![]() |
| Pengelolaan Museum Dewantara Kirti Griya di Wirogunan, Mergangsan, Kota Yogyakarta, akamaized.net |
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah swt., atas limpahan rahmat, hidayah, dan keberkahan ilmu pengetahuan. Serta selawat dan salam kepada suri tauladan Nabi Muhammad saw., yang telah mengarahkan hamba Allah yang berilmu menuju tujuan Islam yaitu selamat dunia dan akhirat.
Dengan izin Allah swt., serta bimbingan dosen yang semoga diberkahi ilmunya, kami dapat menyusun laporan penelitian yang berjudul “Pengelolaan Museum Dewantara Kirti Griya Di Wirogunan, Mergangsan,Kota Yogyakarta”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan museum serta dapat belajar dan pengalaman bagaimana dalam mengelola permuseuman. Selain itu juga untuk memenuhi tugas akhir dari mata kuliah musiologi.
Museum Dewantara Kirti Griya merupakan rumah peninggalan tokoh pendidikan Indonseia yaitu K.H. Dewantara. Banyak koleksi yang mengandung nilai edukasi, seni, budaya, moral, sejarah, dan lain-lain. Sehingga sangat penting untuk dilestarikan dan dikomunikasikan kepada masyarakat. Dengan adanya penelitian ini juga ikut serta memfungsikan museum sebagai sarana edukasi, pelestari, dan rekreasi. Kami ucapkan terimakasih pada pihak-pihak yang telah memberikan kemudahan dalam jalannya penelitian ini, semoga diberikan kemudahan dan keberkahan ilmu pengetahuan.
Hasil penelitian ini tentunya tidak lepas dari kekurang, sehingga saran dan masukan dari para pembanca sangat berarti untuk kemajuan dan perkembangan, baik bagi lembaga museum ataupun bagi penyusun mendapatkan hasil penelitian ilmiah yang lebih baik.
Yogyakarta, 6 Mei 2019
Penyusun
ABSTARAK Pengelolaan Museum Dewantara Kirti Griya Di Wirogunan, Mergangsan, Kota Yogyakarta
Museum Dewantara Kirti Griya merupakan rumah tempat tinggal tokoh pendidikan Indonesia yaitu K.H. Dewantara. Banyak koleksi yang memiliki nilai-nilai seperti edukasi, seni, budaya, sejarah, rekreasi, dan lain lain. Sehingga penting untuk dilestarikan dan dikomunikasikan kepada masyarakat. Tapi dalam kenyataanya pengelolaan museum masih belum efektif, sehingga berdampak pada fungsi museum. Terutama peran sumber daya manusia sangat menentukan pengelolaan museum, yang berdampak pada penataan koleksi, pelestarian, manajemen pengunjung, dan lain-lain.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bangaimana pengelolaan museum Dewantara Kirti Griya dan memberikan masukan untuk kemajuan dan perkembangan museum agar lebi baik. Adapun alat analitis yang digunakan adalah teori analisis SWOT dan metode penlitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif.
Kata Kunci: Museum Dan Pengelolaan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Museum Dewantara Kirti Griya merupakan bangunan rumah dan koleksi-koleksi peninggalan K.H Dewantara. Banguan rumah tersebut didirikan pada tahun 1925 dengan kosep klasik Hindia Belanda. Kemudian bangunan rumah tersebut dibeli oleh Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, Ki Supratolo dari Mas Adjeng Ramsinah pada tanggal 14 Agustus 1935. Kemudian pada tahun 1958, bertepatan dengan diadakannya rapat pamong Tamansiswa, Ki Hadjar mengajukan permintaan kepada sidang agar rumah bekas tempat tinggalnya tersebut dijadikan museum.
Pengelolaan museum Dewantara Kirti Griya berada dibawah naungan Yayasan Persatuan Tamansiswa. Namun berdasarkan fakta yang didapatkan di lapangan, Yayasan Persatuan Tamansiswa masih kurang memberikan perhatiannya terhadap Museum Dewantara Kirti Griya. Salah satu indikasinya yaitu belum ada tenaga khusus museum yang disediakan oleh yayasan. Adapun tenaga yang ada sekarang merupakan tenaga bantuan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan hanya berjumlah 1 orang. Sedangkan tenaga lainnya hanya tenaga teknis dan tenaga kebersihan. Sehingga program-program museum belum terlaksana dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengelolaan Museum Dewantara Kirti Griya dan memberi masukan pengembangan dan kemajuan museum.
