenian Gayo lainnya, terutama kesenian didong bukan hanya memiliki unsur tarian seperti kesenian tari saman, tari munalo dan tari guel, tetapi kesenian didong dapat dinyatakan sebagai konfigurasi ekspresi seni sastra, seni suara, dan seni tari yang memiliki banyak filosofi dalam nyayian dan gerakannya. kesenian didong adalah salah satu kesenian tradisional yang cukup berakar dalam kehidupan kebudayaan suku Gayo, kesenian didong memiliki perjalanan yang panjang untuk berkembang dari sejak awal munculnya dan masih bertahan sampai sekarang. Didong merupakan suatu interaksi masyarakat Gayo, Didong dijadikan sebagai media dakwah dan pendidikan islam.
Sejarah kesenian didong memiliki berbagai versi cerita kemunculannya, Sejarah kemunculan kesenian didong secara pasti belum ada keterangan yang mampu mengungkapkannya. Ada yang berpendapat bahwa umur kesenian ini sama tuanya dengan adanya orang Gayo itu sendiri. Ada juga yang mengatakan bahwa kata didong itu mendekati pengertian kata “dendang” dalam bahasa Indonesia. Arti “dendang” sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah nyanyian ungkapan rasa senang, gembira sambil bekerja dan menghibur hati dengan diiringi bunyi-bunyian. Ada juga yang berpendapat didong berasal dari kata ‘din’ dan ‘dong’. ‘din’ berarti agama dan ‘dong’ berarti dakwah. Jadi didong dimaksud untuk menyebarkan dakwah keagamaan melalui kebijakan yang ada didaerah Gayo, didong juga bisa dinyatakan sebagai salah satu varian dari “nyanyian rakyat” (folksong). Mungkin didong bisa dianalisi untuk dinyatakan sebagai suatu bentuk teater atau teater kehidupan.
Dalam legenda gajah putih pada masa kerajaan linge yang dikenal di Gayo, dikatankan untuk membangkitkan seekor gajah dari baringannya yang tidak mau bangun maka dilakukaklah dengan cara berdendang yaitu dengan didong, yang akhirnya menajadi kesenian didong yang dapat menjadi sarana untuk menyalurkan dan meyampaikan perasaan, pikiran dari seseorang kepada orang lain, dan diyakini awal mula munculnya kesenian didong berawal dari peristiwa ini.
Penelitian ini memaparkan sejarah perkembangan kesenian Didong dan mengungkapkan nilai nilai islam yang berada dalam kesenian didong yang dapat memberi kontribusi dalam pendidikan Islami bagi masyarakat suku Gayo sebagai penegak Syari’at islam dan memberi dampak positif bagi kehidupan beragama dan beradat istiadat dalam suku Gayo di Aceh Tengah.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Penelitian ini difokuskan pada sejarah berkembangnya kesenian didong serta mengungkap nilai nilai keislaman yang ada dalam kesenian didong Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, Kajian mengenai sejarah berkembangnya kesenian didong Gayo serta nilai nilai Islam yang ada didalamnya.
Adapun batasan waktunya mulai dari tahun 1964 sampai dengan 2018 pada awal tahun 1964 merupakan munculnya kesenian didong yang dipelopori oleh ceh To’Et dan kini menjadi salah satu kesenian ikonik di Gayo kabupaten Aceh Tengah. Perkembagan kesenian didong Gayo sampai sekarang masih digunakan oleh suku Gayo sebagai media hiburan dan dakwah, sementara itu suku Gayo yang berada di kabupaten Aceh Tengah yang juga menjadi bahasan dalam penelitian karena kesenian didong sangat erat hubungannya dengan suku Gayo dalam penelitian ini yang dipandu dengan beberapa pertanyaan pokok sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah munculnya kesenian didong Gayo di Kabupaten Aceh Tengah?
