Skip to main content

Tanqih al-Qaul al-Hatsits fi Syarkhi Lubab al-Hadis Karya Syaikh Nawawi al-Bantani (Studi Metodologi Syarah Hadis)

Tanqih al-Qaul al-Hatsits fi Syarkhi Lubab al-Hadis Karya  Syaikh Nawawi al-Bantani  (Studi Metodologi Syarah Hadis), blogspot.com


Hadis sebaga sumber ajaran Islam kedua merupakan hal yang mutlak untuk dipahami dan dijelaskan maksudnya. Sebagaimana Al-Qur’an, jika penjelasan Al-Qur’an disebut tafsir, maka pejelasan hadis disebut Syarh. Berbagai upaya ulama dalam syarah tersebut dengan metode yang bergagam. Begitu juga dengan ulama Indonesia, beberapa karya muncul sebagai bentuk usaha untuk memahami hadis-hadis nabi dan menjelaskannya kepada orang lain agar bisa diamalkan dengan baik dan benar. Di dalam penelitan yang berjudul Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis Karya Syaikh Nawawi al-Bantani (Studi Metodologi Syarah Hadis) ini. Peneliti mencoba mengupas metode yang digunakan ulama-ulama Indonesia dalam melakukan pensyarahan hadis dan sumber-sumber yang digunakan serta karakteristik pensyarahan melalui kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis Karya Syaikh Nawawi al-Bantani.
Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis merupakan kitab syarah hadis karya Imam Nawawi al-Bantani, seorang ulama dari Banten yang bermukim di Mekkah. Kitab ini merupakan syarah terhadap kitab Lubab al-Hadis karya Imam al-Suyuti. Sebagaimana karyanya yang lain kitab ini juga menjadi referensi di beberapa Pondok Pesantren Tradisional yang menerapkan pengajian kitab kuning di Nusantara.
Peneliti memilih metode syarah untuk melakukan penelitian terkait dengan kitab Tanqih al-Qaul karena peneliti ingin mengetahui metode dan sumber yang digunakan Imam Nawawi dalam melakukan pensyarahan hadis.

