Tingkatan Kitab Hadis: Studi Atas Pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi Dalam Kitab Hujjah Allah al-Balighah
![]() |
| Tingkatan Kitab Hadis: Studi Atas Pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi Dalam Kitab Hujjah Allah al-Balighah, blogspot.com |
Hadis sebagai pernyataan, pengamalan,
ketetapan Rasulullah saw[1].,
merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an.[2]
Kedudukan Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam telah disepakati oleh
hampir seluruh ulama dan umat Islam. Dalam sejarah, hanya ada sekelompok kecil
dari kalangan ulama dan umat Islam telah menolak Hadis Nabi sebagai salah satu
sumber ajaran Islam atau biasa dikenal juga dengan inkar al-sunnah.[3] Kajian
terhadap Hadis Nabi sampai saat ini masih tetap menarik, tidak hanya di
kalangan muslim namun kajian ini
juga menarik minat para sarjana barat. Seiring dengan semakin banyaknya
orientalis yang mengkaji Hadis, tidak dapat disangkal bahwa pemikiran mereka
juga menyebar ke dunia Islam dengan menawarkan metode-metode baru yang
berbeda dengan yang telah digagas oleh para ulama
Hadis terdahulu. Sehingga banyak intelektual muslim yang
tergugah untuk mengkaji lebih jauh tentang pemikiran mereka. Namun disisi lain, sebagian mereka memiliki tujuan untuk mengkaji dan mengkritisi
pemikiran orientalis. Sementara sebagian yang
lain ada yang terpengaruh dengan pemikiran mereka.[4]
Diantara intelektual muslim yang mengkaji Hadis lebih dalam adalah Syah Waliyullah al-Dihlawi.
Syah Waliyullah al-Dihlawi merupakan seorang intelektual
muslim India. Lahir pada tanggal 4 Syawwal 1114 H di daerah Mufazaffargarh,
Delhi, India. Kata ‘Syah’ didepan berasal dari bahasa persia yang bermakna
raja, dan gelar ini hanya berlaku bagi intelektual dan syeikh sufi. Dia juga
dikenal sebagai Wali Allah, karena beliau merupakan sosok yang ‘alim.
Sementara kata ‘al-Dihlawi’ ini disandarkan pada nama kota yakni New Delhi. Dikalangan
sufi, beliau merupakan pengikut Thariqat Naqsabandiyah sejak umur 16 tahun. Oleh
karena itu, kehidupan sehari-harinya dihabiskan dengan riyadhah. Sedangkan
dikalangan fikih, beliau cenderung mengikuti Imam Hanafi namun ia juga
mempunyai respon besar terhadap Imam Syafi’i. Ia juga mengagumi Imam Malik dan
meletakkan al-Muwaththa’ sejajar dengan Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim.[5]
Dalam bukunya Hujjah Allah al-Balighah,
al-Dihlawi menjelaskan bahwa salahsatu cara untuk memperoleh ilmu mengenai
syariat Ilahi dan hukum adalah dengan melalui riwayat yang berasal dari Nabi
dengan rangkaian periwayatan yang berkesinambungan. Pada saat ini, satu-satunya
cara untuk menerima riwayat-riwayat tersebut adalah dengan mengikuti
kitab-kitab Hadis, sebab tidak ada riwayat yang dipercayakan kecuali yang telah
dituliskan. Kitab-kitab Hadis sendiri pun memiliki tingkatan yang berbeda,
sehingga diperlukan penelitian dengan seksama. Ia membagi kitab Hadis
berdasarkan validitasnya menjadi empat tingkatan.[6]
Diantara tingkatan yang pertama adalah kitab Hadis yang berisi Hadis-Hadis
tingkatan tertinggi, yakni Hadis mutawatir.[7]
Dalam tingkatan ini hanya terdiri atas tiga kitab yaitu, al-Muwattha’,[8]
Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim.[9] Ia
memasukkan kitab Imam Malik sejajar dengan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.[10] Hal
ini menurutnya, al-Muwattha’ merupakan kitab yang terkenal pada masa
hidup Imam Malik sehingga kemasyhurannya mencapai seluruh dunia Islam, dan
reputasinya terus meningkat seiring berlalunya waktu dan perhatian masyarakat
juga semakin besar. Para ulama fikih menjadikan kitab ini sebagai dasar madzhab
fikih mereka, bahkan penduduk Irak pun menjadikannya sebagai landasan hukum. Al-Dihlawi
juga menyertakan pendapat yang menyatakan bahwa di dalam kitab Imam Malik tidak
ada Hadis yang terputus sebelum sampai kepada Nabi. Sehingga seluruh Hadis di
dalamnya dianggap Shahih.[11]
Adapun alasan penelitian tentang tingkatan
kitab Hadis ini adalah paling tidak oleh tiga alasan. Pertama,
sepengetahuan penulis, al-Dihlawi merupakan satu-satunya sarjana yang membahas
tentang tingkatan kitab Hadis. Kedua, al-Dihlawi merupakan intelektual
India yang memberikan perhatian khusus atas Muwaththa’. Ketiga, kitab
Hujjah Allah al-Balighah ini merupakan salahsatu kitab monumental al-Dihlawi
yang membahas tentang Hadis.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemikiran al-Dihlawi tentang
tingkatan kitab Hadis dalam kitab Hujjah Allah al-Balighah?