2. Bagaimana perkembagan kesenian Didong dalam masyarakat suku Gayo yang berada di Aceh Tengah pada tahun 1964-2018?
3. Apasaja nilai nilai keislaman dalam kesenian didong Gayo di Aceh Tengah?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai gambaran dan realisasi dari rumusan masalah yang dibahas, yaitu untuk mengetahui bagaimana sejarah kesenian didong yang merupaka suatu kesenian yang menjadi sebuah kesenian ikonik suku Gayo, selain itu tujuan penelitian ini juga dapat mengungkap nilai keislaman yang ada dalam kesenian didong baik itu dari segi gerakan, nyayian, dan tarian.
Kegunaan Penelitian ini yaitu untuk mengetahui tentang sejarah kemunculan dan perkembagan kesenian didong Gayo di kabupaten Aceh Tengah khususnya pada suku Gayo, dan memberikan wawasan pada pembaca megenai pengaruh yang ditimbulkan agama Islam terhadap kesenian didong baik dari segi acara pertunjukan dan dari segi yang lainnya. Penulis berharap dengan adanya tulisan ini, dapat memberikan kemudahan bagi para pembaca yang ingin mengetahui dan mengkaji lebih dalam terkait kesenian didong.
D. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan bagian penting untuk membedakan penelitian ini dengan penelitian yang lainnya. Peninjauan kembali dilakukan dalam bentuk reviu singkat mengenai karya ilmiah terdahulu dalam melihat persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Kajian yang terkait dengan kesenian didong bukan hal yang baru bagi beberapa kalangan seperti penulis buku, skripsi ataupun seniman yang mengungkapkan tentang kesenian didong Gayo. Berikut buku buku yang di maksud:
Pertama, buku yang berjudul Didong, kesenian tradisional Gayo di tulis oleh M. Junus Melalatoa yang di terbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1981/1982. Dalam buku tersebut membahas tentang kesenian didong Gayo yang mencakup wialayah dan letak geografis masyarakat suku gayo yang memiliki kesenian didong serta menjelaskan sejarah munculnya kesenian didong di daerah Aceh Tengah yang dimulai sejak zaman raja linge XIII sampai sekarang, gambaran umum tentang kesenia didong juga di jelaskan yang mencakup seni unsur unsur seni diantaranya sastra, vokal, instrumental, rupa, tari dan buku ini juga membahas tentang fungsi kesenian didong bagi masyarakat suku Gayo khususnya di daerah Aceh Tengah yang fungsinya tersebut adalah sebagai media hiburan, kritik sosial dan pencari dana.
Penelitian ini sama sama membahas tentang kesenian didong tetapi yang membedakan penelitian ini dengan buku tersebut adalah penelitian ini akan mengungkapkan nilai nilai islam yang ada pada kesenian didong dari segi gerakan, nyayian dan tariannya yang didalam buku tersebut tidak membahas tentang nilai nilai keislaman yang ada didalam kesenian didong.
Kedua, buku yang berjudul didong, pentas kreativitas Gayo ditulis oleh M. Junus Melalatoa yang di terbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 2001. Buku tersebut membahas tentang kesenian didong Gayo yang sangat difokuskan pada kesenian didong yang menyangkut tentang melodi dan syair dalam penggelaran kesenian didong pada masyarakat suku Gayo, pembahasan ini juga berkaitan dengan unsur unsur kesenian seperti melodi, syair lirik dan lainya, dalam buku ini juga menjelaskan secara singkat tengtang didong tersebut maupun dari pengertin dan cara menampilkan kesenian didong pada masyarakat di Aceh tengah khususnya pada suku Gayo. fungsi didong dan tokoh tokoh kesenian didong gayo juga dijelaskan dalam buku adapun fungsi nya sebagai media dakwah dan menjadi sarana hiburan masyarakat suku Gayo di Aceh Tengah dan memberitahu siapa siapa saja tokoh kesenian didong salah satunya adalah ceh Abdul Kadir To’et, tetapi buku ini belum menjelaskan cara penggelaran kesenian didong dalam masayarakat suku Gayo dan belum menjelaskan nilai nilai keislaman dalam kesenian didong.