B. Batasan Dan Rumusan Masalah
Penelitian ini membatasi objek pada Museum Dewantara Kirti Griya sebagai peninggalan Ki Hadjar Dewantara. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2019. Adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah berdirinya Museum Dewantara Kirti Griya ? 2. Bagaimana pengelolaan Museum Dewantara Kirti Griya ? 3. Mengapa program-program Museum Dewantara Kirti Griya belum terlaksana secara efektif ? 2
C. Tujuan Dan Kegunaan Tujuan penelitian
untuk mengetahui pengelolaan museum Dewantara Kirti Griya. sedangkan kegunaannya adalah : 1. Sebagai sarana edukasi tentang bagaimana pengelolaan museum. 2. Untuk melestarikan peninggalan-peninggalan Ki Hadjar Dewantara. 3. Untuk menfungsikan museum sebagai sarana penelitian, rekreasi, budaya, seni dan lain-lain. D. Tinjauan Pustaka
Sebelum melakukan penelitian tentang pengelolaan Museum Dewantara Kirti Griya, penelitian ini melakukan tinajauan pustaka terhadap penelitian terdahulu yaitu sebagai berikut :
Pertama, skripsi yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Koleksi Naskah Kuno Di Perpustakaan Museum Tamansiswa Dewantara Kirti Griya Yogyakarta”. Ditulis oleh Dita Damayanti dari program studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2017. Penelitian yang dilakukan membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan koleksi naskah kuno di perpustakaan museum Dewantara Kirti Griya.
Kedua, laporan peneilitian yang berjudul “Preservasi Ephemera di Museum Dewantara Kirti Griya”. Ditulis oleh Koko Erlangga dari program studi Kearsipan Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada. Penelitian ini merupakan tugas akhir yang menjelaskan tentang presevasi ephemera, dari langkah tata cara, sampai dengan manfaat. Dalam tema preservasi ephemera praktik dilakukan di museum karena ephemera sendiri merupakan arsip yang lebih dekat kearah museum dari pada pengelolaan arsip tekstual seperti kertas pada umumnya.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sama-sama menggunakan obyek tempat di Museum Dewantara Kirti Griya. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada obyek pembahasannya. Penelitian ini menfoksukan pada pengelolaan museum Dewantara Kirti Griya.
E. Landasan Teori
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis SWOT. Menurut Freddy Rangkuti, teori analisis SWOT merupakan analisa yang didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).1 Adapun langkah-langkah analisis adalah sebgai berikut:
S + O = Strategi Program
W + O = Kelemahan
S + T = Kegiatan
W + T = Program
F. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang lebih mengutamakan pada masalah proses dan makna, dimana penelitian ini diharapkan dapat mengungkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi-analisis yang teliti dan penuh makna, yang juga tidak menolak informasi kuantitatif dalam bentuk angka maupun jumlah. Pada tiap-tiap obyek akan dilihat kecenderungan, pola pikir, ketidakteraturan, serta tampilan perilaku dan integrasinya sebagaimana dalam studi kasus genetik.2
Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah melakukan wawancara dengan teknik bebas terfokus kepada staf edukasi Museum Dewantara Kirti Griya. Kemudian melakukan pengamatan lapangan yang ada dilingkungan museum Dewantara Kirti Griya dan studi pustaka.
1 Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis (Jakarta: Gramedia Pustaka Umum, 2013), hal., 19.
2 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif ( Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), hal., 243.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kesejarahan Museum
1. Sejarah berdiri
Museum Dewantara Kirti Griya berlokasi di komplek perguruan Tamansiswa. Museum ini merupakan peninggalan rumah Ki Hadjar Dewantara dan keluarganya, yang berada di Jl. Tamansiswa No. 31 Yogyakarta (dulu Gevangenis Laan Wirogunan). Bangunan rumah yang berdiri diatas tanah seluas 5.594 m² tersebut didirikan pada tahun 1925 dengan konsep gaya klasik Hindia Belanda. Pemilik rumah tersebut adalah seorang janda pemilik perkebunan, istri dari orang Belanda yang bernama Mas Ajeng Ramsinah. Kemudian tanah tersebut dibeli oleh atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, Ki Supratolo pada tanggal 14 Agustus 1935. Rumah tersebut resmi dihuni oleh Ki Hadjar Dewantara dan keluarganya pada tanggal 16 November 1938, bertepatan dengan diresmikannya Pendapa Agung Tamansiswa (Monumen Persatuan Tamansiswa). Bangunan tersebut tercatat dalam buku register Keraton Ngayogyakarta tertanggal 26 Mei 1926, dengan nomor angka 1383/1 H. Pada tanggal 18 Desember 1951, pembelian tersebut dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa dengan tujuan agar dijadikan museum.
