Tradisi Puasa Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus Jawa Tengah (Studi Living Hadis)
![]() |
| Tradisi Puasa Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus Jawa Tengah (Studi Living Hadis), encrypted-tbn0.gstatic.com |
Sumber ajaran
Islam yang pokok adalah al-Qur’an dan hadis. Keduanya memiliki peranan yang
penting dalam kehidupan umat islam. Walaupun terdapat perbedaan dari segi
penafsiran dan aplikasi, namun setidaknya ulama sepakat bahwa keduanya
dijadikan rujukan. Dari keduanya ajaran islam diambil dan dijadikan pedoman
utama. Oleh karena itu, kajian-kajian terhadapnya tak akan pernah keruh bahkan
terus berjalan dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat islam.[1]
Terkait erat dengan kebutuhan dan
perkembangan masyarakat yang semakin kompleks dan diiringi adanya keinginan
untuk melaksanakan ajaran islam yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi
SAW, maka hadis menjadi suatu yang hidup di masyarakat. Istilah yang lazim
dipakai untuk memaknai hal tersebut adalah living hadis.[2][3]
Di Indonesia, frasa living hadis pada dasarnya merupakan frasa yang dikembangkan oleh
dosen Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui buku Metodologi Penelitian Living al-Qur’an dan
Hadis. Akan tetapi apabila dilihat ke belakang, istilah living hadis telah
dipopulerkan oleh Barbara Mercalf melalui artikelnya, “Living Hadith in
Tablighi Jamaah”. Jika ditelusuri lebih jauh, terma ini merupakan kelanjutan dari
istilah living sunnah, dan lebih jauh
lagi adalah praktik sahabat dan tabiin dengan tradisi Madinah yang digagas oleh
Imam Malik.[4]
Belakangan ini, kajian living hadis semakin berkembang, seperti tradisi mandi
balimau di Masyarakat Kuntu[5]
dan tradisi Kupatan di Desa Durenan[6]
Salah satu tradisi
praktik yang berdasarkan hadis ialah puasa. Dalam kitab Sahih Bukhari bab puasa memuat 110 hadis. Adapun dalam kitab Sahih Muslim terdapat 208 hadis.
Pembahasan dalam bab ini sangat beragam, dari mulai wajibnya puasa, hingga
dalil puasa sunnah.[7]
Adapun kajian living hadis yang pernah dilakukan mengenai puasa ialah Tradisi
Puasa Senin-Kamis di Kampus Pekaten, Kotagede.[8]
Salah satu praktik
puasa yang diamalkan sebagian oleh umat islam di Indonesia adalah pratik puasa
dalail khairat. Puasa dalail khairat dapat dikatakan sebagai puasa yang berbeda
dengan puasa wajib bahkan puasa sunnah pada umumnya. Puasa dalail khairat
adalah puasa yang dilaksanakan sepanjang tahun dalam kurun waktu 3 tahun
berturut-turut. Apabila di tengah jalan terputus, maka harus mengulang dari
awal. Selain itu, orang yang berpuasa dalail juga diharuskan untuk berdzikir
dengan bacaan yang terdapat di kitab Dalail
Khairat karya Syaikh Abu Abdillah Muhamad bin Sulaiman al-Jazuli. Jadi
pengamalan puasanya harus dibarengi dengan dzikir khusus setiap harinya.
Aturan lain yang
terdapat dalam puasa ini yakni seseorang yang akan menjalankan puasa Dalail
Khairat harus mendapatkan izin dari seorang guru spiritual atau yang disebut mujiz. Mujiz merupakan seorang mursyid atau orang yang telah lama
menjalankan puasa dalail khairat dan mendapat ijin dari gurunya untuk
meneruskan pendakwahan puasa Dalail al Khairat.[9]
Pengamalan puasa dalail khairat ini telah dilakukan oleh banyak masyarakat di
berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, praktik puasa dalail ini juga banyak
dilakukan oleh para santri di pondok pesantren.
