![]() |
| Pelestarian Tibbun Nabawi di Era Milenial dan Efektivitas Bekam Basah Sebagai Cleaner of Heart, data:image |
A. Latar Belakang
Bekam merupakan suatu tindakan pencegahan
(mencegah). Dalam istilah modernnya yaitu suatu cara untuk mengeluarkan darah
yang mengandung sisa toxid (racun) dalam tubuh melalui permukaan kulit dengan
cara dihisap memakai berbagai macam alat seterti tanduk kerbau, gelas vacum,
atau yang lainnya. Kemudian pada bekas hisapan tersebut disayat atau ditusuk
dengan pisau atau jarum, kemudian dihisap kembali dengan dengan alat diatas.[1]
Dalam agama Islam,
khususnya pada masa Rasulullah, pengobatan ini beliau praktekkan, namun hanya
beberapa titik bagian bekam yang beliau terapkan. Berbeda dengan perkembangan
pada masa kini. Tentunya banyak sekali pengembangan-pengembangan titik bagian
bekam yang diterapkan oleh ahli bekam, khususnya di Indonesia ini. Walaupun
tibbunnabawwi sudah berkembang namun tidak sedikit masyarakat mengetahui
perihal tersebut dan manfaatnya. Kalau pun ada beberapa yang sudah mengetahui
pengobatan tersebut, namun pada
realitanya belum banyak yang melestarikan tibbun nabawwi. Dan kenyataannya banyak negara-negara lain yang mempraktekkan
pengobatan tersebut dengan istilah cupping
atau yang lainnya. Dengan situasi dan
kondisi yang sepeti itu, bisa dikatakan cagar budaya atau warisan pengobatan
nabi mulai terkikis, bahkan hilang.
Mengapa semua itu bisa terjadi, karena semangat dan sikap ingin tahu pada
generasi Islam dalam mempelajari Islam
kurang. Padahal bekam di sini sudah dikenal ribuan tahun yang lalu,
sejak zaman Nabi Musa a.s., pengobatan bekam sudah pernah ada hingga berkembang
seluruh penjuru dunia, termasuk ke masyarakat Indonesia. Pengobatan bekam ini
memiliki variasi nama seperti :kop,
cupping, canduk, canthuk, atau membekam.[2]
Pengobatan bekam ini mempunyai manfaat
sebagai pengobatan yang sangat mujarab yang berlandaskan hadis-hadis Nabi
diantaranya: “Sebaik-baik pengobatan yang kamu lakukan adalah Al-Hijamah.” (HR
Ahmad), “Pengobatan yang paling ideal yang dilakukan manusia adalah
Al-Hijamah.” (HR muslim). Inilah sebagian riwayat yang memaparkan bekam, dan
masih banyak lagi riwayat yang membahas tentang pengobatan bekam yang telah
nyatadicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Seperti yang telah
dibahas pada bagiandi atas , bekam sudah ada sejak dahulu, bahkan sejak Nabi
Musa a.s. Tentunya, dari waktu ke waktu, pemgobatan ini mengalami perubahan dan
perbaikan ke tingkat yang llebih maju dan canggih. Pada zaman dahulu, alat yang
digunakan untuk bekam hanya terbuat dari tanduk sapi, alat yang berongga dan
berlubang. Proses pembekaman pun terbilang masih sangat sederhana bahkan bisa
dikatakan ekstrim. Seperti, lubang yang besar pada tanduk sapi diletakkan pada
bagian yang mau dibekam atau tempat pembekaman. Kemudian juru bekam akan
menyedot darah melalui lubang kecil dengan menggunakan mulutnya. Lalu darah
akan keluar dari urat yang lembut dan bekasnya akan terlihat memar. Proses
mengeluarkan darah kotor dari bagian tubuh dilakukan dengan menyayat atau
menusuk kecil di bagian luar kulit ; menggunakan pisau atau benda tajam.
