Suatu kajian terhadap
teks atau manuskrip masih dipandang memiliki arti yang
signifikan dalam
perkembangan keilmuan, sehingga masih perlu dilakukan kajian
terhadapnya. Teks atau
manuskrip kuno mempunyai informasi mengenai sejarah,
budaya dan interaksi
sosial pada masa lampau. Kajian filologi ini diperlukan karena
munculnya variasi-variasi
dalam teks yang tersimpan dalam naskah.1 Secara tradisional
penelitian filologi
dapat diartikan suatu kegiatan mengkaji teks-teks lama dalam sebuah
atau sejumlah naskah
yang menunjukkan bacaan yang berbeda (varian) atau bacaan
yang rusak (korup) untuk
mendapatkan kembali teks yang bersih dari kesalahan dan
mendekati teks
aslinya.2
Dalam teks dan
manuskrip juga memuat nilai-nilai kehidupan yang perlu
dipertahankan. Istilah
“al-muhafadhah ala qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-qadim al
ashlah” yang cukup
populer di kalangan pesantren di Indonesia ini juga mendukung
adanya kajian ini. Dan
sikap ini termasuk sikap yang menghargai karya-karya guru
guru kita di masa lalu,
menghargai sejarah mereka dan melanjutkan perjuangannya.
Dan dengan cara ini
pula kita dapat mengambil pelajaran dari masa lampau untuk
menghadapi masa
sekarang dan masa yang akan datang.
1 Kun Zachrun Istanti,
Metode Penelitian Filologi dan Penerapannya (Yogyakarta: IKAPI, 2013). Hlm. 3.
2 Eni Afrita, “Hikayat Tabut: Suatu Tinjauan Filologi dan Sintaksis,” Humanus,
2, XI (2012). Hlm. 189.
2
Konon, filologi itu
bidang ilmu yang tidak menarik, tidak eksis, membosankan,
tidak populer dan
karenanya tidak diminati banyak orang.3 Tetapi dengan mengkaji
ilmu ini, kita diajak
menyelami sejarah, peradaban dan ilmu pengetahuan lain yang
belum diketahui banyak
orang. Dengan demikian, kearifan lokal dari budaya
masyarakat Indonesia
ini bisa kita pahami dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Alasan penulis tertarik
mengkaji tentang ilmu filologi ini ialah dikarenakan
masih minimnya
mahasiswa program studi Tafsir Hadis (sebelum dipecah menjadi
Ilmu Al-Qur’an dan
Tafsir dan Ilmu Hadis) yang mencurahkan pemikirannya terhadap
kajian keilmuan ini.
Padahal filologi ini adalah salah satu pintu gerbang dari kajian
keilmuan ini yang
bersumber dari kitab-kitab klasik dan pemikiran hasil karya ulama
terdahulu.
Dalam ruang lingkup
tanah Nusantara, ternyata banyak ditemukan karya-karya
atau naskah-naskah dari
guru-guru kita yang ditemukan dan belum ditemukan. Karya
karya tersebut ditulis
dalam berbagai bahasa yang berisi tentang tasawuf, teologi,
ajaran moral,
kebudayaan dan lain-lain. Di antara yang telah ditemukan juga masih
banyak yang belum
dikaji dan hanya menjadi “pusaka” ahli waris dan keluarga.
Di antara karya-karya
tersebut, terdapat naskah tradisional yang terdapat di
daerah Rengel, Tuban,
Jawa Timur yang berupa kitab hadis yang bernama “Arbain
Madyani”. Mbah Abu
Ishaq Madyani adalah seorang ulama lokal yang sangat
3 Oman Fathurahman,
Filologi Indonesia: Teori dan Metode (Jakarta: Kencana, 2017). Hlm. 1.
3
berpengaruh di
daerahnya. Beliau termasuk ulama yang cukup produktif dalam menulis
karya-karya. Di antara
karyanya ada yang membahas tafsir, fikih, tasawuf dan hadis.
Abu Ishaq sendiri
adalah nama kunyahnya yang merujuk pada nama putra pertamanya.
