![]() |
| Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org |
Abstrak
Pondok pesantren
merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di
Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok
modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren
Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang
dari IFA (Internasional Fraternity Asosiation) atau Yayasan Persaudaraan
Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok
pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren
Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren
Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang
ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem
pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di Turki, aturan-aturan berbasis
tasawuf, kegiatan para santri dan budaya Turki yang dikenalkan kepada santri.
Dalam penelitian ini
terdapat tiga rumusan masalah yaitu : latar belakang berdirinya Pondok
Pesantren Turki (Pondok Pesantren Sulaimaniyah), sejarah dan perkembangannya
serta kontribusinya terhadap pendidikan agama mahasiswa di Sleman Yogyakarta.
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian sejarah lapangan (field
research).Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis. Teori
yang digunakan adalah Continuity and Change oleh Jhon Obert Voll. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa
teknik yang mengacu dalam metode penelitian sejarah sebagai berikut : heuristik
(meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi), verifikasi, interpretasi dan
historiografi.
A.
Latar Belakang Masalah
Pondok
pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang tersebar luas
di Indonesia. Istilah pondok berasal dari kata
“pondok” diambil dari bahasa Arab, yaitu funduq yang berarti
pesanggerahan atau penginapan bagi orang yang bepergian.[1]
Sedangkan kata “pesantren” berasal dari kata santri, yang berawalan pe- dan
akhiran –an yang berarti tempat tinggal para santri.[2]
Pondok
pesanten merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang berkembang di
tengah-tengah masyarakat, dimana santri dan kiai tinggal di satu komplek dan
ikut terlibat langsung dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesantren
merupakan pendidikan tradisional Islam bertujuan untuk memahami, mengamalkan
ajaran Islam serta menekankan moral agama sebagai pedoman hidup bermasyarakat.
Pondok pesantren tersebut sejak awal berkembang dan tersebar sebagai lembaga
keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia yang memiliki
nilai-nilai stategis dalam perkembangan masyarakat Indonesia. Pendidikan
pesantren dapat menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim yaitu
kepribadian yang beriman dan bertaqwa. Lembaga pendidikan Islam tertua di
Indonesia ini selalu mencari lokasi yang sekiranya dapat menyalurkan dakwah
tersebut tepat sasaran yang menyelamatkan kehidupan dan kelangsungan dakwah
Islamiyah.[3]
Unsur-unsur
dasar yang membentuk pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri, dan
kitab-kitab agama Islam. Karakteristik fisik yang membedakan lembaga pondok
pesantren dan lembaga lainnya terletak pada unsur tersebut. Subkultur yang
dibangun komunitas pesantren senantiasa berbeda dalam sistem sosial budaya yang
lebih besar. Pondok pesantren membentuk tradisi kegamaan yang bergerak dalam bingkai
sosial kultural masyarakat pluralistik dan bersifat kompleks.[4]
Pondok
Pesantren Sulaimaniyah merupakan salah satu lembaga pendidikan agama Islam.
Pondok Pesantren Sulaimaniyah ini didirikan oleh Hakan Soydemir, seorang
berkebangsaan Turki. Ia dikirim langsung dari IFA (Internasional Fraternity
Asosiation) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Lembaga IFA
merupakan yayasan pendidikan islam bertaraf internasional. Yayasan tersebut
sudah memiliki lebih dari ribuan cabang lembaga pendidikan semisal pondok
pesantren kurang lebih di 160 negara. Salah satu negara tersebut adalah
Indonesia. Di indonesia Pondok pesantren Sulaimaniyah pertama kali berdiri pada
tahun 2005 di Jakarta. Kemudian dalam kurun waktu 2005 sampai 2018 kurang lebih
sudah ada 34 cabang Pondok Pesantren Sulaimaniyah di 30 kota 11 Provinsi. Ada
dua cabang pondok pesantren yaitu pondok untuk tahfidz dan pondok untuk
mahasiswa.
Pondok
pesantren Sulaimaniyah di Desa Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta berdiri
tahun 2007. Pada awal berdiri pondok pesantren Sulaimaniyah ini adalah pondok
untuk siswa jenjang SMP dan SMA. Kemudian pada tahun 2010 pondok ini diubah
menjadi pondok pesantren khusus Mahasiwa. Pada awal perkembangannya, Pondok
Pesantren Sulaimaniyah memberikan pendidikan gratis bagi para pekajar dan
mahasiswa yang belajar di Pondok tersebut, sampai ke pendidikan lanjutan di
Turki. Tujuan utama pendirian Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Yogyakarta
adalah mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul dalam ilmunya namun juga
unggul didalam ketaqwaannya.
