Tanqih al-Qaul al-Hatsits fi Syarkhi Lubab al-Hadis Karya Syaikh Nawawi al-Bantani (Studi Metodologi Syarah Hadis)
![]() |
| Tanqih al-Qaul al-Hatsits fi Syarkhi Lubab al-Hadis Karya Syaikh Nawawi al-Bantani (Studi Metodologi Syarah Hadis), blogspot.com |
Hadis sebaga
sumber ajaran Islam kedua merupakan hal yang mutlak untuk dipahami dan
dijelaskan maksudnya. Sebagaimana Al-Qur’an, jika penjelasan Al-Qur’an disebut
tafsir, maka pejelasan hadis disebut Syarh. Berbagai upaya ulama dalam
syarah tersebut dengan metode yang bergagam. Begitu juga dengan ulama
Indonesia, beberapa karya muncul sebagai bentuk usaha untuk memahami
hadis-hadis nabi dan menjelaskannya kepada orang lain agar bisa diamalkan
dengan baik dan benar. Di dalam penelitan yang berjudul Tanqih al-Qaul
al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis Karya Syaikh Nawawi al-Bantani (Studi
Metodologi Syarah Hadis) ini. Peneliti mencoba mengupas metode yang digunakan
ulama-ulama Indonesia dalam melakukan pensyarahan hadis dan sumber-sumber yang
digunakan serta karakteristik pensyarahan melalui kitab Tanqih al-Qaul
al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis Karya Syaikh Nawawi al-Bantani.
Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis merupakan
kitab syarah hadis karya Imam Nawawi al-Bantani, seorang ulama dari Banten yang
bermukim di Mekkah. Kitab ini merupakan syarah terhadap kitab Lubab al-Hadis
karya Imam al-Suyuti. Sebagaimana karyanya yang lain kitab ini juga menjadi
referensi di beberapa Pondok Pesantren Tradisional yang menerapkan pengajian
kitab kuning di Nusantara.
Peneliti memilih metode syarah untuk melakukan penelitian terkait
dengan kitab Tanqih al-Qaul karena peneliti ingin mengetahui metode dan
sumber yang digunakan Imam Nawawi dalam melakukan pensyarahan hadis.
A.
Latar
Belakang Masalah
Hadis sebagai ucapan, pengamalan, taqrir, dan hal ihwal Nabi
Muhammad saw. merupakan salah satu sumber ajaran Islam.[1] Hadis
terbagi menjadi tiga, yakni hadis shahih, hadis hasan, dan hadis dhaif dan maudhu’ atau yang disebut hadis palsu.
Perbedaan hadis shahih dengan hadis hasan terdapat pada ke-dhabit-annya.
Sedangkan hal-hal yang melatarbelakangi hadis dhaif adalah politik, ekonomi,
golongan, mencari muka pada penguasa, kehidupan kezuhudan dan daya tarik dalam
berdakwah.[2]
Kitab Lubab al-Hadis karya Imam Jalal al-Din al-Sayuti,
Kitab ini mengandung 400 mutiara hadis yang terangkum dalam 40 bab, berupa
haris-hadis motivasi dalam beribadah, yaitu motivasi dalam bentuk menganjurkan
orang lain untuk berbuat kebaikan, atau menjauhkan dari hal-hal yang diingkari
agama.
Kitab Lubab al-Hadis mendapat perhatian dari salah satu ulama besar Indonesia, yaitu
Imam Nawawi al-Bantani yang kemudian mengarang buku yang berjudul “Tanqih
al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis” ini merupakan salah satu kitab
yang cukup populer di Indonesia serta banyak dipelajari oleh para penuntut ilmu
agama utamanya dikalangan pesantren yang bercorak tradisional. Pada sisi lain,
melihat sejumlah karya yang telah ditulis oleh Imam Nawawi al-Bantani, tampak
bahwa dari sekian banyak karyanya banyak didominasi oleh model penulisan
berbentuk komentar (Syarh) atas kitab-kitab yang telah ditulis oleh
ulama pendahulunya.
Kemampuan Imam Nawawi dalam bidang syarah terhadap beberapa kitab
yang begitu tinggi, mendorong peneliti untuk mengkaji lebih dalam tentang
metode, sumber yang digunakan serta kecendrungan pemahaman (pensyarahan) hadis
yang digunakan Imam Nawawi al-Bantani dalam Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi
Syarkhi Lubab al-Hadis.