Pada tanggal 3 November 1957, bertepatan dengan kawin emas Ki Hadjar Dewantara, beliau menerima persembahan bakti dari para alumni dan pecinta Tamansiswa berupa rumah tinggal yang diberi nama Padepokan Ki Hadjar Dewantara. Padepokan ini berlokasi di Jl. Kusumanegara No. 131 Yogyakarta. Pada tahun 1958, bertepatan dengan diadakannya rapat pamong Tamansiswa, Ki Hadjar mengajukan permintaan kepada sidang agar rumah bekas tempat tinggalnya tersebut dijadikan museum. Permintaan tersebut ditanggapi dengan baik dan dilaksanakan setelah beliau wafat. Ki Hadjar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959 dan mulai tahun 1960, Yayasan Persatuan Tamansiswa berusaha untuk mewujudkan gagasan almarhum Ki Hadjar Dewantara.
Pada suatu kesempatan, Drs. Moh. Amir Sutaarga yang bertugas di Museum Nasional Jakarta dan juga merupakan keluarga dekat Tamansiswa, bersedia datang ke Yogyakarta untuk memberikan pengetahuan dasar tentang permuseuman kepada kepala Museum Sonobudoyo, kepala museum TNI AD, dan calon petugas museum Tamansiswa yang dilaksanakan di Museum Perjuangan Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1963
5
dibentuklah panitia pendiri Museum Tamansiswa yang terdiri dari, keluarga Ki Hadjar Dewantara, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, sejarawan, Keluarga Besar Tamansiswa.
Sampai pertengahan tahun 1969, rancangan adanya museum masih belum juga terwujud, walaupun rumah ini sudah dinyatakan sebagai Dewantara Memorial. Kemudian pada tanggal 11 Oktober 1969, Ki Nayono menerima surat dari Nyi Hadjar Dewantara secara pribadi. Dengan adanya surat tersebut, Ki Nayono tergugah untuk segera meminta perhatian kepada Majelis Luhur agar bekas tempat tinggal Ki Hadjar yang sudah dinyatakan sebagai Dewantara Memorial segera dijadikan museum.
Pada tanggal 2 Mei 1970 bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional, museum ini diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Nyi Hadjar Dewantara sebagai pemimpin umum Tamansiswa. Museum ini diberi nama Dewantara Kirti Girya. Nama tersebut merupakan pemberian dari bapak Hadiwidjono, seorang ahli bahasa Jawa. Adapun keterangannya sebagai berikut :
Dewantara, diambil dari nama Ki Hadjar Dewantara.
Kirti, artinya pekerjaan (bhs. Sansekerta).
Griya, berarti rumah.
Dengan demikian arti lengkapnya adalah rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara. Peresmian museum ditandai dengan candrasengkala “Miyat Ngaluhur Trusing Budi” yang menunjukkan angka tahun 1902 (Çaka ) atau tanggal 2 Mei 1970 Masehi. Makna yang terkandung dalam sengkalan tersebut sama dengan makna dan tujuan memorial yakni dengan melalui museum diharapkan para pengunjung khususnya generasi muda akan dapat mempelajari, memahami dan kemudian dapat mewujudkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya kedalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan hadirnya museum ini ditujukan agar bisa menjadi insipirasi bagi masyarakat Kemudian museum Dewantara Kirti Griya dinyatakan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25/PW.007/MKP/2007.
Disamping itu, di museum Dewantara Kirti Griya inilah merupakan awal lahirnya Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DIY pada tahun 1971, yang dipimpin Mayor Supandi (alm.) sebagai ketua I. Barahmus DIY beralamat di Jl. Tamansiswa 31 hingga tanggal 2 Mei 2007. Kemudian pindah ke museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.
6
2. Visi Dan Misi Museum Dewantara Kirti Griya a. Visi : melestarikan nilai-nilai perjuangan dan ajaran hidup Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa dalam memperjuangkan pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. b. Misi : mengembangkan dan menginformasikan koleksi benda sejarah peninggalan Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa untuk kepentingan studi dipenelitian dan rekreasi kepada masyarakat. 3. Program kerja dan target museum Untuk terwujudnya Museum Dewantara Kirti Griya secara optimal maka diperlukan adanya program kerja yang terencana, sebagai berikut: a. Pemeliharaan dan perawatan gedung. b. Pemeliharaan, perawatan dan penataan koleksi. c. Transliterasi naskah. d. Penerbitan buku katalog naskah. e. Penerbitan profil museum. f. Sarasehan permuseuman .
