Skip to main content

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org



Abstrak


Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA (Internasional Fraternity Asosiation) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di Turki, aturan-aturan berbasis tasawuf, kegiatan para santri dan budaya Turki yang dikenalkan kepada santri.
Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah yaitu : latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Turki (Pondok Pesantren Sulaimaniyah), sejarah dan perkembangannya serta kontribusinya terhadap pendidikan agama mahasiswa di Sleman Yogyakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian sejarah lapangan (field research).Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis. Teori yang digunakan adalah Continuity and Change oleh Jhon Obert Voll. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik yang mengacu dalam metode penelitian sejarah sebagai berikut : heuristik (meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi), verifikasi, interpretasi dan historiografi.
           
A.    Latar Belakang Masalah
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang tersebar luas di Indonesia. Istilah pondok berasal dari kata “pondok” diambil dari bahasa Arab, yaitu funduq yang berarti pesanggerahan atau penginapan bagi orang yang bepergian.[1] Sedangkan kata “pesantren” berasal dari kata santri, yang berawalan pe- dan akhiran –an yang berarti tempat tinggal para santri.[2]
Pondok pesanten merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, dimana santri dan kiai tinggal di satu komplek dan ikut terlibat langsung dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesantren merupakan pendidikan tradisional Islam bertujuan untuk memahami, mengamalkan ajaran Islam serta menekankan moral agama sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Pondok pesantren tersebut sejak awal berkembang dan tersebar sebagai lembaga keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia yang memiliki nilai-nilai stategis dalam perkembangan masyarakat Indonesia. Pendidikan pesantren dapat menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa. Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini selalu mencari lokasi yang sekiranya dapat menyalurkan dakwah tersebut tepat sasaran yang menyelamatkan kehidupan dan kelangsungan dakwah Islamiyah.[3]
Unsur-unsur dasar yang membentuk pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri, dan kitab-kitab agama Islam. Karakteristik fisik yang membedakan lembaga pondok pesantren dan lembaga lainnya terletak pada unsur tersebut. Subkultur yang dibangun komunitas pesantren senantiasa berbeda dalam sistem sosial budaya yang lebih besar. Pondok pesantren membentuk tradisi kegamaan yang bergerak dalam bingkai sosial kultural masyarakat pluralistik dan bersifat kompleks.[4]
Pondok Pesantren Sulaimaniyah merupakan salah satu lembaga pendidikan agama Islam. Pondok Pesantren Sulaimaniyah ini didirikan oleh Hakan Soydemir, seorang berkebangsaan Turki. Ia dikirim langsung dari IFA (Internasional Fraternity Asosiation) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Lembaga IFA merupakan yayasan pendidikan islam bertaraf internasional. Yayasan tersebut sudah memiliki lebih dari ribuan cabang lembaga pendidikan semisal pondok pesantren kurang lebih di 160 negara. Salah satu negara tersebut adalah Indonesia. Di indonesia Pondok pesantren Sulaimaniyah pertama kali berdiri pada tahun 2005 di Jakarta. Kemudian dalam kurun waktu 2005 sampai 2018 kurang lebih sudah ada 34 cabang Pondok Pesantren Sulaimaniyah di 30 kota 11 Provinsi. Ada dua cabang pondok pesantren yaitu pondok untuk tahfidz dan pondok untuk mahasiswa.   
Pondok pesantren Sulaimaniyah di Desa Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta berdiri tahun 2007. Pada awal berdiri pondok pesantren Sulaimaniyah ini adalah pondok untuk siswa jenjang SMP dan SMA. Kemudian pada tahun 2010 pondok ini diubah menjadi pondok pesantren khusus Mahasiwa. Pada awal perkembangannya, Pondok Pesantren Sulaimaniyah memberikan pendidikan gratis bagi para pekajar dan mahasiswa yang belajar di Pondok tersebut, sampai ke pendidikan lanjutan di Turki. Tujuan utama pendirian Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Yogyakarta adalah mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul dalam ilmunya namun juga unggul didalam ketaqwaannya.
Nama pondok pesantren Sulaimaniyah diambil dari nama Syaikh Sulaiman Hilmi Tunahan, seorang mursyid Tarekat Naqsibandiyah dan juga merupakan pendiri pondok pesantren Sulaimaniyah pusat di Turki. Keterkaitan Syaikh Sulaiman sebagai mursyid Tarekat Naqsyabandiyah menjadikan sistem pembelajaran Pondok Pesantren Sulaimaniyah menerapkan ajaran-ajaran Tasawuf. Semua aspek kurikulum mendapat kontrol langsung dari pusat di Turki, tata tertib peraturan pondok, semua berkaitan dengan ajaran kesufian/ketasawufan. Didalam pendidikan yang diterapkan juga mendapat pengaruh kebudayaan Turki khusunya pada zaman Dinasti Utsmaniyah. Seperti kitab-kitab pelajaran agama yang digunakan, pendidikan bahasa Turki serta panggilan yang digunakan di dalam pondok pesantren, seperti panggilan untuk para pengajar, para santri, sarana dan prasarana dan lain sebagainnya. hal-hal tersebut yang membedakan pondok pesantren Sulaimaniyah dengan Pondok Pesantren lain pada umumnya.  
Pondok Pesantren Sulaimaniyah telah bekerja sama dengan Kementrian Agama. Kementrian agama mengapresiasi pondok pesantren Sulaimaniyah sebagai pondok pesantren yang berasal dari Turki, namun mempunyai andil yang cukup besar terhadap muslim di Indonesia secara umum dan mahasiswa muslim di Yogyakarta secara khusus. Pondok Pesantren Sulaimaiyah memberikan pendidikan agama kepada para siswa/mahasiswa dan memberikan beasiswa pendidikan lanjutan ke Turki. Sejarah berdiri dan berkembangnya pondok pesantren Sulaimaniyah yang berasal dari Turki serta kontribusinya dalam pendidikan agama kepada pelajar/mahasiswa menarik untuk diteliti.