Syaikh Nawawi kemudian menjelaskan maksud hadis yang dikehendakinya
adalah tidurnya orang berilmu yang menjaga etika ilmu lebih utama dari pada
ibadah orang bodoh yang adab beribadahnya
tidak benar. Ia juga memaparkan riwayat lain sebagai penguat. Disebutkan
bahwa dalam riwayat Abu Na’im dari Sulaiman dengan sanad dhaif: “Tidur
dilandasi ilmu lebih baik dibandingkan shalat di atas kebodohan”. Alasannya,
diasumsikan perkara yang membatalkan dibenarkan, sebaliknya perkara yang
dicegah justru dibolehkan. Hadis lain perkataan sahabat atau ulama’ lain ia
sebutkan pula. sebagaimana perkataan
Darar ibn al-Azwar as-Shahaby “Barang siapa beribadah kepada Allah
dengan kebodohan, maka kemungkinan hal yang merusakkan lebih banyak daripada
hal yang benar. Begitu juga pendapat Wailah ibn Asqa’: Menjadi ahli
Ibadah tanpa fiqih, bagaikan keledai Thahun”.[3]
Menurut Nizar Ali, Syarah adalah penjelasan maksud, arti,
kandungan, atau pesan hadis dan disiplin ilmu lain.[4] Syarah hadis dapat dikatakan sebagai salah satu aspek ilmu hadis yang mempelajari
dan berupaya memahami hadis-hadis Nabi dengan baik, maupun menangkap psan-pesan
keagamaan sebagai sesuatu yang dikehendaki oleh Nabi, terutama yang tersirat
kemudian dapat ditangkap bisa dilakukan dengan usaha penggalian makna dan dilalah.[5]
Berdasarkan pada sejarah panjang kehidupan dan intelektualisme khas
Indonesia yang tercermin dalam pemikiran syarah hadis tokoh Imam Nawawi al-Bantani
sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang metodologinya
dalam men-syarah hadis. Baik itu
berkaitan dengan latar belakang sosial,
keilmuan, latar belakang pendidikan dan latar belakang budaya dan
kepentingan-kepentingan lain yang berpengaruh terhadap hasil pen-syarahannya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang
diuraikan di atas, maka penulis mengambil beberapa permasalahan yang dirumuskan
sebagai berikut :
1.
Bagimana Metode Syarah dalam Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis?
2.
Apa
Sumber-sumber Pensyarahan Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab
al-Hadis?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini
adalah :
a.
Untuk mengetahui Metode Syarah dalam Kitab
Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi
Lubab al-Hadis
b.
Untuk mengetahui sumber-sumber dalam
pensyarahan Kitab Tanqih al-Qaul
al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
penelti, kalangan intelektual, maupun masyarakat luas, sehingga kegunaan dari
penelitian ini antara lain:
a.
Melengkapi penelitian-penelitian
sebelumnya terkait dengan Kitab Tanqih
al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis.
b.
Untuk menambah wawasan keilmuwan hadis dan
menambah pengetahuan tentang Syaikh
Nawawi al-Bantani dan karya-karya dari beliau.
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang metode syarah hadis, peneliti telah
menemukan beberapa skripsi yang membahas tentang metode syarah hadis dan tokoh
Syaikh Nawawi al-Bantani. Mengenai kajian ini, peneliti belum menemukan karya
atau penelitian yang serupa. Jika pun peneliti menemukannya, hal ini hanya
sebatas peninggalan informasi, data dan sumber mengenai Syaikh Nawawi
al-Bantani di antaranya yaitu:
Penelitian yang berjudul Pemikiran Syaikh Nawawi
al-Bantani 1813 M-1897(Study pengaruhnya dalam pembelajaran pesantren)
karya Ahmad Muhidin. Tafsir ini menjelaskan pemikiran Syaikh Nawawi mengenai
bidang Aqidah, Tasawuf dan Fiqih. Selanjutnya Muhidin memaparkan mengenai
Syaikh Nawawi dan alam Intelektualisme di Haramain dan dikorelasikan dengan
tanah Jawa serta kurikulum di Pesantren.
