![]() |
| Pengaruh Budaya Belanda Terhadap Kuliner di Jawa, travelingyuk.com |
ABSTRAK
Kekayaan kuliner Indonesia tidak lepas dari pengaruh bangsa asing seperti Eropa. Keadaan sosial-budaya masyarakat Indonesia dalam kurun waktu 1901-1942 merupakan gambaran nyata yang dapat menunjukkan adanya proses akulturasi tersebut. Proses hegemoni budaya Eropa dapat dilihat melalui pengenalan berbagai bahan pangan, peralatan memasak, dan juga instansi-instansi pemerintah seperti sekolah rumah tangga yang banyak menawarkan standar Eropa. Perkedel (frikedelen), semur (smoor), dan aneka minuman dingin (es) merupakan beberapa contoh makanan yang mendapat sentuhan dari budaya Eropa.
Konsep Akulturasi yang digunakan penulis mengkaji pengaruh budaya belanda pada kuliner Jawa, yang mana terjadi pertukaran budaya Indonesia khususnya Jawa dengan Belanda. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori Fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski. Teori fungsionalisme menekan pada kaitan kaitan struktur masyarakat yang pada akhirnya mmebentuk suatu sistem yang bulat. Dalam sudut pandang antropologi teori fungsionalisme sebagai perspektif dari unsur-unsur yang saling acak lalu membentuk menjadi sistem yang memiliki peran penting dalam stabilitas , kelestarian atau eksistensi suatu masyarakat.
A. Latar Belakang
Dalam kuliner Indonesia, pengaruh Belanda paling terlihat dalam masakan Jawa. Pulau Jawa merupakan teritori yang paling diperhatikan oleh Belanda, maka dari itu banyak dari mereka yang menjadikan Pulau Jawa sebagai tempat bemukim. Tidak heran jika akhirnya pertemuan antara pribumi (Jawa) dan Belanda menghasilkan suatu kehidupan sosial budaya yang berbeda. Berakhirnya kekuasaan VOC pada 1799 menjadi fase penting dalam menciptakan perubahan sosial budaya.
Indonesia mempunyai banyak keunikan dalam kesederhanaan kulinernya. Dengan wilayahnya yang sangat luas, Indonesia memiliki berbagai macam jenis kuliner dengan aneka cita rasa. Kearifan kuliner masyarakat Indonesia mengalami perkembangan dengan datangnya bangsa asing seperti India, Cina, dan Belanda dalam proses hubungan antar bangsa yang dilakukan sejak berabad-abad yang lalu. Akulturasi budaya yang terjadi antara Indonesia dan beberapa bangsa asing tersebut telah berlangsung tanpa meninggalkan unsur local genius dari masing-masing bangsa.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini akan dibahas menu-menu populer dalam kalangan masyarakat menengah di Hindia-Belanda, terutama menu yang mendapat pengaruh budaya Belanda dalam kurun waktu 1901-1942. Tahun 1901 dipilih sebagai awal periodisasi dalam penelitian ini, sebab sejak diberlakukannya Politik Etis pada tahun 1901, akses bagi masyarakat Jawa untuk larut dalam budaya Belanda semakin terbuka. Pendudukan Jepang atas Indonesia pada tahun 1942 menjadi akhir dari per-odisasi penelitian ini. Meski kedatangan Jepang tidak banyak merubah gaya hidup populer yang tampak pada kebiasaan santap masyarakat Indonesia yang berkembang pa-da masa pemerintahan sebelumnya, namun Jepang juga telah menancapkan pengaruh-pengaruh baru pada masyarakat Indonesia pada waktu itu.
Berdasrkan uraian di atas, maka dapat di rumuskan topik permasalahan yang di kaji sebagai berikut :
1. Bagaimana Perkembangan Pengaruh Bdaya Belanda pada 1901-1942 ?
2. Apa saja Faktor Pendorong Terjadi Pengaruh Budaya Belanda di Jawa ?
3. Bagaimana Produk atau hasil dari Pengaruh Budaya Belanda terhadap Kuliner Jawa ?
C. Tujuan dan Manfaat penelitian
1. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor pendorong terjadinya pengaruh budaya belanda terhadap kuliner Jawa.
b. Untuk menjelaskan dan memberi gambaran kondisi dan respon masyarakat pada saat proses terjadinya pengaruh budaya belanda .
c. Untuk menjelaskan dan mendeskripsikan produk pengaruh akulturasi budaya Belanda terhadap kuliner Jawa.
2. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut ;
a. Diharapkan penelitian ini dapat berguna sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya maupun rujukan penulisan yang lain dan dalam ilmu kesejarahan dan kebudayaan Islam maupun umum pada khususnya .
b. Memacu para sejarawan Islam untuk meneliti pada bidang yang sama. Terutama yang berkaitan dengan kuliner dan kebudayaan Islam.
D. Landasan teori
Untuk mengkaji topik tersebut secara mendetail dan kronologis, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan antropologi- kuliner. Pendekatan antropologi ini untuk mengetahui pengaruh budaya belanda tahun 1901 hingga 1942 dan pengaruh akulturasi budaya tersebut terhadap kuliner masyarakat Jawa dengan pendekatan antropologi juga penulis mengkaji karakteristik pengaruh budaya belanda masyarakat Jawa dengan objek yang menjadi kajian ialah makanan pada masa tersebut.
