Skip to main content

Perkembangan Pesantren Zainul Hasan Genggong di Desa Karangbong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo Jawa Timur 1952-2018 M



Perkembangan Pesantren Zainul Hasan Genggong di Desa Karangbong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo Jawa Timur 1952-2018 M, pzhgenggong.or.id
 ABSTRAK
PERKEMBANGAN PESANTREN ZAINUL HASAN GENGGONG DI DESA KARANGBONG, KECAMATAN PAJARAKAN, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR 1952-2018 M
Pesantren Zainul Hasan Genggong adalah salah satu pesantren tertua di Inddonesia, yang didirikan pada 1839 M dengan semula bernama Pondok Genggong sejak Khalifah pertama Syaikh Zainul Abidin sampai dengan kepemimpinan Khalifah kedua KH. Mohammad Hasan dari tahun 1839 sampai 1952 M dengan nama Asrama Pelajar Islam Genggong (APIG) yang didasarkan pada semangat tinggi minat masyarakat belajar di Pondok Pesantren, hal itu dapat dilihat dari jumlah santri grafiknya menigkat dan nama tersebut diabadikan terhitung sejak 1952 M sampai 1959 M. pada tahun 1952 M, masa kepemimpinan Khalifah ketiga KH. Hasan Saifouridzall pul timbul gagasan untuk mengabadikan kedua pendiri Pesantren yaitu Syaikh Zainul Abidin dan KH. Mohammad Hasan tepatnya pada tanggal 1 Muharrom 1379 H/ 19 Juli 1959 M, Menetapkan nama Pesantren semula bernama Asrama Pelajar Islam Genggong menjadi Pesantren Zainul Hasan Genggong. Nama pesantren tersebut mengabadikan dari kedua pendiri pesantren tersebut mengabadikan dari kedua pendiri pesantren tersebut.
 Dalam Perjalanannya, Pesantren Zainul Hasan Genggong mengalami perkembangan yang cukup pesat, mulai  dari perluasan kompleks pesantren,  jumlah asrama tempat tinggal santriwan-santriwati, fasilitas umum, sarana olahraga, cabang pesantren, dan lembaga pendidikan non formal hingga pendidikan formalnya. Masuknya teknologi ke pesantren membuat lembaga-lembaga pesantren di modernisasi sesuai perkembangan dan kebutuhan zaman.
Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-sosiologis agar dapat memahami faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya pesantren dalam perubahan sosial-masyarakat. Pokok pembahasannya dianalisis menggunakan teori sosiologi pendidikan bahwa manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan pendidikan melalui adanya interaksi individu dan kelompok antara kelompok dan kelompok masyarakat, kemudian terbentuklah perubahan dalam masyarakat dan juga menggunakan metode historis.
Kata Kunci: Pesantren, perkembangan, Modernisasi 