Pondok Pesantren
Darul Falah Jekulo merupakan salah satu pondok pesantren di kabupaten Kudus
yang menjadi tujuan bagi orang-orang dari berbagai daerah untuk meminta ijazah
puasa dalail. Pesantren yang didirikan oleh KH. Ahmad Basyir ini ramai
didatangi oleh orang-orang setiap tanggal 16 Maulud untuk meminta ijazah dalail
khairat sekaligus memperingati haul Abu Abdillah Muhammad Ibn Sulaiman Al-Jazuli,
pengarang kitab Dalail Khairat.[10]
Pengamalan tradisi puasa dalail di pesantren
Darul Falah Jekulo Kudus menjadi salah satu hal yang menarik untuk diteliti.
Mayoritas santri di pondok pesantren ini mengamalkan tradisi puasa dalail
khairat. Kebanyakan merupakan santri yang hanya mondok dan belajar di pondok
pesantren, adapun santri yang tinggal di pondok dan bersekolah jarang yang
mengamalkan puasa dalail khairat ini. Salah satunya adalah Muthiatul Ula yang
telah menyelesaikan puasa dalail khairat selama 3 tahun. Dia menyelesaikan
puasa sambil bersekolah dan menempuh studi di bangku kuliah. Dalam
mempraktikkan puasa dalail khairat, dia mengatakan bahwa masih jarang dibahas
mengenai dalil atau dasar dalam melaksanakan puasa. Abah-panggilan kepada pengasuh ponpes Darul Falah, hanya
menjelaskan dasar puasa dalail khairat ini apabila ada yang bertanya.[11]
Dalam tradisi
puasa dalail khairat ini, setiap orang memiliki motivasi dan tujuan bagi
masing-masing individu. Praktik puasa dalail khairat yang telah dilaksanakan
dalam sebuah komunitas dapat dianalisis untuk mengetahui motif serta tujuan
puasa dalail khairat. Analisis sosial Max Weber digunakan untuk mengetahui
motif dan tujuan para pelaku tradisi puasa Dalail Khairat. Disamping itu,
kajian living hadis merupakan kajian yang berbasis pada bagaimana resepsi
masyarakat terhadap teks yang ada di balik praktik. Penelitian living hadis ini
juga menitikberatkan terhadap kajian transmisi pengetahuan atas sebuah praktik
tertentu.[12]
Oleh karena itu resepsi pelaku puasa dalail khairat terhadap teks hadis dan
transmisi pengetahuan perlu diketahui melalui penelitian ini.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
praktik tradisi puasa Dalail Khairat
di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus?
2. Bagaimana
motif dan tujuan praktik tradisi puasa Dalail
Khairat Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus dalam analisis teori
sosial Max Weber?
3. Bagaimana
resepsi dan transmisi teks hadis mengenai tradisi puasa Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus?
C. Tujuan
dan Kegunaan
1. Untuk
mengetahui praktik puasa Dalail Khairat
di PP Darul Falah Jekulo Kudus
2. Untuk
mengetahui motif dan tujuan praktik tradisi puasa Dalail Khairat melalui analisis tindakan sosial Max Weber.
3. Untuk
mengetahui resepsi dan transmisi teks hadis mengenai tradisi puasa
Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus
D. Telaah
Pustaka
Penelitian mengenai puasa dalail khairat sejauh ini belum
banyak dilakukan. Fokus penelitian puasa Dalail Khairat ini antara lain dari
segi psikologi dan sosial-budaya serta ekonomi. Berikut ini beberapa buku,
jurnal, maupun skripsi yang berkaitan dengan puasa dalail khairat.
Penjelasan dalail khairat secara umum dapat ditemukan
dalam beberapa buku, antara lain Kedahsyatan
Puasa: Jadikan Hidup Penuh Berkah karya M. Syukron Maksum, Keajaiban Puasa karya Akhmad Iqbal, Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa karya
Nur Solikhin, merupakan beberapa buku yang di dalamnya mengulas tentang puasa
dalail. Diantaranya dijelaskan mengenai puasa dalail dan keajaiban puasa
dalail.
