Skip to main content

Tingkatan Kitab Hadis: Studi Atas Pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi Dalam Kitab Hujjah Allah al-Balighah

Tingkatan Kitab Hadis: Studi Atas Pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi Dalam Kitab Hujjah Allah al-Balighah, blogspot.com

Hadis sebagai pernyataan, pengamalan, ketetapan Rasulullah saw[1]., merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an.[2] Kedudukan Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam telah disepakati oleh hampir seluruh ulama dan umat Islam. Dalam sejarah, hanya ada sekelompok kecil dari kalangan ulama dan umat Islam telah menolak Hadis Nabi sebagai salah satu sumber ajaran Islam atau biasa dikenal juga dengan inkar al-sunnah.[3] Kajian terhadap Hadis Nabi sampai saat ini masih tetap menarik, tidak hanya di kalangan muslim namun kajian ini juga menarik minat para sarjana barat. Seiring dengan semakin banyaknya orientalis yang mengkaji Hadis, tidak dapat disangkal bahwa pemikiran mereka juga menyebar ke dunia Islam dengan menawarkan metode-metode baru yang berbeda dengan yang telah digagas oleh para ulama Hadis terdahulu. Sehingga banyak intelektual muslim yang tergugah untuk mengkaji lebih jauh tentang pemikiran mereka. Namun disisi lain, sebagian mereka memiliki tujuan untuk mengkaji dan mengkritisi pemikiran orientalis. Sementara sebagian yang lain ada yang terpengaruh dengan pemikiran mereka.[4] Diantara intelektual muslim yang mengkaji Hadis lebih dalam adalah Syah Waliyullah al-Dihlawi.
Syah Waliyullah al-Dihlawi merupakan seorang intelektual muslim India. Lahir pada tanggal 4 Syawwal 1114 H di daerah Mufazaffargarh, Delhi, India. Kata ‘Syah’ didepan berasal dari bahasa persia yang bermakna raja, dan gelar ini hanya berlaku bagi intelektual dan syeikh sufi. Dia juga dikenal sebagai Wali Allah, karena beliau merupakan sosok yang ‘alim. Sementara kata ‘al-Dihlawi’ ini disandarkan pada nama kota yakni New Delhi. Dikalangan sufi, beliau merupakan pengikut Thariqat Naqsabandiyah sejak umur 16 tahun. Oleh karena itu, kehidupan sehari-harinya dihabiskan dengan riyadhah. Sedangkan dikalangan fikih, beliau cenderung mengikuti Imam Hanafi namun ia juga mempunyai respon besar terhadap Imam Syafi’i. Ia juga mengagumi Imam Malik dan meletakkan al-Muwaththa’ sejajar dengan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.[5]
Dalam bukunya Hujjah Allah al-Balighah, al-Dihlawi menjelaskan bahwa salahsatu cara untuk memperoleh ilmu mengenai syariat Ilahi dan hukum adalah dengan melalui riwayat yang berasal dari Nabi dengan rangkaian periwayatan yang berkesinambungan. Pada saat ini, satu-satunya cara untuk menerima riwayat-riwayat tersebut adalah dengan mengikuti kitab-kitab Hadis, sebab tidak ada riwayat yang dipercayakan kecuali yang telah dituliskan. Kitab-kitab Hadis sendiri pun memiliki tingkatan yang berbeda, sehingga diperlukan penelitian dengan seksama. Ia membagi kitab Hadis berdasarkan validitasnya menjadi empat tingkatan.[6] Diantara tingkatan yang pertama adalah kitab Hadis yang berisi Hadis-Hadis tingkatan tertinggi, yakni Hadis mutawatir.[7] Dalam tingkatan ini hanya terdiri atas tiga kitab yaitu, al-Muwattha’,[8] Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim.[9] Ia memasukkan kitab Imam Malik sejajar dengan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.[10] Hal ini menurutnya, al-Muwattha’ merupakan kitab yang terkenal pada masa hidup Imam Malik sehingga kemasyhurannya mencapai seluruh dunia Islam, dan reputasinya terus meningkat seiring berlalunya waktu dan perhatian masyarakat juga semakin besar. Para ulama fikih menjadikan kitab ini sebagai dasar madzhab fikih mereka, bahkan penduduk Irak pun menjadikannya sebagai landasan hukum. Al-Dihlawi juga menyertakan pendapat yang menyatakan bahwa di dalam kitab Imam Malik tidak ada Hadis yang terputus sebelum sampai kepada Nabi. Sehingga seluruh Hadis di dalamnya dianggap Shahih.[11]
Adapun alasan penelitian tentang tingkatan kitab Hadis ini adalah paling tidak oleh tiga alasan. Pertama, sepengetahuan penulis, al-Dihlawi merupakan satu-satunya sarjana yang membahas tentang tingkatan kitab Hadis. Kedua, al-Dihlawi merupakan intelektual India yang memberikan perhatian khusus atas Muwaththa’. Ketiga, kitab Hujjah Allah al-Balighah ini merupakan salahsatu kitab monumental al-Dihlawi yang membahas tentang Hadis.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pemikiran al-Dihlawi tentang tingkatan kitab Hadis dalam kitab Hujjah Allah al-Balighah?