A. Latar Belakang
Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang mana siswanya tinggal bersama di asrama yang telah disediakan dan belajar dibawah bimbingan guru yag lebih dikenal sebutan Kiyai. Umumnya siswa yang di pesantren akrab dipanggil Santriwan untuk laki-laki dan panggilan Santriwati untuk perempuan. Santri tersebut berada dalam kompleks yang menyediakan Masjid untuk beribadah, ruang belajar atau muthola’ah dan kegiatan keagamaan lainnya.
Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia . Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berakar di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap sejarah perjalanan Bangsa, seperti 22 Oktober 2015 lalu yang ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi berdasarkan Kepres no.22 tahun 2015 tentang penetapan 2 oktober sebagai Hari Santri Nasional untuk mengenang, untuk mengenng perjuangan santri dengan Resolusi Jihadnya . Di Indonesia banyak sekali pesantren-pesantren tua yang berdiri jauh sebelum kemerdekaandan berkembang pesat hingga sekarang, baik lembaga pendidikan, ilmu yang diajakarkan hingga modernisasasi pesantren tampa meninggalkan salafnya, seperti Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong di desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. 
Berdirinya Pesantren Zainul Hasan Genggong sejak awal pendiriannya dikenal dengan sebutan Pondok Genggong yang didirikan oleh Syech Zainal Abidin Al-Magribi pada tahun 1839 M/1250 H, yang terletak di Genggong Kabupaten Probolinggo . Adapun motivasi pendiri pesantren tersebut merupakan cita –cita mulia dan didasarkan pada tanggung jawab secara keilmuan setelah melihat realitas masyarakat yang masih buta huruf dan masyarakatnya dikenal awam pengetahuan agamanya apalagi norma kehidupan, sehingga perilaku masyarakatnya cenderung berperilaku yang bertengtangan dengan nilai-nilai agama seperti melakukan perbuatan dosa besar kepada Allah SWT, baik perbuatan syirik, zina, perilaku kekerasan sesamanya dengan cara merampas hak milik orang lain serta berjudi yang dilakukan setiap harinya.
Brangkat dari dasar pemikiran yang didasarkan pada realitas perilaku masyarakat tersebut, maka Syech Zainal Abidin, beliau keturunan Maroko, Afrika dan alumnus pesantren Sidoresmo Surabaya merasa terpanggil jiwanya untuk mengamalkan ilmu yang didapatkan kemudian dijadikan dasar berjuang dengan menebarkan ilmu pengetahuan agama baik berupa pengajian maupun disampaikan melalui kelembagaan berupa institusi Pondok pesantren Genggong.
Pesantren Zainul Hasan Genggong telah diasuh Oleh empat orang pengasuh sekaligus sebagai ketua yayasan pondok pesantren. Pengasuh pertama sekaligus pendirinya adalah KH. Zainal Abidin, beliau menjadi pengasuh pesantren sejak didirikan hingga wafat pada 1890 m. Dimasa awal, partisipasi dan perhatian masyarakat sekitar belum terlihat, namun lama-kelamaan para santri semakin meningkat dari tahun ke tahun sehingga dibutuhkan pembangungan lokasi menginap para santri yang akan bermukim. Pengasuh kedua adalah KH. Mohammad Hasan. Ia adalah santri sekaligus meantu KH. Zainal Abidin dari putri beliau yang bernama Nyai Ruwaidah. Dari pernikahan inilah KH. Mohammad Hasan membantu mertuannya dalam membina pesantren. Beliau mengmbangkan sistem pendidikan pesantren salafiyah dengan metode pembelajaran dan pendidikan klasika. Ia menjadi pengasuh pesantren sejak wafatnya KH. Zainal Abidin tahun1890-1952 M. Beliau wafat pada 1952 M dan dilanjutkan oleh Putranya yaitu KH. Hasan Saifouridzal sebaga pengasuh atau pimpinan ketiga. Pada masa beliaulah pemngembangan pendidikan formal dilakukan dengan memadukan kurikulum pendidikan agama dan salfiyah dengan kurikulum nasional yang ditandai dengan diluncurkannya lembaga pendidikan dari tingkat pendidikan dsar hingga pendidikan tinggi. Ia menjadi Pengasuh pesantren sejak tahun 1952 hingga wafat pada tahun 1991 M. Kepemimpinan Pesantren lalu dilanjutkan oleh Putranya yaitu KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah S.H M.M sebagai khalifah ke enpat hingga sekarang.
Selama berdirinya pesantren ini telah telah mengalami 3 kali perubahan nama yang digunakan secara bergantian. Genggong adalah nama pertama pesantren ini. Nama Genggong digunakan sejak awal berdirinya pada tahun sampai 1952 M. Perubahan nama untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 1952 M, nama Genggong diganti APIG (Asrama Pelajar Islam Genggong) dan digunakan hingga taun 1959 m. Hingga pada masa Khalifah ketiga KH. Hasan Saifouridzall diubah menjadi Pesantren Zainul Hasan Genggong, dengan memadukan nama kedua khalifah pertama dan kedua, nama tersebut ditentukan sejak tanggal 19 juli 1959 M/1 Muharram 1379.

Dalam perkembangannya, Pesantren Zainul Hasan telah mengalami perubahan yang sangat pesat. Di bidang lembaga pendidikan, pesantren tersebut telah memiliki dari tingkat SD, MI, MTS, SMP,  MA ZAHA 1 GENGGONG, SMA ZAHA 1 GENGGONG , SMA UNGGULAN ZAHA GENGGONG, MA MODEL ZAHA GENGGONG hingga perguruan tinggi INZAH dan STIH yang semuanya berlokasi sekitar kompleks pesantren. Tidak hanya itu, ada Gelanggang Olahraga khusus sebagai tempat para santri untuk menunjang minat bakatnya dibidang olahlaga.
Berdasarkan uraian diatas, sejarah dan perkembangan Pesantren Zainul Hasan penting untuk dikaji secara lebih dalam. Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang Pesantren, bahwa pesantren bukan hanya tempat untuk menimba ilmu agama, tapi juga untuk menjawab tantangan zaman dalam tradisi pendidikan pesantren yang dipadukan dengan kurikulum negeri.