Kitab Arbain Madyani
ini termasuk dalam kitab-kitab himpunan hadis, yaitu
kitab-kitab yang
disusun untuk menghimpun hadis dari sejumlah kitab sumber hadis.4
selain itu, kitab ini
juga termasuk kitab-kitab hadis targhib dan tarhib, yaitu kitab-kitab
yang mengumpulkan hadis
targhib (hadis yang menerangkan keutamaan amal,
menggemarkan hati kita
untuk beramal) dan tarhib (hadis yang menerangkan agar kita
menjauhkan diri dari
perbuatan-perbuatan yang terlarang).5 Di antara kitab-kitab
semacam ini adalah kitab Al-Targhib wa al-Tarhib karya Imam
al-Mundiri dan kitab
Riyadh al-Shalihin
karya Imam al-Nawawi. Dan dapat dikatakan bahwa penghimpunan
hadis dalam beberapa
kitab telah menghasilkan khazanah ilmu hadis yang bermacam
macam. Dari upaya ini,
ulama meneruskan dalam memberikan syarah dan pentahqiqan
sehingga kebanyakan
ulama berikutnya hanya mengedit dan memberikan catatan
terhadap beberapa karya
sebelumnya.6
Masing-masing kitab
hadis memiliki metode dan ciri khas tertentu yang
membedakan antara kitab
yang satu dengan yang lainnya. Adanya ragam tersebut
merupakan konsekwensi
logis dari perkembangan ilmu hadis yang mengisyaratkan
4 Nuruddin ’Itr,
’Ulumul Hadis, trans. oleh Mujiyo (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014). Hlm. 198.
5 Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits (Semarang:
Pustaka Rizki Putra, 2009). Hlm. 96. 6 M. Alfatih Suryadilaga, Pengantar Studi
Quran Hadis (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2014). Hlm. 139.
4
pentingnya penyaringan
dan penelitian hadis yang lebih selektif. Di samping itu,
kondisi sosio-historis
pengarang kitab banyak mempengaruhi juga.7 Penelitian hadis
dalam konteks yang
lebih luas perlu dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang
proporsional dalam
konteks kekinian. Dalam konteks tersebut dapat pula diakses
melalui kitab hadis
yang ditulis oleh ulama hadis mutaqaddimin maupun
muta’akhkhirin.8 Dan
sumber pokok pengetahuan tentang ilmu hadis sendiri yaitu Nabi
Muhammad yang terkait
dengan perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat fisik ataupun
psikis serta sesuatu
yang berasal dari sahabat Nabi dan tabi’in.9 Alasan di atas ini
menunjukkan pentingnya
mengkaji kitab-kitab hadis yang mengandung informasi
mengenai dinamika
perkembangan hadis dan ilmu hadis sejak masa Nabi hingga
sekarang.
Naskah Arbain Madyani
tersebut masih disimpan pihak ahli waris secara
pribadi dalam rumahnya,
meskipun apabila ada keperluan untuk mengkajinya ahli
waris mengizinkan
membawanya untuk diteliti. Naskah tersebut berusia lebih dari 100
tahun dan ditulis dalam
kertas kuno yang mudah rusak dan tinta yang sederhana dengan
tulisan tangan yang
bagi belum biasa membaca teks Arab gundul akan kesulitan untuk
membacanya. Inilah yang
merupakan tugas dari filolog untuk menguak isi naskah
tersebut dengan
pendekatan filologi. Kajian filologi terhadap naskah tersebut bertujuan
7 M. Alfatih
Suryadilaga, “Pengantar Editor,” dalam Studi Kitab Hadis, ed. oleh M. Alfatih
Suryadilaga (Yogyakarta: Teras, 2009). Hlm. xii. 8 Suryadi dan M. Alfatih
Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: Teras, 2009). Hlm. 174. 9
Idri, Epistemologi: Ilmu Pengetahuan, Ilmu Hadis, dan Ilmu Hukum Islam
(Jakarta: Kencana, 2015). Hlm. 83.