2. Bagaimana metode yang ditempuh al-Dihlawi
dalam mengklasifikasikan tingkatan kitab Hadis?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, tujuan yang
ingin penulis capai adalah terjawabnya rumusan masalah diatas. Adapun manfaat
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
a. Secara teoritis, hasil penelitian ini
diharapkan mampu menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan kajian Ilmu Hadis
di Indonesia, pada umumnya, dan UIN Sunan Kalijaga secara khusus.
b. Kajian ini diharapkan mampu menambah wawasan
para peminat studi Hadis, khususnya terkait tokoh Syah Waliyullah Al-Dihlawi.
c. Penelitian ini juga diharapkan mampu
memberikan kontribusi pemikiran baru dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya
ranah kajian Hadis.
2. Manfaat Praktis
a. Secara praktis, penelitian ini dapat mengetahui
kriteria-kriteria yang dibangun oleh al-Dihlawi dalam menentukan tingkatan
kitab hadis, sehingga diketahui mana kitab hadis yang masuk kategori pertama,
kedua dan seterusnya.
b. Guna melengkapi salah satu persyaratan untuk
memperoleh gelar akademi Sarjana Strata Satu (S-1) pada Jurusan Ilmu Hadis
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
D. Tinjauan Pustaka
Sejauh pembacaan dan penelusuran yang penulis
lakukan, kajian tentang pemikiran tokoh Syah Waliyullah Al-Dihlawi ini bukanlah
suatu hal yang baru, diskursus ini telah dikaji oleh kalangan akademisi dari
perspektif yang beragam. Berikut penulis paparkan beberapa kajian terdahulu
terkait tema ini:
1. Syah Waliyullah al-Dihlawi
Beberapa penelitian yang berhubungan dengan Syah
Waliyullah al-Dihlawi diantaranya adalah Jurnal “The Intellectuality of Al-Dihlawi:
A Review on His Contribution in Science of Prophetic Tradition” yang ditulis
oleh Mohd. Arif Nazri dkk.[12] “Pembaruan
Islam di India” yang ditulis oleh Nirwan Hamid.[13] “Al-Imam
Syah Wliyullah al-Dihlawi wa Juhuuduhu fii Khidmat al-Sunnah al-Nabawiyyah”
yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Al-‘Athiyah.[14]
Berbeda dengan ketiga jurnal diatas yang mencoba mengulas
tentang Syah Waliyullah al-Dihlawi secara umum, penulis menemukan penelitian
yang secara khusus membahas tentang pemikiran Syah Waliyullah al-Dihlawi.
Diantaranya, Tesis “Tipologi Pembagian Hadis; Risalah dan Ghairu Risalah
(Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Hadis Al-Dihlawi)” yang ditulis oleh Munawir.[15] Persoalan
mendasar yang menjadi objek kajian penelitian Munawir ini adalah seputar
bagaimana kriteria yang dibangun al-Dihlawi untuk menentukan kategorisasi hadis
risalah dan ghairu risalah.
Skripsi “Klasifikasi Sunnah Menurut Pemikiran Syah Wali
Allah Al-Dihlawi” yang ditulis oleh Siti Masfufah.[16] Dalam
tulisannya, Siti Masfufah meneliti tentang klasifikasi sunnah dengan tujuan
mengetahui defenisi dari klasifikasi sunnah yang ditwarakan oleh Syah
Waliyullah al-Dihlawi dan mengetahui sejauh mana kontribusi al-Dihlawi dalam
pemahaman sunnah.