A.    Latar Belakang Masalah
Hadis sebagai ucapan, pengamalan, taqrir, dan hal ihwal Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu sumber ajaran Islam.[1] Hadis terbagi menjadi tiga, yakni hadis shahih, hadis hasan, dan hadis dhaif  dan maudhu’ atau yang disebut hadis palsu. Perbedaan hadis shahih dengan hadis hasan terdapat pada ke-dhabit-annya. Sedangkan hal-hal yang melatarbelakangi hadis dhaif adalah politik, ekonomi, golongan, mencari muka pada penguasa, kehidupan kezuhudan dan daya tarik dalam berdakwah.[2]
Kitab Lubab al-Hadis karya Imam Jalal al-Din al-Sayuti, Kitab ini mengandung 400 mutiara hadis yang terangkum dalam 40 bab, berupa haris-hadis motivasi dalam beribadah, yaitu motivasi dalam bentuk menganjurkan orang lain untuk berbuat kebaikan, atau menjauhkan dari hal-hal yang diingkari agama.
Kitab Lubab al-Hadis mendapat perhatian  dari salah satu ulama besar Indonesia, yaitu Imam Nawawi al-Bantani yang kemudian mengarang buku yang berjudul “Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis” ini merupakan salah satu kitab yang cukup populer di Indonesia serta banyak dipelajari oleh para penuntut ilmu agama utamanya dikalangan pesantren yang bercorak tradisional. Pada sisi lain, melihat sejumlah karya yang telah ditulis oleh Imam Nawawi al-Bantani, tampak bahwa dari sekian banyak karyanya banyak didominasi oleh model penulisan berbentuk komentar (Syarh) atas kitab-kitab yang telah ditulis oleh ulama pendahulunya.
Kemampuan Imam Nawawi dalam bidang syarah terhadap beberapa kitab yang begitu tinggi, mendorong peneliti untuk mengkaji lebih dalam tentang metode, sumber yang digunakan serta kecendrungan pemahaman (pensyarahan) hadis yang digunakan Imam Nawawi al-Bantani dalam Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis.
Syaikh Nawawi kemudian menjelaskan maksud hadis yang dikehendakinya adalah tidurnya orang berilmu yang menjaga etika ilmu lebih utama dari pada ibadah orang bodoh yang adab beribadahnya  tidak benar. Ia juga memaparkan riwayat lain sebagai penguat. Disebutkan bahwa dalam riwayat Abu Na’im dari Sulaiman dengan sanad dhaif: “Tidur dilandasi ilmu lebih baik dibandingkan shalat di atas kebodohan”. Alasannya, diasumsikan perkara yang membatalkan dibenarkan, sebaliknya perkara yang dicegah justru dibolehkan. Hadis lain perkataan sahabat atau ulama’ lain ia sebutkan pula. sebagaimana perkataan  Darar ibn al-Azwar as-Shahaby “Barang siapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, maka kemungkinan hal yang merusakkan lebih banyak daripada hal yang benar. Begitu juga pendapat Wailah ibn Asqa’: Menjadi ahli Ibadah tanpa fiqih, bagaikan keledai Thahun”.[3]
Menurut Nizar Ali, Syarah adalah penjelasan maksud, arti, kandungan, atau pesan hadis dan disiplin ilmu lain.[4]  Syarah hadis dapat dikatakan sebagai  salah satu aspek ilmu hadis yang mempelajari dan berupaya memahami hadis-hadis Nabi dengan baik, maupun menangkap psan-pesan keagamaan sebagai sesuatu yang dikehendaki oleh Nabi, terutama yang tersirat kemudian dapat ditangkap bisa dilakukan dengan usaha penggalian makna dan dilalah.[5]
Berdasarkan pada sejarah panjang kehidupan dan intelektualisme khas Indonesia yang tercermin dalam pemikiran syarah hadis tokoh Imam Nawawi al-Bantani sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang metodologinya dalam men-syarah hadis.  Baik itu berkaitan  dengan latar belakang sosial, keilmuan, latar belakang pendidikan dan latar belakang budaya dan kepentingan-kepentingan lain yang berpengaruh terhadap hasil pen-syarahannya.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis mengambil beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut :
1.        Bagimana Metode Syarah dalam Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis?
2.        Apa Sumber-sumber Pensyarahan Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis?
C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
a.         Untuk mengetahui Metode Syarah dalam Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
b.        Untuk mengetahui sumber-sumber dalam pensyarahan Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penelti, kalangan intelektual, maupun masyarakat luas, sehingga kegunaan dari penelitian ini antara lain:
a.         Melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya terkait dengan Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis.
b.        Untuk menambah wawasan keilmuwan hadis dan menambah pengetahuan tentang Syaikh Nawawi al-Bantani dan karya-karya dari beliau.
D.    Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang metode syarah hadis, peneliti telah menemukan beberapa skripsi yang membahas tentang metode syarah hadis dan tokoh Syaikh Nawawi al-Bantani. Mengenai kajian ini, peneliti belum menemukan karya atau penelitian yang serupa. Jika pun peneliti menemukannya, hal ini hanya sebatas peninggalan informasi, data dan sumber mengenai Syaikh Nawawi al-Bantani di antaranya yaitu:
Penelitian yang berjudul Pemikiran Syaikh Nawawi al-Bantani 1813 M-1897(Study pengaruhnya dalam pembelajaran pesantren) karya Ahmad Muhidin. Tafsir ini menjelaskan pemikiran Syaikh Nawawi mengenai bidang Aqidah, Tasawuf dan Fiqih. Selanjutnya Muhidin memaparkan mengenai Syaikh Nawawi dan alam Intelektualisme di Haramain dan dikorelasikan dengan tanah Jawa serta kurikulum di Pesantren.
Penelitian selanjutnya Skripsi Muhammad Iwan Falls yang berjudul Study Komperatif Kitab Syarah Hadis Subul al-Salam Ibanah al-Ahkim. Didalamnya dia membahas tentang metode pensyarahan dari kedua kitab tersebut, dan apa persaamaan serta perbedaan antara kitab klasik dengan kitab kontemporer dalam pensyarahan kitab hadis Bulugh al-Maram.[6]
Disamping itu juga penulis juga menemukan buku yang berjudul Metodologi Syarah Hadis Era Klasik Hingga Kontemporer: Potret Konstruksi Metodologi Syarah yang ditulis oleh M. Alfatih Suryadilaga.  Diterbitkan di Yogyakarta oleh SUKA Press UIN Sunan Kalijaga pada tahun 2012 yang mana buku ini membahas tentang perkembangan syarah hadis, cara melakukan pensyarahan hadis hingga contoh dan berbagai pendekatan syarah hadis yang digunakan.
Tesis yang berjudul Pemikiran Kalam Imam Nawawi al-Bantani dalam Kitab Qatr al-Gais Tahqiq dan Dirasah karya Muhammad Hanafi. Dalam tesis ini dibahas empat hal yang bermuatan teologis yang merujuk pada pemahaman Imam Nawawi al-Bantani yang terdapat dalam Kitab Qatr al-Gais kemudian dibandingkan dengan pemikiran kalam dan empat golongan Muktazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukhara. Pertama tentang Iman, kedua tentang perbuatan manusia, ketiga pelaku dosa besar, dan keempat tentang al-Qur’an.