2.      Bagaimana metode yang ditempuh al-Dihlawi dalam mengklasifikasikan tingkatan kitab Hadis?
C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, tujuan yang ingin penulis capai adalah terjawabnya rumusan masalah diatas. Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Manfaat Teoritis
a.       Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan kajian Ilmu Hadis di Indonesia, pada umumnya, dan UIN Sunan Kalijaga secara khusus.
b.      Kajian ini diharapkan mampu menambah wawasan para peminat studi Hadis, khususnya terkait tokoh Syah Waliyullah Al-Dihlawi.
c.       Penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran baru dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya ranah kajian Hadis.
2.      Manfaat Praktis
a.       Secara praktis, penelitian ini dapat mengetahui kriteria-kriteria yang dibangun oleh al-Dihlawi dalam menentukan tingkatan kitab hadis, sehingga diketahui mana kitab hadis yang masuk kategori pertama, kedua dan seterusnya.
b.      Guna melengkapi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar akademi Sarjana Strata Satu (S-1) pada Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
D.    Tinjauan Pustaka
Sejauh pembacaan dan penelusuran yang penulis lakukan, kajian tentang pemikiran tokoh Syah Waliyullah Al-Dihlawi ini bukanlah suatu hal yang baru, diskursus ini telah dikaji oleh kalangan akademisi dari perspektif yang beragam. Berikut penulis paparkan beberapa kajian terdahulu terkait tema ini:
1. Syah Waliyullah al-Dihlawi
Beberapa penelitian yang berhubungan dengan Syah Waliyullah al-Dihlawi diantaranya adalah Jurnal “The Intellectuality of Al-Dihlawi: A Review on His Contribution in Science of Prophetic Tradition” yang ditulis oleh Mohd. Arif Nazri dkk.[12] “Pembaruan Islam di India” yang ditulis oleh Nirwan Hamid.[13]Al-Imam Syah Wliyullah al-Dihlawi wa Juhuuduhu fii Khidmat al-Sunnah al-Nabawiyyah” yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Al-‘Athiyah.[14]
Berbeda dengan ketiga jurnal diatas yang mencoba mengulas tentang Syah Waliyullah al-Dihlawi secara umum, penulis menemukan penelitian yang secara khusus membahas tentang pemikiran Syah Waliyullah al-Dihlawi. Diantaranya, Tesis “Tipologi Pembagian Hadis; Risalah dan Ghairu Risalah (Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Hadis Al-Dihlawi)” yang ditulis oleh Munawir.[15] Persoalan mendasar yang menjadi objek kajian penelitian Munawir ini adalah seputar bagaimana kriteria yang dibangun al-Dihlawi untuk menentukan kategorisasi hadis risalah dan ghairu risalah.
Skripsi “Klasifikasi Sunnah Menurut Pemikiran Syah Wali Allah Al-Dihlawi” yang ditulis oleh Siti Masfufah.[16] Dalam tulisannya, Siti Masfufah meneliti tentang klasifikasi sunnah dengan tujuan mengetahui defenisi dari klasifikasi sunnah yang ditwarakan oleh Syah Waliyullah al-Dihlawi dan mengetahui sejauh mana kontribusi al-Dihlawi dalam pemahaman sunnah.