Sementara di zaman yang modern ini terbuat
dari gelas dan penyedot udara atau mesin vakum. Caranya pun sama dengan bekam
zaman dahulu. Dilihat dari sepintas tampaknya pengobatan bekam ini terkesan
kuno, irasional, dan mengada-ada. Bahkan sering dianggap tidak memberikan
manfaat apa-ap. Padahal, pengobatan ini sungguh praktis tanpa efek samping dan
cenderung murah (tetapi bukan murahan)
jika dibandingkan dengan pengobatan modern yang cenderung lebih mahal. Walaupun
cara pengobatan bekam ini terbilang praktis, murah, khasiat dan manfaatnya
benar-benar ada. Pengobatan ini diakui oleh generasi salafusalih (zaman Nabi
saw dan para sahabat), dan juga para pakar ilmu-ilmu kedokteran di penjuru
dunia. Maka penulis berani mengatakan pengobatan yang terbilang murah, namun
bukan murahan. Pandangan Rasulullah sendiri mengenai pengobatan bekam ini
mengakui, menganjurkan, dan secara langsung mempraktikkan sendiri pengobatan
ini. Beliau diketahui sangat mumpuni dalam bidang pengobatan masyarakat ini.
Beliau memiliki kemampuan untuk meneliti, menimbang, dan menganalisis tentang jenis-jenis
pengobatan saat itu. Meskipun dengan alat yang sederhana, namun pengobatan
tersebut sangat bermanfaat khususnya bagi umat Islam.
Dalam
riwayat lain Rasulullah saw. menyebutkan tiga pokok penyembuhan,
“kesembuhan bisa diperoleh dengan tiga cara yaitu sayatan
pisau atau jarum bekam, tegukan madu dan sundutan api, namun aku tidak menyukai
berobat dengan sundutan api. “ (HR Bukhari & Muslim). (melihat pada buku
Muhammad salahuddin, 2006, hlm. 87-88). Istilah bekam mempunyai banyak nama,
bekam basah, bekam kering, bekam api, namun yang dianjurkan oleh baginda Rasul
yaitu dengan pengobatan bekam basah. Karena dengan pengobatan basah mampu
mengangkat dan mengeluarkan darah kotor yang ada pada tubuh. Bekam basah ini
sangat efektif digunakan pada titik jantung sabagai cleaner of heart daripada menggunakan bekam kering. Melalui bekam
basah mampu mengeluarkan, mengalirkan darah kotor dan membersihkan jantung dari
sia toxid (racun) dalam tubuh. Pengobatan mujarab lainnya adalah khasiat lem
lebah (madu). Madu mampu mengobati bisul, borok, luka bakar, dan penyakit kulit
lainnya. Caranya yaitu dengan mengambil satu bagian dari madu yang dicairkan
dengan cara dipanaskan hingga bahan tersebut menjadi adonan yang lunak.
Kemudian balut dengan kain tipis, tempelkan pada bagian yang sakit. Urich
menegaskan bahwa lem lebah telah mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam
mengobati luka para korban selama Perang Rusia. Hanya saja, penggunaan obat ini
belum merata karena kesulitan untuk mendapatkan jumlah yang cukup dari jenis
bahan yang baik dan bernilai tinggi.[3]
Penemuan mutakir seputar madu, minuman yang telah Allah SWT berikan untuk kita
sebagai manusia. Di antara penemuan itu adalah apa yang dilakukan Dr. Molan
yang menemukan bahwa salah satu keistimewaan madu adalah dengan adanya anti
oksidan yang kadarnya cukup tinggi. Menurutnya, tidak ada benda apapun di alam
semesta ini yang menyerupai madu dalam hal kemampuannya. Dr. Molan juga
menemukan bahwa madu memiliki kemampuan mengobati penyakit sembelit akut dan
tidak memiliki efek samping. Ia mengatakan, “ Obat-obatan yang senantiasa aku
bawa dalam kotak obat-obatanku adalah madu dan kain perban!”. Ia juga
menambahkan “madu memiliki efek yang menajubkan dalam mengobati penyakit
terbakar dan bernanah.4
B. Rumusan masalah
Dengan adanya latar belakang masalah di atas,
maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Apa
pengertian, manfaat Tibbun Nabawi ?