Penelitian yang berjudul Tanqih Kontribusi Syaikh Nawawi Banten dalam Wacana Studi Hadis di Indonesia karya Ali Imran. Karya ini berisikan pemikiran hadis Syaikh Nawawi.  Dalam tulisan ini dijelaskan bahwa pemikiran Syaikh Nawawi mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Salah satu keunikan itu adalah memakai istilah Syadz-munkar dan Syadz-mardud. Selain itu, Syaikh Nawawi terkadang juga menggunakan riwayat yang berasal dari Syaikh Abdul Qodir al-Jaylani. Dalam jurnal ini membahas tentang keunikan-keunikan tersebut.
Selanjutnya buku karya Idri dengan judul Studi Hadis. Kajian dalam buku ini dibagi dalam beberapa bab, dimulai dengan telaah tentang eksistensi sunnah Nabi, sejarah hadis Nabi, Ilmu hadis, kodifikasi hadis Nabi, Tipologi penulisan kitab-kitab hadis, hadis mutawattir, dan ahad, shahih dan hasan, hadis dhaif, hadis maudlu, penelitian kritik hadis, kajian hadis dikalangan orientalis.
Buku yang lain yaitu buku karya Nizar Ali dengan bukunya memahami hadis Nabi, metode dan pendekatan. Dalam buku ini dijelaskan mengenai hadis, metodologi yang meliputi metode tahili, ijmali, dan muqaran, dan pendekatan dalam memahami hadis, seperti pendekatan bahasa, historis, sosiologis dan lain-lain.
Sehubungan itu penelitian yang akan penulis lakukan sangat berbeda dengan kajian-kajian terdahulu. Karena didalam  penelitian ini, penulis menekankan kepada metode pensyarahan dan sistematika yang dipakai Syaikh Nawawi dalam Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis. Sehingga penulis melakukan kajian terhadap kitab ini.
E.     Kerangka Teori
             Kerangka teori ssangat diperlukan untuk memandu jalannya sebuah penelitian agar menjadi terarah. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori sosiologi pengetahuan dari Karl Mannheim. Sebagai sebuah teori, sosiologi pengetahuan berusaha untuk menelusuri kehidupan sosial seseorang untuk memahami keterkaitannya dengan sebuah pemikiran atau pengetahuan.
             Teori sosiologi pengetahuan yang digagas oleh Karl Mannheim adalah teori determinasi, istilah lebih luasnya adalah determinasi eksistensial atas pengetahuan. Mannheim menjelaskan bahwa teori ini bisa dianggap sebagai suatu fakta yang mengungkapkan bahwa proses pengetahuan tidak berkembang secara historis sesuai dengan hukum-hukum yang imanen, bahwa proses itu tidak hanya berlangsung dari “hakikat benda-benda” atau dari “kemungkinan-kemungkinan logis murni”. dan bahwa proses itu tidak didorong oleh suatu “dialektika dalam”. Sebaliknya, munculnya sebuah pemikiran aktual dipengaruhi oleh banyak sudut yang menentukan faktor-faktor ekstra-teoritis yang sangat beragam-ragam. Selain itu,determinasi eksistensial atas pemikiran juga dianggap sebagai fakta bahwa pengaruh faktor-faktor eksistensial terhadap pengetahuan lebih dari pada sekedar pengaruh yang bersifat periferis, faktor-faktor tersebuh relevan tidak hanya sebagai asal usul gagasan-gagasan, melainkan merasuk ke dalam bentuk-bentuk dan isi gagasan.[7]
F.     Metode Penelitian
Metode penelitian mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam penelitian.[8] Dengan demikian, metode penelitian berarti cara-cara yang harus ditempuh  dalam melakukan penelitian yang meliputi prosedur-prosedur dan kaidah yang mesti cukupi etika orang melakukan penelitian.[9]
1.        Jenis Penelitian
          Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Risearch) yaitu penelitian yang hanya terfokus pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saaj tanpa memerlukan riset lapangan.[10] Objek penelitian ini adalah literature yakni Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis.
2.        Sumber Data
            Sumber data penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Sumber primer dari penelitian ini adalah Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis. Sedangkan data sekunder yakni, karya-karya dari Syaikh Nawawi, beberapa kitab tentang hadis, serta buku-buku yang berkaitan dengan tokoh tersebut.
3.        Metode pengumpulan Data
            Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, bahwa penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan(Library Research), oleh karena itu, pengumpulan data menggunakan metode dokumentatif yaitu mengumpulkan  data-data seperti buku-buku, kitab-kitab, yang terkait dengan penelitian ini.
4.        Pendekatan
            Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini yaitu pendekatan syarah hadis. Yang mengacu pada metode-metode yang digunakan oleh para ulama dalam  mensyarah hadis. Metode ini terdiri dari tiga cara, yaitu:
a.       Metode interpretasi hadis berupa: Tahlili, ijmali, dan muqarin.
b.      Tehnik interpretasi hadis berupa  tekstual, intertektual, dan kontekstual
c.       Pendekatan interpretasi hadis berupa linguistik dan theologis.
G.     Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan ini terdiri dari lima bab yang berusaha menjelaskan sebuah kronologi sejarah. Adapun pembagiannya sebagai berikut.
Bab pertama merupakan Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjuan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan..
Bab kedua berisi tentang Syarah hadis. Adapun sub dalam pembahasan ini mengenai tinjauan teoritis Syarah Hadis yang meliputi pengertian, sejarah, perkembangan dan metode-metode yang digunakan dalam metode syarah hadis.
Bab ketiga memaparkan tentang tokoh, yakni Syaikh Imam Nawawi al-Bantani. Sub pembahasan meliputi latar belakang keluarga, pendidikan, karya-karyanya, aktivitas dan pemikirannya mengenai hadis serta kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis baik berupa sistematika penulisan dari kitab tersebut..
Bab keempat menjawab dari rumusan masalah yaitu tentang metode dan sumber-sumber dalam pensyarahan terhadap kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis. Penulis akan mencoba untuk menganalisis  tentang metode dalam pensyarahan kitab karya Imam Nawawi.
Bab kelima berisi kesimpulan dan saran. Dalam bab ini memuat kesimpulan-kesimpulan dari hasil penelitian atau jawaban dari rumusan masalah dan disertai saran dari penulis untuk penelitian selanjutnya mengenai topik penelitian ini.
  