Penulis juga menemukan penelitian tentang pemikiran Syah Waliyullah al-Dihlawi dalam jurnal “Pemikiran Pembaruan Teologi Islam Syah Wali Allah Ad-Dahlawi” yang ditulis oleh Ghazali munir.[17] Dalam tulisannya, Ghazali munir menyoroti pemikiran-pemikiran teologi Syah Waliyullah al-Dihlawi, diantaranya adalah Tauhid, Kenabian dan wahyu, perbuatan manusia, Iman dan kufur, wujud tuhan, alam misal, dengan merujuk pada kitab Hujjah Allah al-Balighah.
Adapun penelitian berbentuk buku diantaranya Religion and Thought of Shah Wali Allah Dihlawi yang ditulis oleh J. M. S. Baljon.[18] “Syah Waliyullah al-Dihlawi, Pakar Hadis Terkemuka dari Delhi” yang ditulis oleh Jauharatul Masruroh dalam buku Yang Membela dan Yang Menggugat.[19]
2. Hujjah Allah al-Balighah
Penelitian terkait dengan Kitab Hujjah Allah al-Balighah diantaranya “Hujjat Allah Al-Balighah: The Uniqueness of Shah Wali Allah Al-Dihlawi’s Work” yang ditulis oleh Fadlan Mohd Othman dkk.[20]
Berdasarkan paparan diatas dengan memperhatikan objek kajian yang beragam, dari berbagai penelitian yang ada, meskipun diakui banyak yang membahas tentang Syah Waliyullah Al-Dihlawi, namun penulis tidak menemukan pembahasan khusus tentang tingkatan kitab Hadis menurut Syah Waliyullah Al-Dihlawi.
E.     Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan sebuah landasan berpikir yang menunjukkan dari sudut pandang mana masalah yang terpilih akan dikaji dan dilihat.[21] Sebuah teori dirasa penting untuk memperlihatkan cara kerja yang digunakan dalam melakukan sebuah penelitian. Penelitian ini akan menggunakan teori penelitian tokoh. Penelitian tokoh ini digunakan untuk, pertama, memperoleh gambaran yang utuh tentang persepsi, motivasi, aspirasi dan “ambisi” bahkan prestasi tokoh tentang bidang yang digeluti. Kedua, memperoleh deskripsi yang utuh dan objektif tentang teknik dan metodologi yang digunakan dalam melaksanakan bidang yang digeluti. Ketiga, menunjukkan orisinalitas pemikiran, sisi kelebihan dan kelemahan sang tokoh yang dikaji berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Keempat, menemukan relevansi dan kontekstualisasi pemikiran tokoh yang dikaji dalam konteks kekinian.[22] Secara praktis, langkah metodologi riset tokoh adalah sebagai berikut:[23]
a.       Menentukan tokoh yang dikaji.
b.      Menentukan objek formal yang hendak dikaji secara tegas eskplisit dalam judul riset. Hal ini dimaksudkan agar riset tidak kemana-mana.
c.       Mengumpulkan data-data yang terkait dengan tokoh yang dikaji dan isu pemikiran yang hendak diteliti.
d.      Melakukan identifikasi bangunan tokoh tersebut, mulai misalnya asumsi dasar, pandangan ontologis tokoh mengenai isu yang diteliti, metodologi sang tokoh, dan lain sebagainya.
e.       Melakukan analisis dan kritis terhadap pemikiran sang tokoh yang hendak diteliti, dengan mengemukakan keunggulan dan kekurangannya.
f.       Melakukan penyimpulan sebagai jawaban atas problem riset.
Model penelitian tokoh diatas, dirasa sangat cocok digunakan untuk mencapai sebuah pemahaman yang komprehensif tentang pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi.
