![]() |
| Surau dan Perkembangan Islam di Masyarakat Kota Solok Sumatera Barat (1900-1980 ), blogspot.com |
Surau adalah bangunan kebudayaan dan adat, surau berfungsi seagai tempat dimusyarahkannya urusan adat serta juga sebagai tempat musyawarah masyarakat atas permasalahan sosial yang terjadi. Masuknya islam ke wilayah sumatera barat adalah faktor utama peralihan fungsi surau dari yang sebelumnya berfungsi sebagai tempat adat dan permusyawratan masyarakat menjadi tempat dilaksanakannya pendidikan agama sekaligus langkah pertama penyebaran agama islam di wilayah Mianangkabau.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan peran surau sebagai lembaga penyebaran islam di wilayah Minangkabau terkhusus pada wilayah cakupan penelitian yaitu Kota Solok. Penelitian ini secara rinci membahas perubahan sosial pada masyarakat semenjak adanya perubahan fungsi surau yang dimasuki oleh faham terekat yang memilki tujuan penyebaran ajaran islam. Subjek penelitian ini adalah masyarakat Kota Solok. Pengumpulan data menggunakan pengumpulan data serta analisis dokumen serta wawancara mendalam. Pendekatan yang igunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosial dngan memakai model evolusi. Model evolusi digunakan karena adanya perubahan kondisi sosial keagamaan masyarakat setelah adanya perubahan fungsi surau.
Hasil penelitian ini akan menunjukkan bahwa surau selain sebagai lembaga pendidikan tradisional memiliki peran lainnya yaitu menyebarkan ajaran islam. Surau sebagai lembaga tradisonal dimasuki oleh faham tarekat atau sufistik yang kemudian menjadi media penting penyebaran islam yang merubah kondisi keagamaan masyarakat.
Abstrak masih dalam proses pengerjaan.
A. Latar Belakang
Minangkabau pada zaman dahulu, adalah suatu wilayah yang sangat besar jika dilihat dari sisi geografisnya. Minangkabau merujuk pada suatu daerah ditengah pulau Perca, meliputi keresidenan Sumatera Barat, Kuantan dan Kampar Kiri, menurut batas-batas tertentu . Batas-batas itu kemudian sampai ke Inderagiri, juga meliputi wilayah Jambi saat ini, hal ini menjelaskan bahwa Minangkabau dahulu dengan Minangkabau yang dikenal saat ini jauh berbeda luasnya secara geografis, sebab Minangkabau yang dikenal saat ini adalah wilayah sumatera barat.
Islam diperkirakan masuk kedaerah sumatera barat pada tahun 1250 M, beberapa ahli sejarah menjelaskan islam telah diperkenalkan di Indonesia oleh pedagang arab yang singgah dan menetap di sumatera barat pada saat itu. Namun pengaruh yang dibawa pedagang Arab tidak mampu menyeluruh menggapai wilayah lain di Sumatera Barat atau Minangkabau, dan dominan hanya di daerah pesisir serta daerah pelabuhan, karena mereka bersinggungan langsung dengan pembawa Islam tersebut, karena itu Islam tidak tumbuh mengakar dan menyeluruh diseluruh kawasan Minangkabau.
Dalam catatan lainnya mengenai penyebaran agama Islam di Sumatera Barat, ada bebrapa daerah yang diperkirakan menjadi daerah pertama yang menerima ajaran Islam di daerah Minangkabau daerah itu adalah daerah Kumpulan didekat Bonjol dan daerah Pariaman. Agama islm dipastika sudah ada di Minangkabau pada tahun 1500 M, karena pada tahun ini berdiri kerajaan islam di Minangkabau
Pengaruh agama Islam dibawa oleh seorang ulama tarekat syattariyiah yang datang dari Aceh, untuk itu Tarekat Syattariyah adalah tarekat pertama yang menyebarkan Islam di daerah Minangkabau. Masuknya Tarekat Syattariyah ke Sumatera Barat dipercayai terjadi pada tahun 1070 H/1659 M oleh Syekh Burhanuddin seorang murid Tarekat Syattariyah yang berguru di Aceh. Meskipun terdapat catatan lain bahwa ada tarekat lain yang masuk ke wilayah sumatera barat sebelum Tarekat Syattariyah, namun belum ditemukannya bukti yang relavan terhadap pendapat ini.
