Skip to main content

Tradisi Puasa Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus Jawa Tengah (Studi Living Hadis)

Tradisi Puasa Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus Jawa Tengah (Studi Living Hadis), encrypted-tbn0.gstatic.com

Sumber ajaran Islam yang pokok adalah al-Qur’an dan hadis. Keduanya memiliki peranan yang penting dalam kehidupan umat islam. Walaupun terdapat perbedaan dari segi penafsiran dan aplikasi, namun setidaknya ulama sepakat bahwa keduanya dijadikan rujukan. Dari keduanya ajaran islam diambil dan dijadikan pedoman utama. Oleh karena itu, kajian-kajian terhadapnya tak akan pernah keruh bahkan terus berjalan dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat islam.[1]
Terkait erat dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat yang semakin kompleks dan diiringi adanya keinginan untuk melaksanakan ajaran islam yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi SAW, maka hadis menjadi suatu yang hidup di masyarakat. Istilah yang lazim dipakai untuk memaknai hal tersebut adalah living hadis.[2][3]
Di Indonesia, frasa living hadis pada dasarnya merupakan frasa yang dikembangkan oleh dosen Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui buku Metodologi Penelitian Living al-Qur’an dan Hadis. Akan tetapi apabila dilihat ke belakang, istilah living hadis telah dipopulerkan oleh Barbara Mercalf melalui artikelnya, “Living Hadith in Tablighi Jamaah”. Jika ditelusuri lebih jauh, terma ini merupakan kelanjutan dari istilah living sunnah, dan lebih jauh lagi adalah praktik sahabat dan tabiin dengan tradisi Madinah yang digagas oleh Imam Malik.[4] Belakangan ini, kajian living hadis semakin berkembang, seperti tradisi mandi balimau di Masyarakat Kuntu[5] dan tradisi Kupatan di Desa Durenan[6]
Salah satu tradisi praktik yang berdasarkan hadis ialah puasa. Dalam kitab Sahih Bukhari bab puasa memuat 110 hadis. Adapun dalam kitab Sahih Muslim terdapat 208 hadis. Pembahasan dalam bab ini sangat beragam, dari mulai wajibnya puasa, hingga dalil puasa sunnah.[7] Adapun kajian living hadis yang pernah dilakukan mengenai puasa ialah Tradisi Puasa Senin-Kamis di Kampus Pekaten, Kotagede.[8]   
Salah satu praktik puasa yang diamalkan sebagian oleh umat islam di Indonesia adalah pratik puasa dalail khairat. Puasa dalail khairat dapat dikatakan sebagai puasa yang berbeda dengan puasa wajib bahkan puasa sunnah pada umumnya. Puasa dalail khairat adalah puasa yang dilaksanakan sepanjang tahun dalam kurun waktu 3 tahun berturut-turut. Apabila di tengah jalan terputus, maka harus mengulang dari awal. Selain itu, orang yang berpuasa dalail juga diharuskan untuk berdzikir dengan bacaan yang terdapat di kitab Dalail Khairat karya Syaikh Abu Abdillah Muhamad bin Sulaiman al-Jazuli. Jadi pengamalan puasanya harus dibarengi dengan dzikir khusus setiap harinya. 
Aturan lain yang terdapat dalam puasa ini yakni seseorang yang akan menjalankan puasa Dalail Khairat harus mendapatkan izin dari seorang guru spiritual atau yang disebut mujiz. Mujiz merupakan seorang mursyid atau orang yang telah lama menjalankan puasa dalail khairat dan mendapat ijin dari gurunya untuk meneruskan pendakwahan puasa Dalail al Khairat.[9] Pengamalan puasa dalail khairat ini telah dilakukan oleh banyak masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, praktik puasa dalail ini juga banyak dilakukan oleh para santri di pondok pesantren.
Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo merupakan salah satu pondok pesantren di kabupaten Kudus yang menjadi tujuan bagi orang-orang dari berbagai daerah untuk meminta ijazah puasa dalail. Pesantren yang didirikan oleh KH. Ahmad Basyir ini ramai didatangi oleh orang-orang setiap tanggal 16 Maulud untuk meminta ijazah dalail khairat sekaligus memperingati haul Abu Abdillah Muhammad Ibn Sulaiman Al-Jazuli, pengarang kitab Dalail Khairat.[10]
Pengamalan tradisi puasa dalail di pesantren Darul Falah Jekulo Kudus menjadi salah satu hal yang menarik untuk diteliti. Mayoritas santri di pondok pesantren ini mengamalkan tradisi puasa dalail khairat. Kebanyakan merupakan santri yang hanya mondok dan belajar di pondok pesantren, adapun santri yang tinggal di pondok dan bersekolah jarang yang mengamalkan puasa dalail khairat ini. Salah satunya adalah Muthiatul Ula yang telah menyelesaikan puasa dalail khairat selama 3 tahun. Dia menyelesaikan puasa sambil bersekolah dan menempuh studi di bangku kuliah. Dalam mempraktikkan puasa dalail khairat, dia mengatakan bahwa masih jarang dibahas mengenai dalil atau dasar dalam melaksanakan puasa. Abah-panggilan kepada pengasuh ponpes Darul Falah, hanya menjelaskan dasar puasa dalail khairat ini apabila ada yang bertanya.[11]
Dalam tradisi puasa dalail khairat ini, setiap orang memiliki motivasi dan tujuan bagi masing-masing individu. Praktik puasa dalail khairat yang telah dilaksanakan dalam sebuah komunitas dapat dianalisis untuk mengetahui motif serta tujuan puasa dalail khairat. Analisis sosial Max Weber digunakan untuk mengetahui motif dan tujuan para pelaku tradisi puasa Dalail Khairat. Disamping itu, kajian living hadis merupakan kajian yang berbasis pada bagaimana resepsi masyarakat terhadap teks yang ada di balik praktik. Penelitian living hadis ini juga menitikberatkan terhadap kajian transmisi pengetahuan atas sebuah praktik tertentu.[12] Oleh karena itu resepsi pelaku puasa dalail khairat terhadap teks hadis dan transmisi pengetahuan perlu diketahui melalui penelitian ini.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana praktik tradisi puasa Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus?
2.      Bagaimana motif dan tujuan praktik tradisi puasa Dalail Khairat Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus dalam analisis teori sosial Max Weber?
3.      Bagaimana resepsi dan transmisi teks hadis mengenai tradisi puasa Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus?

C.     Tujuan dan Kegunaan
1.      Untuk mengetahui praktik puasa Dalail Khairat di PP Darul Falah Jekulo Kudus 
2.      Untuk mengetahui motif dan tujuan praktik tradisi puasa Dalail Khairat melalui analisis tindakan sosial Max Weber.
3.      Untuk mengetahui resepsi dan transmisi teks hadis mengenai tradisi puasa
Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus

         D. Telaah Pustaka             
Penelitian mengenai puasa dalail khairat sejauh ini belum banyak dilakukan. Fokus penelitian puasa Dalail Khairat ini antara lain dari segi psikologi dan sosial-budaya serta ekonomi. Berikut ini beberapa buku, jurnal, maupun skripsi yang berkaitan dengan puasa dalail khairat.
Penjelasan dalail khairat secara umum dapat ditemukan dalam beberapa buku, antara lain Kedahsyatan Puasa: Jadikan Hidup Penuh Berkah karya M. Syukron Maksum, Keajaiban Puasa karya Akhmad Iqbal, Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa karya Nur Solikhin, merupakan beberapa buku yang di dalamnya mengulas tentang puasa dalail. Diantaranya dijelaskan mengenai puasa dalail dan keajaiban puasa dalail.
Tulisan mengenai sejarah dan tradisi puasa dalail khairat juga dapat ditemui di situs-situs website diantaranya “Antara Tirakat, Derajat dan Dala’il Al-Khairat” yang dimuat dalam majalahlangitan.com. Tulisan ini menjelaskan tentang puasa dalail sebagai upaya tirakat dan sebagai madrasah moral serta manajemen nafsu. Selain itu juga terdapat dalam www.pesantrenkaligrafipskq.com dengan judul “Tradisi Puasa
Dalail Qur’an dan Dalail Khairat (Sholawat) Santri-santri PSKQ Modern” yang menerangkan secara umum tradisi puasa dalail di PSKQ Modern. 