Target museum yang ingin dicapai yaitu menjadikan Museum Dewantara Kirti Griya dapat dikenal secara luas, dimengerti dan nilai luhur yang ada di dalamnya dapat diwariskan kepada generasi muda. Selain itu, menjadikan Museum Dewantara Kirti Griya sebagai objek wisata pendidikan yang bertolak ukur pendidikan dan kebudayaan bangsa sendiri.
B. Koleksi, Kelembagaan Dan Sumber Daya Manusia
1. Koleksi museum Koleksi museum adalah semua jenis benda bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya yang disimpan dalam museum dan mempunyai nilai bagi pembinaan atau pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi serta kebudayaan.
a. Jenis Museum Dewantara Kirti Griya merupakan salah satu museum dengan koleksi yang cukup beragam. Jenis-jenis koleksi yang ada di museum tersebut menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung, antara lain :
7
1) Bangunan, berupa rumah bekas tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara dan keluarga serta Pendopo Agung Tamansiswa sebagai Monumen Persatuan Tamansiswa.
2) Koleksi Realia, yaitu benda (material) asli milik Ki Hadjar Dewantara yang berperan langsung dalam peristiwa sejarah bangsa, pendidikan, dan kebudayaan. Beberapa koleksi realia diantaranya ialah naskah, pakaian, perabotan, perlengkapan kerja, surat-surat kerja.
3) Koleksi lainnya, berupa foto-foto, lukisan, pecah belah, surat kabar, majalah, buku-buku, alat musik.
b. Kuantitas Jumlah koleksi yang ada di Museum Dewantara Kirti Griya terdapat sebanyak 1.205 buah. Sedangkan untuk koleksi perpustakaan museum sebanyak 2.100 buku. Sehingga jumlah keseluruhan koleksi yang berada di Museum Dewantara Kirti Griya sebanyak 3.305 buah. c. Cara Perolehan Untuk perolehan koleksi, pihak museum sendiri telah memiliki beberapa koleksi pribadi. Koleksi pribadi itu berasal dari usaha Nyi Hadjar Dewantara dalam mengumpulkan baranf-barang pribadi Ki Hadjar Dewantara untuk dijadikan koleksi. Akan tetapi, beberapa koleksi museum ada juga yang berasal dari sumbangan atau hibah dari pihak lain. Diantaranya sebagai berikut : 1) Barang-barang peninggalan pemilik rumah sebelumnya yaitu Mas Ajeng Ramsinah.
2) Sumbangan beberapa buah lukisan dari Afandi.
3) Aset Perguruan Tamansiswa.
d. Sistem Pengelolaan Museum
Pengelolaan seluruh koleksi yang tersimpan di Museum Dewantara Kirti Griya berada dibawah pengawasan Majelis Luhur selaku pimpinan dari Yayasan Persatuan Tamansiswa. Program-program yang dilakukan di museum juga didorong dan diawasi oleh Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Museum di Yogyakarta. Sedangkan untuk
8
pengelolaan bangunan museum dilakukan melalui kerjasama dengan Dinas Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Kelembagaan a. Struktur Organisasi
Ketua : Nyi Sri Muryani
Staf Teknis dan Pemandu : Ki Agus Purwanto
Staf Edukasi : Tria
Pembantu Umum (membersihkan dan merawat museum) : Ki Sapto Cahyono
Seluruh anggota bekerja secara multitasking yaitu mengerjakan seluruh aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan dan perawatan koleksi maupun bangunan museum. Masing-masing anggota dapat bertindak sebagai edukator, kurator, perawat, penjaga, dan tenaga kebersihan. Penyebabnya ialah adanya kekurangan sumber daya manusia yang bekerja di Museum Dewantara Kirti Griya.
b. Pola Rekruitmen
Perekruitan anggota Museum Dewantara Kirti Griya dilakukan melalui persetujuan Majelis Luhur sebagai pimpinan dari Yayasan Persatuan Tamansiswa. Pelamar harus mengirimkan lamarannya kepada Majelis Luhur. Mengenai prosedur yang dijalani pelamar, hampir sama seperti prosedur rekruitmen tenaga kerja lainnya. Hanya saja terdapat kriteria bahwa pelamar yang lolos harus berasal dari lulusan Tamansiswa dan memiliki kualifikasi sesuai dengan yang dibutuhkan museum. Tidak ada ketentuan bahwa pelamar harus lulusan sarjana dan tidak dibatasi pula pada program studi tertentu.