Kaitanya dengan penelitian ini adalah meneliti tentang kesenian didong dalam artian meneliti tentang unsur unsur kesenian yang terdapat dalam didong yaitu unsur melodi, lirik serta fungsi kesenian didong sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini mengungkapkan nilai nilai islam yang terdapat dalam kesenian didong serta mendeskripsikan pementasan kesenian didong pada acara penggelaran dan membandingkan kesenian didong di Aceh Tengah dengan kesenian didong di daerah lainnya.
E. Landasan Teori
Teori adalah seperangkat gagasan, definisi definisi yang berhubungan satu sama lain yang menunjukan fenomena fenomena yang sistematis dengan menetapkan hubungan hubungan antara variabel dengan tujuan menjelaskan dan meramalkan fenomena fenomena tersebut. Kata teori berasal dari kata yunani “theoria” yang berarti “renungan” teori pada umumnya berisi satu kumpulan tentang kaidah pokok suatu ilmu, dalam filsafat disebut epistimilogi (dari bahasa yunani “episteme” yang berarti “pengetahuan” dan “logos” yang berarti “wacana”. Penyusunan landasan teori pada umumnya dapat berbentuk uraian kualitatif, model sistematis, atau pernyataan pernyataan umum yang langsung berkaitan dengan bidang ilmu yang di teliti.
Pembahasan dalam penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peristiwa yang berhubungan dengan permasalahan, serta untuk memberikan jawaban secara mendalam terhadap masalah tersebut, oleh karena itu pentingnya digunakan pendekatan sejarah dan budaya agar dihasilkan suatu pernyataan kritis tentang permasalahan dalam suatu kebudayaan pada suku Gayo, disamping itu, penting pula menjelaskan konsep akulturasi, yang menjadi bahan bahasan untuk mengetahui bagaimana percampuaran budaya Islam dan budaya suku Gayo yang melahirkan suatu kebudayaan dan tradisi salah satunya adalah kesenian didong yang beralkulturasi dengan ajaran Islam.
pendekatan sejarah dan kebudayaan digunakan untuk menjelaskan peristiwa masa lampau yang terjadi secara kronologis. Pendekatan ini dimaksudkan agar dapat mengembangkan pemahaman sejarah munculnya kesenian didong di Aceh Tengah dalam dimensi waktu yang juga termasuk dalam budaya suku Gayo. Melalui pendekatan sejarah dan budaya, kesenian didong pada masa lampau dapat dipelajari dalam konteks pertumbuhan, perkembangan dan keruntuhan dan mengetahui kebudayaan suku Gayo dalam kontek kesenian didong yang sangat berkaitan erat dengan suku Gayo, serta secara kritis diakronis permasalahan dilihat dari segi segi prosesual serta fungsi.
Konsep yang digunakan adalah konsep akulturasi, Akulturasi dapat dideskripsikan sebagai suatu tingkat dimana seorang individu mengadopsi nilai, kepercayaan, budaya dan praktek praktek tertentu dalam budaya baru (Diaz & Greiner, dalam Nugroho dan Suryaningtyas, 2010). Menurut Redfield, Linton dan Herskovits (dalam S.J, 1984) akulturasi memahami fenomena yang terjadi ketika kelompok individu yang memiliki budaya yang berbeda datang ke budaya lain kemudian terjadi kontak berkelanjutan dari sentuhan yang pertama dengan perubahan berikutnya dalam pola kultur asli atau kelompok yang lainnya. Dalam konsep akulturasi ini menjelaskan bagaimana perubahan perubahan kebudayaan suku Gayo asli yang sudah tercampur dengan kebudayaan Islam pada kesenian didong yang nantinya terdapat nilai nilai keislaman dalam kesenian didong.