Nama
pondok pesantren Sulaimaniyah diambil dari nama Syaikh Sulaiman Hilmi Tunahan,
seorang mursyid Tarekat Naqsibandiyah dan juga merupakan pendiri pondok
pesantren Sulaimaniyah pusat di Turki. Keterkaitan Syaikh Sulaiman sebagai
mursyid Tarekat Naqsyabandiyah menjadikan sistem pembelajaran Pondok Pesantren
Sulaimaniyah menerapkan ajaran-ajaran Tasawuf. Semua aspek kurikulum mendapat
kontrol langsung dari pusat di Turki, tata tertib peraturan pondok, semua
berkaitan dengan ajaran kesufian/ketasawufan. Didalam pendidikan yang
diterapkan juga mendapat pengaruh kebudayaan Turki khusunya pada zaman Dinasti
Utsmaniyah. Seperti kitab-kitab pelajaran agama yang digunakan, pendidikan
bahasa Turki serta panggilan yang digunakan di dalam pondok pesantren, seperti
panggilan untuk para pengajar, para santri, sarana dan prasarana dan lain
sebagainnya. hal-hal tersebut yang membedakan pondok pesantren Sulaimaniyah
dengan Pondok Pesantren lain pada umumnya.
Pondok
Pesantren Sulaimaniyah telah bekerja sama dengan Kementrian Agama. Kementrian
agama mengapresiasi pondok pesantren Sulaimaniyah sebagai pondok pesantren yang
berasal dari Turki, namun mempunyai andil yang cukup besar terhadap muslim di
Indonesia secara umum dan mahasiswa muslim di Yogyakarta secara khusus. Pondok
Pesantren Sulaimaiyah memberikan pendidikan agama kepada para siswa/mahasiswa
dan memberikan beasiswa pendidikan lanjutan ke Turki. Sejarah berdiri dan
berkembangnya pondok pesantren Sulaimaniyah yang berasal dari Turki serta
kontribusinya dalam pendidikan agama kepada pelajar/mahasiswa menarik untuk
diteliti.
B.
Batasan dan Rumusan Masalah
Penelitian
ini difokuskan pada latar belakang berdirnya Pondok pesantren Turki (Pondok
Pesantren Sulaimaniyah), sejarah dan perkembanganPondok Pesantren Sulaimaniyah
serta kontribusinya terhadap pendidikan agama mahasiwa di Sleman Yogyakarta.
Batasan tahun penelitian ini adalah tahun 2007-2018. Dipilihnya tahun 2007
sebagai waktu awal penelitian merupakan tahun berdirinya Pondok Pesantren
Sulaimaniyah. Sedangkan tahun 2018 merupakan tahun terkini keberangkatan santri
Pondok Pesantren Sulaimaniyah ke Turki untuk menlanjutkan jenjang pendidikan
agama yang lebih tinggi.
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas maka peneliti membagi pembahasan dalam tiga
rumusan masalah, yaitu:
:
1. Mengapa Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta berdiri?
2. Bagaimana sejarah dan perkembangan Pondok Pesantren Sulaimaniyah di
Sleman Yogyakarta?
3. Bagaimana kontribusi pondok Pesantren Sulaimaniyah terhadap pendidikan
agama para santri?
C.
Tujuan dan Manfaat
Penelitian
Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan latar belakang berdirinya
Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta, sejarah perkembangan Pondok
Pesantren Sulaimaniyah,serta kontribusi Pondok Pesantren Sulaimaniyah terhadap
pendidikan agama mahasiswadi Sleman Yogyakarta.Sedangkan manfaat dari
penelitian ini adalah diantaranya: memberikan sumbangsih dalam pengembangan
keilmuan khususnya dalam bidang Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam serta
pengembangan Historiografi Islam dan Historiografi Indonesia, sebagai bahan
refrensi bagi para peneliti selanjutnya yang hendak meneliti tentang Pondok
Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta.
D.