C. Konservasi, Restorasi Dan Pengamanan 1. Perawatan dan perbaikan koleksi
Perawatan yang dilakukan terhadap koleksi masih bersifat preventif sederhana. Usaha perawatan koleksi tingkat lanjut belum mampu dilakukan oleh pengurus museum, sebab museum yang berada dibawah naungan swasta ini masih memiliki kendala terkait laboratorium dan dana. Usaha tersebut berupa membersihkan koleksi dari debu, memasukkan koleksi yang kecil kedalam lemari kaca, hanya beberapa koleksi yang
9
diperbolehkan untuk disentuh pengunjung, dan melakukan upaya Fumigasi agar koleksi terhindar dari jamur-jamur.
Koleksi yang seringkali mengalami kerusakan adalah koleksi yang berupa buku-buku kuno karena termasuk kedalam koleksi organik sehingga kerap terkena serangan kutu. Usaha pencegahan yang dilakukan adalah membuat kotak-kotak dari kertas untuk memisahkan buku yang rusak kedalamnya. Upaya ini dilakukan dengan tujuan agar kutukutu tidak menyebar ke buku lain yang masih bagus kualitasnya.
2. Pengamanan
Museum Dewantara Kirti Griya sudah memiliki petugas keamanan (security) untuk menjaga area museum dan sekitarnya. Selain itu didalam bangunan museum sendiri juga sudah dilengkapi dengan CCTV demi menunjang sistem keamanannya. CCTV berfungsi sebagai alat untuk memantau dan merekam segala aktifitas yang terjadi didalam museum. Beberapa koleksi pun sudah dimasukkan kedalam lemari kaca agar terhindar dari kerusakan yang disebabkan oleh pengunjung maupun faktor alam. Hanya saja masih terdapat kekurangan terhadap usaha pengamanan koleksi yang berukuran besar. Usaha yang dapat dilakukan hanya memberikan pembatas dan tulisan peringatan agar koleksi tidak disentuh ataupun dirusak.
3. Mitigasi bencana
Museum Dewantara Kirti Griya pernah mengalami kerusakan akibat hujan abu vulkanik setelah meletusnya Gunung Merapi dan gempa bumi yang melanda wilayah Yogyakarta pada tahun 2006. Namun kerusakan yang terjadi tidak begitu parah, hanya berupa retak pada dinding museum. Kerusakan ini dapat segera ditangani dan diperbaiki sebagaimana bentuknya semula.
Sedangkan sebagai upaya mitigasi terhadap kebakaran, sudah tersedia alat pemadam kebakaran (APAR). Selain itu untuk mengatasi aksi vandalisme yang kerap terjadi di tembok belakang museum selalu dilakukan pengecatan kembali pada setiap tembok yang sudah dicoret-coret.
D. Riset Dan Pengembangan Museum Dewantara Kirti Griya tidak memungut biaya administrasi bagi pengunjung yang datang ke museum. Namun sebagai salah satu terobosan yang dilakukan oleh pihak
10
pengelola untuk mengembangkan museum adalah dengan cara menyediakan paket wisata. Paket wisata ini berfungsi untuk menambah pemasukan dana dan pengembangan edukasi. Disamping itu, untuk mendapatkan dana bagi pengembangan museum, pihak pengelola juga berupaya membuat souvenir-souvenir khas Ki Hadjar Dewantara dan Perguruan Tamansiswa yang dapat dibeli pengunjung serta memberlakukan peraturan kewajiban membeli minimal 1 tiket museum bagi pengunjung yang ingin melakukan penelitian di museum tersebut. E. Sosialisasi Masyarakat Dalam rangka mengkomunikasikan Museum Dewantara Kirti Griya kepada masyarakat, pengelola secara aktif mengadakan berbagai acara di museum. Acara-acara tersebut diantaranya mengadakan kegiatan Kelas Dewantara, diskusi setiap malam selasa kliwon dan rabu wage, pelaksanaan kelas unggah-ungguh, yaitu seminar yang berisi etika mengenai tingkah laku yang sopan dalam kehidupan, serta mengadakan beberapa pertunjukan seni seperti Kinanthi Sandung (pertunjukkan piano) di halaman museum Dewantara Kirti Griya. F. Analisis SWOT
KEKUATAN 1. Tanah dan Bangunan seluas 5.594 m2. 2. Koleksi bangunan berupa peninggalan bangunan rumah Ki Hadjar Dewantara sekeluarga dan pendopo agung Tamansiswa. 3. Koleksi realita berupa naskah, pakaian, perabotan, perlengkapan kerja, surat-surat, foto-foto, lukisan, pecah-belah, surat kabar, buku-buku, piano dan gamelan. Seluruh koleksi berjumlah 3.305 buah yang terdiri dari koleksi museum sebanyak 1.205 buah dan koleksi perpustakaan museum sebanyak 2.100 buah buku. 4. Pengurus terdiri dari : Ketua : Nyi Sri Muryani Staf Teknis dan Pemandu : Ki Agus Purwanto Staf Edukasi : Tria Pembantu Umum (membersihkan dan merawat museum) : Ki Sapto Cahyono 5. Pendanaan pribadi berasal dari Yayasan Tamansiswa.