Penelitian ini menggunakan teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski. Dalam teori fungsionalisme diterangkan bahwa segala aktivitas kebudayaan adalah untuk memuaskan naluri manusia yang berhubungan dengan kehidupannya (pemenuhan kebutuhan). Menurut Malinowski, setiap kebudayaan pada dasarnya tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan suatu kelompok sosial yang ada pada tempat budaya tersebut. Segala aktivitas kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat sebenarnya bertujuan untuk memuaskan naluri manusia dari berbagai kebutuhan yang berhubungan dengan segala aktivitas kehidupan.
Melalui teori fungsionalisme peneliti juga ingin mengungkapkan fungsi fungsi yang terdapat dalam kesenian didong salah satu fungsi kesenian didong adalah sebagai media dakwah Islam atau religiusitas yang dulunya dipakai sebagai media penyebaran agama Islam melalui kesenian didong, kini fungsi kesenian didong berubah dari media penyebaran Islam menjadi media hiburan dan pencari dana melalui kesenian didong, maka dari perubahan funsi itulah penelitian ini menggunakan teori fungsionalisme.
F. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan penelitian proposal ini adalah metode Historis atau metode sejarah. Menurut Louis Gottschak metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Pendapat lain mengungkapkan bahwa metode sejarah dalam pengertian yang umum adalah pengertian yang umum adalah penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikannya jalan pemecahannya dari perspektif historis.
1. Heuristik
Heuristik berasal dari Bahasa Yunani dari kata heuristik yang artinya menemukan. Dengan demikian heuristik adalah menemukan jejak jejak atau sumber sumber dari sejarah atau peristiwa yang kemudian dirangkai menjadi suatu kisah. Peneliti berusaha mengumpulkan sumber sumber sejarah yang berkaitan dengan permasalahan yang menjadi bahan kajian. Sumber sumber yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sumber tertulis yaitu dari buku, surat kabar, internet dan dokumen lainnya yang dinilai relevan. Untuk menemukan sumber sumber tersebut penulis mencarinya di perpustakaan kota Takengon (Aceh Tengah) dan juga sumber lisan berupa wawancara terhadap pelaku maupun saksi saksi dari suku Gayo yang pernah mempertunjukan kesenian didong Gayo di kabupaten Aceh Tengah 1964-2019 M. Adapun teknik penelitian untuk menemukan sumber sumber yang digunakan oleh peneliti adalah:
a. Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan teknik yang digunakan oleh peneliti dengan membaca berbagai sumber yang berhubungan dengan kesenian, tari, adat istiadat, dan unsur unsur budaya, serta mengkaji sumber lain baik dari buku, dokumentasi dan majalah, adapun sumber sumber tersebut diperoleh dari perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan perpustakaan daerah Takengon, arsip arsip dari pelaku kesenian didong dan majalah yang berkaitan dengan kesenian didong.
b. Wawancara
Wawancara yaitu pengumpulan sumber yang mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara (pengumpulan sumber dan jawaban responden dicatat ataupun direkam oleh alat perekam seperti hp). Teknik wawancara ini membantu dalam penelitian sejarah meskipun harus mengembangan bahasanya yang berbeda dengan sumber sumber yang telah tercatat dan terekam. Teknik yang dilakukan untuk mencari informasi dari narasumber lisan berupa wawancara terhadap sumber primer, narasumber yang dimaksud adalah bapak Rahmadi yang berumur 54 tahun, beliau adalah anggota dan pelaku dari kesenian didong yang juga menjabat sebagai perangkat kampung Belang Bebangka, hasil wawancara terhadap sumber primer dari pelaku dan saksi masyarakat yang ada dalam pertunjukan kesenian didong maupun orang yang menyaksikan pementasan kesenian didong Gayo.