Sebelum islam datang ke wilayah sumatera surau adalah bangunan kebudayaan dan adat, yang juga digunakan sebagai ritual agama Hindu-Budha. Surau menjadi tempat untuk mempelajari adat, musyawarah, serta tempat untuk membahas hal-hal yang dapat memberikan solusi ideal yang terjadi dalam masyarakat. Biasanya surau dibangun lebih tinggi dari bangunan lain, sebagaimana diyakini bahwa pada tahun 1356 Raja Adityawarman mendirikan sebuah komplek surau Budha di sekitar Bukit Gombak.
Setelah masuk ke wilayah Sumatera Barat, Syekh Burhanuddin kemudian menggunakan surau sebagai media dakwah, pada saat itu surau adalah media yang digunakan masyarakat Minangkabau untuk berkumpul bercengkrama serta bermusyawarah. Dengan pengubahan fungsi surau dari segi keagamaan sebagai media dakwah pada masa awal pengembangan Tarekat Syattariyah pada saat itu, Syekh Burhanudin dapat dikatakan sebagai penggagas pertama yang menjadikan surau sebagai media penyebaran agama Islam.
Seiring berjalannya waktu, tarekat ini kemudian dikenali oleh banyak orang hingga kemudian banyak orang yang datang dari berbagai penjuru untuk mempelajari agama islam lebih mendalam. Sebagaimana sudah tradisi dalam sebuah tarekat bahwa pengajaran tentang tarekat itu akan diajarkan dan dikembangkan terus agar dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini juga terjadi dengan tarekat ini, murid-murid yang telah selesai berguru kepada syaikh di pariaman kemudian kembali ke daerah mereka dan melanjutkan proses dakwah. Pada masa setelah masa berkembangnya tarekat syattariyah, pengaruh dan ajaran tarekat lainnya mulai masuk kewilayah Minangkabau.
Surau kemudian dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan non-formal atau diluar dari kurikulum sekolah, dari surau, pemuda Minangkabau diajarkan mengenai Islam serta budaya Minangkabau yang luhur. Peranan syekh atau guru agama dalam mengajarkan Islam dan membentuk karakter menjadi bukti perkembangan Islam dengan surau sebagai media penting penyebaran Islam di Minangkabau.
Pada tiap-tiap negeri kaum muslimin mendirikan sebuah masjid untuk tempat mengaji al Quran, dan tempat mengerjakan sembahyang lima waktu. Menurut adat kebiasaan aum muslimin, anak yang telah berumur tujuh tahun, harus diceraikan dari ibunya. Anak-anak itu bermalam di surau sambil belajar mengaji al quran pada guru agama.
Islam diperkirakan mulai berkembang luas di wilayah Kota Solok adalah sekitar abad ke-19. Perkiraan ini merujuk pada salah satu surau tertua di daerah Kota Solok yang berdiri pada tahun 1902 M . Penyebaran islam di Kota Solok juga dikarenakan masuknya paham tarekat. Karena itu, tarekat adalah aspek penting dalam penyeban islam di Kota Solok yang menggunakan surau sebagai media penyebarannya.
B. Tinjauan Pustaka
Dari penelurusuran untuk tinjauan pustaka, penulis menemukan beberapa tylisan yang memiliki subjek sejenis.
Pertama, buku yang ditulis oleh H. Mas’oed Abidin, Tiga Sepilin: Surau Solusi Untuk Bangsa. Buku ini membahas peranan surau dalam mendidik karakter seorang pemuda Minangkabau, juga menjelaskan fungsi sebenarnya dari surau di Minangkabau. Penulis buku ini menggambarkan perubahan fungsi surau yang awalnya sebagai lembaga islam.
Kedua, Skripsi yang ditulis oleh Ela Barti, UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Tarbiyah, dengan judul “Konsep Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Agama Islam Ala Surau Di Minangkabau”. Menjelaskan bagaimana surau berfungsi sebagai media pendidikan dalam membentuk karakter, skripsi ini memaparka bagaimana konsep-konsep pendidikan karakter dan pendidikan agama islam yang diajarkan disurau di minangkabau. Skripsi ini tidak membahas perubahan fungsi surau yang berubah seiring perkembangan keislaman masyarakat.