B. Batasan dan Rumusan Masalah
Agar sebuah penelitian dapat fokus membahas sebuah permasalahan, diperlukan adanya batasan masalah pada proposal ini. Peneliti membatasi pembahasan mengenai berdirinya Pesantren Zainul Hasan Genggong di Desa Karangbong dan perkembangannya dari berbagai aspek seperti lembaga pendidikan non formal dan formalnya, sarana fasilitas umum, sarana olahraga hingga jumlah asrama tempat tinggal para santriwan-santriwati 1952-2018 M. Adapun tahun 1952 dipilih karena pada tahun tersebut pertama kalinya nama Pondok Genggong di ganti menjadi Asrama Pelajar Islam Genggong sebagai awal berkembangnya Pesantren tersebut oleh Khalifah ketiga, sedangkan tahun 2018 adalah masa kepemimpinan  khalifah keempat hingga sekarang. Adapun rumusan masalah yang akan di kaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya Pesantren Zainul Hasan?
2. Bagaimana Perkembangan Pesantren Zainul Hasan Genggong dari tahun 1952 M sampai 2018 M?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian.
Tujuan merupakan sesuatu yang ingin dicapai setelah penelitian. Adapun tujuan penelitian ini adalah;
1. Untuk menjelaskan latar belakang sejarah berdirinya Pesantren Zainul Hasan Genggong.
2. Untuk mendeskripsikan perkembangan Pesantren Zainul Hasan Genggong dan faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi atau mendukungnya.
Dari tujuan penelitian diatas, peneliti berharap penelitian ini berguna dan bermanfaat setelah kegiatan penelitian ini berlangsung. Adapun harapan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Ikut andil dalam memperkaya kajian ilmiah dalam dunia akademik baik bagi UIN SUNAN KALIJAGA maupun tempat penelitian tersebut berlangsung.
2. Melanjutkan penelitian-penelitan selanjutnya yang berkaitan dengan Pesantren Zainul Hasan Genggong.
3. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangsih khazanah pengetahuan tentang sejarah hingga perkembangan Pesantren Zainul Hasan Genggong.

D. Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang perkembangan Pesantren Zainul Hasan Genggong 1952-2018 M sedikit sekali terutama setelah wafatnya Khalifah ketiga. Meskipun demikian ada beberapa karya literatur dan jurnal yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam penelitian ini.
Pertama, buku “Pesantren Zainul Hasan Genggong; 150 tahun menebar ilmu di jalan Allah” di susun oleh Umar Arief dkk. Yayasan Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, 1989. Buku ini berisi tentang sejarah berdirinya Pesantren Zainul Hasan serta para alumninya yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara hingga perkembangan lembaga pendidikannya baik formal maupun informal. Penelitian yang akan saya lakukan yaitu mengenai perkembangan pondok pesantren baik lembaga pendidikan hingga modernisasi pesantren, yang tidak dibahas di buku tersebut pada masa Khalifah ke empat.

Kedua, buku ‘’Kiai Hasan Saifouridzall: Pejuang, Pendidik dan Teladan Umat” ditulis oleh Ainu Yaqin, dkk. Genggong press, 2015. Buku ini membahas Biografi Khalifah ketiga hingga perjuangan beliau selama menjadi pengasuh sekaligus ketua yayasan Pesantren Zainul Hasan Genggong dalam mengembangkan Pesantren. Kaitannya dengan peniltian ini yaitu sebagai rujukan perkmbangan Pesantren semasa dipimpin oleh Beliau.
Ketiga, buku “Filsafat genggong” ditulis oleh Dr. Abd Aziz Wahab, STAI Zainul Hasan Genggong, 2013. Buku ini mempunyai kesamaan obyek penelitian  yaitu perkembangan Pesantren Zainul Hasan. Namun, perbedaannya terletak pada fokus penelitian. Buku ini fokus pada nilai-nilai filosofis sejarah Pesantren dan pengembangan lembaga pendidikan.
Keempat, buku “ Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren”  ditulis oleh Abdurrahman Wahid, LKIS, 2001. Buku ini menjelaskan tentang peran pesantren dalam hubungannya dengan Negara dan Pembanganun pada rentang waktu awal tahun 1970-an hingga akhir tahun 1980-an, tahun-tahun dilancarkannya program pembangunan (Modernisasi) oleh rezim Orde Baru. Kesamaannya dengan penelitian ini yaitu Pesantren. Perbedaannya terletak pada fokus penelitian, buku ini fokus pada Pesantren dan Pembangunan, sedangkan peneliti akan meneliti terkait Pesantren di era Orde Baru yang melatarbelakangi perkembangannya sebagai subkultur.