Tulisan mengenai sejarah dan tradisi puasa dalail khairat
juga dapat ditemui di situs-situs website diantaranya “Antara Tirakat, Derajat
dan Dala’il Al-Khairat” yang dimuat dalam majalahlangitan.com. Tulisan ini
menjelaskan tentang puasa dalail sebagai upaya tirakat dan sebagai madrasah
moral serta manajemen nafsu. Selain itu juga terdapat dalam
www.pesantrenkaligrafipskq.com dengan judul “Tradisi Puasa
Dalail Qur’an dan Dalail Khairat
(Sholawat) Santri-santri PSKQ Modern” yang menerangkan secara umum tradisi
puasa dalail di PSKQ Modern.
Skripsi Kontrol Diri
Orang yang Melakukan Puasa Dalail Khairat di Desa Jekulo, Jekulo Kabupaten
Kudus yang ditulis oleh Muhammad Ismail membahas puasa Dalail Khairat dari
aspek psikologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi, dengan menggunakan metode purposif sampling. Hasil dari
penelitian ini menggambarkan orang yang menjalankan puasa Dalail Khairat
memiliki kontrol diri yang baik dengan orientasi hidup keagamaan.
Mystical Experience dalam Praksis Dala’il
Qur’an Sebagai Penanggulangan Degradasi Moral Santri Darul Falah Jekulo Kudus dalam
Jurnal Esoterik Stain Kudus
Vol. 2 No. 2 Desember 2017 ditulis oleh
Anis Fitriyah dan Lathifatun Na’mah. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian
bahwa puasa dalail Qur’an memberi banyak faidah yang biasa disebut dengan
mystical experience, dengan demikian degradasi moral dapat ditanggulangi.
Tulisan Masturin yang berjudul Tarekat Dalailul Khairat dalam Perspektif Sosial Budaya dalam
Jurnal Kontemplasi November 2013 merupakan salah satu penelitian mengenai
Dalail Khairat dari segi Tarekatnya berdasarkan sosial-budaya. Penelitian ini
merupakan studi kasus perilaku sosial pengikutnya di Pondok Pesantren Darul
Falah Jekulo Kudus. Hasilnya bahwa tarekat Dalailul Khairat ini dapat membentuk
perilaku baik bagi pengikutnya, antara lain lahirnya sifat rajin, sabar,
qanaah, tasamuh, istiqamah, menaati peraturan, jujur dan kerja keras.
Tulisan
Abdul Jalil dalam Jurnal Inferensi Juni 2011 yang berjudul Organisasi Dala’il Khairat (Studi Pengamal Dala’il Khairat KH. Ahmad
Basyir Kudus) juga
merupakan salah satu penelitian terkait
dala’il khairat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh spirit
dala’il khairat terhadap etos kerja dan peningkatan ekonomi santri. Selain itu,
kajian ini juga berupaya melihat proses-proses yang telah dijalani para
pengamal dalam mengembangkan usaha demi meraih kesuksesan di bidang ekonomi.
Modal Sosial Pelaku
Dalail Khairat yang dimuat dalam Jurnal Dialog, vol. 3 no. 1 Juni 2015
merupakan tulisan Abdul Jalil tentang dalail khairat dan kaitannya dengan
sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apa modal
sosial yangdimiliki pengamal Dala’il
Khairat untuk meraih
kesuksesan di bidang
ekonomi. Metode penelitian
yang digunakan adalah
kualitatif. Penelitian dilakukan
di Pesantren Darul
Falah Jekulo Kudus. Selain
itu juga para
pengamal di luar
pesantren yang umumnya
sudah berumah tangga
dan mengembangkan usaha bisnisnya, baik di Jawa Tengah, Yogyakarta,
maupun Kuningan Jawa Barat.
Adapun penelitian living hadis mengenai puasa ditulis oleh
Saifuddin Zuhri dengan judul Tradisi
Puasa Senin Kamis di Kampung Pekanten, Kotagede. Tulisan ini dimuat dalam
Proceeding Annual Conference for Muslim Scholars (ANCOMS) di www.kopertais4.or.id/ancoms. Tulisan ini berupaya untuk menggambarkan
tradisi keagamaan yang khas di kawasan kampung Pekaten, yang mampu menciptakan
bentuk solidaritas sosial yang tinggi pada sesama warga, menggunakan pendekatan
Sosiologi Pengetahuan Peter Berger.