Penelitian selanjutnya Skripsi Muhammad Iwan Falls
yang berjudul Study Komperatif Kitab Syarah Hadis Subul al-Salam Ibanah
al-Ahkim. Didalamnya dia membahas tentang metode pensyarahan dari kedua kitab
tersebut, dan apa persaamaan serta perbedaan antara kitab klasik dengan kitab
kontemporer dalam pensyarahan kitab hadis Bulugh al-Maram.[6]
Disamping itu juga penulis juga menemukan buku yang
berjudul Metodologi Syarah Hadis Era Klasik Hingga Kontemporer: Potret
Konstruksi Metodologi Syarah yang ditulis oleh M. Alfatih Suryadilaga. Diterbitkan di Yogyakarta oleh SUKA Press UIN
Sunan Kalijaga pada tahun 2012 yang mana buku ini membahas tentang perkembangan
syarah hadis, cara melakukan pensyarahan hadis hingga contoh dan
berbagai pendekatan syarah hadis yang digunakan.
Tesis yang berjudul Pemikiran Kalam Imam Nawawi
al-Bantani dalam Kitab Qatr al-Gais Tahqiq dan Dirasah karya Muhammad
Hanafi. Dalam tesis ini dibahas empat hal yang bermuatan teologis yang merujuk
pada pemahaman Imam Nawawi al-Bantani yang terdapat dalam Kitab Qatr al-Gais
kemudian dibandingkan dengan pemikiran kalam dan empat golongan Muktazilah,
Asy’ariyah, Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukhara. Pertama tentang
Iman, kedua tentang perbuatan manusia, ketiga pelaku dosa besar, dan keempat
tentang al-Qur’an.
Penelitian yang berjudul Tanqih Kontribusi Syaikh
Nawawi Banten dalam Wacana Studi Hadis di Indonesia karya Ali Imran. Karya
ini berisikan pemikiran hadis Syaikh Nawawi. Dalam tulisan ini dijelaskan bahwa pemikiran
Syaikh Nawawi mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Salah satu keunikan itu
adalah memakai istilah Syadz-munkar dan Syadz-mardud. Selain itu,
Syaikh Nawawi terkadang juga menggunakan riwayat yang berasal dari Syaikh Abdul
Qodir al-Jaylani. Dalam jurnal ini membahas tentang keunikan-keunikan tersebut.
Selanjutnya buku karya Idri dengan judul Studi Hadis.
Kajian dalam buku ini dibagi dalam beberapa bab, dimulai dengan telaah tentang
eksistensi sunnah Nabi, sejarah hadis Nabi, Ilmu hadis, kodifikasi hadis Nabi,
Tipologi penulisan kitab-kitab hadis, hadis mutawattir, dan ahad, shahih dan
hasan, hadis dhaif, hadis maudlu, penelitian kritik hadis, kajian hadis
dikalangan orientalis.
Buku yang lain yaitu buku karya Nizar Ali dengan
bukunya memahami hadis Nabi, metode dan pendekatan. Dalam buku ini dijelaskan
mengenai hadis, metodologi yang meliputi metode tahili, ijmali, dan muqaran,
dan pendekatan dalam memahami hadis, seperti pendekatan bahasa, historis,
sosiologis dan lain-lain.
Sehubungan itu penelitian yang akan penulis lakukan
sangat berbeda dengan kajian-kajian terdahulu. Karena didalam penelitian ini, penulis menekankan kepada metode
pensyarahan dan sistematika yang dipakai Syaikh Nawawi dalam Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis. Sehingga penulis melakukan
kajian terhadap kitab ini.
E. Kerangka Teori
Kerangka teori ssangat diperlukan untuk
memandu jalannya sebuah penelitian agar menjadi terarah. Dalam penelitian ini
peneliti menggunakan teori sosiologi pengetahuan dari Karl Mannheim. Sebagai
sebuah teori, sosiologi pengetahuan berusaha untuk menelusuri kehidupan sosial
seseorang untuk memahami keterkaitannya dengan sebuah pemikiran atau
pengetahuan.