Tinjauan Pustaka
Untuk
mengetahui apakah yang diteliti dalam karya ini sudah ada yang melakukan
penelitian sebelumnya atau belum ada, maka diperlukan kajian penelitian
terdahulu. Penelitian yang akan dilakukan ini merupakan pelengkap dari karya
tulis sebelumnya tentang Pondok Pesantren Sulaimaniyah. Pembahasan khusus
tentang sejarah perkembangan dan kontribusi Pondok Pesantren Sulaimaniyah belum
ada yang menulis. Dari hasil tinjauan pada hasil penelitian sebelumnya, maka
penulis telah menemukan karya ilmiah sejenis berupa skripsi yang membahas kegiatan
keagamaan pondok pesantren Sulaimaniyah di Desa Karangasem Caturtunggal Depok
Sleman Yogyakarta.
Skripsi
yang ditulis oleh Amin Susilo, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta tahun 2014 dengan judul “Tarekat dan Mahasiswa (Studi kasus Tareqat
Naqsabandiyah di Asrama United Islamic
Cultural Centre of Indonesia (UICCI) di Yogyakarta. Di dalam skripsi yang
ditulis oleh Amin Susilo ini membahas pengaruh Tariqat Naqsabandiyah terhadap
mahasiswa di pondok pesantren Sulaimaniyah di Desa Karangasem Caturtunggal
Depok Sleman Yogyakarta. Adapun United
Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) Yogyakarta adalah nama lain
dari Pondok Pesantren Sulaimaniyah. Di dalam skripsi ini juga dijelaskan
gambaran umum dari Pondok Pesantren Sulaimaniyah. Sejarah berdirinya pondok
disebutkan pada sub bab, dan dijelaskan secara umum belum terperinci serta
terbatas sampai tahun 2014. Perbedaan skripsi ini dengan penelitian yang akan
dilakukan oleh peneliti adalah pada objek penelitiannya. Skripsi amin susilo
objek kajiannya adalah terkait Thariqat yang ada di pondok pesantren
sulaimaniyah sedangkan penelitian ini pada sejarah dan perkembangan Pondok
Pesantren.
Kemudian
Skripsi yang ditulis oleh Roni Abdhul Ghani Rifai, mahasiswa Fakultas
Ushuludin, jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta yang berjudul“Zikir Khafi Dalam Tarekat Naqsyabandiyah di
Pondok Pesantren Sulaimaniyah (Resepsi Makna Terhadap Qs. Al-A’raf ayat 205)”.
Skripsi ini membahas di dalamnya ajaran tarekat berupa dzikir. Ibadah zikir
yang dilakukan oleh para santri mahasiswa yang ada di Pondok Pesantren
Sulaimaniyah. Berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu
pada objek kajian berupa sejarah perkembangan pondok pesantren serta
kontribusinya terhadap pendidikan mahasiswa.
E.
Landasan Teori
Pada
penelitian ini menggunkan pendekatan sosiologis yaitu pendekatan yang mengkaji
tentang hubungan sosial antara individu yang satu dengan individu yang lain atau
dengan kelompok. Ilmu sosiologi juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana
peran dan pengaruh dari suatu institusi terhadap perkembangan komunitas yang
mengintarinya.[5]Dengan
pendekatan tersebut diharapkan mampu mempelajari kehidupan pelajar dan mahasiwa
yang ada di Sleman Yogyakarta. Dengan pendekatan ini diharapkan pula dapat
memerikan banyak informasi yang berkaitan dengan penelitian sejarah berdiri dan
berkembangnya Pondok Pesantren Sulaimaniyah.
Dalam
penelitian ini menggunakan teori Continuityand Change. Teori merupakan
pedoman untuk mempermudah penelitian dan sebagai pegangan dasar bagi peneliti.
Disamping itu, teori juga merupakan sumber bagi peneliti dalam memecahkan
masalah penelitian. Menurut Jhon Obert
Voll, Continuity and Change adalah kesinambungan dan perubahan.[6]Dengan
teori Continuity and Change diharapkan peneliti dapat menjelaskan
berbagai perubahan-perubahan yang dialami oleh Pondok Pesantren Sulaimaniyah di
Sleman Yogyakarta secara berkesinambungan, sehingga dapat terlihat secara jelas
perubahan yang terjadi mulai awal berdirinya yaitu berupa perubahan dari segi
fisik maupun non fisik. Dengan demikian proses kesinambungan dan perubahan
dapat dilihat.
F.