Tradisi Riyadah
Puasa Daud dalam Menghafal al-Qur’an di Pondok Pesantren alSholihah Jonggrangan
Sumberadi Mlati Sleman yang ditulis oleh Muchammad Imron juga merupakan
salah satu contoh skripsi yang mengangkat kajian living hadis berkaitan dengan
tradisi puasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi dari
pelaksanaan riyadhah puasa daud dalam menghafal al-Qur’an, baik dari segi
psikologis maupun sosiologis. Puasa Daud dilakukan melalui ijazah dan terbukti
mendukung proses tahfidz, seperti menghindarkan maksiat, dan mengajarkan
disiplin.
Adapun penelitian living hadis yang menggunakan analisis
sosial Max Weber ditulis oleh Alis Muhlis dan Norkholis dengan judul Analisis Tindakan Sosial Max Weber dalam
Tradisi Pembacaan Kitab Mukhtasar al-Bukhari. Penelitian ini digunakan
untuk menganalisis tradisi pembacaan kitab Mukhtashar al-Bukhari di Pondok
Pesantren at-Taqwa Yogyakarta yang dilakukan selama satu bulan penuh pada bulan
Rajab.
E. Kerangka Teori
Kerangka teori sosial yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teori tindakan sosial Max Weber. Teori tindakan sosial Max Weber
berorientasi pada motif dan tujuan pelaku. Dengan menggunakan teori ini kita
dapat memahami perilaku setiap individu maupun kelompok bahwa masing-masing
memiliki motif dan tujuan yang berbeda terhadap sebuah tindakan yang dilakukan.
Teori ini bisa digunakan untuk memahami tipe-tipe perilaku tindakan setiap
individu maupun kelompok. Dengan memahami perilaku setiap individu maupun
kelompok, sama halnya kita telah menghargai dan memahami alasan-alasan mereka
dalam melakukan suatu tindakan. Sebagaimana diungkapkan oleh Weber, cara
terbaik untuk memahami berbagai kelompok adalah menghargai bentuk-bentuk
tipikal tindakan yang menjadi ciri khasnya. Sehingga kita dapat memahami
alasan-alasan mengapa warga masyarakat tersebut bertindak.
Weber melakukan klasifikasi dari empat tipe tindakan yang
dibedakan dalam konteks motif para pelakunya yaitu: tindakan tradisional,
tindakan afektif, rasionalitas instrumental dan rasionalitas nilai. Dari
keempat klasifikasi tindakan tersebut, selanjutnya akan penulis gunakan untuk
menganalisis fenomena pada tradisi puasa dalail khairat di Pondok Pesantren
Darul Falah Jekulo Kudus, untuk memahami motif dan tujuan dari para pelaku
tradisi yang sampai dengan saat ini masih tetap menjaga dan melestarikannya.
Adapun penjabaran mengenai keempat klasifikasi tipe
tindakan, yaitu sebagai berikut: Pertama, Tindakan Tradisional, yaitu tindakan
yang ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar secara turun
temurun. Kedua, Tindakan Afektif, merupakan tindakan yang ditentukan oleh
kondisi-kondisi dan orientasiorientasi emosional si aktor. Ketiga, Rasionalitas
Instrumental, adalah tindakan yang ditujukan pada pencapaian tujuan-tujuan yang
secara rasional diperhitungkan dan diupayakan sendiri oleh aktor yang
bersangkutan. Keempat, Rasionalitas Nilai, yaitu tindakan rasional berdasarkan
nilai, yang dilakukan untuk alasan-alasan dan tujuantujuan yang ada kaitanya
dengan nilai-nilai yang diyakini secara personal tanpa memperhitungkan
prospek-prospek yang ada kaitanya dengan berhasil atau gagalnya tindakan
tersebut.[13]
Dalam penelitian ini juga dianalisa mengenai resepsi
pelaku terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan puasa dalail serta transmisi
pengetahuan atas praktik puasa dalail khairat yang dijelaskan dalam desain
penelitian living hadis.[14]
F. Metode
Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan ini
adalah penelitian lapangan (field
research) yakni penelusuran langsung ke lapangan atau objek penelitian
untuk menggali informasi terkait dengan tradisi puasa dalail.[15]
Adapun dalam pengumpulan data,
menggunakan beberapa metode antara lain wawancara, observasi, dan
dokumentasi.Yang dimaksud dengan wawancara yakni bertanya langsung kepada
responden untuk mendapatkan informasi. Wawancara ini dilakukan melalui sosial
media (SMS) dalam preliminary researsch
dan berkunjung langsung ke pondok pesantren Darul Falah Jekulo Kudus. Selain
wawancara peneliti juga menggunakan metode observasi untuk mengamati langsung.