Ketiga, Skripsi yang ditulis oleh Sa’dullah Al Ashfy, UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Tarbiyah, Peranan Surau Bagi Pendidikan Islam Di Minangkabau Pada Masa Kolonial Sampai Masa Kemerdekaan (1777-1945). Menjelaskan fungsi surau yang adalah sebagai tempat pendidikan agama pada masa kolonial hingga kemerdekaan, skripsi ini memiliki rentang waktu yang hampir sama dengan batasan waktu penelitian penulis, namun skripsi ini lebih berfokus pada peranan surau bagi pendidikan islam di minangkabau.
Dari bebeapa tulisan yang menjadi tinjauan pustaka, penulis menemukan kesamaan bahwa penelitian terdahulu menjadikan surau sebagai objek penelitian. Namun belum ditemukannya penulisan yang konkrit mengenai perkembangan fungsi surau dimasyarakat minangkabau serta perkembangan ajaran islam yang timbul akibat perkembangan fungsi surau terutama di kota solok, sumatera barat. Oleh karena itu penulis berusaha untuk mengumpulkan data terkait dengan penelitian yang memiliki kaitan dengan perubahan fungsi surau dan perkembangan islam di kota solok, sumatera barat
C. Batasan dan Rumusan Masalah
Penelitian ini berjudul “Surau Dan Perkembangan Islam Di Kota Solok Sumatera Barat (1900-1980)” penelitian ini berfokus pada fungsi surau surau sebagai media dakwah terhadap perkembangan islam di wilayah Kota Solok yang bertempat di sumatera barat. Surau di sumatera barat berfungsi sebagai tempat belajar danmemperdalam agama, yang diajarkan oleh seorang syekh. Pengambilan batasan waktu dari tahun 1900 M dikarenakan pada sekitar tahun inilah surau-surau mulai dibangun di daerah Kota Solok,batasan akhir tahun penelitian diambil sampai tahun 1980 M dikarenakan pada kisaran hingga tahun ini peranan surau sebagai media penyebar islma memiliki peranan yang signifikan.
Adapun rumusan masalah untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Mengapa terjadi perubahan fungsi surau pada tahun 1900-1980 di kota Solok ?
2) Siapa yang berperan dibalik berubahnya fungsi surau?
3) Bagaimana peranan surau dalam perkembangan Islam di Kota Solok?
D. Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk melihat peranan atau fungsi surau sebagai media penyebaran islam, selain itu penulis juga memiliki tujuan lainnya yaitu:
1) Agar didapati alasan dan krnologi yang tepat mengenai perubahan fngsi surau yang terjadi pada tahun 1900 sampai 1980.
2) Untuk mendapatkan penjelasan yang pasti mengenai pemeran yang telah memberikan perubahan terhadap fungsi surau.
3) Untuk memberikan penjelasan dan gambaran rinci tentang perkembangan Islam yang dimulai dari surau.
Melalui penelitian ini penulis mengharapkan didapatinya manfaat sebagai berikut:
1) Sebagai bahan rujukan dan informasi bagi kajian tentang perk embangan Islam di Kota Solok, Sumatera Barat.
2) Memberikan gambaran tentang kegunaan surau sebagai media tradisional, dalam perkembangan Islam di kata solok, Sumatera Barat.
E. Konsep teoretik
Dalam menjabarkan rumusan masalah penulis memakai Pendekatan sejarah, pendekatan ini digunakan untuk menemukan gejala-gejala agama dengan menelusuri sumber dimasa silam atas perkembangan kebudayaan umat pemeluk agama .
Pendekatan lainnya yang digunakan adalah pendekatan sosiologis degan merujuk pada perubahan sosial. Ada dua model perubahan sosial, yaitu model evolusi sejarah dan model kekuatan sejarah. Model evolusi sejarah umpamanya pertama, perubahan birokrasi: tradisional, kolonial, dan nasional. Kedua, perubahan kelas pemeluk: kelas atas, kelas bawah dan kelas menengah. Ketiga, perubahan lokasi: desa, kota, dan metropolitan. Empat, perubahan pendidikan: pesantren, madrasah, dan sekolah.