5
untuk menyunting,
mengungkap sejarah dan persepsi pembaca pada setiap masa
penerimaannya.10 Dan
penulis merasa beruntung karena mempunyai akses dan
kedekatan dengan ahli
waris pemegang naskah tersebut. Selain itu juga karya tersebut
masih bisa dibaca
meskipun ada beberapa huruf yang terhapus karena dimakan usia.
Dan dari segi isi,
naskah tersebut merupakan hadis arbain yang berisi tentang
konsep targhib dan
tarhib. Riset filologi ini tidak hanya menyalin kembali teks-teks
kuno, melainkan juga
memahami dan menafsirkan dengan berbagai pendekatan ilmu
lain, misalnya
hermeneutik atau historis-sosiologi, untuk mendapatkan makna yang
relevan dengan konteks
kekinian.11 Penulis akan berusaha menganalisis isi naskah dan
menjelaskan konsep
targhib dan tarhib baik dalam ilmu pendidikan maupun dalam
tasawuf serta implikasi
penerapan konsep tersebut dalam
kehidupan sekarang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hasil
suntingan dan sistem penerjemahan naskah Arbain Madyani
tersebut?
2. Bagaimana konsep
targhib dan tarhib yang terdapat dalam naskah Arbain
Madyani?
C. Tujuan dan Kegunaan
Penelitian
10 Nabilah Lubis,
Naskah, Teks dan Metode Penelitian Filologi (Jakarta: Yayasan Media Alo
Indonesia, 2001). Hlm. 21. 11 Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan
Tafsir (Yogyakarta: Idea Press, 2015). Hlm. 87.
6
Dengan membaca latar belakang
penelitian ini serta rumusan masalah di atas,
penelitian ini
bertujuan untuk:
1. Menyajikan suntingan
dan menjelaskan sistem penerjemahan naskah
Arbain Madyani.
2. Menjelaskan
konsep-konsep targhib dan tarhib yang terdapat dalam naskah
Arbain Madyani.
Adapun kegunaan dari
penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi
pemikiran dan khazanah
ilmu keislaman serta memperkaya kepustakaan mengenai
kajian ulum al-hadis
pada umumnya, dan filologi secara khususnya. Selain itu,
diharapkan dalam penelitian
ini dapat menambah atau bahkan membuka wawasan
mengenai naskah-naskah
hadis yang tersebar di Indonesia. Terlebih lagi, harapan
utama penulis melalui
tulisan ini ialah dapat menjadi motivasi bagi pelajar terkhusus
bagi pengkaji hadis
untuk mempunyai atensi dan animo dalam belajar filologi yang
dikombinasikan dengan
seperangkat ulum al-hadis, baik berupa teori ataupun aplikasi
sehingga kajian ini
semakin banyak dan eksistensi filologi ini tidak teralienasi dari
mozaik ilmu-ilmu
keislaman yang lain serta lebih banyak naskah-naskah hadis lain
yang mendapat perhatian
untuk diteliti.
D. Tinjauan Pustaka
7
Sesungguhnya tulisan
tentang kajian filologi ini tidaklah sedikit, khususnya di
kalangan pegiat kajian
ilmu sastra atau di lembaga-lembaga dan perguruan-perguruan
tinggi yang banyak
berkaitan dengan kajian sastra dan sejarah. Namun, kajian-kajian
tersebut tidak banyak
yang merujuk pada karya-karya ulama Nusantara khususnya
dalam kajian ilmu
keagamaan yang masih tersimpan rapi di lemari ahli waris keluarga.
Dan kajian tersebut
belum banyak menggunakan pendekatan ilmu-ilmu keislaman
khususnya ilmu hadis
dalam merekonstruksi makna yang terdapat naskah-naskah
tersebut.
Oleh karena itu, di
bagian ini penulis akan memaparkan beberapa karya tulis
yang dilakukan oleh
peneliti sebelumnya, yang secara umum ada keterkaitan erat
dengan penelitian yang
penulis lakukan.
Pertama, buku yang
berjudul Metode Penelitian Filologi & Penerapannya
penulis Kun Zachrun
Istanti. Buku ini pada bagian awal dijelaskan metode dalam
penelitian filologi.