Pengamatan ini dilakukan di tempat kejadian dimana pelaku melaksanakan tradisi
ini yakni di pondok pesantren Darul Falah Jekulo Kudus. Adapun metode
dokumentasi adalah metode mencari data mengenai variabel berupa catatan, buku
panduan, serta buku-buku yang berkaitan.[16][17]
G. Sistematika
Pembahasan
Berikut ini merupakan sistematika pembahasan dalam skripsi
agar pembahasan dalam penelitian ini lebih terarah :
Bab pertama, berisi latar belakang penelitian, tujuan
penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika
pembahasan.
Bab kedua, akan dipaparkan tentang sejarah Pondok
Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, tradisi puasa dalail, dan varian puasa
dalail di pondok pesantren.
Bab ketiga, berisi sejarah puasa dalail khairat di pondok
pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, praktik puasa dalail di pondok, dan resepsi
serta transmisi hadis-hadis yang berkaitan dengan puasa dalail.
Bab keempat, adalah
observasi dan analisis data.
Bab kelima adalah penutup, yakni kesimpulan
serta saran-saran.
[1] Suryadi dan M. Alfatih, Metodologi Penelitian Hadis,
(Yogyakarta : Teras, 2009), hlm. 1
[2] Sahiron Syamsuddin, dkk, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan
Hadis, (Yogyakarta: Teras,
[3]
), hlm. 106
[4]
Saifuddin Zuhri, “Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi” dalam Jurnal
Living Hadis Vol. 1
No. 1 Mei 2016.hlm. 179
[5] Donna Kahfi MA. Iballa, “Tradisi Mandi Balimau di Masyarakat
Kuntu: Living Hadis sebagai Bukti Sejarah”, dalam Jurnal Living Hadis vol. 1
no. 2, Oktober 2016.
[6] Wildan Rijal Amin, “Living Hadis dalam Fenomena Tradisi Kupatan di Desa
Durenan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek”, Tesis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2017.
[8] Saifuddin Zuhri, “Living
Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi” dalam Jurnal Living Hadis Vol. 1
No. 1 Mei 2016.hlm. 185
[9] Muhammad Ismail, “Kontrol
Diri Orang yang Melakukan Puasa Dalail Khairat di Desa Jekulo,
Jekulo Kabupaten Kudus”. Skripsi Fakultas Ilmu
Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, 2016. hlm. 7-8
[10] “Inilah Cerita Dalail
Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Kudus yang Termasyhur”, dalam www.seputarkudus.com
diakses 20 April 2018
[11]
Wawancara dengan Muthiatul Ula, santri pondok pesantren Darul Falah Kudus
[12] Saifuddin Zuhri, Subkhani
Kusuma Dewi, Living Hadis : Praktik,
Resepsi, Teks dan Transmisi, Yogyakarta: Q-Media, 2018, hlm. 112.
[13] Alis Mukhlis, dkk. “Analisis
Tindakan Sosial Max Weber dalam Tradisi Pembacaan Kitab
Mukhtasar al-Bukhari” dalam Jurnal Living Hadis vol. 1 no. 2 Oktober 2016,
hlm. 248-249
[14] Saifuddin Zuhri, Subkhani
Kusuma Dewi, Living Hadis : Praktik,
Resepsi, Teks dan Transmisi, Yogyakarta: Q-Media, 2018, hlm. 112
[15] Maryaeni, Metode Penelitian Kebudayaan, (Jakarta,
PT. Bumi Angkasa, 2005), hlm. 25
[16] Imam Suprayogo, Metodologi Penelitian Sosial Agama, (Bandung,
PT Remaja Rosdakarya,
[17]
) hlm. 170

Comments
Post a Comment