Penulis mengambil model evolusi sejarah dari pendekatan sosial adalah karena perebahan fugsi surau yang awalnya sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah kemudian dijadikan tempat bermulanya perkembangan ajaran islam. Selain itu juga dikarenakan adanya perubahan kelas maupun jumlah pengikut ajaran tarekat yang ada disurau yang sekaligus menandakan perubahan pemeluk islam secara perlahan.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perubahan sosial. Secara etimologi, prubahan sosisal berarti perubahan pada berbagai lembaga kemasyarakatan, yang mempengaruhi sistem sosial masyarakat, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, pola, prilaku diantara kelompok dalam masyarakat.
Beberapa ahli kemudian menguraikan bahwa perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi didalam atau mencakup sistem sosial, dengan penjelasan adanya perbedaan antara sistem tertentu dalam waktu yang berlainan. Konsep dasar tentang perubahan sosial berkaitan dengan tiga kriteria meliputi:
1. Studi tentang perbedaan, dalam arti dapat melihat adanya perbedaan atau perubahan kondisi objek yag menjadi fokus studi. Studi harus dilakukan dalam waktu yang berbeda, dalam arti dilakukan studi komparatif dalam dimensi waktu yang berbeda.
2. Pengamatan pada sistem sosial yang sama, dalam arti objek yang menjadi studi komparasi tersebut harusalah objek yang sama. Sehingga pembahasan perubahan sosial selalu terkait dengan dimensi ruang dan waktu. Dalam hal ini, objek penelitia yang dituju penulis adalah surau dan perkembangan islam.
3. Dimensi ruang menunjuk pada wilayah terjadinya perubahan sosial serta kondisi yang melingkupinya. Dalam hal ini adalah masyarakat yang berada di kota solok sumatera barat.
F. Metode Penelitian
Metode yang dipakai adalah metode historis dengan jenis deskriptif analisis. Metode ini bermaksud untuk mendeskripsikan dan menganalisis peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau secara historis.
1. Heuristik
Yaitu pengumpulan sumber data baik dengan menggunakan sumber primer maupun sumber sekunder. Sumber primer yang akan penulis gunakan adalah catatan arsip kelurahan tentang surat izin mendirikan surau di kelurahan atau nagari tempat surau didirikan dan catatan tentang jumlah murid yang ditulis oleh syekh pengajar, arsip ini bisa jadi tidak ditemukan disatu surau dan ditemukan disurau lainnya, menilik dari rentang waktu yang sudah lama arsip dari satu surau bisa jadi sudah hilang disebabkan beberapa hal. Sumber primer lain yang juga digunakan adalah tambo, menurut kamus besar bahasa indonesia, tambo adalah sejarah; babad; hikayat; riwayat kuno, uraian sejarah yang sering kali bercampur dengan dongeng. Wawancara juga menjadi salah satu sumber dalam penelitian ini karena yang dianggap sumber primer dalam ilmu sosial adalah wawancara langsung dengan responden. Narasumber atau responden dalam hal ini adalah syekh dari surau tersebut, syekh disini bukanlah langsung pelaku sejarah atau penyebar ajaran islam mengingat rentang waktu yang sangat jauh, oleh karena itu syekh disini adalah syekh pengganti yang bertemu dengan syekh pelaku sejarah dan seterusnya, wawacara juga akan dilakukan kepada murid yang bertemu lansung dengan syekh penyebar ajaran islam juga kepada masyarakat sekitar yang menerima dampak langsung dari perubahan fungsi surau, selain itu wawancara juga akan ditujukan kepada keluarga dari syekh penyebar ajaran islam dan juga pemuka adat minangkabau.
Sumber sekuder yang akan digunakan adalah buku-buku, jurnal, laporan penelitian, dan sumber internet yang didalamnya membahas tentang perubahan fungsi surau maupun perkembanga islam yang terjadi di sumatera barat khususnya di kota solok.
Untuk memperoleh data yang relavan tentang surau dan perkembangan islam maka penulis mengumpulkan data dengan metode:
a. Metode library reasearch
b. Metode wawancara
c. Metode dokumentasi
2. Verifikasi atau Kritik sumber
setelah sumber dikumpulkan kemudian dilakukan pengklasifikasian keotentikan dan kredibilitas sebuah sumber data dengan penyelidikan kritis terhadap sumber yag didapat. Dalam hal ini yang harus diuji adalah ktentang keasalian sumber (otentisitas) yang dilakukan melalui kritik ektern; dan keabsahan tentang keshahihan sumber (kredibilitas) yang ditelusuri melalui kriik intern.