Metode Penelitian
Metode
merupakan sebuah cara prosedural untuk berbuat dan mengerjakan sesuatu dalam
sebuah sistem yang teratur dan terencana.[7]
Sesuai dengan pokok kajian, metode yang digunkan dalam penelitian ini adalah
metode sejarah. Metode dalam studi sejarah merupakan seperangkat aturan dan
prinsip sistematis dalam mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara sistematis.[8]
Terdapat
empat persyaratan dalam metode sejarah, yaitu pengumpulan sumber (Heuristik),
kritik sumber (Verifikasi), analisis (Interpretasi), dan penulisan sejarah
(Historiografi).[9]
1.
Heuristik
Heuristik merupakan langkah yang dilakukan oleh
peneliti dalam rangka mencari sumber-sumber sejarah baik yang tertulis maupun
tidak tertulis. Usaha merekonstruksi masa lampau tidak mungkin dilakukan tanpa
tersedianya sumber-sumber atau bukti-bukti sejarah.[10]Tahapan ini merupakan teknik atau cara memperoleh data. Data tertulis
yang ditemukan dalam penelitian ini adalah skripsi yang membahas tentang Pondok
Pesantren Sulaimaniyah serta arsip dan dokumen yang terdapat di Pondok
Pesantren Sulaimaniyah.
Selain data tertulis peneliti juga mengumpulkan data
tidak tertulis yang diperoleh melalui wawancara. Wanwacara yang dilakukan
adalah wawancara terstruktur, yaitu dengan mempersipakan daftar pertanyaan terlebih
dahulu. Narasumber yang peneliti wawancarai adalah Ketua Podok Pesantren
Sulaimaniyah, Lukman Fauzi HE, para pengajar pondok pesantren Sulaimaniyah
serta beberapa santri yang sudah tinggal lama di dalam pondok pesantren. Hasil
wawancara akan menjadi sumber utama dalam melakukan penelitian ini.
2.
Verifikasi
Tahap
kedua yaitu verifikasi (kritik sumber), pada dasarnya verifikasi merupakan
tahap yang dilakukan bersamaan dengan tahap awal yaitu heuristik, dalam
praktiknya, banyak sejarawan yang melakukannya secara bersamaan.[11]Tahap
ini dilakukan untuk memperoleh keabsahan sumber tentang otentisitas maupun
kredibilitas sumber, yang dilakukan dengan cara melakukan kritik eksternal maupun internal.[12]
Sumber
tidak tertulis, untuk melakukan kritik ekstern perlu diketahui posisi dan umur
narasumber, kritik intern dilakukan dengan mengritisi atau membandingkan
informasi yang disampaikan oleh narasumber dengan narasumber lain serta sumber
tetulis. Peneliti melakukan wawancara kepada Lukman Fauzi HE, ketua Pondok Pesantren
Sulaimaniyah, para penganjar dan para santri lama pondok pesantren
sulaimaniyah.
Dalam
sumber tertulis, peneliti akan melakukan kritik ekstern dan intern. Kritik
ekstern dilakukan dengan cara identifikasi, eksplikasi, atribusi, dan kolasi.
Peneliti akan mengkritisi sumber berdasarkan identifikasi penulis, kertas dan
tinta yang digunakan. Kritik intern dilakukan dengan cara mengkritisi sumber
atau membandingkannya dengan sumber lain. Dari sumber tertulis yang didapatkan,
peneliti akan memabandingkan skripsi yang ditulis oleh Amin Susilo “Tarekat dan
Mahasiswa (Studi kasus Tareqat Naqsabandiyah di Asrama United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) di Yogyakarta”,
dengan skripsi Roni Abdhul Ghani Rifai “Zikir Khafi Dalam Tarekat
Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Sulaimaniyah (Resepsi Makna Terhadap Qs.
Al-A’raf ayat 205)” dan dengan dokumen dokumen yang terdapat di Pondok
Pesantren Sulaimaniyah.
3.
Interpretasi
Interpretasi atau penafsiran
persitiwa sejarah adalah juga disebut analisis sejarah. Berarti menguraikan
peristiwa sejarah masa lampau. Analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis
atas sejumlah fakta sejarah yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah.
Sumber-sumber sejarah yang telah terkumpul dan telah melalui tahap verifikasi
kemudian ditafsirkan dengan menggunakan teori dan pendekatan yang digunakan
dalam penelitian.
4.
Historiografi
Tahap ini merupakan tahap
terakhir dalam sebuah penelitian sejarah. Historiografi berarti penyususnan
peristiwa sejarah yang didahului oleh penelitian terhadap peristiwa-peristiwa
masa lalu, atau dengan kata lain historiografi disini merupakan cara penulisan
dan pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan.