B.     Batasan dan Rumusan Masalah
Penelitian ini difokuskan pada latar belakang berdirnya Pondok pesantren Turki (Pondok Pesantren Sulaimaniyah), sejarah dan perkembanganPondok Pesantren Sulaimaniyah serta kontribusinya terhadap pendidikan agama mahasiwa di Sleman Yogyakarta. Batasan tahun penelitian ini adalah tahun 2007-2018. Dipilihnya tahun 2007 sebagai waktu awal penelitian merupakan tahun berdirinya Pondok Pesantren Sulaimaniyah. Sedangkan tahun 2018 merupakan tahun terkini keberangkatan santri Pondok Pesantren Sulaimaniyah ke Turki untuk menlanjutkan jenjang pendidikan agama yang lebih tinggi.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka peneliti membagi pembahasan dalam tiga rumusan masalah, yaitu:  :
1.      Mengapa Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta berdiri?
2.      Bagaimana sejarah dan perkembangan Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta?
3.      Bagaimana kontribusi pondok Pesantren Sulaimaniyah terhadap pendidikan agama para santri?

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta, sejarah perkembangan Pondok Pesantren Sulaimaniyah,serta kontribusi Pondok Pesantren Sulaimaniyah terhadap pendidikan agama mahasiswadi Sleman Yogyakarta.Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah diantaranya: memberikan sumbangsih dalam pengembangan keilmuan khususnya dalam bidang Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam serta pengembangan Historiografi Islam dan Historiografi Indonesia, sebagai bahan refrensi bagi para peneliti selanjutnya yang hendak meneliti tentang Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta.