3. Interpretasi
Analisis terhadap sumber-sumber data yang telah diteliti kredibilitasnya dan keotentikannya. Analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama dengan teori itu disusunlah fakta itu kedalam suatu interpretasi yang menyeluruh
4. Historiografi
Tahapan akhir dalam prosedur penelitian sejarah, yakni merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian dengan memperhatikan aspek kronologis sejarah.
G. Sistematika Pembahasan
Bab pertama , berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang permasalahan untuk memberikan penjelasan mengapa penelitian ini dilakukan. Kemudian dilanjutkan dengan tinjauan pustaka untuk membedakan tulisan yang lama dan yang baru. Tujuan dan kegunaan penelitian untuk menjabarkan penelitian dan maafaat kegunaan penelitian kedepanya. Landasan teori merupakan tinjauan sekilas tentang pendapat ahli mengenai objek kajian yang diteliti. Adapun metodologi dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana cara yang akan dilakukan dalam penelitian ini.
Bab kedua, pada bab ini akan dibahas mengenai surau, pengertian surau, jenis-jenis surau, dan surau apa saja yang terdapat di wilayah Kota Solok. Bab ini juga akan membahas peranan dan fungsi surau sebelum kedatangan islam, setelah itu juga membahas bentuk-bentuk perubahan fungsi surau setelah kedatangan islam. Pada bab ini juga akan dijabarkan beberapa jenis surau yang ada di Minangkabau serta manfaatnya masing-masing.
Bab ketiga, akan dibahas mengenai siapa yang memiliki peran penting dalam peruabahan fungsi surau. Pada bagian ini juga dibahas bentuk-bentuk keadaan sosial masyarakat dan perubahan keadaan masyarakat yang terjadi, yaitu perubahan sosial, terkhusus pada perubahan sosial keagamaan masyarakat.
Bab keempat, pada bab ini akan dijabarkan peranan penting surau sebagai media penyebaran islam. Bab ini akan diperdalam peranan apa saja yang telah diberikan oleh surau terhadap penyebaran islam di wilayah Minangkabau. Diantaranya penyebaran melalui sistem pendidikan karaktermaupun pendidikan baca tulis alquran, juga sebagai tempat musyawarah agama, dan sebagainya.
Bab kelima, merupakan bab terakhir yang adalah bab penutup. Berisi kesimpulan, dari awal mula islm datang kemudian merubah fungsi surau dan kemudian surau menjadi meia penyebaran islam. Dalam bab ini juga berisi saran yang ditujukan penulis untuk pembaca, instansi terkait, maupun pemerintahan.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abdurrahman, Dudung. Metodologi penelitian sejarah islam.(yogyakarta: penerbit ombak. 2011)
Gazalba, Sidi. Mesjid Pusat Ibadat Dan Kebudayaan Islam . (Jakarta: Pustaka Antara. 1975)
Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. (Yogyakarta: Pt. Tiara Wacana Yogya, 2013)
Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia (4 Ed.). (Jakarta: Mutiara Sumber Widya.1995).
Jurnal, Skripsi Dan Tesis
Afrinaldi. (2009, Desember). "Rekonstruksi Pendidkan Surau Di Minangkabau". Ta'dib, 12(2), 192-200.
Natsir, Mhd. "Peran Surau Sebagai Lembaga Pendidikan Islam Tradisional Di Padang Pariaman Sumatera Barat". Laporan Penelitian, Universitas Negeri Padang, Fakultas Ilmu Pendidikan, Padang. . (2011)
Witrianto. "Agama Islam Di Minangkabau". Makalah Disampaikan Dalam Event Sejarah Pendidikan Dalam Perspertif Sejarah Di Universitas Andalas, Universitas Andalas, Fakultas Sastra, Padang. (2010).
internet
NewsRoom, "Surau Latieh, Kota Solok" Budaya Pariwisata,Infosumbar, (2013. 26 September), dalam Https://Www.Infosumbar.Net/Wisata/Surau-Latieh-Kota-Solok diakses Pada 30 April 2019

Comments
Post a Comment