Tetapi pada bagian akhir buku disajikan penerapan metode
penyuntingan teks,
yaitu edisi dengan penyesuaian ejaan dan edisi diplomatik dari
naskah Hujjat
al-Shiddiqi li Daf’ al-Zindiq karya Nuruddin Arraniri yang termuat
dalam buku yang
berjudul Twee Maleise Geschriften van Nurudin Arraniri karya P.
Voorhoeve.
Kedua, penelitian yang
dilakukan oleh Jeni Permata Sari tentang Alih Aksara
dan Alih Bahasa Teks
Cerita Nabi Isa As dalam Naskah Cerita Nabi-nabi Versi Azhari
Alkhalidi Rahmatullah.
Penelitian kualitatif-deskriptif ini menggunakan metode alih
8
bahasa pada naskah yang
memuat kisah hidup para Nabi, Sahabat, dan keluarga Nabi
yang ditulis dengan
aksara Arab-Melayu dan berbahasa Melayu.
Ketiga, skripsi yang
berjudul Kajian Pragmatik Naskah Gurindam Dua Belas
karya Raja Ali Haji.
Skripsi yang ditulis oleh SM Purwoningrum ini berisi kajian
filologi tentang
suntingan teks beserta terjemahan dari naskah Gurindam Dua Belas
yang ditulis oleh Raja
Ali Haji. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik
yang merupakan kajian
tentang arti yang dikomunikasikan pembicara dan
diinterpretasikan pendengar.
Keempat, skripsi yang
berjudul Sejarah Nabi Muhammad: Suntingan Teks dan
Analisis Struktural
koleksi Museum Negeri Mpu Tantular Sidoarjo Jawa Timur.
Skripsi yang ditulis
oleh Atiek Fatimatuzzahro ini merupakan kajian filologi yang
menghasilkan suntingan
teks dan mengungkapkan struktur dalam naskah Sejarah Nabi
Muhammad. Penelitian
ini menggunakan metode naskah tunggal yakni metode
suntingan teks standar.
Kelima, skripsi yang
berjudul Kajian Filologi dan Nilai-nilai Pendidikan Moral
dalam Serat Ambek
Sanga. Skripsi yang ditulis oleh Setya Adi Nugraha ini merupakan
kajian filologi yang
menyajikan suntingan teks, membuat parafrase teks, serta
membuat terjemahan
teks. Selain itu, juga mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan
moral yang terkandung
dalam teks Serat Ambek Sanga. Penelitian ini menggunakan
metode diplomatik dan
standar.
Keenam, tesis yang
berjudul Serat Wulang Reh Putri: Suntingan Teks,
Terjemahan dan Kajian
Makna. Tesis yang ditulis oleh Sutji Hartiningsih ini adalah
9
kajian filologi yang
menghasilkan suntingan teks, terjemahan teks, serta
mengungkapkan makna
ajaran moral dalam teks Serat Wulang Reh Putri. Metode yang
digunakan dalam
penelitian ini adalah metode suntingan teks edisi standar.
Ketujuh, tesis yang
berjudul Naskah al-Manhal al-‘Adhb li al-Dhikr al-Qalb:
Kajian atas Dinamika
Perkembangan Ajaran Tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah di
Minangkabau. Tesis yang
ditulis oleh Syofyan Hadi ini merupakan kajian filologi atas
karya Syaikh Ismail
al-Khalidi al-Minangkabawi yang mencoba menguraikan isi dan
kandungan teks.
Analisis dan kontekstualisasi terhadap naskah ini menggunakan
pendekatan sejarah
sosial-intelektual.
Kedelapan, penelitian
dalam jurnal yang dilakukan oleh Dede Hidayatullah
yang berjudul Naskah
Mantra Mistik: Kodikologi, Suntingan dan Isi Teks. Penelitian
ini adalah penelitian
filologis yang mencoba menguraikan kodikologi dan isi yang
terdapat dalam naskah
pengobatan Mantra Mistik dalam bahasa Banjar. Metode yang
digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif.