D.    Tinjauan Pustaka
Untuk mengetahui apakah yang diteliti dalam karya ini sudah ada yang melakukan penelitian sebelumnya atau belum ada, maka diperlukan kajian penelitian terdahulu. Penelitian yang akan dilakukan ini merupakan pelengkap dari karya tulis sebelumnya tentang Pondok Pesantren Sulaimaniyah. Pembahasan khusus tentang sejarah perkembangan dan kontribusi Pondok Pesantren Sulaimaniyah belum ada yang menulis. Dari hasil tinjauan pada hasil penelitian sebelumnya, maka penulis telah menemukan karya ilmiah sejenis berupa skripsi yang membahas kegiatan keagamaan pondok pesantren Sulaimaniyah di Desa Karangasem Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta.
Skripsi yang ditulis oleh Amin Susilo, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2014 dengan judul “Tarekat dan Mahasiswa (Studi kasus Tareqat Naqsabandiyah di Asrama United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) di Yogyakarta. Di dalam skripsi yang ditulis oleh Amin Susilo ini membahas pengaruh Tariqat Naqsabandiyah terhadap mahasiswa di pondok pesantren Sulaimaniyah di Desa Karangasem Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta. Adapun United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) Yogyakarta adalah nama lain dari Pondok Pesantren Sulaimaniyah. Di dalam skripsi ini juga dijelaskan gambaran umum dari Pondok Pesantren Sulaimaniyah. Sejarah berdirinya pondok disebutkan pada sub bab, dan dijelaskan secara umum belum terperinci serta terbatas sampai tahun 2014. Perbedaan skripsi ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah pada objek penelitiannya. Skripsi amin susilo objek kajiannya adalah terkait Thariqat yang ada di pondok pesantren sulaimaniyah sedangkan penelitian ini pada sejarah dan perkembangan Pondok Pesantren.
Kemudian Skripsi yang ditulis oleh Roni Abdhul Ghani Rifai, mahasiswa Fakultas Ushuludin, jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul“Zikir Khafi Dalam Tarekat Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Sulaimaniyah (Resepsi Makna Terhadap Qs. Al-A’raf ayat 205)”. Skripsi ini membahas di dalamnya ajaran tarekat berupa dzikir. Ibadah zikir yang dilakukan oleh para santri mahasiswa yang ada di Pondok Pesantren Sulaimaniyah. Berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu pada objek kajian berupa sejarah perkembangan pondok pesantren serta kontribusinya terhadap pendidikan mahasiswa.

E.     Landasan Teori
Pada penelitian ini menggunkan pendekatan sosiologis yaitu pendekatan yang mengkaji tentang hubungan sosial antara individu yang satu dengan individu yang lain atau dengan kelompok. Ilmu sosiologi juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana peran dan pengaruh dari suatu institusi terhadap perkembangan komunitas yang mengintarinya.[5]Dengan pendekatan tersebut diharapkan mampu mempelajari kehidupan pelajar dan mahasiwa yang ada di Sleman Yogyakarta. Dengan pendekatan ini diharapkan pula dapat memerikan banyak informasi yang berkaitan dengan penelitian sejarah berdiri dan berkembangnya Pondok Pesantren Sulaimaniyah.
Dalam penelitian ini menggunakan teori Continuityand Change. Teori merupakan pedoman untuk mempermudah penelitian dan sebagai pegangan dasar bagi peneliti. Disamping itu, teori juga merupakan sumber bagi peneliti dalam memecahkan masalah penelitian.  Menurut Jhon Obert Voll, Continuity and Change adalah kesinambungan dan perubahan.[6]Dengan teori Continuity and Change diharapkan peneliti dapat menjelaskan berbagai perubahan-perubahan yang dialami oleh Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta secara berkesinambungan, sehingga dapat terlihat secara jelas perubahan yang terjadi mulai awal berdirinya yaitu berupa perubahan dari segi fisik maupun non fisik. Dengan demikian proses kesinambungan dan perubahan dapat dilihat. 