Penulis juga menemukan penelitian tentang pemikiran Syah
Waliyullah al-Dihlawi dalam jurnal “Pemikiran Pembaruan Teologi Islam Syah Wali
Allah Ad-Dahlawi” yang ditulis oleh Ghazali munir.[17]
Dalam tulisannya, Ghazali munir menyoroti pemikiran-pemikiran teologi Syah
Waliyullah al-Dihlawi, diantaranya adalah Tauhid, Kenabian dan wahyu, perbuatan
manusia, Iman dan kufur, wujud tuhan, alam misal, dengan merujuk pada kitab Hujjah
Allah al-Balighah.
Adapun penelitian berbentuk buku diantaranya Religion and Thought of
Shah Wali Allah Dihlawi yang ditulis oleh J. M. S. Baljon.[18]
“Syah Waliyullah al-Dihlawi, Pakar Hadis Terkemuka dari Delhi” yang ditulis
oleh Jauharatul Masruroh dalam buku Yang Membela dan Yang Menggugat.[19]
2. Hujjah Allah al-Balighah
Penelitian terkait dengan Kitab Hujjah
Allah al-Balighah diantaranya “Hujjat Allah Al-Balighah: The Uniqueness of
Shah Wali Allah Al-Dihlawi’s Work” yang ditulis oleh Fadlan Mohd Othman dkk.[20]
Berdasarkan paparan diatas dengan
memperhatikan objek kajian yang beragam, dari berbagai penelitian yang ada,
meskipun diakui banyak yang membahas tentang Syah Waliyullah Al-Dihlawi, namun
penulis tidak menemukan pembahasan khusus tentang tingkatan kitab Hadis menurut
Syah Waliyullah Al-Dihlawi.
E. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan sebuah landasan
berpikir yang menunjukkan dari sudut pandang mana masalah yang terpilih akan
dikaji dan dilihat.[21]
Sebuah teori dirasa penting untuk memperlihatkan cara kerja yang digunakan
dalam melakukan sebuah penelitian. Penelitian ini akan menggunakan teori
penelitian tokoh. Penelitian tokoh ini digunakan untuk, pertama,
memperoleh gambaran yang utuh tentang persepsi, motivasi, aspirasi dan “ambisi”
bahkan prestasi tokoh tentang bidang yang digeluti. Kedua, memperoleh
deskripsi yang utuh dan objektif tentang teknik dan metodologi yang digunakan
dalam melaksanakan bidang yang digeluti. Ketiga, menunjukkan
orisinalitas pemikiran, sisi kelebihan dan kelemahan sang tokoh yang dikaji
berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Keempat, menemukan relevansi dan
kontekstualisasi pemikiran tokoh yang dikaji dalam konteks kekinian.[22] Secara
praktis, langkah metodologi riset tokoh adalah sebagai berikut:[23]
a. Menentukan tokoh yang dikaji.
b. Menentukan objek formal yang hendak dikaji
secara tegas eskplisit dalam judul riset. Hal ini dimaksudkan agar riset tidak
kemana-mana.
c. Mengumpulkan data-data yang terkait dengan
tokoh yang dikaji dan isu pemikiran yang hendak diteliti.
d. Melakukan identifikasi bangunan tokoh
tersebut, mulai misalnya asumsi dasar, pandangan ontologis tokoh mengenai isu
yang diteliti, metodologi sang tokoh, dan lain sebagainya.
e. Melakukan analisis dan kritis terhadap
pemikiran sang tokoh yang hendak diteliti, dengan mengemukakan keunggulan dan
kekurangannya.
f. Melakukan penyimpulan sebagai jawaban atas
problem riset.
Model penelitian tokoh diatas, dirasa sangat
cocok digunakan untuk mencapai sebuah pemahaman yang komprehensif tentang
pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi.
F. Metode Penelitian
Metode penelitian mutlak diperlukan dalam
sebuah penelitian guna memandu peneliti tentang urutan bagaimana penelitian
akan dilakukan, yaitu dengan alat apa dan prosedur yang bagaiaman suatu penelitian dilakukan.