Kesembilan, skripsi
yang berjudul Babad Pracimaharjakaparingan Nama
Serat Sri Udyana (Suatu
Tinjauan Filologis). Skripsi yang ditulis oleh Eko Rupadi ini
merupakan kajian
filologi yang menyajikan suntingan teks dan mengungkapkan isi
yang terkandung dalam
BPKNSSU. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah
metode kritik teks
untuk naskah tunggal.
Satu lagi yaitu
disertasi yang berjudul Naskah-naskah Skriptorium Pakualaman
Periode Paku Alam II
(1830-1858): Kajian Kodikologi, Filologi, dan Hermeneutika.
Disertasi yang ditulis
oleh Sri Ratna Saktimulya ini merupakan penelitian filologi yang
10
berusaha memahami pesan
yang disampaikan oleh Paku Alam II. Pendekatan yang
digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kodikologi dan filologi serta
pendekatan sastra
khususnya hermeneutika Paul Ricoeur.
E. Kerangka Teori
Salah satu dari
penelitian hadis adalah model penelitian naskah kuno yang
disebut sebagai
filologi. Filologi berasal dari kata Yunani . philos yang berarti cinta
dan logos diartikan
kata. Pada kata filologi, kedua kata itu membentuk arti cinta kata
atau senang bertutur.
Arti ini kemudian berkembang menjadi senang belajar atau
senang kebudayaan.12
Dan penelitian filologi ini merupakan salah satu cara untuk
meneliti bahasa melalui
tiga bidang, yaitu linguistik, makna kata secara khusus dan
ilmu sastra.
Dalam tradisi keilmuan
Arab, filologi dapat disandingkan dengan ilmu tahqiq,
yaitu mentahqiq sebuah
teks berarti mengetahui secara yakin tentang naskah,
penulisnya, mengetahui
bagaimana naskah itu bisa disandarkan kepada penulisnya,
melakukan kegiatan
kritik teks yang nantinya bisa mengetahui tentang keaslian dari
dan kedekatannya dengan
naskah yang pertama dibuat.13
12 Lubis, Naskah, Teks
dan Metode Penelitian Filologi. Hlm. 17 13 Dede Hidayatullah, “Naskah Mantra
Mistik: Kodikologi, Suntingan dan Isi Teks,” Undas, 2, 12 (2016). Hlm. 120.
11
Secara teknis, terdapat
beberapa metode penyuntingan naskah. Di antaranya
adalah edisi diplomatik
yakni menerbitkan satu naskah seteliti-telitinya tanpa
mengadakan perubahan.
Kedua, edisi kritis yaitu menerbitkan naskah dengan
membetulkan
kesalahan-kesalahan kecil dan ketidakajegan. Ketiga, edisi dengan
penyesuaian ejaan
adalah menerbitkan naskah dengan membetulkan kesalahan
kesalahan kecil dan
ketidakajegan, sedang ejaannya disesuaikan dengan ketentuan
yang berlaku.14 Dan dalam
penelitian ini menggunakan dua metode, yakni edisi kritis
dan edisi dengan
penyesuaian ejaan. Pemilihan kedua metode ini dikarenakan
keduanya memiliki
persamaan dan saling menyempurnakan satu sama lain. Sedangkan
edisi diplomatik nampak
hanya menampilkan teks dalam naskah apa adanya dan
terkesan hanya menyalin
ulang.
Kemudian secara
metodologis, penelitian filologi mempunyai tujuan umum
dan tujuan khusus.
Tujuan umum untuk: Pertama, mengungkapkan produk masa
lampau melalui
peninggalan tulisan. Kedua, mengungkapkan fungsi peninggalan
tulisan pada masyarakat
penerimanya. Ketiga, mengungkapkan nilai-nilai budaya masa
lampau. Sedangkan
tujuan khususnya agar: Pertama, mengungkapkan bentuk mula
teks yang tersimpan
dalam peninggalan tulisan masa lampau. Kedua, mengungkapkan
sejarah perkembangan
teks. Ketiga, mengungkapkan sambutan masyarakat terhadap
14 Istanti, Metode
Penelitian Filologi dan Penerapannya. Hlm. 39-41.