Kompleksitas relasi manusia, proses sosial, dan jejaring makna dalam perihal makanan itulah yang menjadi ranah antropologi. Kajian antropologi gizi secara khusus mendekati diskursus makanan melalui sifat sosial budaya dan psikologis dari makanan itu. Penjabaran mengai sifat-sifat tersebut akan dimulai dari apa yang dimaksud dengan dimensi psikologis makanan, kemudian dilanjutkan pada dimensi sosial budayanya.
Konsep Akulturasi yang digunakan penulis mengkaji pengaruh budaya belanda pada kuliner Jawa, yang mana terjadi pertukaran budaya Indonesia khususnya Jawa dengan Belanda. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori Fungsionalisme yang dikemukakan oleh Malinowski. Teori fungsionalisme menekan pada kaitan kaitan struktur masyarakat yang pada akhirnya mmebentuk suatu sistem yang bulat. Dalam sudut pandang antropologi teori fungsionalisme sebagai perspektif dari unsur-unsur yang saling acak lalu membentuk menjadi sistem yang memiliki peran penting dalam stabilitas , kelestarian atau eksistensi suatu masyarakat.
Dengan demikian dasar penjelasan fungsionalisme ialah asumsi bahwa semua sistem budaya memiliki syarat – syarat fungsional tertentu untuk memungkinkan eksitensinya atau sistem budaya memiliki kebutuhan yang semuanya harus dipenuhi agar sistem itu dapat bertahan hidup. Apabila kebutuhan sitem fungsionalis itu tidak dipenuhi maka sistem itu akan mengalami disintegrasi dan akan berubah mejadi sistem lain yang berbeda jenis. Fungsionalisme didasarkan pada pandangan yang melebihkan aspek sosial dan melihat bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari sosialisasi yang menentukan seperti apa tindakan sosialnya.
E. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, hal ini dikarenakan penelitian ini berhubungan dengan kenyataan yang terjadi pada masa lampau.pendekatan yang digunakan ialah pendekatan Antropologi, hal ini dikarenakan penyusun mengambil permasalahan yang berkaitan dengan Budaya Belanda dan Kuliner Jawa.
1. Heuristik
Heuristik merupakan tahapan dimana penyusun mengumpulkan data-data. Pengumpulan data-data menggunakan metode studi pustaka melalui buku, jurnal dan artikel dan majalah yang berkaitan dengan topik.
2. Verifikasi
setelah data peneltian terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis keotentikan secara eksternal dan analisis internal untuk menjawab apakah idi dari sumber data tersebut dapat dipercaya. oleh karena itu terdapat dua hal yang penting diterangkan lebih lanjut mengenai metode analisis data yaitu: menjelaskan data atau menarik keseimpulan dari data.
3. Interpretasi
Dalam langkah interpretasi yang dialakukan oleh penulis yaitu mengolah data-data yang sudah ada , yang mana menjadi fokus bagian dari isi tulisan dan mana yang bukan. Dalam prakteknya , peneliti akan melakukan sintesis atas data yang didapat baik data tertulis maupun wawancara yang sesuai tema dan mengurutkan peristiwa sesuai waktu.
4. Historiografi
Historiografi merupakan pemaparan atau pelaporan dari hasil penelitian dan interpretasi dengan memperhatikan urutan peristiwa, urutan waktu serta memberikan gambaran yang jelas mulai dari awal (perencanaan ) sampai akhir kesimpulan.
F. Tinjauan Pustaka
Tulisan-tulisan tentang Pengaruh budaya Belanda terhadap kuliner Jawa, ada beberapa tulisan , diantaranya :
Pertama, Fadly Rahman dalam karya nya yang berjudul Rijsttafel : budaya kuliner di Indonesia pada masa kolonial 1870-1942. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2011. Buku ini menjelaskan budaya makan masyarakat Indonesia yang pada abad ke-19 mulai mengikuti gaya belanda. Namun budaya lokal Indonesia juga mempengaruhi budaya Belanda yang tampak terjadi pada modifikasi kuliner Belanda oleh masyarakat Indonesia.
Kedua, Anik Susanti dalam karya jurnal nya yang berjudul Akulturasi Budaya Belanda dan Jawa ( Kajian Historis pada kasus Sup dan Bistik Jawa tahun 1900-1942). Jurnal ini lebih menekan pada pembahasan kajian akulturasi budaya Jawa dan Belanda . dalam jurnal ini juga dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi eksistensi kedua budaya dan dampak dari akulturasi kedua budaya.
Ketiga, Pipit Anggraini dalam karya Jurnal nya yang berjudul Menu Populer : Hindia Belanda 1901-1942 (Kajian Pengaruh Budaya Eropa terhadap Kuliner Indonesia. jurnal ini lebih menekan pada pembahasan dampak dari pengaruh budaya Belanda pada obyek kuliner Indonesia. kuliner-kuliner belanda yang merupakan hasil modifikasi budaya Belanda-Indonesia seperti Bistik, Semur, dan Perkedel.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Rahman, F. 2011. Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Jurnal
Anik Susanti 2013. Akulturasi Budaya Belanda dan Jawa (Kajian Historis pada kasus Sup dan Bistik Jawa tahun 1900-1942). Avatara : E-journal Pendidikan Sejarah. Volume 1 (3) : 450-460 .
Pipit Anggraini 2015. Menu Populer : Hindia Belanda 1901-1942 (kajian Pengaruh Budaya Eropa terhadap Kuliner Indonesia). Jurnal Sejarah dan Budaya Universitas Negeri Malang. Volume 9 (1) :2015

Comments
Post a Comment