E. Kerangka Teori
Teori merupakan seperangkat kaidah yang memandu sejarawan dalam melakukan penelitian, menyusun bahan-bahan (data) yang diperoleh dari hasil analisis sumber dan juga dalam mengevaluai penemuannya. Dalam penelitian sejarah ini, peneliti akan menggunakan penedekatan historis-sosiologis. Pendekatan historis digunakan untuk mengungkapkan latar belakang sejarah berdirinya Pesantren Zainul Hasan Genggong. Sedangkan pendekatan sosiologis untuk memahami faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya pesantren dalam perubahan sosial-masyarakat.
Penelitian ini menggunakan teori sosiologi pendidikan menurut S. Nasution.. Ia memandang bahwa manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan pendidikan melalui adanya interaksi individu dan kelompok antara kelompok dan kelompok masyarakat, kemudian terbentuklah perubahan dalam masyarakat. Kaitannya dengan obyek yang akan diteliti adalah pendidikan yang di butuhkan bagi individu atau masyarakat sebagai perubahan sosial, sehingga lembaga pendidikan merupakan tuntutan zaman yang perlu dikembangkan sesuai nilai-nilai tradisi pesantren.

F. Metode Penelitian
Metode Penelitian merupakan cara atau teknik dalam pelaksanaan penlitian. Adapun metode penelitian yang akan digunakan adalah metode historis. Dalam metode historis terdiri dari empat langkah yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. 
1. Heuristik (pengumpulan data)
Tahap awal dalam pengerjaan proposal skripsi yaitu pengumpulan data-data yang relevan dengan topik penelitian. Sumber-sumber yang akan digunakan oleh peneliti berupa sumber tertulis yang merujuk pada buku, jurnal, dokumen dan asirp sebagai sumber primer. Sementara sumber tidak tertulis berupa wawancara dengan narasumber, diantaranya pengasuh pesantren, serta masyarakat dilingkungan sekitar Pesantren. Adapun Jenis wawancara yang akan digunakan peneliti adalah wawancara bebas terpimpin.
Dalam pengerjaannya, peneliti melakukan penelitian kepustakaan dengan mengunjungi Perpustakaan Pusat UIN Sunan Kalijaga. Hasilnya menemukan sejumlah sumber sekunder berupa buku dan jurnal. Selain itu peneliti juga memiliki sumber sekunder berupa buku yang dibawa dari Perpustakaan Pesantren Zainul Hasan.
Selanjutnya, pengumpulan sumber primer dan sumber sekunder dalam penelitian ini akan dicari di Perpustakaan Pesantren Zainul Hasan dan Pusat Informasi Pesantren (PIP) Pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo.
2. Verifikasi (kritik sumber)
Setelah sumber-sumber yang telah terkumpul dari hasil heuristik tersebut, tahap berikutnya adalah peneliti akan melakukan verifikasi atau kritik sumber,  baik secara ekstern maupun intern. Kritik ini bertujuan untuk memperoleh keabsahan sumber supaya ditemukan data yang valid dan relevan yang kemudian digunakan sebagai sumber penelitian.
Pada tahap verifikasi peneliti mekalukan kritik ekstern dengan mengkritisi isi sumber yang bertujuan untuk mengidentifikasi otentisitas atau orisinalitas sumber. Hal-hal yang dilakukan dalam kritik ekstern adalah mengenai kapan, dimana, siapa dari bahan apa sumber itu dibuat serta apakah sumber tersebut asli atau tidak.
Tahap selanjutnya, peneliti melakukan kritik intern yaitu dengan mengkritisi isi sumber yang bertujuan untuk mengidentifikasi kredibilitas sumber. Dalam kritik intern, peneliti akan melakukan verifikasi antara buku yang satu dengan buku atau jurnal yang lain, dan informasi yang diperoleh dari narasumber dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari narasumber lain.
3. Interpretasi (Analisis Sumber)
Sumber-sumber yang telah melalui tahap verifikasi  akan menghasilkan data yang berbeda. Data-data tertulis maupun tidak tertulis tersebut di analisis.sehingga menjadi fakta sejarah.Interpretasi atau analisis sejarah bertujuan untuk menyusun secara sistematis data yang telah diperoleh atau disintesiskan.
Teori yang dipakai sebagai pisau analisa dalam merpetajam analisis sejarah. Adalpun teori yang dipakai pada tahapan ini adalah teori sosiologi pendidikan. Teori ini menjelaskan bagaiamana setiap individu atau masyarakat dalam perubahan sosial lewat lembaga pendidikan.
4. Historiografi (Penelitian Sejarah)
Historiografi merupakan tahap terakhir dalam penelitian sejarah setelah melewati tahap pengumpulan data, kritik sumber dan penafsiran data sejarah. Historiografi yaitu cara penulisan, pemaparan, penjabaran atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan  dengan rangkaian penulisan sejarah secara kronologis, sistematis, onjektif dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan Ejaan yang disempurnakan dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan memberikan penjelasan keterkaitan antar bab. Bab satu dengan bab yang lain memiliki hubungan dan saling memperkuat satu sama lain. Keterkaitan tersebut diharapkan dapat menjelaskan peristiwa yang sedang diteliti sesuai dengan sistematika. Adapun sistematika pembahasan sebagi berikut:
Bab I Pendahuluan, dalam bab ini terdiri dari latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian, dan sistematika pembahsan.
Bab II, pada bab ini diuraikan latar belakang sejarah berdirinya Pesantren Zainul Hasan Genggong hingga dari masa khalifah pertama sampai keempat. Pembahasan ini merupakan bagian penting dalam menunjang penelusuran terhadap pokok permasalah yang diteliti dalam mengetahui 
Bab III, pada bab ini membahas perkembangan Pesantren Zainul Hasan, meliputi lembaga pendidkan formal dan informal, sarana olahraga, fasilitas umum, asrama tempat tinggal santriwan-santriwati, hingga perluasan kompleks Pesantren. Selanjutnya peneliti akan mejelaskan pengaruh dari perkembangan terhadap tradisi pendidikan pesantren.
Bab IV merupakan penutup yang mencakup kesimpulan dan saran. Paragraf pertama dalam kesimpulan menjelaskan mengenai latar belakang sejarah berdirinya Pesantren Zainul Hasan Genggong. Paragraf kedua menjelaskan perkembangan Pesantren.