12
suatu teks sepanjang
penerimaannya. Keempat, menyajikan teks dalam bentuk yang
terbaca oleh masyarakat
masa kini, yaitu dalam bentuk suntingan.15
Adapun metode dari
penelitian kompararif ialah melakukan inventarisasi
naskah, melakukan
kritik teks, melakukan deskripsi naskah, pengelompokan dan
perbandingan teks,
transliterasi atau transkripsi, melakukan penerjemahan, interpretasi
teks, analisis dan
kritik, dan membuat kesimpulan yang menjawab rumusan masalah
yang dikemukakan di
dalam pendahuluan.16
F. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini
adalah kualitatif, yakni penelitian yang mengandalkan data
berupa teks dan gambar,
memiliki langkah-langkah unik dalam analisis datanya, dan
bersumber dari strategi
penelitian yang berbeda-beda.17 Oleh karena itu, langkah kerja
dari penelitian ini
adalah penelitian pustaka (library research) yaitu penelitian yang
bersumber dari
data-data kepustakaan baik berupa buku, jurnal, artikel, ataupun bacaan
lainnya yang terkait
dengan objek penelitian ini. Penelitian yang bertujuan untuk
membuktikan kebenaran
hipotesis, bahan yang terhimpun melalui kajian literatur dapat
15 Siti Baroroh Baried
dkk., Pengantar Teori Filologi (Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi
Fakultas (BPFF) Seksi Filologi Fakultas Sastra UGM, 1994). Hlm. 7-8. 16
Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir. Hlm. 89. 17 John W. Creswell,
Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran, trans.
oleh Achmad Fawaid dan Rianayati Kusmini Pancasari (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2016). Hlm. 245.
13
digunakan untuk
membangun hipotesis yang kokoh, sehingga kecil kemungkinan
hipotesis tidak
terbukti.18
Di sisi lain, juga
dilakukan penelitian lapangan (field research), yakni
penelitian yang
dilakukan dengan melaksanakan wawancara terhadap sampel yang
telah ditentukan
terkait dengan klarifikasi data penelitian. Wawancara mendalam
(indept interview) juga
dilakukan untuk menggali data yang berasal dari seorang
informan kunci (key
informan) menyangkut data pengalaman individu atau hal-hal
khusus yang sangat
spesifik.19 Di antara para tokoh yang diwawancarai adalah
Muhammad Burhanuddin,
selaku keluarga ahli waris naskah Arbain Madyani, dan
Muhammad Mudlofar
selaku pakar silsilah dan sejarah keluarga Bani Qomaruddin, dll.
Namun, terlepas dari
dua jenis penelitian tersebut pada dasarnya penelitian ini
menggunakan penelitian
pustaka (library research) secara umum. Adapun penelitian
lapangan (field
research) hanya sebagai data tambahan atau penguat dari data-data
yang diambil dalam
penelitian pustaka (library research).
2. Sumber data
Rancangan penelitian
ini memang hanya difokuskan pada naskah Arbain
Madyani yang bisa
penulis temukan di Rengel, Tuban, Jawa Timur. Naskah ini
18 Suwartono,
Dasar-Dasar Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Andi, 2014). Hlm. 149. 19 Moh
Soehadha, Metode Penelitian Sosial Kualitatif Untuk Studi Agama (Yogyakarta:
SUKA-Press, 2012). Hlm. 115.
14
tebalnya sepuluh lembar
halaman dan semuanya menampilkan hadis tanpa sanad
lengkap sebagaimana
umumnya kitab hadis sekunder.
Untuk keperluan
analisis tentang konsep targhib dan tarhib, penulis akan
menggunakan literatur
yang terkait dengan persoalan tersebut dalam literatur tasawuf
dan pendidikan agar
analisis yang dihasilkan lebih tajam dan kritis.
3. Teknik analisis data
Data yang telah
diperoleh tersebut kemudian disusun untuk dianalisis dengan
menggunakan teknik.