DAFTAR ISI SEMENTARA
HALAMAN JUDUL
NOTA DINAS PEMBIMBING
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR FOTO
ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang Masalah
      B.     Batasan dan Rumusan Masalah
      C.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian
      D.    Tinjauan Pustaka
      E.     Landasan Teori
      F.      Metode Penelitian
     G.    Sistematika Pembahasan
BAB II SEJARAH SYARAH HADIS DARI TIMUR TENGAH HINGGA INDONESIA: Teori dan Metodologi
      A.    Pengertian Syarah Hadis
      B.     Sejarah Syarah Hadis di Timur Tengah
a.       Syarah Hadis Era Klasik (Abad VII-XII)
b.      Syarah Hadis Era Pertengahan (Abad XIII-XIX M)
c.       Syarah Hadis Era Modern (Abad XX-Sekarang)
     C.     Sejarah Syarah Hadis di Indonesia
a.       Munculnya Kajian Hadis di Indonesia
b.      Perkembangan Penulisan Syarah Hadis di Indonesia
BAB III BIOGRAFI SYAIKH NAWAWI AL- BANTANI DAN  KITAB TANQIH AL-QAUL AL-HASTS FI SYARKHI LUBAB AL-HADIS
      A.    Riwayat Hidup
1.        Latar Belakang Keluarga
2.        Latar Belakang Pendidikan
3.        Karya Intelektual
4.        Keadaan Sosial Masyarakat Jawa
B.     Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
1.        Latar Belakang Penulisan
2.        Sistematika Kitab
3.        Metode Penulisan Kitab
BAB IV KONTRIBUSI SYAIKH IMAM NAWAWI AL-BANTANI DALAM KAJIAN  SYARAH HADIS INDONESIA
A.    Metode Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
B.     Sumber-sumber dalam Pensyarahan Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
C.     Cara pentahqiq menyusun Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
BAB V PENUTUP
      A.    Kesimpulan
      B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim
Ali, Nizar Memahami Hadis Nabi, Metode, dan Pendekatannya Yogyakarta:Idea Press, 2011
Maizuddin M.Nur, Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, Edisi 1 Juni 2009.
Fazlur Rahman (dkk), Wacana Studi Hadis Kontemporer Yogyakarta: Tiara Wacana,2002.
Muhammad ibn Umar an-Nawawi al-Bantani, Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis Surabaya: Dar al-Ilmi t.th.
Karl Mannheim,Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik,terj. F.Budi Haridman Yogyakarta:Kanisius,1991.
Sulistiyo-Basuki, Metode Penelitian Jakarta:Penaku,2010.
Moh Soehada, Metode Penelitian Sosial Kualitatif Yogyakarta:SUKA Press,2012.
Mustika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan Jakarta:Yayasan Obor Indonesia,2004.