Skripsi Kontrol Diri Orang yang Melakukan Puasa Dalail Khairat di Desa Jekulo, Jekulo Kabupaten Kudus yang ditulis oleh Muhammad Ismail membahas puasa Dalail Khairat dari aspek psikologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, dengan menggunakan metode purposif sampling. Hasil dari penelitian ini menggambarkan orang yang menjalankan puasa Dalail Khairat memiliki kontrol diri yang baik dengan orientasi hidup keagamaan.
Mystical Experience dalam Praksis Dala’il Qur’an Sebagai Penanggulangan Degradasi Moral Santri Darul Falah Jekulo Kudus dalam Jurnal Esoterik Stain Kudus
Vol. 2 No. 2 Desember 2017 ditulis oleh Anis Fitriyah dan Lathifatun Na’mah. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian bahwa puasa dalail Qur’an memberi banyak faidah yang biasa disebut dengan mystical experience, dengan demikian degradasi moral dapat ditanggulangi.
Tulisan Masturin yang berjudul Tarekat Dalailul Khairat dalam Perspektif Sosial Budaya dalam Jurnal Kontemplasi November 2013 merupakan salah satu penelitian mengenai Dalail Khairat dari segi Tarekatnya berdasarkan sosial-budaya. Penelitian ini merupakan studi kasus perilaku sosial pengikutnya di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus. Hasilnya bahwa tarekat Dalailul Khairat ini dapat membentuk perilaku baik bagi pengikutnya, antara lain lahirnya sifat rajin, sabar, qanaah, tasamuh, istiqamah, menaati peraturan, jujur dan kerja keras.
Tulisan Abdul Jalil dalam Jurnal Inferensi Juni 2011 yang berjudul Organisasi Dala’il Khairat (Studi Pengamal Dala’il Khairat KH. Ahmad Basyir Kudus) juga
merupakan salah satu penelitian terkait dala’il khairat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh spirit dala’il khairat terhadap etos kerja dan peningkatan ekonomi santri. Selain itu, kajian ini juga berupaya melihat proses-proses yang telah dijalani para pengamal dalam mengembangkan usaha demi meraih kesuksesan di bidang ekonomi.
Modal Sosial Pelaku Dalail Khairat yang dimuat dalam Jurnal Dialog, vol. 3 no. 1 Juni 2015 merupakan tulisan Abdul Jalil tentang dalail khairat dan kaitannya dengan sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apa modal sosial yangdimiliki  pengamal  Dala’il  Khairat  untuk  meraih  kesuksesan  di  bidang  ekonomi. Metode  penelitian yang  digunakan  adalah  kualitatif.  Penelitian  dilakukan  di  Pesantren  Darul  Falah  Jekulo  Kudus. Selain  itu  juga  para  pengamal  di  luar  pesantren  yang  umumnya  sudah  berumah  tangga  dan mengembangkan usaha bisnisnya, baik di Jawa Tengah, Yogyakarta, maupun Kuningan Jawa Barat. 
Adapun penelitian living hadis mengenai puasa ditulis oleh Saifuddin Zuhri dengan judul Tradisi Puasa Senin Kamis di Kampung Pekanten, Kotagede. Tulisan ini dimuat dalam Proceeding Annual Conference for Muslim Scholars (ANCOMS) di www.kopertais4.or.id/ancoms. Tulisan ini berupaya untuk menggambarkan tradisi keagamaan yang khas di kawasan kampung Pekaten, yang mampu menciptakan bentuk solidaritas sosial yang tinggi pada sesama warga, menggunakan pendekatan Sosiologi Pengetahuan Peter Berger.
Tradisi Riyadah Puasa Daud dalam Menghafal al-Qur’an di Pondok Pesantren alSholihah Jonggrangan Sumberadi Mlati Sleman yang ditulis oleh Muchammad Imron juga merupakan salah satu contoh skripsi yang mengangkat kajian living hadis berkaitan dengan tradisi puasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi dari pelaksanaan riyadhah puasa daud dalam menghafal al-Qur’an, baik dari segi psikologis maupun sosiologis. Puasa Daud dilakukan melalui ijazah dan terbukti mendukung proses tahfidz, seperti menghindarkan maksiat, dan mengajarkan disiplin.