Teori sosiologi pengetahuan yang digagas oleh Karl
Mannheim adalah teori determinasi, istilah lebih luasnya adalah determinasi
eksistensial atas pengetahuan. Mannheim menjelaskan bahwa teori ini bisa
dianggap sebagai suatu fakta yang mengungkapkan bahwa proses pengetahuan tidak
berkembang secara historis sesuai dengan hukum-hukum yang imanen, bahwa proses
itu tidak hanya berlangsung dari “hakikat benda-benda” atau dari
“kemungkinan-kemungkinan logis murni”. dan bahwa proses itu tidak didorong oleh
suatu “dialektika dalam”. Sebaliknya, munculnya sebuah pemikiran aktual
dipengaruhi oleh banyak sudut yang menentukan faktor-faktor ekstra-teoritis
yang sangat beragam-ragam. Selain itu,determinasi eksistensial atas pemikiran
juga dianggap sebagai fakta bahwa pengaruh faktor-faktor eksistensial terhadap
pengetahuan lebih dari pada sekedar pengaruh yang bersifat periferis,
faktor-faktor tersebuh relevan tidak hanya sebagai asal usul gagasan-gagasan,
melainkan merasuk ke dalam bentuk-bentuk dan isi gagasan.[7]
F. Metode Penelitian
Metode penelitian mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan
dalam penelitian.[8]
Dengan demikian, metode penelitian berarti cara-cara yang harus ditempuh dalam melakukan penelitian yang meliputi
prosedur-prosedur dan kaidah yang mesti cukupi etika orang melakukan penelitian.[9]
1.
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan
penelitian kepustakaan (Library Risearch) yaitu penelitian yang hanya
terfokus pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saaj tanpa memerlukan riset
lapangan.[10]
Objek penelitian ini adalah literature yakni Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis.
2.
Sumber Data
Sumber
data penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Sumber primer dari
penelitian ini adalah Tanqih
al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis. Sedangkan data sekunder yakni, karya-karya dari Syaikh Nawawi,
beberapa kitab tentang hadis, serta buku-buku yang berkaitan dengan tokoh
tersebut.
3.
Metode pengumpulan Data
Sebagaimana
yang telah dijelaskan diatas, bahwa penelitian ini merupakan penelitian
kepustakaan(Library Research), oleh karena itu, pengumpulan data
menggunakan metode dokumentatif yaitu mengumpulkan data-data seperti buku-buku, kitab-kitab,
yang terkait dengan penelitian ini.
4.
Pendekatan
Pendekatan
yang dipakai dalam penelitian ini yaitu pendekatan syarah hadis. Yang
mengacu pada metode-metode yang digunakan oleh para ulama dalam mensyarah hadis. Metode ini terdiri dari tiga
cara, yaitu:
a. Metode interpretasi hadis berupa: Tahlili,
ijmali, dan muqarin.
b. Tehnik interpretasi hadis berupa tekstual, intertektual, dan kontekstual
c. Pendekatan interpretasi hadis berupa
linguistik dan theologis.
G. Sistematika
Pembahasan
Sistematika pembahasan ini terdiri dari lima bab yang berusaha menjelaskan
sebuah kronologi sejarah. Adapun pembagiannya sebagai berikut.
Bab pertama merupakan Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah,
batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjuan pustaka,
landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan..
Bab kedua berisi tentang Syarah hadis. Adapun sub dalam pembahasan ini
mengenai tinjauan teoritis Syarah Hadis yang meliputi pengertian, sejarah,
perkembangan dan metode-metode yang digunakan dalam metode syarah hadis.
Bab ketiga memaparkan tentang tokoh, yakni Syaikh Imam Nawawi al-Bantani. Sub
pembahasan meliputi latar belakang keluarga, pendidikan, karya-karyanya,
aktivitas dan pemikirannya mengenai hadis serta kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis baik berupa sistematika penulisan dari kitab tersebut..
Bab keempat menjawab dari rumusan masalah yaitu tentang metode dan
sumber-sumber dalam pensyarahan terhadap kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis. Penulis akan mencoba untuk menganalisis tentang metode dalam pensyarahan kitab karya
Imam Nawawi.
Bab kelima berisi kesimpulan dan saran. Dalam bab ini memuat
kesimpulan-kesimpulan dari hasil penelitian atau jawaban dari rumusan masalah
dan disertai saran dari penulis untuk penelitian selanjutnya mengenai topik
penelitian ini.