2. Bagaimana
cara mengubah tibbun nabawi ini menjadi cagar budaya Islam yang sangat
disenangi umat, terutama pada generasi Islam ?
3. Bagaimana
keefektivitasan bekam basah ini teruji sebagai cleaner of heart ?
C. Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan penelitian
Dengan hadirnya rumusan masalah
sebelumnya, maka penelitian ini memiliki tujuan untuk :
a. Mengungkap sejarah dan manfaat secara
luas thibbun nabawi bagi umat muslim khususnya di Indonesia.
44 Ensklop, vol. 6. Hal 68
b. Mengetahui
manfaat atau keefektivitasan bekam basah daripada bekam selainnya sebagai cleaner of heart.
2. Kegunaan penelitian
Penyusunan skripsi ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi atau sumbangsih kepada khasanah keilmuan Islam
terutama dalam keilmuan Livinghadis pada hal mempraktekkan pengobatan Nabi.
a. Untuk
mengetahui betapa pentingnya mencagar-budayakan thibbun nabawi sebagai salah
satu pengobatan mujarab yang pernah diterapkan oleh rasul bagi umatIslam di era
milenial ini.
D. Telaah atau Tinjauan Pustaka
Telaah
pustaka ini berguna untuk menjadikan satuan kebutuhan ilmiah yang berguna dalam mendapatkan sebuah kerangka berpikir,
sebagai batasan tentang informasi yang digunakan melalui kajian pustaka dan
sebagai sumber penjelasan.
Jurnal
yang berjudul “Pengobatan Ala Rasulullah Saw Seabagai Pendekatan
Antropologis
Dalam Dakwah Islamiah Di Desa Rensing Kecamatan Sakra Barat” merupakan sebuah karya yang ditulis oleh
Muhammad Ihsan. Di dalamnya beliau memaparkan dan menjelaskan tentang berbagai
macam pengobatan yang telah menjadi
sebuah culture, budaya , tradisi
turun temurun dari nenek moyang hingga
anak cucu mereka. Pengobatan ala Rasulullah di sini berperan sebagai
pembangkit positif dan keimanan dalam
kehidupan masyarakat Rensing.
Jurnal yang berjudul “KLINIK PENGOBATAN
THIBBUN NABAWI DI
KOTA
PONTIANAK” merupakan karya dari Muhammad Fatahillah. Di dalamnya telah dijelaskan bahwa klinik pengobatan
thibbun nabawi ini ditempatkan dan
dibangun berdasarkan minat masyarakat yang dibuktikan dengan ramainya
peserta seminar pengobatan nabi yang berlandaskan hadis shahih.
Skripsi
yang berjudul “Hadis-hadis Tentang bekam Sebagai Pengobatan Yang
Mujarab (Studi Ma’anil Al-Hadis)”
merupakan karya Mohammad Farah Ubaidillah.
Dalam karya tersebut dicantumkan
hadis-hadis tentang bekam yang dilakukan oleh
Nabi dan dijelaskan pengertian juga manfaat dari pengobatan tersebut.
Skripsi
yang berjudul “Fenomena Pengobatan Dengan Cara Bekam Di Rumah
Sehat Alami ISMEC Karangbendo banguntapan
Bantul (Studi Pemahaman Terhadap
Hadis
Tentang Bekam)” merupakan karya Indra Sukma Yazid. Dalam karya tesebut dijelaskan bagaimana pemahaman hadis dan
pemaparan dampak fenomena pengobatan
bekam terhadap masyarakat.