F.     Metode Penelitian
Metode merupakan sebuah cara prosedural untuk berbuat dan mengerjakan sesuatu dalam sebuah sistem yang teratur dan terencana.[7] Sesuai dengan pokok kajian, metode yang digunkan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode dalam studi sejarah merupakan seperangkat aturan dan prinsip sistematis dalam mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara sistematis.[8]
Terdapat empat persyaratan dalam metode sejarah, yaitu pengumpulan sumber (Heuristik), kritik sumber (Verifikasi), analisis (Interpretasi), dan penulisan sejarah (Historiografi).[9]

1.      Heuristik
Heuristik merupakan langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam rangka mencari sumber-sumber sejarah baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Usaha merekonstruksi masa lampau tidak mungkin dilakukan tanpa tersedianya sumber-sumber atau bukti-bukti sejarah.[10]Tahapan ini merupakan teknik atau cara memperoleh data. Data tertulis yang ditemukan dalam penelitian ini adalah skripsi yang membahas tentang Pondok Pesantren Sulaimaniyah serta arsip dan dokumen yang terdapat di Pondok Pesantren Sulaimaniyah.
             Selain data tertulis peneliti juga mengumpulkan data tidak tertulis yang diperoleh melalui wawancara. Wanwacara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur, yaitu dengan mempersipakan daftar pertanyaan terlebih dahulu. Narasumber yang peneliti wawancarai adalah Ketua Podok Pesantren Sulaimaniyah, Lukman Fauzi HE, para pengajar pondok pesantren Sulaimaniyah serta beberapa santri yang sudah tinggal lama di dalam pondok pesantren. Hasil wawancara akan menjadi sumber utama dalam melakukan penelitian ini.  
2.      Verifikasi
Tahap kedua yaitu verifikasi (kritik sumber), pada dasarnya verifikasi merupakan tahap yang dilakukan bersamaan dengan tahap awal yaitu heuristik, dalam praktiknya, banyak sejarawan yang melakukannya secara bersamaan.[11]Tahap ini dilakukan untuk memperoleh keabsahan sumber tentang otentisitas maupun kredibilitas sumber, yang dilakukan dengan cara melakukan kritik eksternal maupun internal.[12]
Sumber tidak tertulis, untuk melakukan kritik ekstern perlu diketahui posisi dan umur narasumber, kritik intern dilakukan dengan mengritisi atau membandingkan informasi yang disampaikan oleh narasumber dengan narasumber lain serta sumber tetulis. Peneliti melakukan wawancara kepada Lukman Fauzi HE, ketua Pondok Pesantren Sulaimaniyah, para penganjar dan para santri lama pondok pesantren sulaimaniyah.
Dalam sumber tertulis, peneliti akan melakukan kritik ekstern dan intern. Kritik ekstern dilakukan dengan cara identifikasi, eksplikasi, atribusi, dan kolasi. Peneliti akan mengkritisi sumber berdasarkan identifikasi penulis, kertas dan tinta yang digunakan. Kritik intern dilakukan dengan cara mengkritisi sumber atau membandingkannya dengan sumber lain. Dari sumber tertulis yang didapatkan, peneliti akan memabandingkan skripsi yang ditulis oleh Amin Susilo “Tarekat dan Mahasiswa (Studi kasus Tareqat Naqsabandiyah di Asrama United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) di Yogyakarta”, dengan skripsi Roni Abdhul Ghani Rifai “Zikir Khafi Dalam Tarekat Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Sulaimaniyah (Resepsi Makna Terhadap Qs. Al-A’raf ayat 205)” dan dengan dokumen dokumen yang terdapat di Pondok Pesantren Sulaimaniyah.
3.      Interpretasi
Interpretasi atau penafsiran persitiwa sejarah adalah juga disebut analisis sejarah. Berarti menguraikan peristiwa sejarah masa lampau. Analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta sejarah yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber sejarah yang telah terkumpul dan telah melalui tahap verifikasi kemudian ditafsirkan dengan menggunakan teori dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian.

4.      Historiografi 
Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam sebuah penelitian sejarah. Historiografi berarti penyususnan peristiwa sejarah yang didahului oleh penelitian terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu, atau dengan kata lain historiografi disini merupakan cara penulisan dan pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan.

G.    Sistematika Pembahasan
Agar lebih terarah dalam pembahasan penelitian ini, maka penulis membagi dalam beberapa bab agar mendapat hasil yang sistematis.
Bab I, Pendahuluan, yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan dan rumusan masalah, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian, sistematika pembahasan.
Bab II, menjelaskan tentang latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta
Bab III, menjelaskan sejarah perkembangan Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta dari masa ke masa
Bab IV, menjelaskan kontribusi Pondok Pesantren Sulaimaniyah di Sleman Yogyakarta terhadap pendidikan agaman para pelajar/mahasiswa.
Bab IV, Penutup, yang meliputi kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah penelitian, dan saran-saran yang sekirnya perlu dalam penelitian selanjutnya. 


DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Abdurrahman, Dudung. 2007.Metodologi Peneltian Sejarah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

A’la, Abdul. 2006. Pembaharuan Pesantren. Yogyakarta : PT LKIS Pelangi Aksara.

Daliman, A. 2012. Meode Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Dhofier, Zamahsyari. 1982.  Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES.

Hamid, Abd Rahman dan Muhammad Saleh Madjij. 2015.Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Kartodirjo, Sartono. 2016. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Madjid,M. Diendan Johan Wahyudhi. 2014. IlmuSejarah: SebuahPengantar. Jakarta: Kencana.


Steenbrink, Karel A. 1986. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern. Jakarta: LP3ES.

Sukanto. 1999.Kepemimpinan Kiai Dalam Pesantren. Jakarta : PT Pustaka LP3ES Indonesia.
  

DAFTAR ISI SEMENTARA

HALAMAN JUDUL
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I   : PENDAHULUAN
   A.    Latar Belakang Masalah
   B.     Rumusan Masalah
   C.     Tujuan dan Kegunaan
   D.    Tinjauan Pustaka
   E.     Kerangka Teori
   F.      Metode Penelitian
   G.    Sistematika Pembahasan

BAB II  : PONDOK PESANTREN TURKI (SULAIMANIYAH)
   A.    Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Sulaimaniyah
1.      Struktur Organisasi
2.      Sarana dan Prasarana
3.      Sistem Pendidikan
   B.     Tokoh Pendiri Pondok Pesantren Sulaimaniyah
   C.     Tujuan dan Visi-misi Pondok Pesantren Sulaimaniyah

BAB III : PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN TURKI(SULAIMANIYAH)
   A.    Bidang Pendidikan
   B.     Bidang Dakwah 
   C.     Bidang Sosial Keagamaan

BAB IV : KONTRIBUSI PESANTREN TURKI (SULAIMANIYAH)
   A.    Pendidikan Agama bagi pelajar dan mahasiswa
   B.     Beasiswa pendidikan agama pelajar dan mahasiswa ke Turki

BAB V : PENUTUP
   A.    Kesimpulan
   B.     Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


Baca Juga: Eksistensi Komunitas Arab di Yogyakarta 1988-2018 M


[1]Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern  (Jakarta: LP3ES, 1986), hlm. 22.
[2]Zamahsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 18.
[3]Abdul A’la, Pembaharuan Pesantren(Yogyakarta : PT LKIS Pelangi Aksara, 2006), hlm.15.
[4]Sukanto, Kepemimpinan Kiai Dalam Pesantren (Jakarta : PT Pustaka LP3ES Indonesia, 1999), hlm. 1-2.
[5]SartonoKartodirjo, PendekatanIlmuSosiologideganMetodologiSejarah(Jararta: Gramedia, 1993), hlm. 4.

[6]Jhon Obert Voll, Politik Islam : Kelangsungan dan Perubahan di Dunia Modern, terj Ajat Sudrajat (Yogyakarta : Titian Iaihi Pers, 1997).
[7]M. DienMadjiddan Johan Wahyudhi, IlmuSejarah: SebuahPengantar (Jakarta: Kencana, 2014), hlm. 217.

[8]Abd Rahman Hamid dan Muhammad Saleh Madjij, PengantarIlmuSejarah (Yogyakarta: PenerbitOmbak, 2015), hlm. 42.

[9]Kuntowijoyo, PengantarIlmuSejarah(Yogyakarta: BentengPustaka, 2007), hlm. 89.

[10]A. Daliman, Metode Penelitian Sejarah (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm. 52.

[11]Ibid., hlm. 64.

[12]Dudung Abdurrahman, Metodologi Peneltian Sejarah (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 68.

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...