Berikut metode penelitian yang penulis gunakan:
1. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini ada pada persoalan pemikiran
Syah Waliyullah Al-Dihlawi terhadap tingkatan kitab Hadis. penelitian ini
dimulai dengan mengumpulkan data-data yang terkait dengan biografi dan
pemikiran Syah Waliyullah al-Dihlawi. Kemudian mengidentifikasi metode yang
digunakan oleh Syah Waliyullah al-Dihlawi dalam mengklasifikasikan kitab hadis.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini meupakan jenis penelitian
kualitatif, yaitu jenis penelitian yang datanya dinyatakan dalam bentuk verbal
dan dianalisis tanpa menggunakan teknik statistik. Oleh karena itu, penelitian
ini bersifat penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan
mengumpulkan data dari berbagai kitab, buku, jurnal, kamus, skripsi, tesis, dan
penelitian-penelitian lain yang berkaitan dengan tema penelitian ini.
3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi
dua jenis sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
Sumber data primer penelitian ini terdapat pada karya monumental Syah
Waliyullah Al-Dihlawi, yakni kitab Hujjah Allah al-Balighah. Adapun
sumber data sekunder dalam penelitian ini meliputi berbagai khazanah
intelektual yang berhubungan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian
ini, baik berupa kitab, buku, jurnal dan literatur lainnya yang berhubungan
dengan tema yang penulis angkat sebagai pelengkap data penelitian.
4. Teknik Pengolahan Data
Data yang diperoleh akan diolah dengan
menggunakan metode deskriptif-analitik, yaitu pengumpulan dan penyusunan data
dalam bentuk deskriptif dan kemudian disertai analisis terhadap data yang
didapat. Dalam penelitian ini data yang dimaksud adalah pemikiran Syah
Waliyullah Al-Dihlawi dalam kitab Hujjah Allah al-Balighah tentang
tingkatan kitab Hadis. Secara praktis, langkah metodologis yang akan penulis
lakukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, penulis
menetapkan tokoh yang dikaji dan objek material yang menjadi fokus kajian,
yakni pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi terhadap tingkatan kitab Hadis. Kedua,
mengumpulkan data-data yang terkait dengan Syah Waliyullah al-Dihlawi dan
pemikiran yang akan diteliti. Ketiga, mengidentifikasi metode yang digunakan
oleh Syah Waliyullah al-Dihlawi. Keempat, melakukan analisis terhadap pemikiran
Syah Waliyullah al-Dihlawi, dengan mengemukakan keunggulan dan kekurangannya.
Kelima, melakukan penyimpulan sebagai jawaban atas problem penelitian.
5. Teknik Penulisan
Penulisan penelitian ini mengacu pada buku
Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2013.
G. Sistematika Pembahasan
Pembahasan yang akan dibahas dalam penelitian ini dibagi menjadi lima bab
yang saling berkaitan dan disusun secara sistematis. Berikut penjelasan
maisng-masing bab:
Bab I berisi pendahuluan, meliputi latar belakang yang menjadi sebab
diangkatnya topik penelitian ini sebagai pembahasan; rumusan masalah yang akan
dijawab dalam penelitian; tujuan dan kegunaan penelitian; tinjauan pustaka
untuk mengetahui kebaruan dan perbedaan penelitian yang akan dikaji dengan
penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya; kerangka teori sebagai pijakan cara
kerja penelitian; metode penelitian serta pembahasan penelitian.
Bab II, penulis akan mengungkap terlebih dahulu tentang kitab-kitab hadis
dan karakteristiknya menurut mayoritas ulama hadis, sebelum melangkah lebih
jauh pada pemikiran al-Dihlawi. Dalam hal ini meliputi defenisi, macam-macam
dan sistematika penyusunannya.
Bab III, pada bab ini berisi tentang Biografi Syah Wali Allah al-Dihlawi
dan kitab Hujjah Allah al-Balighah. Dalam pembahasan ini penulis akan
memaparkan biografi tokoh, yang terdiri dari latar sosio-historis, karier
akademik dan pemikiran tokoh. Dalam pembacaan biografi ini diharapkan bisa
mendapatkan gambaran konkrit mengenai karakter dan pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi.
Bab IV, bab ini berisi tentang pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi
terhadap tingkatan kitab hadis dan metode yang digunakan dalam
mengklasifikasikan kitab hadis. penulis akan memaparkan analisis atas
pemikirannya berupa persamaan dan perbedaannya dengan pendapat ulama’ lain,
kelemahan serta kelebihan yang dimilikinya.