Menurut Widodo20, penelitian deskriptif adalah penelitian yang
bertujuan
mendeskripsikan atau menjelaskan tentang sesuatu hal seperti apa adanya.
Penelitian deskriptif
bertolak dari penadsiran data melalui alur berpikir logis seorang
peneliti yang dibangun
melalui tesis, antitesis, dan sintesis. Alur berpikir logis dalam
analisis data dalam
penelitian deskriptif dijelaskan sebagai berikut.
1. Tesis berisi
teori-teori yang digunakan untuk merumuskan kerangka kerja,
dalam penelitian ini
tesis berisi teori-teori filologi.
2. Antitesis berisi
data penelitian yang diperoleh dari proses deskripsi naskah,
translitrasi teks,
suntingan teks, terjemah teks Arbai Madyani serta data
data yang berupa
konsep-konsep targhib dan tarhib yang terkandung dalam
teks tersebut.
20 Erna Widodo dan
Mukhtar, Konstruksi ke Arah Penelitian Deskriptif (Yogyakarta: Avryrouz, 2000).
Hlm. 124.
15
3. Analisis atau
sintesis berisi data yang telah dibangun pada data antitesis
yang berupa hasil
penelitian dan pembahasan.
4. Pendekatan
Dalam penelitian ini,
penulis menggunakan pendekatan filologi yang berguna
untuk meneliti bahasa,
kajian linguistik, makna kata-kata dan penilaian terhadap
ungkapan karya sastra21
dan pendekatan historis untuk mengeksplorasi kehidupan dan
latar belakang keilmuan
Kiai Abu Ishaq Madyani agar dapat ditemukan relasi yang
terdapat dalam isi
naskah dengan konteks kehidupan penyusun kitabnya.
Langkah-langkah dalam
penelitian ini berjalan dalam sistematikanya sebagai
berikut: Pertama,
penulis akan melakukan penyuntingan dari naskah aslinya yang
memakai bahasa Arab.
Kedua, penulis akan memberikan sinopsis dari penerjemahan
ke dalam Bahasa
Indonesia agar pembaca dapat memahami pokok-pokok dari isi
naskah tersebut.
Ketiga, penulis akan melakukan analisis kritis terhadap isi naskah
tersebut, yaitu naskah
yang berisi konsep-konsep dan gagasan
pemikiran.
G. Sistematika
Penulisan
Bab pertama, berisi
pendahuluan yang menguraikan secara global dan terdapat
sub-bab masing-masing
meliputi, latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan
21 Khoiruddin Nasution,
Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Academia & Tazzafa, 2012). Hlm. 216217.
16
kegunaan penelitian,
telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika
penulisan.
Bab kedua, diisi dengan
eksplorasi biografi penyusun kitab, yakni Kiai Abu
Ishaq Madyani, yang di
dalamnya meliputi latar belakang kehidupan, sejarah
perkembangan
intelektual, karya-karyanya, serta kontribusinya dalam kajian-kajian
keislaman di daerah dan
masyarakat sekitarnya. Sekaligus nantinya juga akan
dijelaskan tinjauan
umum dari kitab yang dikaji, yakni kitab Arbain Madyani.
Bab ketiga, berisi
suntingan naskah Arbain Madyani yang merupakan bab
khusus untuk
mendeskripsikan naskah Arbain Madyani, baik dari segi fisiknya,
maupun dari segi
isinya, dan terjemahan naskah ke dalam Bahasa Indonesia.
Bab keempat, adalah
analisis kritis terhadap konsep-konsep targhib dan tarhib
dalam naskah Arbain
Madyani dengan berbagai pendekatan, yakni pendekatan
dakwah, pendidikan dan
tasawuf.
Bab kelima, adalah
penutup yang berisi kesimpulan dari pembahasan
sebelumnya dan diakhiri
dengan saran serta rekomendasi untuk penelitian selanjutnya
yang masih terkait
dengan penelitian ini.