PELUANG 1. Dukungan dari Dinas Kebudayaan, DPAD, Dinas Purbakala dan UNESCO. 2. Badan Perpustakaan dan Kearsipan di Yogyakarta. 3. Kerja sama dengan UNY, ISI, UST. 4. Adanya komunitas Cakra Dewantara. 5. Diskusi rutin setiap Selasa Kliwon. 6. Mengadakan sepekan Dewantara. 7. Biro perjalanan.
STRATEGI KEGIATAN
Museum Dewantara Kirti Griya memiliki banyak koleksi peninggalan K.H Dewantara. Koleksi tersebut perlu adanya perawatan dan penataan pemameran yang menarik. Untuk menjaga, merawat, dan pemameran yang baik, baiknya yang berperan bukan hanya lembaga museum tetapi bias dilibatkan para peneliti dan mahasiswa yang membidangi tentang koleksi. Seperti arkeologi, museology, sejarah, seni. Dan lain lain. Menjaga dan merawat koleksi bisa ditingkatkan kerja sama dengan Dinas Purbakala, yang berkaitan dengan nilai koleksi bisa berkerja sama dengan Dinas Kebudayaan, UNESCO, dan institusi pendidikan. Adanya diskusi rutin yaitu diskusi setiap Selasa Kliwon bisa ditingkatan sosialisasi pentingnya museum dan nilai-nilai yang terdapat dalam museum. Komunitas akan berperan sebagai marketing dengan konsep kegiatan yang jelas dan adanya perhatian dari lembaga museum. Untuk pemameran koleksi bisa melibatkan mahasiswa ISI.
Pengurus museum tidak hanya dari lembaga museum, tetapi bisa melibatkan mahasiswa. Mahasiswa yang membidangi permuseuman perlu dilibatkan untuk memberi pengalaman edukasi tentanng museum. Untuk itu perlu adanya kerja sama dengan institusi perguruan tinggi seperti UIN Sunan Kalijaga terutama untuk jurusan sejarah dan kebudayaan Islam, pendidikan sejarah UNY, UGM, ISI, dan lain-lain.
Peningkatan Pengunjung bisa melibatkan biro perjalanan dan dari institusi pendidikan. Seperti kerja sama dengan SD, SMP, SMA, dan umum baik, di lingkungan Yogyakarta. Selain itu bisa melibatkan kerja sama yang jelas dengan biro perjalanan, sehingga perlu ditingkatkan kualitas lembaga museum dan juga koleksi museum. Seingga museum Dewantara Kirti Griya menarik untuk dikunjungi masyarakat umum.
KELEMAHAN 1. Kurangnya perhatian yayasan terhadap museum. 2. Pengurus yang aktif hanya satu orang yang mencakup sebagai kurator, yang merawat koleksi, dan menjaga koleksi. 3. Tidak ada alat pengatur suhu. 4. Struktur kepengurusan museum yang kurang jelas. 5. Kurangnya pengunjung. 6. Security yang tidak selalu berada di lingkungan museum. 7. Kekurangan tenaga teknis untuk konservasi koleksi.
PELUANG 1. Dukungan dari Dinas Kebudayaan dan DPAD, Dinas Purbakala dan UNESCO. 2. Badan Perpustakaan dan Kearsipan di Yogyakarta 3. Kerja sama dengan UNY, ISI, UST. 4. Adanya komunitas Cakra Dewantara. 5. Diskusi rutin setiap Selasa Kliwon. 6. Mengadakan sepekan Dewantara. 7. Biro perjalanan.