Baba V memuat tentang kesimpulan atau poin-poin penting yang menjadi hasil
dari penelitian ini, sekaligus saran yang ditujukan kepada pembaca untuk
penelitian lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
‘Athiyah, Muhammad. “Al-Imam Syah Wliyullah
al-Dihlawi wa Juhuuduhu fii Khidmat al-Sunnah al-Nabawiyyah”. Academic
Refeered Journal, Vol. 26, 2008.
al-Dihlawi, Syah Waliyullah. 2005. Hujjah
Allah al-Balighah terj. Nuruddin Hidayat. Jakarta: Serambi.
al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj. 2013. Ushul
al-Hadis terj. M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media
Pratama.
Al-Thahhan, Mahmud. 1985. Musthalah al-Hadits. Haramain.
Baljon, J. M. S. 1986. Religion and Thought
of Shah Wali Allah Dihlawi. Leiden: E. J. Brill.
Hamid, Nirwan. “Pembaruan Islam di India”. Al-Tadzkiyyah:
Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 7, Mei 2016.
Ismail, M. Syuhudi. 2014. Kaidah Kesahihan
Sanad, Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah. Jakarta:
Bulan Bintang.
Masfufah, Siti. 2008. “Klasifikasi Sunnah
Menurut Pemikiran Syah Wali Allah Al-Dihlawi”. Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Masruroh, Jauharatul. 2012. “Syah Waliyullah
al-Dihlawi, Pakar Hadis Terkemuka dari Delhi” dalam Muhammad Makmun Abha (ed.),
Yang Membela dan Yang Menggugat. Yogyakarta: CSS SUKA Press.
Munawir. 2008. “Tipologi Pembagian Hadis;
Risalah dan Ghairu Risalah (Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Hadis Al-Dihlawi”,
Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.
Munir, Ghazali. “Pemikiran Pembaruan Teologi
Islam Syah Wali Allah Ad-Dahlawi”. TEOLOGIA, Vol. 23, No. 1, Januari 2012.
Mustaqim, Abdul. “Model Penelitian Tokoh”. Jurnal
Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 15, No. 2, Juli 2014.
Nazri, Mohd Arif dkk, “The Intellectuality of Al-Dihlawi: A Review on His Contribution in Science of Prophetic Tradition”. Mediterranean
Journal of Social Sciences MCSER
Publishing, Rome-Italy, Vol
6, No 5 S1, September 2015.
Othman, Fadlan Mohd dkk, “Hujjat Allah
Al-Balighah: The Uniqueness of Shah Wali Allah Al-Dihlawi’s Work”. Mediterranean
Journal of Social Sciences MCSER
Publishing, Rome-Italy, Vol. 6, No. 5 S1, September 2015.
Siregar, Ilham Ramadan dkk, “Kritik
Sejarah Terhadap Hadis Menurut Ahmad Amin Analisis Terhadap Kitab Fajr
al-Islam”. Jurnal al-Tahdis: Journal of Hadith Studies, Vol. 1 No. 1,
Januari-Juni 2017.
Suryadilaga, M. Alfatih. 2009. Studi Kitab Hadis. Yogyakarta: TERAS.
Suryadilaga, Muhammad Alfatih. 2010. Metodologi Ilmu Tafsir. Yogyakarta:
TERAS.
Baca Juga: Kriteria Pakaian Syar'i Menurut Kitab Riyadus Shalihin
[1] Rasulullah merupakan tokoh sentral yang sangat dibutuhkan, bukan sekedar
pembawa risalah dalam meyampaikan ajaran Islam yang terkandung didalamnya saja,
lebih dari iitu beliau sangat dibutuhkan sebagai tokoh satu-satunya yang
dipercaya oleh Allah untuk menjelaskan, merinci atau memberi contoh pelaksanaan
ajaran Islam. Lihat Masfufah, S. (2008), “Klasifikasi Sunnah Menurut Pemikiran
Shah Wali Allah Al-Dihlawi” , Skripsi Fakultas Ushuluddin Uin Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2007, hlm. 1.
[2] M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad, Telaah Kritis dan Tinjauan
dengan Pendekatan Ilmu Sejarah (Jakarta: Bulan Bintang, 2014), hlm. 3.
[3] M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad, Telaah Kritis dan Tinjauan
dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, hlm. 87-88.
[4] Ilham Ramadan Siregar, dkk, “Kritik Sejarah Terhadap Hadis Menurut
Ahmad Amin Analisis Terhadap Kitab Fajr al-Islam”, dalam Jurnal al-Tahdis:
Journal of Hadith Studies, Vol. 1 No. 1, Januari-Juni 2017, hlm. 2.
