Skip to main content

Konflik di Tanah Kuning Pantai Timur (Studi Kasus : Pergeseran Pemukiman Orang Melayu Deli dari Kota Medan ke Pesisir Pantai 1873-2010 M)

Tananh Kuning, blogspot.com
Abstrak

Suku Melayu Deli adalah etnik orang-orang asli yang bermukim di wilayah Sumatera Pantai Timur (istilah sebelum kemerdekaan). Pada masa Kesultanan Deli, masyarakat Melayu memberikan kontribusi cukup besar terhadap perkembangan Kesultanan. Tetapi sejak Belanda mengatur pemerintahan dan jalannya ekonomi, masyarakat melayu mulai tergeserkan akibat Belanda mendatangkan orang-orang Jawa untuk bekerja dan membuka jalur dagang sehingga banyak orang-orang Cina masuk ke Deli (Medan). Pasca kemerdekaan dan menyatunya Deli dengan Indonesia, secara perlahan komunitas Melayu hilang dari ruang lingkup perkotaan. 
Penelitian ini fokus membahas tentang kondisi sosial orang Melayu akibat pergeseran pemukiman komunitas mereka. Kondisi tersebut akan diteliti dengan beberapa cara yaitu Observasi lapangan dan wawancara dengan Tetuah Adat. Penelitian ini menggunakan pendekataan Sosiologis dan teori Konflik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari : Heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.

Kata kunci : Melayu Deli, pergeseran 



Konflik di Tanah Kuning Pantai Timur (Studi Kasus : Pergeseran Pemukiman Orang Melayu Deli dari Kota Medan ke Pesisir Pantai 1873-2010 M)

A. Latar belakang Masalah
Awal mula berdirinya Kesultanan Deli adalah mulainya ekspansi atau perluasan wilayah yang dilakukan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh Darussalam. Kesultanan Melayu Deli berdiri pada tahun 1632 M yang merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Aceh saat itu. Sebelum menjadi wilayah taklukkan Kerajaan Aceh, wilayah ini (Kesultanan Deli) masih berada di kawasan Kerajaan Aru. Panglimah Gocah dipercaya untuk menjadi wakil Aceh di Delitua setelah jatuhnya Kerajaan Aru ke tangan Kesultanan Aceh. Ia juga menaklukkan Pahang, Johor, Bengkulu, dan mendapat gelar Sri Paduka Gocah Pahlawan Laksamana Kedja Bintan. Sejak penaklukan Delitua, nama Aru berganti menjadi Deli. Sebagaimana disebutkan dalam surat Iskandar Muda kepada Raja James dari Inggris tahun 1665 M sebagai salah satu negeri yang dikuasai Iskandar Muda. Oleh karena itu, kesultanan Deli bisa dikatakan sebagai lanjutan dari Kerajaan Aru-Deli Tua, sebab Panglima Gocah mendapat gelar “Yang Dipertuakan Deli” dan keturunanya menjadi penguasa Deli. 
Selama pemerintahan Gocah, ibukota Kesultanan berpusat di Delitua. Pada masa Tuanku Parunggit (Sultan ke 2) Ibukota berpusat di Medan. Dan terakhir Ibukota Kesultanan Deli ditetapkan kembali di wilayah Medan oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid setelah pemindahan Ibukota ke Labuhan Deli oleh Tuanku Pasutan (Sultan ke 3). Pada tahun 1669 M, Panglima Perunggit memproklamirkan Deli sebagai kekuasaan baru dan merdeka dari Kesultanan Aceh. Sejak saat itu kekuasaan Kesultanan Deli berada di tangan keturanan Panglima Gocah ayah dari Panglima Parunggit. Kesultanan Deli meliputi wilayah Medan sebagai ibukota kesultanan, Bedagai, Buluh Cina, Langkat, Sunggal, Suka Piring. Denai. 
Perkembangan Kesultanan Deli tidak terlepas dari masyarakat yang berada dalam naungan Kesultanan. Masyarakat melayu mempunyai semangat hidup yang tinggi memungkinkan berjayanya Kesultanan Deli ada campur tangan mereka. Perkembangan yang sangat pesat ditunjukkan adanya ekspansi Belanda dan pembukaan lahan tembakau secara besar-besaran sehingga membantu perekonomian Kesultanan Deli saat itu. Bangsa Belanda mendatangkan banyak pekerja dari luar tanah Deli seperti, padang, Aceh, Jawa, dan mendatangkan pekerja Tionghoa (Singapura) sehingga orang-orang asli terpinggirkan dan semakin berkurang populasinya.