2. Kritik
Setelah tahapan penumpulan data (heuristik), berikutnya dilakukan kritik terhadap sumber sumber yang telah diperoleh dengan melakukan analisis apakah sesuai dengan masalah penelitian. Kritik yang dilakukan terbagi menjadi dua yaitu: ekstern dan intern. Kritik eksternal ditunjukan untuk menilai otentitas sumber. Dalam kritik eksternal yang dipermasalahkan adalah sumber, umur dan naskah dokumen, kapan dibuat, dibuat oleh siapa dan instansi apa yang menerbitkan sumber tersebut. Sedangakan kritik internal lebih ditujukan pada menilai kredibilitas sumber dengan mempersoalkan isinya, kemampuan membuatnya, tanggung jawab dan moralnya. Pada bagian kritik intern, peneliti melakukan kritik atas sumber kepustakaan yakni dengan membandingkan isi dari satu buku dengan buku yang lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, sedangkan kritik atas sumber lisan lebih ditujukan pada isi dari yang telah diungkapkan oleh saksi peristiwa terhadap masalah, sehingga fakta fakta yang diperoleh valid untuk mendukung pembahasan yang akan diuji. Kritik sumber tidak tertulis adalah mengkritik narasumber yang telah diwawancarai adapun narasumber tersebut yaitu bapak rahmadi yang berumur 54 tahun bekerja sebagai PNS dan sebagai perangkat kampung Belang Bebangka, beliau adalah salah satu pelaku dari pementasan kesenian didong di kampung Belang Bebangka.
3. Interpretasi
Tahap selanjutnya yaitu proses penafsiran dan penyusunan makna kata kata yang diperoleh setelah proses kritik sumber dengan cara menghubungkan satu fakta dengan fakta yang lainnya sehingga dapat gambaran yang jelas terhadap dampak dari adanya didong Gayo menjadi kesenian yang hidup di Kabupaten Aceh Tengah tahun 1964-2018 dalam interpretasi juga terdapat eksplanasi yaitu penjelasan dari apa yang sudah dijabarkan dalam bentuk kalimat maupun paragraf.
4. Historiografi
Historiografi merupakan tahapan akhir yang menjadi produk sejarah agar tidak hilang. Historiografi disebut sebagai penulisan sejarah, sumber sumber sejarah yang ditemukan, dianalisis dan ditafsirkan kemudian ditulis menjadi suatu kisah sejarah yang selaras atau cerita ilmiah dalam tulisan berbentuk proposal tentang Sejarah kesenian didong di Aceh Tengah : Studi Tentang Nilai Nilai Islam Dalam Kesenian 1964-2018.
G. Sistematika Pembahasan
Untuk memperoleh suatu karya ilmiah yang sistematis, perlu adanya pembahasan yang dikelompokan menjadi bab per bab sehingga dapat dipahami oleh pembaca, dalam rencana penyusunan kerangka sementara, peneliti membagi pembahasan dengan menjadi lima bab yaitu:
Bab pertama berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang maslaah untuk memberikan penjelasan mengapa penelitian ini di lakukan dan dengan tujuan dan kegunaan penelitian. Kerangka teori merupakan tinjauan sekilas mengenai beberpa pendapat tokoh tentang objek yang peneleti ambil. Adapun metodelogi untuk menjelaskan bagaimana cara yang akan dilakukan dalam penelitian ini untuk mendapatkan sumber. Terakhir sistematika pembahasan yang menjelaskan tentang gambaran umum dan pijakan bagi pembahasan pada bab bab berikutnya.
Bab kedua berisi kondisi suku Gayo di kabupaten Aceh Tengah yang meliputi kondisi geografis suku Gayo untuk memberikan gambaran umum terhadap tempat yang didiami oleh suku Gayo, dalam bab ini juga menjelaskan tentang sejarah asal usul suku Gayo untuk menjelaskan sejarah awal mula adanya suku Gayo di Aceh Tengah dan mengungkapkan bagaimana suku Gayo tumbuh dan berkembang di kabupaten Aceh Tengah serta dalam menjelaskan kondisi sosial, agama dan budaya masyarakat suku Gayo agar mengetahui lebih dalam tentang kehidupan dan kondisi masyarakat Suku Gayo yang mendiami daerah Aceh Tengah.