Jurnal yang berjudul ”Efektifitas Terapi
Bekam/Hijamah Dalam Menurunkan Nyeri Kepala (Cephalgia) (Effectiveness of Bekam/Hijamah Therapy In Reduce
Cephalgia) “karya dari Nurhikmah. Di dalamnya dijelaskan dan dipaparkan
mengenai hal-hal yang menyebabkan seseorang mengalami nyeri di kepala dan uji
efektifitas bekam tehadap nyeri tersebut.
Jurnal yang berjudul “Sistem Pakar Untuk
Mendiagnosa penyakit Dalam Pada Manusia Dengan Terapi ath Thibbun Nabawi
Berbasis Web” karya Beti Kurniasih. Di dalamnya dijelaskan dan dipaparkan
berbagai macam komponen sistem pakar serta manfaat mengenai pemakaian sistem
pakar. Kemudian penulis juga memaparkan berbagai macam jenis penyakit dalam
pada manusia beserta cara mengatasinya.
Jurnal yang
berjudul “Pengobatan Alternatif Supranatural Menurut HukumIslam (Studi Di
Klinik Yang Penting Sembuh Serang) “ karya Syamsuddin. Di dalamnya membahas
mengenai pengobatan alternatif, supranatural yang sering dikaitkan dengan
paranormal dan okultisme. Berobat dengan cara supranatural biasanya berkaitan
dengan hal ghoib dan biasanya mudah menyeret masyarakat awam kepada hal yang
berbau mistik.
Buku yang berjudul “Sistem Kedokteran
Nabi (Kesehatan Dan Pengobatan Menurut Petunnjuk Nabi Muhammad SAW)” karya Ibnu
Qayyim Al-Jauziyah yang diterjemahkan oleh
Agil Husin Al Munawar dan Abd Rahman Umar yang di dalamnya dipaparkan
dan dijelaskan mengenai pengobatan-pengobatan dokter juga dalam pengobatan
nabi. Dan mereka berkesimpulan bahwa pengobatan Nabi jika dibandingkan dengan
ilmu para ahli kedokteran sangat jauh selisihnya.[4]
Dalam buku yang berjudul “Bekam Sunnah Nabi
& Mukjizat Medis” karya Yasin Syihab Al-Badri yang diterjemahkan oleh Abu Umar Basyir yang di dalamnya memaparkan
metode pengobatan dengan bekam, keutamaan, hari-hari pelaksanaan dan sebagainya
adalah bersifat tetap tidak berubah.[5]
Buku yang
berjudul “Keajaiban Thibbun Nabawi (Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam
Pengobatan Nabi) karya Aiman bin ‘Abdul Fattah yang ditrjemahkan oleh Hawin
Murtadlo. Penulis dalam buku tersebut memberikan pengantar seluk-beluk
pengobatan Nabi dan membahas berbagai macam metode pengobatan Nabawi juga aneka
ragam khasiat atau mukjizat dari pengobatan Nabawi tersebut. Dan banyak
ungkapan para masyayikh mengatakan
bahwa dalam buku tersebut penulis melakukan upaya-upaya yang patut dipuji dan
dikuatkan dengan berbagai hasil riset ilmiah yang telah dibuktikan dalam
kasus-kasus yang ditangani oleh penulis di mana hasilnya sangat mencengangkan.[6]
Buku yang berjudul “Halal-
Haram
Ruqyah” karyanya beliau Musdar Bustamam Tambusai yang diedit oleh Fedrian
Hasmand. Dalam buku tersebut telah dipaparkan dan dijelaskan panjang lebar
mengenai Ruqyah Syar’iyyah, ayat-ayat Ruqyah Syar’iyyah, thibbun nabawi dan
seluk-beluknya dan sebagainya. Seperti : hubungan antara thibbun nabawi dan
kedokteran modern, efektifitas thibbun nabawi, kedokteran barat dan sebagainya.[7]
E. Kerangka
Teori
F. Metode Penelitian
Untuk
mengkaji data-data yang akan ditampilkan dan menjelaskan perkara yang menjadi bahan pokok pembahasan serta agar
dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah maka, penulis menggunakan metode-metode sebagai berikut :
1. Jenis
Penelitian
Penelitian ini bersifat
kualitatif serta field research, artinya
yaitu penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti secara langsung di sebuah
desa dan menggunakan berbagai macam kajian kepustakaan.