DAFTAR PUSTAKA
BUKU :
Umar, Arief. dkk. 1989. Pesantren Zainul Hasan Genggong; 150 menebar ilmu di jalan Allah, Yayasan pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong. Probolinggo.
Yaqin, Ainul. dkk. 2005. Kiai Hasan Saifouridzall. Probolinggo: Genggong Press.
Aziz, Abdul. 2013. Filsafat Pesantren Genggong. Probolinggo: STAI Zainul Hasan.
Wahid, Abdurrahman. 2001. Menggerakkan Tradisi; Esai-esai Pesantren. Yogyakarta: LKIS.
Yasmadi. 2002. Modernisasi Pesantren. Jakarta: Ciputat Press.
JURNAL :
Bashori. 2017. Modernisasi Lembaga Pendidikan Pesantren. Jurnal Ilmu Sosial Mamangan, Jil/Vol. 6, no. 1, 47-60.

DAFTAR ISI SEMENTARA

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Batasan dan Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
D. Tinjauan Pustaka
E. Kerangka Teoritik
F. Metode Penelitian
G. Sistematika Pembahasan
BAB II : SEJARAH BERDIRINYA PESANTREN ZAINUL HASAN GENGGONG DI DESA KARANGBONG, KECAMATAN PAJARAKAN, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR
A. Latar Belakang Berdirinya Pesantren Zainul Hasan Genggong
B. Masa Kepemimpinan Khalifah Pertama Syaikh Zainul Abidin 
C. Masa kepemimpinan Khalifah Kedua KH. Mohammad Hasan Sepuh
D. Masa Kepemimpinan Khalifah Ketiga KH. Hasan Saifouridzall
E. Masa Kepemimpinan Kholifah Keempat hingga sekarang KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah S.H M.M
BAB III : PERKEMBANGAN PESANTREN ZAINUL HASAN GENGGONG DI DESA KARANGBONG, KECAMATAN PAJARAKAN, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR 
A. Bidang Lembaga Pendidikan
a. Non formal
b. Formal
c. Pondok khusus shalaf
d. Pesantren English (Trening)
e. Cabang Pesantren
B. Sarana Fasilitas
a. Asrama Santri
b. Perpustakaan
c. Masjid 
d. Gelanggang Olahraga
C. Kegiatan Santri
BAB IV : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

Baca Juga: R.A. Kartini

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...