Bab ketiga memaparkan tentang sejarah munculnya kesenian didong Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, hal tersebut perlu dijelaskan agar dapat ditemukan suatu bentuk dan popularitas kesenian didong pada masyarakat suku Gayo yang tinggal di kabupaten Aceh Tengah dengan sejarah kemunculan kesenian tersebut. Kesenian didong adalah salah satu warisan budaya suku Gayo, serta menjelaskan perjalanan kesenian didong dari awal tumbuhnya, berkembangnya dalam suku Gayo, hal ini perlu dijelaskan karena kesenian didong merupakan warisan budaya dari leluhur mereka.
Bab keempat menjelaskan nilai dan fungsi kesenian didong Gayo, yang menjelaskan tentang nilai nilai keislaman seperti nilai akidah, syari’at dan akhlak yang berada dalam kesenia didong baik itu dari segi tarian, nyayian dan gerakannya, dalam bab ini juga menjelaskan tentang fungsi kesenian didong hal ini perlu dijelaskan agar fungsi kesenian didong dapat diketahui oleh orang banyak, selain sebagai media hiburan kesenian didong juga berfungsi sebagai media dakwah dan penyebaran islam (religi) melalui syair dari kesenian tersebut. Bab kelima berisi kesimpulan dari hasil analisa peneliti tentang sejarah kasenian didong Gayo yang berada di Aceh Tengah.
Daftar Pustaka
1. Buku
Abdul Rani Usman. Sejarah Peradaban Aceh; Suatu Analisis Interaksionis Inteerasi dan konflik. Jakarta; Yayasan Obor Indonesia, Anggota IKAPI DKI atas bantuan Yayasan TIFA, 2003.
Dudung Abdurahman, Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2003.
__________. Metode Penulisan Sejarah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.
M Alfian Hassan, dkk. kesenian Gayo dan perkembangannya, Jakarta: Balai Pustaka, 1980.
Eliyyil, Pendidikan Islami Dalam Nilai Nilai Karifan lokal Didong. Takengon: Stain Gajah putih, 2009.
Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah , terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press, 1985.
Hadiq, Islam dan budaya Lokal. Yogyakarta; Sukses Offset. 2009.
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013.
Komarudin, Kamus Riset. Bandung: Angkasa, 1984.
M. Junus Melalatoa, didong, pentas kreativitas Gayo, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001.
¬¬__________. Didong, kesenian tradisional Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981/1982.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo, Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif, Jakarta: Gramedia, 1985.
2. Wawancara :
Wawancara dengan Bapak Rahmadi melalui telepon, Kamis, 14 Februari 2019.
KERANGKA SEMENTARA
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Kegunaan
D. Tinjauan Pustaka
E. Landasan Teori
F. Metode Penelitian
G. Sistematika Pembahasan
BAB II: KONDISI SUKU GAYO DI KABUPATEN ACEH TENGAH
A. Kondisi Geografis
B. Sejarah Asal Usul Suku Gayo
C. Kondisi Sosial, Agama dan Budaya
BAB III: SEJARAH KESENIAN DIDONG GAYO DI ACEH TENGAH
A. Asal Usul Kesenian Didong Gayo di Aceh Tengah
B. Perjalanan Kesenian Didong Gayo 1964-2019
1. Periode Pertumbuhan
2. Periode perkembangan
BAB IV: Nilai dan Fungsi Kesenian Didong Gayo
A. Nilai Keislaman dalam Kesenian Didong Gayo
1. Nilai Akidah
2. Nilai Syari’at
3. Nilai Akhlak
B. Fungsi Kesenian Didong Gayo
1. Sebagai Sarana Hiburan
2. Sebagai Media Religi
3. Sebagai Pencari Dana
4. Sebagai Kritik Sosial Suku Gayo
BAB V: PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Comments
Post a Comment