     F.     Metode Penelitian
Metode penelitian mutlak diperlukan dalam sebuah penelitian guna memandu peneliti tentang urutan bagaimana penelitian akan dilakukan, yaitu dengan alat apa dan prosedur  yang bagaiaman suatu penelitian dilakukan. Berikut metode penelitian yang penulis gunakan:
1. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini ada pada persoalan pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi terhadap tingkatan kitab Hadis. penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data-data yang terkait dengan biografi dan pemikiran Syah Waliyullah al-Dihlawi. Kemudian mengidentifikasi metode yang digunakan oleh Syah Waliyullah al-Dihlawi dalam mengklasifikasikan kitab hadis.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini meupakan jenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang datanya dinyatakan dalam bentuk verbal dan dianalisis tanpa menggunakan teknik statistik. Oleh karena itu, penelitian ini bersifat penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan mengumpulkan data dari berbagai kitab, buku, jurnal, kamus, skripsi, tesis, dan penelitian-penelitian lain yang berkaitan dengan  tema penelitian ini.
3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua jenis sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer penelitian ini terdapat pada karya monumental Syah Waliyullah Al-Dihlawi, yakni kitab Hujjah Allah al-Balighah. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini meliputi berbagai khazanah intelektual yang berhubungan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, baik berupa kitab, buku, jurnal dan literatur lainnya yang berhubungan dengan tema yang penulis angkat sebagai pelengkap data penelitian.
4. Teknik Pengolahan Data
Data yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan metode deskriptif-analitik, yaitu pengumpulan dan penyusunan data dalam bentuk deskriptif dan kemudian disertai analisis terhadap data yang didapat. Dalam penelitian ini data yang dimaksud adalah pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi dalam kitab Hujjah Allah al-Balighah tentang tingkatan kitab Hadis. Secara praktis, langkah metodologis yang akan penulis lakukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, penulis menetapkan tokoh yang dikaji dan objek material yang menjadi fokus kajian, yakni pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi terhadap tingkatan kitab Hadis. Kedua, mengumpulkan data-data yang terkait dengan Syah Waliyullah al-Dihlawi dan pemikiran yang akan diteliti. Ketiga, mengidentifikasi metode yang digunakan oleh Syah Waliyullah al-Dihlawi. Keempat, melakukan analisis terhadap pemikiran Syah Waliyullah al-Dihlawi, dengan mengemukakan keunggulan dan kekurangannya. Kelima, melakukan penyimpulan sebagai jawaban atas problem penelitian.
5. Teknik Penulisan
Penulisan penelitian ini mengacu pada buku Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2013.
G.    Sistematika Pembahasan
Pembahasan yang akan dibahas dalam penelitian ini dibagi menjadi lima bab yang saling berkaitan dan disusun secara sistematis. Berikut penjelasan maisng-masing bab:
Bab I berisi pendahuluan, meliputi latar belakang yang menjadi sebab diangkatnya topik penelitian ini sebagai pembahasan; rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian; tujuan dan kegunaan penelitian; tinjauan pustaka untuk mengetahui kebaruan dan perbedaan penelitian yang akan dikaji dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya; kerangka teori sebagai pijakan cara kerja penelitian; metode penelitian serta pembahasan penelitian.
Bab II, penulis akan mengungkap terlebih dahulu tentang kitab-kitab hadis dan karakteristiknya menurut mayoritas ulama hadis, sebelum melangkah lebih jauh pada pemikiran al-Dihlawi. Dalam hal ini meliputi defenisi, macam-macam dan sistematika penyusunannya.
Bab III, pada bab ini berisi tentang Biografi Syah Wali Allah al-Dihlawi dan kitab Hujjah Allah al-Balighah. Dalam pembahasan ini penulis akan memaparkan biografi tokoh, yang terdiri dari latar sosio-historis, karier akademik dan pemikiran tokoh. Dalam pembacaan biografi ini diharapkan bisa mendapatkan gambaran konkrit mengenai karakter dan pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi.
Bab IV, bab ini berisi tentang pemikiran Syah Waliyullah Al-Dihlawi terhadap tingkatan kitab hadis dan metode yang digunakan dalam mengklasifikasikan kitab hadis. penulis akan memaparkan analisis atas pemikirannya berupa persamaan dan perbedaannya dengan pendapat ulama’ lain, kelemahan serta kelebihan yang dimilikinya.
Baba V memuat tentang kesimpulan atau poin-poin penting yang menjadi hasil dari penelitian ini, sekaligus saran yang ditujukan kepada pembaca untuk penelitian lebih lanjut.