[5] Mohd Arif Nazri, dkk, “The Intellectuality
of Al-Dihlawi: A Review on His
Contribution in Science of Prophetic Tradition”, dalam Mediterranean Journal of Social
Sciences MCSER
Publishing, Rome-Italy, Vol
6, No 5 S1, September 2015, hlm, 303.
[6] Syah Waliyullah al-Dihlawi, Hujjah Allah
al-Balighah terj. Nuruddin Hidayat (Jakarta: Serambi, 2005), hlm. 555-556.
[7] Hadis mutawatir merupakan Hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang secara tradisi tidak mungkin merka
sepakat untuk berdusta dari sejumlah perawi yang sepadan dari awal sanad sampai
akhir, dengan syarat jumlah itu tidak kurang pada setiap tingkatan sanadnya.
Lihat Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis terj. M. Qodirun Nur dan
Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013), hlm. 271.
[8] Kitab al-Muwaththa’ yang dimaksud disini adalah kitab yang ditulis
oleh Imam Malik. Kitab ini berisi tentang fikih yang teridiri dari 2 juz, 61
bab dan 1824 Hadis. Lihat M. Alfatih Suryadilaga, Studi Kitab
Hadis (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 2.
[9] Syah Waliyullah al-Dihlawi, Hujjah Allah
al-Balighah terj. Nuruddin Hidayat, hlm. 558.
[10] Berbeda dengan pendapat Dr. Mahmud Thahhan. Menurut Dr. Mahmud al-Thahhan,
kitab pertama yang memuat Hadis shahih adalah Shahih Bukhari kemudian Shahih
Muslim. Keduanya merupakan kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an dan
masyarakat muslim menerima kedua kitab tersebut. Lihat Mahmud al-Thahhan, Musthalah
al-Hadits (Haramain, 1985), hlm. 37.
[12] Lihat Mohd Arif Nazri, dkk, “The
Intellectuality of Al-Dihlawi: A Review on His Contribution in Science of
Prophetic Tradition”, dalam Mediterranean Journal of Social
Sciences MCSER
Publishing, Rome-Italy, Vol. 6, No. 5 S1, September 2015.
[13] Lihat Nirwan Hamid, “Pembaruan Islam di India”, dalam Al-Tadzkiyyah:
Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 7, Mei 2016.
[14] Muhammad ‘Athiyah, “Al-Imam Syah Wliyullah al-Dihlawi wa Juhuuduhu fii
Khidmat al-Sunnah al-Nabawiyyah” dalam Academic Refeered Journal, Vol. 26,
2008.
[15] Lihat Munawir, “Tipologi Pembagian Hadis; Risalah dan Ghairu Risalah
(Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Hadis Al-Dihlawi”, Tesis Program Pascasarjana
UIN Sunan Kalijaga, 2008.
[16] Lihat Siti Masfufah, “Klasifikasi Sunnah Menurut Pemikiran Syah Wali Allah
Al-Dihlawi”, Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.
[17] Lihat Ghazali Munir, “Pemikiran Pembaruan Teologi Islam Syah Wali Allah
Ad-Dahlawi”, dalam TEOLOGIA, Vol. 23, No. 1, Januari 2012.
[18] Lihat J. M. S. Baljon, Religion and Thought of Shah Wali Allah Dihlawi
(Leiden: E. J. Brill, 1986).
[19] Jauharatul Masruroh, “Syah Waliyullah al-Dihlawi, Pakar
Hadis Terkemuka dari Delhi” dalam Muhammad Makmun Abha (ed.), Yang Membela
dan Yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, 2012).
[20] Fadlan Mohd Othman, dkk, “Hujjat Allah
Al-Balighah: The Uniqueness of Shah Wali Allah Al-Dihlawi’s Work”, dalam Mediterranean
Journal of Social Sciences MCSER
Publishing, Rome-Italy, Vol. 6, No. 5 S1, September 2015.
[22] Abdul Mustaqim, “Model Penelitian Tokoh”, dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu
al-Qur’an dan Hadis, Vol. 15, No. 2, Juli 2014, hlm. 204.
[23] Abdul Mustaqim, “Model Penelitian Tokoh”, dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu
al-Qur’an dan Hadis, Vol. 15, No. 2, Juli 2014, hlm. 208-209.

Comments
Post a Comment