DAFTAR ISI SEMENTARA
HALAMAN
JUDUL
NOTA
DINAS PEMBIMBING
HALAMAN
PENGESAHAN
HALAMAN
PERSEMBAHAN
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
DAFTAR
FOTO
ABSTRAK
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
B.
Batasan
dan Rumusan Masalah
C.
Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
D.
Tinjauan
Pustaka
E.
Landasan
Teori
F.
Metode
Penelitian
G.
Sistematika
Pembahasan
BAB
II SEJARAH SYARAH HADIS DARI TIMUR TENGAH HINGGA INDONESIA: Teori dan
Metodologi
A.
Pengertian
Syarah Hadis
B.
Sejarah
Syarah Hadis di Timur Tengah
a.
Syarah
Hadis Era Klasik (Abad VII-XII)
b.
Syarah
Hadis Era Pertengahan (Abad XIII-XIX M)
c.
Syarah
Hadis Era Modern (Abad XX-Sekarang)
C.
Sejarah
Syarah Hadis di Indonesia
a.
Munculnya
Kajian Hadis di Indonesia
b.
Perkembangan
Penulisan Syarah Hadis di Indonesia
BAB
III BIOGRAFI SYAIKH NAWAWI AL- BANTANI DAN
KITAB TANQIH AL-QAUL AL-HASTS FI SYARKHI LUBAB AL-HADIS
A.
Riwayat
Hidup
1.
Latar
Belakang Keluarga
2.
Latar
Belakang Pendidikan
3.
Karya
Intelektual
4.
Keadaan
Sosial Masyarakat Jawa
B. Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
1.
Latar Belakang Penulisan
2.
Sistematika Kitab
3.
Metode Penulisan Kitab
BAB
IV KONTRIBUSI SYAIKH IMAM NAWAWI AL-BANTANI DALAM KAJIAN SYARAH HADIS INDONESIA
A. Metode Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
B. Sumber-sumber dalam Pensyarahan Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi
Syarkhi Lubab al-Hadis
C. Cara pentahqiq menyusun Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis
BAB
V PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim
Ali, Nizar Memahami Hadis Nabi,
Metode, dan Pendekatannya Yogyakarta:Idea Press, 2011
Maizuddin M.Nur, Jurnal Ilmu
Al-Qur’an dan Hadis, Edisi 1 Juni 2009.
Fazlur Rahman (dkk), Wacana Studi Hadis
Kontemporer Yogyakarta: Tiara Wacana,2002.
Muhammad ibn Umar an-Nawawi
al-Bantani, Tanqih al-Qaul al-Hasts fi Syarkhi Lubab al-Hadis Surabaya:
Dar al-Ilmi t.th.
Karl Mannheim,Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan
Pikiran dan Politik,terj. F.Budi Haridman Yogyakarta:Kanisius,1991.
Sulistiyo-Basuki, Metode
Penelitian Jakarta:Penaku,2010.
Moh Soehada, Metode Penelitian
Sosial Kualitatif Yogyakarta:SUKA Press,2012.
Mustika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan
Jakarta:Yayasan Obor Indonesia,2004.
Baca Juga: Konsep Hadis Mahar Umar Bin Kattab
[1]Nizar Ali, Memahami
Hadis Nabi, Metode dan Pendekatannya(cetakan II; Yogyakarta: Idea
Press,2011), Halm 1
[3] Muhammad ibn Umar an-Nawawi al-Bantani, Tanqih al-Qaul al-Hasts
fi Syarkhi Lubab al-Hadis(Surabaya: Dar al-Ilmi t.th), Halm 8.
[6] Lihat Muhammad Iwan Falls , “Studi Komparatif kitab Syarah Hadis
Subul al-Salam Ibanah al-Ahkam” Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan
Kalijaga, Yogyakarta, 2012.
[7] Karl Mannheim,Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran dan
Politik,terj. F.Budi Haridman (Yogyakarta:Kanisius,1991) Halm 290.
[9] Moh Soehada, Metode
Penelitian Sosial Kualitatif (Yogyakarta:SUKA Press,2012) Halm 61.

Comments
Post a Comment