17
H. Daftar Pustaka Sementara
Afrita, Eni. “Hikayat
Tabut: Suatu Tinjauan Filologi dan Sintaksis.” Humanus, 2, XI
(2012).
Ash-Shiddieqy, Muhammad
Hasbi. Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits. Semarang:
Pustaka Rizki Putra,
2009.
Baried, Siti Baroroh,
Sulastin Sutrisno, Siti Chamamah Soeratno, Sawu, dan Kun
Zachrun Istanti.
Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan
Publikasi Fakultas
(BPFF) Seksi Filologi Fakultas Sastra UGM, 1994.
Creswell, John W.
Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan
Campuran. Diterjemahkan
oleh Achmad Fawaid dan Rianayati Kusmini
Pancasari. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2016.
Fathurahman, Oman.
Filologi Indonesia: Teori dan Metode. Jakarta: Kencana, 2017.
Hidayatullah, Dede.
“Naskah Mantra Mistik: Kodikologi, Suntingan dan Isi Teks.”
Undas, 2, 12 (2016).
Idri. Epistemologi:
Ilmu Pengetahuan, Ilmu Hadis, dan Ilmu Hukum Islam. Jakarta:
Kencana, 2015.
Istanti, Kun Zachrun.
Metode Penelitian Filologi dan Penerapannya. Yogyakarta:
IKAPI, 2013.
’Itr, Nuruddin. ’Ulumul
Hadis. Diterjemahkan oleh Mujiyo. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2014.
18
Lubis, Nabilah. Naskah,
Teks dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Yayasan
Media Alo Indonesia,
2001.
Mustaqim, Abdul. Metode
Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir. Yogyakarta: Idea Press,
2015.
Nasution, Khoiruddin.
Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Academia & Tazzafa,
2012.
Soehadha, Moh. Metode
Penelitian Sosial Kualitatif Untuk Studi Agama. Yogyakarta:
SUKA-Press, 2012.
Suryadi, dan M. Alfatih
Suryadilaga. Metodologi Penelitian Hadis. Yogyakarta:
Teras, 2009.
Suryadilaga, M.
Alfatih. “Pengantar Editor.” Dalam Studi Kitab Hadis, disunting oleh
M. Alfatih Suryadilaga.
Yogyakarta: Teras, 2009.
———. Pengantar Studi
Quran Hadis. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2014.
Suwartono. Dasar-Dasar
Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi, 2014.
Widodo, Erna, dan
Mukhtar. Konstruksi ke Arah Penelitian Deskriptif. Yogyakarta:
Avryrouz, 2000.
19
RENCANA DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Kegunaa
Penelitian
D. Telaah Pustaka
E. Kerangka Teori
F. Metode Penelitian
G. Sistematika
Pembahasan
BAB II. BIOGRAFI KIAI
ABU ISHAQ MADYANI
A. Latar Belakang
Kehidupan Kiai Abu Ishaq Madyani
B. Riwayat Perkembangan
Intelektual Kiai Abu Ishaq Madyani
C. Karya-karya Kiai Abu
Ishaq Madyani
D. Kontribusi Kiai Abu
Ishaq Madyani dalam Perkembangan Kajian Keislaman di
Daerah dan Masyarakat
Sekitarnya
BAB III. SUNTINGAN TEKS
NASKAH ARBAIN MADYANI
A. Deskripsi Naskah
B. Suntingan Teks
Naskah Arbain Madyani
C. Aparat Kritik Teks
Naskah Arbain Madyani
D. Terjemahan Teks
Naskah Arbain Madyani
20
BAB IV. ANALISIS KRITIS
TERHADAP KONSEP TARGHIB DAN TARHIB
DALAM TEKS NASKAH ARBAIN
MADYANI
A. Konsep Targhib dan
Tarhib dengan Nilai Dakwah dalam Teks Naskah Arbain
Madyani
B. Konsep Targhib dan
Tarhib dengan Nilai Pendidikan dalam Teks Naskah
Arbain Madyani
C. Konsep Targhib dan
Tarhib dengan Nilai Tasawuf dalam Teks Naskah Arbain
Madyani
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran-saran

Comments
Post a Comment