B. Batasan dan Rumusan Masalah
Penelitian ini membahas tentang sebab keterpinggiran orang asli (melayu deli) dari kota Medan ke Pesisir Pantai Deli dan kondisi masyarakat Melayu dalam  ruang lingkup kekuasaan Kesultanan Deli, baik pada masa kejayaannya dan kondisi saat ini di Medan, Sumatera Utara. Penduduk asli Melayu saat ini populasinya semakin berkurang dan terisolir dari daerah perkotaan (Medan). 
Fokus penelitian ini yaitu di sekitar Istana Maimoen dan Masjid Raya Al-Mashun (Komplek Kesultanan Deli) dan daerah pesisir Deli. Adapun, batasan waktu dalam penelitian ini dengan rincian tahun 1873-2010 M.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini berusaha menjawab beberapa masalah, secara rinci permasalahan yang akan dikaji dalam studi ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana Hubungan sosial antara kalangan bangsawan Deli dengan masyarakat asli melayu Deli?
2. Mengapa masyarakat melayu terisolir dari kawasan Ibukota Medan, Sumatera Utara dan memilih tinggal di pesisir Deli tahun 1873-2010 M?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperkaya khasanah ilmu kesejarahan. Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Mendeskripsikan perkembangan Kesultanan Deli di Medan, Sumatera Utara era modern ini.
2. Memahami dan menganalisis hubungan sosial antara bangsawan Deli dengan masyarakat asli melayu Deli.
3. Mengungkap fakta historis mengenai terisolirnya masyarakat melayu dari kawasan perkotaan (Medan) ke daerah pesisir.
Berdasarkan urutan yang telah dirangkum sebelumnya, penulis berharap dari penelitian ini dapat di ambil manfaat terkait :
1. Memberikan pengetahuan lebih rinci tentang kondisi masyarakat melayu Deli yang terisolir dari kawasan perkotaan(Medan) Sumatera Utara.
2. Menambah karya tulis yang membahas tentang Kondisi masyarakat melayu Deli.
3. Menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

D. Tinjauan Pustaka
Skripsi karya Friza Luthfi yang berjudul “Tranformasi Gaya Arsitektur, Studi kasus: Istana Maimoen, Medan”. Medan: Departemen Arsitektur Universitas Sumatera Utara tahun 2014. Fokus penelitian skripsi Friza adalah membahas tentang Arsitektur Istana Maimoen dan tata letak ruang Istana. 
Tesis karya Hafni Dewi yang berjudul “Kajian Lanskap Budaya Melayu Deli untuk Meningkatkan Identitas Kota” Bogor: Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor 2017. Fokus penelitian Tesis Hafna adalah membahas tentang Lanskap budaya melayu Deli.

E. Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan pendekatan Sosiologi. Penggunaan pendekatan Sosiologi bertujuan untuk memahami kesubjektifan perilaku suatu kelompok sosial. Fungsi pendekatan ini untuk mengarahkan peneliti kepada fokus masalah penelitian yang berkenaan dengan peristiwa-peristiwa sosial sehingga hal tersebut mampu membantu sejarawan dalam menentukan motif suatu tindakan atau factor dari sebuah peristiwa. 
Teori Konflik menurut Coser dibagi menjadi dua, pertama konflik realistis dan konflik non-realistis. Konflik realistic berasal dari kekecewaan terhadap adanya tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan yang ditujukan kepada obyek yang dianggao mengecewakan. Sedangkan konflik non-realitas berasal dari kebutuhan untuk merendahkan ketegangan yang paling tidak dari salah satu pihak.  Penelitian ini menggunakan kedua jenis konflik tersebut karena sesuai dengan fokus peneliti. 

F. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang bersifat kualitatif dengan mengumpulkan berbagai sumber yang relavan dengan penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilalui adalah sebagai berikut:

1. Heuristik
Heuristik adalah proses pengumpulan data baik secara lisan maupun tulisan. Dalam hal ini, peneliti mengumpulkan data dengan cara studi pustaka, observasi, dan wawancara. Studi pustaka dengan mengumpulkan buku-buku yang relavan dengan objek penelitian, kemudian arsip dan dokumen serta majalah dan artikel yang terkait. Pengumpulan data dengan cara observasi lapangan yang dilakukan di sekitar kota Medan dan daerah pesisir pantai di Belawan. Adapun pengumpulan informasi lisan melalui wawancara dengan tetuah adat kampong melayu di Medan dan sekitarnya.
2. Verifikasi 
Setelah informasi dan data penelitian terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah kritik sumber. Sumber yang telah terkumpul akan diteliti keabsahan dan keautentikannya, maka butuh kritik sumber baik kritik intern maupun ekstern. Melalui kritik tersebut, akan menghasilkan data yang sesuai dengan fokus penelitian. 
3. Interpretasi 
Pada tahap ini, peneliti melakukan penafsiran terhadap fakta-fakta dari objek penelitian. Adapun penafsiran yang dilakukan oleh peneliti yaitu memahami dan menganalisis peristiwa sejarah. Peneliti harus menempatkan diri pada posisi netral atau tidak memihak kepada salah satu subjek penelitian.
4. Historiografi
Historiografi adalah tahapan akhir dari penelitian sejarah yakni menuliskan peristiwa sejarah dengan bahasa yang baik dan mudah dipahami oleh semua kalangan. Penulisan harus sesuai dengan rentetan peristiwa atau secara kronologis agar memudahkan pembaca dalam memahaminya. Terakhir, hasil penulisan ini diharapkan menjadi karya sejarah yang tersusun secara kronologis dan mudah dipahami seluruh kalangan.

G. Sistematika Penulisan 
Sistematika pembahasan adalah penggambaran isi pembahasan dalam bab dan juga sub-bab. Hal ini penting untuk dijelaskan agar pembahasan dari bab satu berhubungan dengan bab berikutnya. Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Bab pertama, merupakan bab pendahuluan yang berfungsi sebagai pengantar. Adapun isi dari bab pertama adalah latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua membahas tentang kesultanan melayu deli seperti geografis, demogarfis, sejarah singkat awal berdiri, dan perkembangannya.
Bab ketiga berisikan gambaran umum tentang hubungan sosial bangsawan Deli dengan masyarakat melayu. Pembahasannya tentang, latar belakang hubungan antara kedua pihak, kondisi masyarakat masa kesultanan Berjaya, dan proses pergesaran pemukiman orang melayu seperti apa.
Bab keempat merupakan bab inti pembahasan yang meliputi bentuk konflik antara kedua pihak dan faktor penyebab konflik terjadi akibat pergeseran pemukiman orang-orang melayu.
Bab kelima adalah bab penutup yang berisikan kesimpulan dan penegasan dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya. Kemudian kritik dan saran, baik kepada obyek penelitian maupun kepada penulis sendiri. Pada bab ini juga akan dipaparkan kekurangan-kekurangan dan kesulitan penelitian. Sehingga apabila ada penelitian lebih lanjut akan memperbaiki kekurangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Abdurrahman, Dudung. 2007. Metodologi Penelitian Sejarah. Yogyakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Erman, Erwiza. 2011. Sejarah Sosial Kesultanan Melayu Deli. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
Ikhsan, Edi. 2015. Konflik Tanah Ulayat dan Pluralisme Hukum : Hilangnya Ruang Lingkup Orang Melayu Deli. Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Takari, M. B.S. Dja’far, F. 2012. Sejarah Kesultanan Deli dan Peradaban Masyarakatnya. Medan: USU Prees.

B. Skripsi, Tesis dan artikel
Dewi, H. 2017. “Kajian Lanskap Budaya Melayu Deli untuk Meningkatkan Identitas Kota”. Jurusan Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor.
Luthfi. 2014. “Tranformasi Gaya Arsitektur, Studi kasus: Istana Maimoen, Medan”. Jurusan Departemen Arsitektur Universitas Sumatera Utara.

DAFTAR ISI SEMENTARA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
B. Batasan dan rumusan masalah
C. Tujuan dan manfaat penulisan
D. Tinjauan pustaka
E. Landasan teori
F. Metode penelitian 
G. Sistematika penulisan
BAB II GAMBARAN KESULTANAN DELI
A. Sejarah singkat ….
B. Perkembangan …
BAB III HUBUNGAN SOSIAL KESULTANAN DENGAN MASYARAKAT MELAYU
BAB IV KONFLIK DI TANAH KUNING PANTAI TIMUR
A. Latar belakang ….
B. Bentuk konflik ….
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan 
B. Kritik dan saran 


Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...