8. Tempatnya terlalu terbuka karna bergabung dengan area kantor Majelis Luhur, TK Indriya, fakultas UST. 9. Tidak ada garis pembatas antara koleksi dengan pengunjung.
Kelemahan yang terdapat pada museum Dewantara Kirti Griya bisa dikurangi atau di hilangkan. Terutama kunjungan pengujung terhadap museum, harus ada perhatian. Karena museum kurangnya pengunjung akan memposisikan museum sebagai gudang penyimpanan. Peningkatan kunjungan bisa melibatkan kerja sama dengan institusi pendidikan, Dinas Kebudayaan, Purbakala, dan lain lain. Sehingga apabila pengunjung meningkat, maka museum menjadi hal penting untuk diperhatikan dari segala pihak baik Yayasan Persatuan Tamansiswa itu sendiri, pemerintah, dan masyarakat umum.
KEKUATAN 1. Tanah dan Bangunan seluas 5.594 m2 2. Koleksi 3. Koleksi bangunan berupa rumah bekas tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara sekeluarga dan pendopo agung Tamansiswa. 4. Koleksi realita berupa naskah, pakaian, perabotan, perlengkapan kerja, film dokumenter, surat-surat, foto-foto, lukisan, pecah-belah, surat kabar, bukubuku, piano dan gamelan. Seluruh koleksi berjumlah 3.305 buah yang terdiri dari koleksi museum sebanyak 1.205 buah dan koleksi perpustakaan museum sebanyak 2.100 buah buku. 5. Pengurus terdiri dari : Ketua : Nyi Sri Muryani Staf Teknis dan Pemandu : Ki Agus Purwanto Staf Edukasi : Tria Pembantu Umum (membersihkan dan merawat museum) : Ki Sapto Cahyono 6. Pendanaan pribadi : dana berasal dari Yayasan Tamansiswa
ANCAMAN 1. Kabel listrik yang tidak teratur. 2. Aktifitas manusia. 3. Pohon pulai yang berpotensi tumbang mengenai museum. 4. Air hujan, suhu, cuaca, sinar matahari. 5. Pencurian. 6. Vandalisme.
Ancaman yang terdapat pada museum baiknya dihilangkan. Terutama ancaman pohon Pulai yang terdapat di depan museum. Karena pertumbuhannya sangat cepat dan akar pohon tidak begitu kuat, memudahkan tumbangnya pohon akibat angin dan lebatnya ranting pohon.
KELEMAHAN
KEGIATAN
13
Keberadaan pohon Pulai ini, mengancam tertimpanya bangunan museum dan hancurnya koleksi. Solusinya adalah pemangkasan rutin ranting pohon atau menggantikan dengan poho yang lain yang lebih bermanfaat dan mengurangi resiko kerugian bagi museum.
KELEMAHAN 1. Kurangnya perhatian yayasan terhadap museum. 2. Pengurus yang aktif hanya satu orang yang mencakup sebagai kurator, yang merawat koleksi, dan menjaga koleksi. 3. Tidak ada alat pengatur suhu. 4. Struktur kepengurusan museum yang kurang jelas. 5. Kurangnya pengunjung. 6. Security yang tidak selalu berada di lingkungan museum. 7. Kekurangan tenaga teknis untuk konservasi koleksi. 8. Tempatnya terlalu terbuka karna bergabung dengan area kantor Majelis Luhur, TK Indriya, fakultas UST. 9. Tidak ada garis pembatas antara koleksi dengan pengunjung.
ANCAMAN 1. Kabel listrik yang tidak teratur. 2. Aktifitas manusia. 3. Pohon pulai yang berpotensi tumbang mengenai museum. 4. Air hujan, suhu, cuaca, sinar matahari. 5. Pencurian. 6. Vandalisme.
Pengurus Dewantara Kirti Griya masih belum jelas. Sedangkan pengurus Bu Tria adalah tenaga bantuan dari Dinas Kebudayaan. Seharusnya ada perhatian dari Yayasan Tamansiswa dan bisa melibatkan mahasiswa UST. Selain itu bisa melibatkan kerja sama dengan perguruan tinggi, untuk ditempatkan mahasiswa yang magang atau untuk memenuhi tugas akhir yang berkaitan dengan permuseumnan. Kerja sama tersebut bisa dengan UIN Sunan Kalijaga, UNY, UGM, ISI, dan lain lain.