DAFTAR PUSTAKA
‘Athiyah, Muhammad. “Al-Imam Syah Wliyullah al-Dihlawi wa Juhuuduhu fii Khidmat al-Sunnah al-Nabawiyyah”. Academic Refeered Journal, Vol. 26, 2008.
al-Dihlawi, Syah Waliyullah. 2005. Hujjah Allah al-Balighah terj. Nuruddin Hidayat. Jakarta: Serambi.
al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj. 2013. Ushul al-Hadis terj. M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama.
Al-Thahhan, Mahmud. 1985. Musthalah al-Hadits. Haramain.
Baljon, J. M. S. 1986. Religion and Thought of Shah Wali Allah Dihlawi. Leiden: E. J. Brill.
Hamid, Nirwan. “Pembaruan Islam di India”. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 7, Mei 2016.
Ismail, M. Syuhudi. 2014. Kaidah Kesahihan Sanad, Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah. Jakarta: Bulan Bintang.
Masfufah, Siti. 2008. “Klasifikasi Sunnah Menurut Pemikiran Syah Wali Allah Al-Dihlawi”. Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Masruroh, Jauharatul. 2012. “Syah Waliyullah al-Dihlawi, Pakar Hadis Terkemuka dari Delhi” dalam Muhammad Makmun Abha (ed.), Yang Membela dan Yang Menggugat. Yogyakarta: CSS SUKA Press.
Munawir. 2008. “Tipologi Pembagian Hadis; Risalah dan Ghairu Risalah (Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Hadis Al-Dihlawi”, Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.       
Munir, Ghazali. “Pemikiran Pembaruan Teologi Islam Syah Wali Allah Ad-Dahlawi”. TEOLOGIA, Vol. 23, No. 1, Januari 2012.
Mustaqim, Abdul. “Model Penelitian Tokoh”. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 15, No. 2, Juli 2014.
Nazri, Mohd Arif dkk, “The Intellectuality of Al-Dihlawi: A Review on His Contribution in Science of Prophetic Tradition”. Mediterranean Journal of Social Sciences MCSER Publishing, Rome-Italy, Vol 6, No 5 S1, September 2015.
Othman, Fadlan Mohd dkk, “Hujjat Allah Al-Balighah: The Uniqueness of Shah Wali Allah Al-Dihlawi’s Work”. Mediterranean Journal of Social Sciences MCSER Publishing, Rome-Italy, Vol. 6, No. 5 S1, September 2015.
Siregar, Ilham Ramadan dkk, “Kritik Sejarah Terhadap Hadis Menurut Ahmad Amin Analisis Terhadap Kitab Fajr al-Islam”. Jurnal al-Tahdis: Journal of Hadith Studies, Vol. 1 No. 1, Januari-Juni 2017.
Suryadilaga, M. Alfatih. 2009. Studi Kitab Hadis. Yogyakarta: TERAS.
Suryadilaga, Muhammad Alfatih. 2010. Metodologi Ilmu Tafsir. Yogyakarta: TERAS.

Baca Juga: Kriteria Pakaian Syar'i Menurut Kitab Riyadus Shalihin


[1] Rasulullah merupakan tokoh sentral yang sangat dibutuhkan, bukan sekedar pembawa risalah dalam meyampaikan ajaran Islam yang terkandung didalamnya saja, lebih dari iitu beliau sangat dibutuhkan sebagai tokoh satu-satunya yang dipercaya oleh Allah untuk menjelaskan, merinci atau memberi contoh pelaksanaan ajaran Islam. Lihat Masfufah, S. (2008), “Klasifikasi Sunnah Menurut Pemikiran Shah Wali Allah Al-Dihlawi” , Skripsi Fakultas Ushuluddin Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007, hlm. 1.
[2] M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad, Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah (Jakarta: Bulan Bintang, 2014), hlm. 3.
[3] M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad, Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, hlm. 87-88.
[4] Ilham Ramadan Siregar, dkk, “Kritik Sejarah Terhadap Hadis Menurut Ahmad Amin Analisis Terhadap Kitab Fajr al-Islam”, dalam Jurnal al-Tahdis: Journal of Hadith Studies, Vol. 1 No. 1, Januari-Juni 2017, hlm. 2.