2. Sumber
Data
Sumber data untuk sebuah
penelitian ini yaitu objek material yang di dalamnya peneliti mempraktekkan
thibbun nabawi. Sumber data formalnya yaitu pemahaman serta pemaknaan dengan
landasan hadis Nabi sebagai pengobatan serta mengungkap keefektifitasan dari
metode bekam basah.
3. Teknik
Pengolahan Data
a. Interview
(wawancara)
Merupakan sebuah dialog sebagai
teknik pokok dalam penelitian kualitatif. Interview
atau wawancara dilakukan peneliti terhadap ahli bekam dengan mendapat informasi
yang dicari. Dalam wawancara ini peneliti harus membuat rumusan-rumusan
pertanyaan atau bisa juga bertanya langsung sesuai kebutuhan baik kepada ahli
bekam maupun pasien bekam.
b. Observasi
Sebuah metode dimana digunakan
untuk mendapatkan data hasil dari sebuah pengamatan. Pengamatan disini bisa
berupa kondisi, keadaan, proses atau
tingkah laku seseorang. Peneliti menggunakan teknik observasi partisipan yaitu
peneliti melakukan pengamatan dan terlibat langsung dalam praktek bekam basah.
c. Dokumentasi
Merupakan sumber data berupa
catatan atau dokumentasi, dan ini sebagi pelengkap dari metode wawancara dan
observasi. Bahkan bisa dikatakan sebagai penyempurna sumber data yang meliputi
rekaman kegiatan, catatan sejarah, dan tulisan-tulisan dalam buku yang dijadikan
rujukan dan memperkaya data temuan.
G. Sistematika Pembahasan
Supaya pemaparan, pembahasan
sebuah penilitian ini bisa dipahami, juga tidak membingungkan khalayak , maka
penulis akan merumuskan sistematika pembahasan,
yaitu :
Bab pertama, merupakan bab yang berisi latar belakang dan rumusan
masalah penelitian, tujuan penelitian beserta kegunaannya, dan pengertian dari
thibbun nabawi tersebut.
Bab kedua, penjelasan secara umum
tentang thibbun nabawi dan jenisjenisnya. Seperti pengobatan dengan tenggukan
madu, bekam, dan sundutan api. Proses pembekaman terhadap pasien, ciri-ciri
pasien diperbolehkan untuk berbekam.
Menjelaskaan
pengertian bekam basah maupun kering dan lainnya.
Bab ketiga, pada bab ini akan memuat
atau berisi tentang resepsi pasien sebelum dan sesudah berbekam. Gambaran
pengobatan di tempat ahli bekam, mengapa pembekam mencagar-budayakan pengobatan
bekam Nabi.
Bab keempat, berisi tentang makna
pengobatan Nabi yang berlandaskan hadishadis Nabi serta menerapkannya thibbun
nabawi secara sosiologis.
Bab kelima, berisikan penutup yang
meliputi kesimpulan sekaligus memaparkan jawaban atas rumusan masalah, saran-saran, dan kata penutup.
DAFTAR PUSTAKA SEMENTARA
Ihsan, Muhammad. “Pengobatan Ala
Rasulullah Saw Sebagai Pendekatan
Antropologis
Dalam Dakwah Islamiah Di Desa Rensing Kecamatan Sakra
Barat” dalam Palapa : Jurnal Studi
Keislaman dan Ilmu Pendidikan, Vol. 4, No.
02, 2016.
Fatahillah,
Muhammad. “Klinik Pengobatan Thibbun Nabawi Di Kota Pontianak dalam Jurnal
Online Mahasiswa Arsitektur Universitas Tanjungpura, Vol. 4,
No. 02, 2016. Salahuddin,
Muhammad. Mystic Healing Panduan Praktis Menjadi Penyembuh dengan Pendekatan
Spiritual dan Bekam. Jakarta: PT.