Adapun penelitian living hadis yang menggunakan analisis sosial Max Weber ditulis oleh Alis Muhlis dan Norkholis dengan judul Analisis Tindakan Sosial Max Weber dalam Tradisi Pembacaan Kitab Mukhtasar al-Bukhari. Penelitian ini digunakan untuk menganalisis tradisi pembacaan kitab Mukhtashar al-Bukhari di Pondok Pesantren at-Taqwa Yogyakarta yang dilakukan selama satu bulan penuh pada bulan Rajab. 
E. Kerangka Teori
Kerangka teori sosial yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tindakan sosial Max Weber. Teori tindakan sosial Max Weber berorientasi pada motif dan tujuan pelaku. Dengan menggunakan teori ini kita dapat memahami perilaku setiap individu maupun kelompok bahwa masing-masing memiliki motif dan tujuan yang berbeda terhadap sebuah tindakan yang dilakukan. Teori ini bisa digunakan untuk memahami tipe-tipe perilaku tindakan setiap individu maupun kelompok. Dengan memahami perilaku setiap individu maupun kelompok, sama halnya kita telah menghargai dan memahami alasan-alasan mereka dalam melakukan suatu tindakan. Sebagaimana diungkapkan oleh Weber, cara terbaik untuk memahami berbagai kelompok adalah menghargai bentuk-bentuk tipikal tindakan yang menjadi ciri khasnya. Sehingga kita dapat memahami alasan-alasan mengapa warga masyarakat tersebut bertindak.
Weber melakukan klasifikasi dari empat tipe tindakan yang dibedakan dalam konteks motif para pelakunya yaitu: tindakan tradisional, tindakan afektif, rasionalitas instrumental dan rasionalitas nilai. Dari keempat klasifikasi tindakan tersebut, selanjutnya akan penulis gunakan untuk menganalisis fenomena pada tradisi puasa dalail khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, untuk memahami motif dan tujuan dari para pelaku tradisi yang sampai dengan saat ini masih tetap menjaga dan melestarikannya. 
Adapun penjabaran mengenai keempat klasifikasi tipe tindakan, yaitu sebagai berikut: Pertama, Tindakan Tradisional, yaitu tindakan yang ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar secara turun temurun. Kedua, Tindakan Afektif, merupakan tindakan yang ditentukan oleh kondisi-kondisi dan orientasiorientasi emosional si aktor. Ketiga, Rasionalitas Instrumental, adalah tindakan yang ditujukan pada pencapaian tujuan-tujuan yang secara rasional diperhitungkan dan diupayakan sendiri oleh aktor yang bersangkutan. Keempat, Rasionalitas Nilai, yaitu tindakan rasional berdasarkan nilai, yang dilakukan untuk alasan-alasan dan tujuantujuan yang ada kaitanya dengan nilai-nilai yang diyakini secara personal tanpa memperhitungkan prospek-prospek yang ada kaitanya dengan berhasil atau gagalnya tindakan tersebut.[13]
Dalam penelitian ini juga dianalisa mengenai resepsi pelaku terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan puasa dalail serta transmisi pengetahuan atas praktik puasa dalail khairat yang dijelaskan dalam desain penelitian living hadis.[14] 
F.      Metode Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian lapangan (field research) yakni penelusuran langsung ke lapangan atau objek penelitian untuk menggali informasi terkait dengan tradisi puasa dalail.[15] 
Adapun dalam pengumpulan data, menggunakan beberapa metode antara lain wawancara, observasi, dan dokumentasi.Yang dimaksud dengan wawancara yakni bertanya langsung kepada responden untuk mendapatkan informasi. Wawancara ini dilakukan melalui sosial media (SMS) dalam preliminary researsch dan berkunjung langsung ke pondok pesantren Darul Falah Jekulo Kudus. Selain wawancara peneliti juga menggunakan metode observasi untuk mengamati langsung. Pengamatan ini dilakukan di tempat kejadian dimana pelaku melaksanakan tradisi ini yakni di pondok pesantren Darul Falah Jekulo Kudus. Adapun metode dokumentasi adalah metode mencari data mengenai variabel berupa catatan, buku panduan, serta buku-buku yang berkaitan.[16][17]
G.    Sistematika Pembahasan
Berikut ini merupakan sistematika pembahasan dalam skripsi agar pembahasan dalam penelitian ini lebih terarah :
Bab pertama, berisi latar belakang penelitian, tujuan penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, akan dipaparkan tentang sejarah Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, tradisi puasa dalail, dan varian puasa dalail di pondok pesantren.