G.
Sistematika Pembahasan
Agar lebih
terarah dalam pembahasan penelitian ini, maka penulis membagi dalam beberapa
bab agar mendapat hasil yang sistematis.
Bab I,
Pendahuluan, yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan dan
rumusan masalah, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian,
sistematika pembahasan.
Bab II,
menjelaskan tentang latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Sulaimaniyah di
Sleman Yogyakarta
Bab III,
menjelaskan sejarah perkembangan Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman
Yogyakarta dari masa ke masa
Bab IV,
menjelaskan kontribusi Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta
terhadap pendidikan agaman para pelajar/mahasiswa.
Bab IV,
Penutup, yang meliputi kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah
penelitian, dan saran-saran yang sekirnya perlu dalam penelitian
selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Buku:
Abdurrahman, Dudung. 2007.Metodologi
Peneltian Sejarah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
A’la, Abdul. 2006. Pembaharuan Pesantren.
Yogyakarta : PT LKIS Pelangi Aksara.
Daliman,
A. 2012. Meode Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Dhofier, Zamahsyari. 1982. Tradisi
Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES.
Hamid, Abd Rahman dan Muhammad Saleh Madjij. 2015.Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Kartodirjo, Sartono. 2016. Pendekatan Ilmu
Sosial dalam Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Madjid,M.
Diendan Johan Wahyudhi. 2014. IlmuSejarah: SebuahPengantar. Jakarta:
Kencana.
Steenbrink, Karel A. 1986. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern. Jakarta:
LP3ES.
Sukanto.
1999.Kepemimpinan Kiai Dalam Pesantren. Jakarta : PT Pustaka LP3ES
Indonesia.
DAFTAR ISI SEMENTARA
HALAMAN JUDUL
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan dan Kegunaan
D.
Tinjauan Pustaka
E.
Kerangka Teori
F.
Metode Penelitian
G.
Sistematika Pembahasan
BAB II : PONDOK PESANTREN TURKI (SULAIMANIYAH)
A. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Sulaimaniyah
1.
Struktur Organisasi
2.
Sarana dan Prasarana
3.
Sistem Pendidikan
B. Tokoh Pendiri Pondok Pesantren Sulaimaniyah
C. Tujuan dan Visi-misi Pondok Pesantren Sulaimaniyah
BAB III : PERKEMBANGAN PONDOK
PESANTREN TURKI(SULAIMANIYAH)
A. Bidang Pendidikan
B. Bidang Dakwah
C. Bidang Sosial Keagamaan
BAB IV : KONTRIBUSI PESANTREN
TURKI (SULAIMANIYAH)
A.
Pendidikan Agama bagi pelajar dan
mahasiswa
B.
Beasiswa pendidikan agama pelajar
dan mahasiswa ke Turki
BAB V : PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran-saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Baca Juga: Eksistensi Komunitas Arab di Yogyakarta 1988-2018 M
[1]Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern (Jakarta: LP3ES, 1986), hlm. 22.
[2]Zamahsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta:
LP3ES, 1982), hlm. 18.
[4]Sukanto, Kepemimpinan Kiai Dalam Pesantren (Jakarta : PT Pustaka
LP3ES Indonesia, 1999), hlm. 1-2.
[5]SartonoKartodirjo, PendekatanIlmuSosiologideganMetodologiSejarah(Jararta:
Gramedia, 1993), hlm. 4.
[6]Jhon Obert Voll, Politik Islam : Kelangsungan dan Perubahan di Dunia
Modern, terj Ajat Sudrajat (Yogyakarta : Titian Iaihi Pers, 1997).
[7]M. DienMadjiddan Johan Wahyudhi, IlmuSejarah: SebuahPengantar (Jakarta:
Kencana, 2014), hlm. 217.
[8]Abd Rahman Hamid dan Muhammad
Saleh Madjij, PengantarIlmuSejarah
(Yogyakarta: PenerbitOmbak, 2015), hlm. 42.
[9]Kuntowijoyo, PengantarIlmuSejarah(Yogyakarta: BentengPustaka, 2007), hlm. 89.
[10]A. Daliman, Metode Penelitian Sejarah (Yogyakarta: Ombak, 2012),
hlm. 52.
[12]Dudung Abdurrahman, Metodologi Peneltian Sejarah (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2007), hlm. 68.

Comments
Post a Comment