[5] Mohd Arif Nazri, dkk, “The Intellectuality of Al-Dihlawi: A Review on His Contribution in Science of Prophetic Tradition”, dalam Mediterranean Journal of Social Sciences MCSER Publishing, Rome-Italy, Vol 6, No 5 S1, September 2015, hlm, 303.
[6] Syah Waliyullah al-Dihlawi, Hujjah Allah al-Balighah terj. Nuruddin Hidayat (Jakarta: Serambi, 2005), hlm. 555-556.
[7] Hadis mutawatir merupakan Hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah  perawi yang secara tradisi tidak mungkin merka sepakat untuk berdusta dari sejumlah perawi yang sepadan dari awal sanad sampai akhir, dengan syarat jumlah itu tidak kurang pada setiap tingkatan sanadnya. Lihat Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis terj. M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013), hlm. 271.
[8] Kitab al-Muwaththa’ yang dimaksud disini adalah kitab yang ditulis oleh Imam Malik. Kitab ini berisi tentang fikih yang teridiri dari 2 juz, 61 bab dan 1824 Hadis. Lihat M. Alfatih Suryadilaga, Studi Kitab Hadis (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 2.
[9] Syah Waliyullah al-Dihlawi, Hujjah Allah al-Balighah terj. Nuruddin Hidayat, hlm. 558.
[10] Berbeda dengan pendapat Dr. Mahmud Thahhan. Menurut Dr. Mahmud al-Thahhan, kitab pertama yang memuat Hadis shahih adalah Shahih Bukhari kemudian Shahih Muslim. Keduanya merupakan kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an dan masyarakat muslim menerima kedua kitab tersebut. Lihat Mahmud al-Thahhan, Musthalah al-Hadits (Haramain, 1985), hlm. 37.
[11] Syah Waliyullah al-Dihlawi, Hujjah Allah al-Balighah terj. Nuruddin Hidayat, hlm. 558-559.
[12] Lihat Mohd Arif Nazri, dkk, “The Intellectuality of Al-Dihlawi: A Review on His Contribution in Science of Prophetic Tradition”, dalam Mediterranean Journal of Social Sciences MCSER Publishing, Rome-Italy, Vol. 6, No. 5 S1, September 2015.
[13] Lihat Nirwan Hamid, “Pembaruan Islam di India”, dalam Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 7, Mei 2016.
[14] Muhammad ‘Athiyah, “Al-Imam Syah Wliyullah al-Dihlawi wa Juhuuduhu fii Khidmat al-Sunnah al-Nabawiyyah” dalam Academic Refeered Journal, Vol. 26, 2008.
[15] Lihat Munawir, “Tipologi Pembagian Hadis; Risalah dan Ghairu Risalah (Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Hadis Al-Dihlawi”, Tesis Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2008.         
[16] Lihat Siti Masfufah, “Klasifikasi Sunnah Menurut Pemikiran Syah Wali Allah Al-Dihlawi”, Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.
[17] Lihat Ghazali Munir, “Pemikiran Pembaruan Teologi Islam Syah Wali Allah Ad-Dahlawi”, dalam TEOLOGIA, Vol. 23, No. 1, Januari 2012.
[18] Lihat J. M. S. Baljon, Religion and Thought of Shah Wali Allah Dihlawi (Leiden: E. J. Brill, 1986).
[19] Jauharatul Masruroh, “Syah Waliyullah al-Dihlawi, Pakar Hadis Terkemuka dari Delhi” dalam Muhammad Makmun Abha (ed.), Yang Membela dan Yang Menggugat (Yogyakarta: CSS SUKA Press, 2012).
[20] Fadlan Mohd Othman, dkk, “Hujjat Allah Al-Balighah: The Uniqueness of Shah Wali Allah Al-Dihlawi’s Work”, dalam Mediterranean Journal of Social Sciences MCSER Publishing, Rome-Italy, Vol. 6, No. 5 S1, September 2015.

[21] Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Ilmu Tafsir (Yogyakarta: TERAS, 2010), hlm. 166.
[22] Abdul Mustaqim, “Model Penelitian Tokoh”, dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 15, No. 2, Juli 2014, hlm. 204.
[23] Abdul Mustaqim, “Model Penelitian Tokoh”, dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 15, No. 2, Juli 2014, hlm. 208-209.

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...