G. Rekomendasi Museum Dewantara Kirti Griya belum memiliki tenaga atau karyawan khusus museum. Hanya satu orang yaitu Bu Tria. Posisi Bu Tria adalah tenaga bantuan dari Dinas Kebudayaan. Sehingga museum Dewantara Kirti Griya belum memiliki karyawan khusus untuk museum. Sebagai rekomendasi, meskipun tenaga bantuan hanya satu orang, untuk membantu mengurusi museum bisa melibatkan mahasiswa. Masing-masing akan medapat keuntungan, mahasiswa mendapat pengalaman praktik pengelolaan museum dan lembaga museum mendapat tenaga bantuan. Keuntungan melibatkan mahasiswa, lembaga museum
PROGRAM
14
dapat membuat program pengembangan museum dan melibatkan mahasiswa. Contohnya ialah sosialisasi untuk meningkatkan pengunjung, mahasiswa bisa menyumbangkan kreativitas dan inovasi. Mahasiswa bisa dilibatkan sebagai reservator dengan dibimbing lembaga khusus museum, membantu menjadi kurator, dan banyak lainnya.
15
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bangunan rumah yang berdiri diatas tanah seluas 5.594 m² tersebut didirikan pada tahun 1925 dengan konsep gaya klasik Hindia Belanda. Pemilik rumah tersebut adalah seorang janda pemilik perkebunan, istri dari orang Belanda yang bernama Mas Ajeng Ramsinah. Kemudian tanah tersebut dibeli oleh atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, Ki Supratolo pada tanggal 14 Agustus 1935. Rumah tersebut resmi dihuni pada 16 November 1938. Setelah itu kemudian Pada tanggal 18 Desember 1951, pembelian tersebut dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa dengan tujuan agar dijadikan museum. Pada tanggal 3 November 1957, Ki Hadjar Dewantara menerima persembahan bakti dari para alumni dan pecinta Tamansiswa berupa rumah tinggal yang diberi nama Padepokan Ki Hadjar Dewantara. Pada tahun 1958, bertepatan dengan diadakannya rapat pamong Tamansiswa, Ki Hadjar mengajukan permintaan kepada sidang agar rumah bekas tempat tinggalnya tersebut dijadikan museum. Permintaan tersebut ditanggapi dengan baik dan dilaksanakan setelah beliau wafat. Ki Hadjar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959 dan mulai tahun 1960.
Dalam pengelolaannya lembaga museum Dewantara Kirti Griya dibawa naungan Yayasan Tamansiswa yang terdiri dari struktur truktur Organisasi, yaitu: Ketua : Nyi Sri Muryani, Staf Teknis dan Pemandu : Ki Agus Purwanto, dan Staf Edukasi : Tria. Sedangkan Program kerja dan target museum adalah sebagai berikut:
1. Pemeliharaan dan perawatan gedung. 2. Pemeliharaan, perawatan dan penataan koleksi. 3. Transliterasi naskah. 4. Penerbitan buku katalog naskah. 5. Penerbitan profil museum. 6. Sarasehan permuseuman . Pengelolaan Lembaga Museum Dewantara Girti Griya masih belum efektif. Karena dari pihak yayasan masih belum maksimal memperhatikan museum Dewantara Girti Griya. Selain itu juga museum masih kekurangan sumber daya manusia yang akan mengembangkan museum.
16
B. SARAN Untuk membantu demi kemajuan dan perkembangan museum Dewantara Kirti Griya. Baiknya lebih dipererat kerja sama dengan institusi dinas kebudayaan, purbakala, perguruan tinggi. Selain itu bisa melibatkan mahasiswa dalam pengembangan programprogram museum, yang memberi timbal balik. Bagi museum akan terbantu dalam pengembangan dan bagi mahasiswa memberikan ilmu dan pengetahuan bagaimana pengelolaan permuseuman yang baik.
17
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku Rangkuti, Freddy. 2013. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.
Muhadjir, Noeng. 199. Metodologi Penelitian Kualitatif . Yogyakarta: Rake Sarasin.
B. Skripsi Dita Damayanti. 2017. “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Koleksi Naskah Kuno Di Perpustakaan Museum Tamansiswa Dewantara Kirti Griya Yogyakarta”. Program studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga.
C. Laporan penelitian Koko Erlangga. TT. “Preservasi Ephemera di Museum Dewantara Kirti Griya”. Program studi Kearsipan Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada.
18

Comments
Post a Comment