Bab ketiga, berisi sejarah puasa dalail khairat di pondok pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, praktik puasa dalail di pondok, dan resepsi serta transmisi hadis-hadis yang berkaitan dengan puasa dalail.
Bab keempat, adalah observasi dan analisis data.
Bab kelima adalah penutup, yakni kesimpulan serta saran-saran.




[1] Suryadi dan M. Alfatih, Metodologi Penelitian Hadis, (Yogyakarta : Teras, 2009), hlm. 1
[2] Sahiron Syamsuddin, dkk, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta: Teras,
[3] ), hlm. 106
[4] Saifuddin Zuhri, “Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi” dalam Jurnal Living Hadis Vol. 1
No. 1 Mei 2016.hlm. 179
[5] Donna Kahfi MA. Iballa, “Tradisi Mandi Balimau di Masyarakat Kuntu: Living Hadis sebagai Bukti Sejarah”, dalam Jurnal Living Hadis vol. 1 no. 2, Oktober 2016.  
[6] Wildan Rijal Amin, “Living Hadis dalam Fenomena Tradisi Kupatan di Desa Durenan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek”, Tesis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017.
[7] CD Mausu’ah  
[8] Saifuddin Zuhri, “Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi” dalam Jurnal Living Hadis Vol. 1
No. 1 Mei 2016.hlm. 185
[9] Muhammad Ismail, “Kontrol Diri Orang yang Melakukan Puasa Dalail Khairat di Desa Jekulo,
Jekulo Kabupaten Kudus”. Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, 2016. hlm. 7-8
[10] “Inilah Cerita Dalail Khairat di Pondok Pesantren Darul Falah Kudus yang Termasyhur”, dalam www.seputarkudus.com diakses 20 April 2018
[11] Wawancara dengan Muthiatul Ula, santri pondok pesantren Darul Falah Kudus
[12] Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi, Living Hadis : Praktik, Resepsi, Teks dan Transmisi, Yogyakarta: Q-Media, 2018, hlm. 112.
[13] Alis Mukhlis, dkk. “Analisis Tindakan Sosial Max Weber dalam Tradisi Pembacaan Kitab
Mukhtasar al-Bukhari” dalam Jurnal Living Hadis vol. 1 no. 2 Oktober 2016, hlm. 248-249
[14] Saifuddin Zuhri, Subkhani Kusuma Dewi, Living Hadis : Praktik, Resepsi, Teks dan Transmisi, Yogyakarta: Q-Media, 2018, hlm. 112
[15] Maryaeni, Metode Penelitian Kebudayaan, (Jakarta, PT. Bumi Angkasa, 2005), hlm. 25
[16] Imam Suprayogo, Metodologi Penelitian Sosial Agama, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya,
[17] ) hlm. 170

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Konsep Sunnah Dan Hadis Menurut Kassim Ahmad

Konsep Sunnah Dan Hadis Menurut Kassim Ahmad, 3media.freemalaysiatoday.com PENDAHULUAN       A.     Latar Belakang Hadis atau sunah dalam dunia Islam dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan tinggi, yakni menjadi sumber kedua setelah al-Qur’an wahyu mulia. Sebagai sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an hadis maupun sunah dipegangi dan ajarannya diamalkan oleh umat Islam. Ia menjadi standar utama umat Islam dalam usaha meneladani dan mempraktikkan petunjuk Rasulullah Saw. [1] Hadis dan sunah sendiri menurut ulama muhadissin merupakan satu hal yang sama hanya berbeda pelafalannya saja. Hadis dan sunah dalam pandangan ulama muhaddisin adalah hal-hal yang berasal dari Nabi Muhammad saw. baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan, maupun sifat beliau, dan sifat-sifat ini baik berupa sifat-sifat pisik, moral, maupun perilaku, dan hal itu baik sebelum beliau menjadi Nabi maupun sesudahnya. [2] Dan kebanyakan umat Islam setuju dengan...