Mizan Publika, 2006.
Farah Ubaidillah Mohammad dalam skripsi yang berjudul,
Hadis-hadis Tentang bekam Sebagai Pengobatan Yang Mujarab (Studi Ma’anil
Al-Hadis). Yogyakarta: Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir dan Hadis UIN Sunan
Kalijaga, 2011.
Indra Sukma Yazid dalam skripsi yang
berjudul, Fenomena Pengobatan Dengan Cara
Bekam Di Rumah Sehat Alami ISMEC
Karangbendo Banguntapan Bantul (Studi Pemahaman Terhadap Hadis Tentang Bekam).
Yogyakarta: Fakultas
Ushuluddin, jurusan Tafsir dan Hadis UIN Sunan Kalijaga, 2006.
Hikmah, Nur.
“Efektifitas Terapi Bekam/Hijamah Dalam
Menurunkan Nyeri Kepala
(Cephalgia) (Effectiveness Of Bekam/Hijamah Therapy In reduce
Cephalgia)” dalam jurnal Umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing, Vol. 1, No. 1
April 2017. Kurniasih, Beti. “Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa penyakit Dalam
Pada Manusia
Dengan Terapi ath Thibbun Nabawi Berbasis Web” dalam
Jurnal Telematika, Vol. 2, No. 1 Februari 2009.
Syamsuddin.
“Pengobatan Alternatif Supranatural Menurut Hukum Islam ( Studi Di Klinik Yang
Penting Sembuh Serang ) “ dalam Jurnal AlQalam, Vol. 33, No. 2,
2016.
Al Jauziyah, Ibnu Qayyim. Sistem Kedokteran Nabi (Kesehatan Dan
Pengobatan Menurut Petunjuk Nabi Muhammad Saw). Terj. Agil Husin Munawar
dan Umar
Rahman. Semarang: Cv. Toha Putra,
1994.
Salahuddin, Muhammad. Mystic
Healing Panduan Praktis menjadi Penyembuh dengan Pendekatan
Spiritual dan Bekam. Jakarta Selatan :PT Mizan Publika, 2006.
Yasin, Syihab Al-Badri. Al-Hijamah Sunnatun Nabawiyyah wa Mu’jizatun
Thibbiyyah terj.
Hawin Murtadlo. Solo: Al-Qowam.2005.
Albani, Muhammad (ed.). Asy-Syifa’ min Wahyi Khotami ‘l-Anbiya’ terj. Hawin Murtadlo. Solo:
Al-Qowam.2004. Hasmand, Fedrian (ed.). Halal-Haram
Ruqyah. Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2013.
[1]
Sugiyo, Titik Bekam Hubungannya dengan
Meridian Dan Herba, hlm 1
[2] Muhammad Salahuddin, Mystic Healing Panduan Praktis menjadi
Penyembuh dengan Pendekatan Spiritual dan Bekam, (Jakarta Selatan :PT Mizan
Publika, 2006, hal.87-88
[3]
Ensiklop hal 179, Vol. 5
[4]
Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah, Ath Thibbun
Nabawiy terj. Agil Husin Al Munawar dan Rahman Umar (Semarang:
Cv Thoha Putra, 1994), hlm. 192.
[5] Syihab Al-Badri Yasin, Al-Hijamah Sunnatun Nabawiyyah wa Mu’jizatun
Thibbiyyah terj. Harwin Murtadlo (Solo: Al-Qowam, 2005), hlm. 2.
[6] Aiman bin ‘Abdul Fattah, Asy-Syifa’ min Wahyi Khotami ‘l-Anbiya’ terj. Harwin Murtadlo (Solo: Al-Qowam, 2004),
hlm.29.
[7] Musdar Bustaman Tambusai, Halal-Haram Ruqyah Fedrian Hasmand
(ed.),(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013), hlm. 2-3.

Comments
Post a Comment