Baca Juga: Konsep Hadis Mahar Umar Bin Kattab


[1]Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi, Metode dan Pendekatannya(cetakan II; Yogyakarta: Idea Press,2011), Halm 1
[2] Fazlur Rahman (dkk), Wacana Studi Hadis Kontemporer (Yogyakarta: Tiara Wacana,2002), Halm 6.
[3] Muhammad ibn Umar an-Nawawi al-Bantani, Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis(Surabaya: Dar al-Ilmi t.th), Halm 8.
[4] Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi, Metode, dan Pendekatannya (Yogyakarta:Idea Press,2011) Halm 25
[5]  Maizuddin M.Nur, Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, Edisi 1 Juni 2009, Halm 150.
[6] Lihat Muhammad Iwan Falls , “Studi Komparatif kitab Syarah Hadis Subul al-Salam Ibanah al-Ahkam” Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2012.
[7] Karl Mannheim,Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik,terj. F.Budi Haridman (Yogyakarta:Kanisius,1991) Halm 290.
[8] Sulistiyo-Basuki, Metode Penelitian (Jakarta:Penaku,2010) Halm 93.
[9] Moh Soehada, Metode Penelitian Sosial Kualitatif (Yogyakarta:SUKA Press,2012) Halm 61.
[10] Mustika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta:Yayasan Obor Indonesia,2004) Halm 2.

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis)

Tradisi Pembacaan Barzanji ( Mabbarsanji) di Kalangan Masyarakat Bugis Kelurahan Unjung Kabupaten Soppeng (Studi Living Hadis), blogspot.com A. LatarBelakang   Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, yang menjadi kercayaan dan juga menjadi bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religious pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu dan   sebisa mungkin membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan baik hubungan sosial maupun antara hamba dengan TuhanNya. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad saw sebagai Rasul terakhir yang dijadiakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari (perbuatan, perkataan, maupun penetapan Nabi sebagai pedoman kedua setelah al-Qur’an) yang di sebut Hadis. Namun, adanya pergeseran pand...

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629

Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia 1628-1629, https://www.an-najah.ne ABSTRAK PENYERANGAN PASUKAN SULTAN AGUNG KE BATAVIA TAHUN 1628-1629 Sultan Agung atau yang mempunyai nama asli yaitu Raden Mas Jatmika, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah Raja ketiga Mataram, pengganti  Panembahan Hanyakrawati atau yang masyhur dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak yang meninggal pada saat berburu kijang di hutan Krapyak.Pada saat berkuasa di Mataram, Sultan Agung mempunyai beberapa keinginan diantaranya yaitu menyatukan seluruh Jawa dibawah kekuasaan mataram dan mengusir Kompeni (VOC). Pada tahun 1614 menyerang Surabaya,Setelah ditaklukannya Surabaya, Sultan Agung Memutuskan penyerangan ke Batavia. Dalam penyerangan ke Batavia Sultan Agung selalu gagal dalam menaklukan batavia walaupun sudah menyerang dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629. Dalam penelitian ini tercantum rumusan masalah yaitu Bagaimana latar belakang penyerangan pasukan...

Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Turki (Sulaimaniyah) di Sleman Yogyakarta (2007-2018 M)

Ponpes Sulaimaniyah, uiccijogja.org SEJARAH PERKEMBANGANPONDOK PESANTREN TURKI (PONDOK PESANTREN SULAIMANIYAH) DI SLEMAN YOGYAKARTA(2007-2018) M Abstrak Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal dan tertua yang lahir di Indonesia. Terdapat ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia, baik pondok modern ataupun tradisonal. Salah satu pondok modern yaitu Pondok Pesantren Sulaimaiyah di Sleman Yogyakarta. Pondok Pesantren Sulaimaiyah merupakan cabang dari IFA ( Internasional Fraternity Asosiation ) atau Yayasan Persaudaraan Internasional di Turki. Hal ini menarik untuk diteliti mengingat pondok pesantren merupakan lembaga yang lahir di Indonesia, sedangkan pondok pesantren Sulaimaniyah berasal dari Turki. Karena merupakan cabang dari pondok pesantren Turki maka memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari pondok-pondok yang ada di Indonesia pada umumnya. Adapun perbedaannya terletak pada sistem pengajaran yamg mendapat kontrol dari pusat di ...